Sejarah Hidup Muhammad

oleh Muhammad Husain Haekal

Indeks Islam | Indeks Haekal | Indeks Artikel | Tentang Penulis
ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota

 

BAGIAN KETUJUH: PERBUATAN-PERBUATAN QURAISY YANG KEJI    (1/3)
Muhammad Husain Haekal

   Umar mengumumkan keislamannya dan Muslimin beribadat di
   Ka'bah - Piagam pemboikotan - Daya-upaya Quraisy
   memerangi Muhammad - Alat propaganda bahasa yang
   mempesonakan - Jabr orang Nasrani - Terpengaruhnya
   Quraisy pada ajakan yang baru - At-Tufail ad-Dausi -
   Delegasi Nasrani - Kekuatiran-kekuatiran Quraisy:
   persaingan, kehilangan kedudukan di Mekah, hari
   kebangkitan.

ISLAMNYA Umar telah membawa kelemahan ke dalam  tubuh  Quraisy
karena  ia  masuk  agama ini dengan semangat yang sama seperti
ketika  ia  menentangnya  dahulu.   Ia   masuk   Islam   tidak
sembunyi-sembunyi,  malah  terang-terangan  diumumkan di depan
orang banyak dan untuk itu  ia  bersedia  melawan  mereka.  Ia
tidak  mau kaum Muslimin sembunyi-sembunyi dan mengendap-endap
di celah-celah pegunungan Mekah,  mau  melakukan  ibadat  jauh
dari gangguan Quraisy. Bahkan ia terus melawan Quraisy, sampai
nanti dia beserta Muslimin itu dapat  melakukan  ibadat  dalam
Ka'bah. Disini pihak Quraisy menyadari, bahwa penderitaan yang
dialami  Muhammad  dan  sahabat-sahabatnya,  takkan   mengubah
kehendak orang menerima agama Allah, untuk kemudian berlindung
kepada Umar dan Hamzah, atau ke  Abisinia  atau  kepada  siapa
saja yang mampu melindungi mereka.

Quraisy lalu membuat rencana lagi mengatur langkah berikutnya.
Setelah sepakat,  mereka  membuat  ketentuan  tertulis  dengan
persetujuan bersama mengadakan pemboikotan total terhadap Banu
Hasyim   dan   Banu   Abd'l-Muttalib:   untuk   tidak   saling
kawin-mengawinkan,  tidak  saling  berjual-beli apapun. Piagam
persetujuan ini kemudian digantungkan di dalam Ka'bah  sebagai
suatu pengukuhan dan registrasi bagi Ka'bah. Menurut perkiraan
mereka,  politik  yang  negatif,  politik   membiarkan   orang
kelaparan  dan melakukan pemboikotan begini akan memberi hasil
yang lebih efektif daripada politik kekerasan dan  penyiksaan,
sekalipun  kekerasan dan penyiksaan itu tidak mereka hentikan.
Blokade-blokade yang dilakukan Quraisy terhadap kaum  Muslimin
dan  terhadap  Banu  Hasyim  dan  Banu  Abd'l  Muttalib  sudah
berjalan selama dua atau tiga tahun, dengan harapan  sementara
itu  Muhammadpun akan ditinggalkan oleh masyarakatnya sendiri.
Dengan demikian dia dan ajarannya itu tidak lagi berbahaya.

Akan  tetapi  ternyata  Muhammad  sendiri  malah  makin  teguh
berpegang  pada  tuntunan  Allah, juga keluarganya, dan mereka
yang  sudah  berimanpun  makin  gigih  mempertahankannya   dan
mempertahankan  agama  Allah.  Menyebarkan seruan Islam sampai
keluar   perbatasan   Mekah   itu   pun   tak    dapat    pula
dihalang-halangi.  Maka tersiarlah dakwah itu ke tengah-tengah
masyarakat Arab dan kabilah-kabilah,  sehingga  membuat  agama
yang  baru  ini,  yang tadinya hanya terkurung ditengah-tengah
lingkaran gunung-gunung Mekah, kini  berkumandang  gemanya  ke
seluruh  jazirah.  Orang-orang  Quraisy makin tekun memikirkan
bagaimana caranya memerangi orang yang  sudah  melanggar  adat
kebiasaannya  dan  menista dewa-dewanya itu, bagaimana caranya
menghentikan   tersiarnya   ajarannya    itu    di    kalangan
kabilah-kabilah  Arab,  kabilah-kabilah  yang  tak dapat hidup
tanpa Mekah dan juga Mekah tak dapat hidup tanpa mereka  dalam
perdagangan,  dalam  kegiatan  impor  dan  ekspor  dari dan ke
Ibukota itu.

Quraisy mencurahkan semua kegiatannya  dalam  memerangi  orang
yang  dianggapnya  sudah melanggar kebiasaan mereka, melanggar
kepercayaan mereka dan kepercayaan leluhur mereka itu.  Dengan
tabah dan secara terus-menerus selama bertahun-tahun, apa yang
telah mereka lakukan  untuk  menghancurkan  ajaran  baru  ini,
sungguh  di  luar yang dapat kita bayangkan. Muhammad diancam,
keluarga dan ninik-mamaknya,  diancam.  Ia  diejek,  ajarannya
diejek.  Ia  diperolok,  dan  orang yang jadi pengikutnya juga
diperolok.   Penyair-penyair   mereka    didatangkan    supaya
mengejeknya,  supaya  memburuk-burukkannya.  Ia  diganggu, dan
orang yang  jadi  pengikutnya  dinista  dan  disiksa.  Ia  mau
disuap,   ditawari  kerajaan,  ditawari  segala  yang  menjadi
kedambaan orang. Kawan-kawan seperjuangannya diusir dari tanah
air,  perdagangan  dan  pintu  rejeki mereka dibekukan. Ia dan
sahabat-sahabatnya  diancam   dengan   perang   serta   segala
akibatnya yang mengerikan.

Akhirnya blokade, akan dibiarkan mati kelaparan jika mungkin.

Tetapi,  sungguhpun  begitu, Muhammad tetap tabah. Dengan cara
yang amat baik tetap ia  mengajak  orang  menerima  kebenaran,
yang  hanya  karena  itu  ia diutus Tuhan kepada umat manusia,
sebagai pembawa berita gembira, dan peringatan. Bukankah sudah
tiba  waktunya  Quraisy meletakkan senjatanya, dan mempercayai
Al-Amin, orang yang dikenalnya  sejak  masa  anak-anak,  sejak
masa   muda  belia,  sebagai  orang  yang  jujur,  tak  pernah
berdusta!? Ataukah  mereka  sudah  mencari  alat  lain  selain
senjata  perang  seperti  disebutkan,  dan lalu terbayang oleh
mereka, bahwa dengan demikian mereka akan menang perang,  lalu
kedudukan  berhala-berhala  mereka  akan  dapat  dipertahankan
sebagai pusat ketuhanan mereka seperti yang mereka  duga,  dan
Mekahpun    akan    dapat    dipertahankan    sebagai   museum
berhala-berhala   dan    tempat    yang    disucikan    karena
berhala-berhala itu akan tetap berada di Mekah?!

Tidak!  Belum  tiba  saatnya  bagi  Quraisy  akan  tunduk  dan
menyerah. Mereka sekarang sedang  dalam  puncak  kekuatirannya
bila  seruan  Muhammad  ini  nanti  akan  tersebar di kalangan
kabilah-kabilah Arab sesudah terlebih dulu tersebar di Mekah.

Tinggal satu senjata lagi  pada  mereka  sekarang  yang  sejak
semula  sudah  menjadi  pegangan  dan  kekuatan  mereka, yaitu
senjata  propaganda:  propaganda  dengan  segala  implikasinya
berupa   perdebatan,   argumentasi-argumentasi,   caci   maki,
penyebaran desas-desus serta sifat merendahkan  argumen  lawan
dengan  menganggap  alasan-alasannya  sendiri yang lebih baik.
Propaganda  melawan  akidah  dan   pembawa   akidah   disertai
tuduhan-tuduhan  yang  dialamatkan  kepadanya. Propaganda yang
tidak hanya terbatas pada Mekah saja - sebenarnya  buat  Mekah
ini  sudah  tidak  lagi  diperlukan dibandingkan dengan daerah
pedalaman lain serta kabilah-kabilahnya,  semenanjung  jazirah
serta  semua  penduduknya.  Dengan mengadakan ancaman bujukan,
teror dan penyiksaan, propaganda tidak  diperlukan  lagi  buat
Mekah.  Tapi buat ribuan orang yang datang ke Mekah tiap tahun
masih tetap diperlukan. Mereka datang dalam urusan perdagangan
dan  berziarah. Mereka berkumpul di pasar-pasar 'Ukaz, Majanna
dan Dhul-Majaz, yang  kemudian  berziarah  sambil  menyembelih
kurban, mengharapkan berkah dan ampunan.

Oleh  karena  itu, sejak memuncaknya permusuhan antara Quraisy
dengan Muhammad terpikir oleh mereka akan menyusun suatu  alat
propaganda  anti  Muhammad. Lebih gigih lagi mereka memikirkan
hal ini  sesudah  orang-orang  yang  berziarah  itu  diajaknya
supaya  beribadat  hanya  kepada  Allah  yang  Esa  dan  tidak
bersekutu. Hal ini sudah terpikir  olehnya  sejak  tahun-tahun
pertama  dari  kerasulannya  itu.  Pada  mulanya,  sejak  masa
kerasulannya, ia adalah seorang nabi, sampai  datangnya  wahyu
menyuruh  ia  memperingatkan  keluarga-keluarganya yang dekat.
Setelah ia memperingatkan keluarga-keluarga Quraisy dan ada di
antara mereka yang menerima Islam, di samping banyak juga yang
masih kepala  batu  dan  mau  berpikir-pikir  dulu,  ia  masih
berkewajiban  mengajak  bangsanya  sendiri, seluruh masyarakat
Arab, untuk  kemudian  meneruskan  kewajibannya  itu  mengajak
seluruh umat manusia.

Setelah  terpikir  akan  mengajak  orang yang datang berziarah
dari berbagai macam kabilah Arab itu beribadat  kepada  Allah,
beberapa  orang  dari  kalangan  Quraisy  datang berunding dan
mengadakan pertemuan di rumah Walid  bin'l-Mughira:  Maksudnya
supaya  dalam menghadapi persoalan Muhammad itu satu sama lain
mereka  tidak  bertentangan,  dan  tidak  saling   mendustakan
mengenai apa yang harus mereka katakan kepada orang-orang Arab
yang datang musim ziarah itu.  Ada  yang  mengusulkan,  supaya
dikatakan  saja,  bahwa  Muhammad  itu  dukun. Tetapi al-Walid
menolak pendapat ini, sebab apa yang dikatakan Muhammad  bukan
kumat-kamit  seorang  dukun. Yang lain mengusulkan lagi, bahwa
Muhammad itu orang gila. Walidpun menolak pendapat ini,  sebab
gejala  atas  tuduhan  demikian  tidak  tampak.  Ada lagi yang
menyarankan supaya Muhammad dikatakan  sebagai  tukang  sihir.
Juga  di  sini Walid menolak, sebab Muhammad tidak mengerjakan
rahasia  juru  tenung  atau  sesuatu  pekerjaan  tukang-tukang
sihir.

Sesudah  terjadi  diskusi  akhirnya  Walid  mengusulkan supaya
kepada peziarah-peziarah orang-orang Arab itu dikatakan  bahwa
dia  (Muhammad)  seorang juru penerang yang mempesonakan,1 apa
yang dikatakannya merupakan  pesona  yang  akan  memecah-belah
orang dengan orangtuanya, dengan saudaranya, dengan isteri dan
keluarganya. Dan apa yang dituduhkan itu pada orang-orang Arab
pendatang  itu  merupakan  bukti,  sebab  penduduk Mekah sudah
ditimpa  perpecahan  dan  permusuhan.  Padahal   sebelum   itu
penduduk  Mekah  merupakan suatu contoh solidaritas dan ikatan
yang paling kuat

Pihak  Quraisy  pada  musim  ziarah  itu  segera   menyongsong
orang-orang yang datang berziarah dengan memperingatkan mereka
jangan mendengarkan orang itu  dan  pesona  bahasanya.  Jangan
sampai  mereka  itu  mengalami  bencana  seperti  yang dialami
penduduk Mekah dan  menjadi  api  fitnah  yang  akan  membakar
seluruh jazirah Arab.

Akan  tetapi  propaganda  begini  tidak dapat berdiri sendiri,
juga tidak dapat melawan  penerangan  yang  mempesonakan  yang
sudah  dipercayai  orang  itu.  Kalau memanglah kebenaran yang
dibawa oleh penerangan yang  mempesonakan  itu,  apa  salahnya
orang mempercayainya? Adakah bila sewaktu-waktu orang mengakui
kelemahannya  dan  menyatakan  perlawanannya  merupakan  suatu
propaganda yang ampuh? Di samping propaganda itu Quraisy harus
punya propaganda lain lagi. Untuk propaganda itu Quraisy  akan
mendapatkannya  pada Nadzr b. Harith. Manusia Nadzr ini adalah
setannya  Quraisy,  orang  yang  pernah  pergi  ke  Hira   dan
mempelajari   cerita   raja-raja  Persia,  peraturan-peraturan
agamanya,  ajaran-ajarannya  tentang  kebaikan  dan  kejahatan
serta  tentang  asal-usul  alam  semesta.  Setiap  dalam suatu
pertemuan  Muhammad  mengajak  orang   kepada   Allah,   serta
memperingatkan mereka tentang akibat-akibat yang telah menimpa
bangsa-bangsa sebelumnya  yang  menentang  peribadatan  kepada
Allah,  ia  lalu  datang  menggantikan  tempat  Muhammad dalam
pertemuan itu. Maka berceritalah  ia  kepada  Quraisy  tentang
sejarah  dan  agamanya, lalu katanya: Dengan cara apa Muhammad
membawakan  ceritanya  lebih  baik  daripada   aku?   Bukankah
Muhammad  membacakan  cerita-cerita  orang dahulu seperti yang
kubacakan juga? Quraisypun lalu menyebarkan kisah-kisah  Nadzr
itu  dengan  jalan  bercerita  lagi  sebagai  propaganda  atas
peringatan dan ajakan Muhammad kepada mereka itu.

Dalam pada itu di Marwa  Muhammad  sering  duduk-duduk  dengan
seorang  budak  Nasrani  yang  konon bernama Jabr. Orang-orang
Quraisy menuduh, bahwa sebagian besar apa yang dibawa Muhammad
itu,  Jabr inilah yang mengajarnya. Apabila ada orang yang mau
meninggalkan kepercayaan nenek-moyangnya, maka  agama  Nasrani
inilah   yang   lebih  utama.  Jadi  tuduhan  inilah  yang  di
desas-desuskan oleh Quraisy. Untuk itulah datang Firman Tuhan:

"Kami  sungguh   mengetahui   bahwa   mereka   berkata;   yang
mengajarkan  itu  adalah  seorang  manusia.  Bahasa orang yang
mereka tuduhkan itu bahasa asing,  sedang  ini  adalah  bahasa
Arab yang jelas sekali." (Qur'an: 16: 103)

Dengan   propaganda   semacam   itu  dan  sebangsanya  Quraisy
memerangi  Muhammad  lagi  dengan  harapan  akan  lebih  ampuh
daripada  gangguan  yang  dialaminya  dan siksaan yang dialami
pengikut-pengikutnya.  Akan  tetapi  kuatnya  kebenaran  dalam
bentuk yang jelas dan sederhana yang dilukiskan melalui ucapan
Muhammad, lebih tinggi dari yang mereka katakan. Makin  sehari
makin  tersebar  juga itu di kalangan orang-orang Arab. Tufail
b. 'Amr ad-Dausi, seorang bangsawan dan  penyair  cendikiawan,
ketika  datang  di  Mekah segera dihubungi oleh Quraisy dengan
memperingatkannya  dari   Muhammad   dan   kata-katanya   yang
mempesonakan  itu,  yang  hendak  memecah-belah  orang  dengan
keluarganya, bahkan  dengan  dirinya  sendiri.  Mereka  kuatir
kalau  peristiwa  seperti  Mekah itu akan menimpa mereka juga.
Jadi sebaiknya jangan mengajak  dan  jangan  mendengarkan  dia
bicara.

Hari  itu  Tufail  pergi  ke  Ka'bah. Muhammad sedang di sana.
Ketika  ia  mendengarkan  kata-kata  Muhammad,  ternyata   itu
kata-kata  yang  baik  sekali.  "Biar  aku  mati,  aku seorang
cendekiawan, penyair," katanya dalam hati. "Aku dapat mengenal
mana  yang  baik  dan mana pula yang buruk. Apa salahnya kalau
aku mendengarkan sendiri apa yang akan  dikatakan  orang  itu!
Jika   ternyata   baik   akan   kuterima,   kalau  buruk  akan
kutinggalkan."

Diikutinya Muhammad sampai di  rumah.  Lalu  dikatakannya  apa
yang  terlintas  dalam  hatinya itu. Muhammad menawarkan Islam
kepadanya dan  dibacakannya  ayat-ayat  Quran.  Laki-laki  itu
segera  menerima  Islam dan dinyatakannya kebenaran itu dengan
mengucapkan kalimat Syahadat.

                                    (bersambung ke bagian 2/3)
 
---------------------------------------------
S E J A R A H    H I D U P    M U H A M M A D
 
oleh MUHAMMAD HUSAIN HAEKAL
diterjemahkan dari bahasa Arab oleh Ali Audah
 
Penerbit PUSTAKA JAYA
Jln. Kramat II, No. 31 A, Jakarta Pusat
Cetakan Kelima, 1980
 
Seri PUSTAKA ISLAM No.1

Indeks Islam | Indeks Haekal | Indeks Artikel | Tentang Penulis
ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota

Please direct any suggestion to Media Team