|
|
|
Characters: 10639
Lines: 207
Words: 1375
Sentences: 181
Paragraphs: 149
PENGANTAR CETAKAN KEDUA (6/9)
PERTIMBANGAN MEREKA YANG AKTIF DALAM SOAL-SOAL ISLAM
Baiklah sekarang saya pindah kebahagian lain dalam tinjauan
ini. Sesudah cetakan pertama buku ini terbit, beberapa
kalangan Islam yang aktif dalam bidang pengetahuan agama,
memberikan pula pendapatnya.
Menurut hemat saya kecaman-kecaman rendah semacam ini, yang
tak dapat diterima oleh ilmu pengetahuan, hendaknya tidakkan
berulang lagi. Terhadap kaum Orientalis barangkali masih
dapat dimaafkan, terutama atas tindakan mereka yang sebelum
itu memang sangat berlebih-lebihan. Mereka merasa, bahwa
mereka menulis buat orang-orang Kristen Eropa. Dengan
demikian pada waktu itu mereka telah menjalankan suatu tugas
nasional atau tugas agama. Mereka didorong oleh keyakinan
mereka, dengan memperkosa ilmu pengetahuan sebagai alat
dalam melaksanakan tugasnya itu.
Tetapi sekarang, dengan adanya komunikasi via telegram dan
radio, via pers dan mass media lainnya ke seluruh penjuru
dunia, segala apa yang diterbitkan atau diucapkan orang di
Eropa atau di Amerika sudah dapat ditangkap hari itu atau
saat itu juga di negeri-negeri lain di Timur. Mereka yang
ingin memperoleh pengetahuan dan kenyataan sebenarnya,
seharusnya segala kabut nasional, rasial dan agama
disingkirkan dari depan mata dan dari dalam hati mereka.
Mereka hendaknya dapat memperkirakan bahwa apa yang mereka
katakan atau mereka tulis, akan secepatnya diketahui oleh
semua orang. Di segenap penjuru bumi orang akan mengujinya
dan menerima dengan sikap kritis. Biarlah, kebenaran yang
sebenarnya tidak terikat oleh apapun itulah yang akan
menjadi pedoman kita semua. Kita arahkan semua perhatian
kita pada suatu ikatan masa lampau dan masa datang umat
manusia, bahwa itu adalah suatu kesatuan keluarga besar yang
mengarah kepada pelaksanaan tujuan yang lebih tinggi, yang
dinanti-nantikan oleh segenap manusia sejak pertumbuhannya
yang pertama; suatu ikatan persaudaraan yang merdeka di
bawah naungan kebenaran dan keindahan. Inilah satu-satunya
ikatan yang akan menjamin tercapainya tujuan umat manusia
dalam peredaran sejarahnya yang begitu pesat ke arah
kebahagiaan dan kesempurnaan itu.
Sementara ada orang-orang yang begitu percaya pada apa yang
dilontarkan oleh kaum Orientalis secara berlebih-lebihan itu
menyalahkan kami, karena kami katanya begitu terikat dan
berpegang pada sumber-sumber berbahasa Arab, maka mereka
yang aktif dalam bidang pengetahuan agama Islam juga
menyalahkan kami, karena kami katanya terlalu berpegang pada
pendapat-pendapat kaum Orientalis; bahwa kami katanya tidak
memperhatikan segala yang diceritakan oleh buku-buku hadis
bertalian dengan sejarah hidup Nabi dan bahwa kami tidak
memakai cara seperti yang ada dalam buku-buku sejarah lama
itu.
Atas dasar ini sebagian mereka telah mengemukakan
pendapat-pendapat, yang kebanyakannya disampaikan dengan
cara yang lemah-lembut dan baik sekali dengan tujuan hendak
mencari kebenaran. Sebagian lagi, karena keras kepala atau
bodoh, tidak mau mengalah kepada yang lebih berpengetahuan.
Adapun mereka yang memberikan kritik dengan lemah-lembut,
kebanyakan dititik beratkan pada, bahwa apa yang diterangkan
dalam buku-buku sejarah dan Hadis Nabi tentang
mujizat-mujizat, tidak ada kami sebutkan. Bahkan kami
sebutkan pada penutup cetakan pertama: "Sejarah hidup
Muhammad adalah sejarah hidup manusia yang telah sampai ke
puncak tertinggi yang pernah dicapai seorang manusia. Pada
waktu itu Muhammad s.a.w. suka hati karena kaum Muslimin
menghargainya sebagai manusia biasa seperti mereka, hanya
diberi wahyu. Ia tidak suka apabila ia akan
dihubung-hubungkan kepada sesuatu mujizat selain Qur'an. Hal
ini dinyatakannya kepada para sahabat." Pada bahagian cerita
membelah dada ada kita katakan:
"Dengan demikian apa yang diminta oleh kaum Orientalis dan
pemikir-pemikir Muslim dalam hal ini ialah bahwa peri hidup
Muhammad sifatnya adalah manusia semata-mata dan bersifat
peri kemanusiaan yang luhur. Dan untuk memperkuat
kenabiannya itu memang tidak perlu harus bersandar kepada
hal-hal yang biasa dilakukan oleh orang-orang yang suka
kepada yang ajaib-ajaib. Dengan demikian mereka beralasan
sekali menolak tanggapan penulis-penulis Arab dan kaum
Muslimin tentang peri hidup Nabi yang tidak masuk akal itu.
Mereka berpendapat, bahwa apa yang telah dikemukakan itu
tidak sejalan dengan yang diminta oleh Qur'an, yakni supaya
merenungkan ciptaan Tuhan, dan bahwa undang-undang Tuhan
takkan ada yang berubah-ubah. Jadi tidak sesuai dengan
ekspresi Qur'an tentang kaum musyrik yang tidak mau
mendalami dan tidak mau mengeti juga."
Mereka yang mengkeritik saya dengan cara lemah-lembut itu di
antaranya ada juga yang menyalahkan, karena saya mengambil
kecaman-kecaman kaum Orientalis terhadap Nabi itu sebagai
pengantar untuk menyanggah mereka, sedang bunyi kecaman itu
menurut hemat mereka tidak sesuai dengan penghargaan dan
penghormatan yang harus mereka berikan kepada Nabi a.s.
Adapun mereka yang cuma memaki-maki sudah memang ada sebelum
cetakan pertama buku ini terbit, dan sebelum pembahasan ini
dikumpulkan menjadi buku.
SELAWAT KEPADA NABI
Dalam menyalahkan saya yang paling keras mereka lakukan
ialah karena pembahasan saya ini saya beri judul Sejarah
Hidup Muhammad tanpa saya berikutkan ucapan sallallahu
'alaihi wasallama (s.a.w.), ucapan Salam dan Selawat kepada
Rasulullah, sekalipun sambil tulisan ini berjalan sudah
beberapa kali saya sebutkan. Saya rasa mereka baru reda dari
memaki-maki itu sesudah pada judul cetakan pertama saya
hiasi dengan ayat Qur'an: "Allah dan para malaikat
memberikan rahmat kepada Nabi. Orang-orang beriman,
berikanlah selawat dan salam kepadanya" (Qur'an, 33: 56)
dan sesudah buku ini mengemukakan sejarah hidup Nabi dengan
metoda seperti apa adanya sekarang.
Akan tetapi mereka masih bersikeras juga dengan pendirian
mereka itu. Dengan begitu, dengan sikap keras kepala dan
kebodohan mereka tentang esensi Islam itu menunjukkan, bahwa
mereka sudah cukup merasa puas hanya dengan ikut saja apa
yang mereka terima dari nenek-moyang dahulu kala.
Baik kita mulai sekarang dengan menyanggah pandangan yang
salah ini dengan harapan tidak akan terulang lagi dilakukan
orang, baik oleh pihak bersangkutan di atas atau oleh pihak
lain dalam menanggapi buku apapun yang terbit. Kita mulai
sanggahan ini dengan kembali kepada buku-buku kaum
cendekiawan Islam terkemuka supaya orang mengetahui sampai
di mana taraf ketinggian Islam itu, yang sebenarnya tidak
terbatas hanya pada kata-kata saja, melainkan sudah dapat
menempatkan nilai hadis: "Bahwasanya agama ini kukuh sekali.
Tanamkanlah dalam-dalam dengan lemah-lembut. Sebenarnya
orang yang terputus dalam perjalanan takkan mencapai tujuan,
binatang bebanpun binasa." Dalam Kulliat-nya Abu'l-Baqa'
menerangkan, bahwa "penulisan ash-shalat (s.a.w.) dalam
buku-buku dahulu terjadi pada masa kekuasaan Abbasia. Oleh
karena itu, yang ada dalam kitab-kitab Bukhari dan yang lain
tidak mempergunakan kata-kata itu." Para Imam sebagian besar
sepakat, bahwa Selawat kepada Nabi cukup sekali saja
diucapkan orang selama hidupnya. Ibn Najm dalam Al-Bahru'r
Ra'iq menyebutkan: "Perintah dalam firman Tuhan 'ucapkan
selawat dan salam kepadanya' kewajibannya berlaku sekali
saja selama hidup, baik dalam sembahyang atau di luar itu.
Tentang ini tak ada perselisihan pendapat."
Adanya perbedaan pendapat antara Syafi'i dan yang lain
tentang kewajiban mengucapkan selawat kepada Nabi, berlaku
selama dalam sembahyang, bukan di luar itu. Selawat ialah
doa, artinya mudah-mudahan Allah memberi rahmat dan salam
kepada Nabi."
Demikian sumber para Imam dan ulama Islam menyebutkan
mengenai masalah ini. Adanya dugaan bahwa mengucapkan
selawat kepada Nabi pada setiap menyebutkan dan menuliskan
namanya merupakan suatu keharusan menunjukkan, bahwa dalam
hal ini mereka bersikap sangat berlebih-lebihan. Akibat dari
kesalahan mereka itu, maka mereka yang mengikutinya akan
salah pula jika mereka mengetahui apa yang sudah kita
sebutkan tadi. Ahli-ahli hadis terkemuka tidak menuliskan
kata-kata selawat itu dalam kitab-kitab mereka yang
mula-mula.
MENANGKIS KECAMAN
Mereka yang berpendapat bahwa tidak selayaknya menyebutkan
kecaman-kecaman kaum Orientalis dan misi penginjil terhadap
Nabi yang mulia ini sebagai pendahuluan untuk menyanggah
mereka, pendapat ini tidak punya dasar selain dan pada rasa
sentimen keislaman yang mereka agung-agungkan. Sedang dari
segi ilmu dan agama, dasarnya tidak ada. Apa yang dikatakan
kaum musyrik tentang Nabi, Qur'an menyebutkannya, lalu
menyanggahnya dengan argumen yang kuat. Jadi, moral Qur'an
adalah moral yang lebih sesuai dan tinggi adanya. Qur'an
menyebutkan tuduhan Quraisy terhadap Muhammad sebagai tukang
sihir dan gila: "Kami mengetahui benar, bahwa mereka
berkata: 'Hanyalah seorang manusia yang mengajarkannya.'
Padahal bahasa orang yang mereka tuduhkan itu adalah bahasa
asing, sedang ini adalah bahasa Arab yang jelas sekali"
(Qur'an 16: 103). Hal semacam ini sering sekali ter]adi.
Selanjutnya alasan tuduhan mereka itu tidak akan dapat
ditangkis secara ilmiah, kalau tidak disebutkan dan dicatat
secara jujur dan teliti. Dengan buku ini saya mencoba
mengemukakan pembahasan ilmiah guna mencari kenyataan ilmiah
semata. Juga saya maksudkan supaya dibaca baik oleh kaum
Muslimin atau bukan.
Hendaknya mereka semua dapat diyakinkan tentang kenyataan
ilmiah ini. Hal ini baru akan tercapai bilamana
pembahasannya benar-benar bersih dalam kecenderungannya
mencari kebenaran itu, tidak terikat oleh apapun selain oleh
kecenderungan tersebut, dan tidak pula ragu-ragu mengakui
kebenaran itu dan manapun datangnya.
(bersambung ke bagian 7)
---------------------------------------------
S E J A R A H H I D U P M U H A M M A D
oleh MUHAMMAD HUSAIN HAEKAL
diterjemahkan dari bahasa Arab oleh Ali Audah
Penerbit PUSTAKA JAYA
Jln. Kramat II, No. 31 A, Jakarta Pusat
Cetakan Kelima, 1980
Seri PUSTAKA ISLAM No.1
| |
|
ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota |