|
|
|
Characters: 18451
Lines: 341
Words: 2410
Sentences: 313
Paragraphs: 256
PENGANTAR CETAKAN KEDUA (8/9)
CERITA-CERITA TIDAK MASUK AKAL DAN TIDAK ILMIAH
Yang aneh lagi dalam hal ini ialah apa yang diceritakan oleh
Ibn 'Asakir dari Abu Sa'd Isma'il bin Muthanna
al-Astrabadhi. Tatkala ia sedang berkhutbah di Damsyik,
salah seorang yang hadir bertanya tentang hadis Nabi yang
berbunyi: "Saya gudang ilmu dan Ali pintunya" Ismail menekur
sebentar, lalu diangkatnya kepalanya seraya katanya: "Ya,
tak ada yang mengetahui hadis ini dari Nabi, kecuali yang
hidup pada masa permulaan Islam. Akan tetapi Nabi berkata:
"Saya gudang ilmu, Abu Bakr fondasinya, Umar dindingnya,
Usman atapnya dan Ali pintunya." Dengan demikian para
hadirin puas rasanya. Tetapi ketika diminta kepadanya supaya
menerangkan sanadnya, ia merasa gusar sekali karena memang
tidak mampu.
Begitulah hadis-hadis itu dipalsukan orang karena memang ada
maksud politik atau kemauan-kemauan insidentil lainnya.
Demikian banyaknya hadis-hadis palsu itu sehingga kaum
Muslimin kemudian terkejut sekali, karena ternyata banyak
pula yang tidak cocok dengan yang ada dalam Kitabullah.
Usaha hendak menghentikannyapun sudah banyak pula dikerahkan
pada zaman Umayya, tapi tidak juga berhasil.
Bagaimanapun juga pada masa dinasti Abbasia, dan Ma'mun yang
berkuasa dua abad kemudian sesudah Nabi wafat, puluhan atau
ratusan ribu hadis-hadis maudzu' (buatan) itu sudah tersebar
- diantaranya terdapat banyak yang lemah dan kontradiksi
sekali, yang tidak diduga semula. Pada waktu itulah para
penghimpun hadis dan penulis-penulis biografi Nabi juga
menuliskan biografinya. Al-Waqidi, 'Ibn Hisyam dan
Al-Mada'ini hidup dan menuliskan buku-buku itu pada masa
Ma'mun. Baik mereka ini atau yang lain pada waktu itu,
karena takut akibatnya, tidak ada yang berani menentang
pendapat Khalifah. Oleh karena itu, sesuai dengan apa yang
harus mendapat penelitian mana kriterium yang menurut suatu
sumber berasal dari Nabi a.s., yakni dengan mencocokkannya
kepada Qur'an sebagaimana mestinya, tidak mereka pakai lagi,
yaitu: mana-mana yang cocok dengan Qur'an, adalah dari Rasul
dan yang tidak, bukan dari Rasul.
Sekiranya kriterium itu dipakai dengan penelitian
sebagaimana mestinya, segala yang sudah ditulis oleh
tokoh-tokoh itu niscaya akan berubah. Kritik ilmiah menurut
metoda modern sama sekali tidak berbeda dari kriterium ini.
Akan tetapi situasi masa itu mengharuskan tokoh-tokoh
tersebut menyesuaikan kriterium mereka itu untuk sesuatu
golongan, sedang untuk golongan lain tidak pula demikian.
Cara-cara ini dalam penulisan sejarah hidup Nabi oleh
penulis-penulis kemudian telah diwarisi juga dari
orang-orang dahulu, dengan pertimbangan-pertimbangan yang
lain dari pertimbangan mereka itu. Kalau orang mau berlaku
jujur terhadap sejarah, tentu mereka menyesuaikan hadis itu
dengan sejarah hidup Nabi, baik dalam garis besar, maupun
dalam perinciannya, tanpa mengecualikan sumber lain, yang
tidak cocok dengan yang ada dalam Qur'an. Mana yang tidak
sejalan dengan hukum alam dan tidak tersebut pula dalam
Kitabullah tidak perlu mereka catat. Yang tidak sejalan
dengan hukum alam itu diteliti dulu dengan saksama, sesudah
itu baru diperkuat dengan yang ada pada mereka, disertai
pembuktian yang positif, dan mana-mana yang tak dapat
dibuktikan seharusnya ditinggalkan.
Pendapat cara ini telah dijadikan pegangan oleh imam-imam
terkemuka dari kalangan Muslimin dahulu, dan beberapa imam
lainpun mengikuti mereka sampai sekarang. Syaikh Muhammad
Mustafa al-Maraghi dalam kata perkenalan buku ini
menyebutkan: "Kekuatan mujizat Muhammad s.a.w. hanyalah
dalam Qur'an, dan mujizat ini sungguh rasional adanya. Sajak
Bushiri berikut ini memang indah sekali:
"Tidak juga sampai kita dicoba Yang akan meletihkan akal
karenanya Karena sayangnya kepada kita Kitapun tak ragu,
kitapun tak sangsi."
Almarhum Sayid Muhammad Rasyid Ridza, Redaktur majalah
Al-Manar dalam menjawab kritik orang yang menentang buku
kita ini, menulis: "Kalangan Al-Azhar dan pengikut-pengikut
tarekat yang paling keberatan terhadap Haekal sebagian besar
mengenai mujizat-mujizat dan hal-hal yang ajaib-ajaib di
luar kebiasaan. Pada pasal dua bahagian dua dan pasal lima
dalam buku Al-Wahy'l-Muhammadi, dari segala segi dan
persoalannya mengenai hal ini, ada saya tulis, bahwa hanya
Qur'anlah satu-satunya pembuktian Tuhan yang positif khusus
tentang kenabian Muhammad s.a.w. dan kenabian para nabi yang
lain. Ciri-ciri mereka zaman kita sekarang ini tak dapat
dibuktikan tanpa kenyataan tersebut.
"Masalah-masalah alam gaib (supernatural) adalah
masalah-masalah yang diragukan, bukan suatu pembuktian yang
meyakinkan menurut para ahli. Hal tersebut terdapat juga
pada zaman kita ini, dan terdapat juga pada setiap zaman.
Mereka yang masih terpesona oleh masalah semacam itu, adalah
orang-orang yang suka pada takhayul yang memang terdapat
pada setiap aliran kepercayaan. Saya terangkan juga sebab
timbulnya daya tarik itu serta perbedaan-perbedaan mana yang
umumnya termasuk hukum alam, hukum rohani dan lain-lain."
[Majalah Al-Manar, 3 Mei 1935].
Syaikh Muhammad Abduh pada bahagian pertama buku Al-Islam
wan-Nashrania ("Islam dan Kristen") menyebutkan: "Dengan
adanya ajaran dan tuntutan terhadap keimanan kepada Allah
dan keesaanNya, Islam tidak memerlukan apa-apa lagi selain
pembuktian rasional dan pemikiran insani yang sejalan dengan
ketentuan yang wajar. Orang tidak perlu bingung terhadap hal
yang gaib, tidak perlu menutup mata terhadap
kejadian-kejadian yang tidak biasa, tidak perlu membisu
karena ada ledakan dari langit; dan pikiran kitapun jangan
terputus karena pekikan yang membawa suara suci. Kaum
Muslimin sudah sepakat - kecuali sejumlah kecil dengan
pendapat yang tidak berarti - bahwa kepercayaan kepada Allah
adalah mendahului kepercayaan kepada nabi-nabi. Tidak
mungkin orang percaya kepada rasul-rasul, sebelum ia beriman
kepada Allah; sedang beriman kepada Allah melalui ucapan
para rasul atau melalui kitab-kitab suci, tidak dibenarkan.
Sungguh tidak masuk akal orang akan percaya kepada adanya
kitab yang diturunkan Allah, jika sebelum itu kita tidak
percaya akan adanya Allah. Maka Dialah yang harus menurunkan
kitab dan mengutus rasul."
Saya kira mereka yang pernah menulis sejarah hidup Nabi akan
lebih condong pada pandangan semacam ini, kalau tidak karena
situasi pada masa mereka dahulu dan kalau tidak karena
dugaan mereka yang datang kemudian bahwa dengan menyebutkan
peristiwa-peristiwa gaib dan mujizat-mujizat yang tidak
terdapat dalam Qur'an itu akan menanamkan rasa keimanan
dalam hati orang lebih dalam lagi. Oleh karena itu mereka
menduga pula, bahwa dengan menyebutkan mujizat-mujizat itu
akan berguna sekali, dan tidak akan merugikan. Sekiranya
mereka hidup pada masa kita sekarang ini dan menyaksikan
betapa musuh-musuh Islam itu mempergunakan apa yang mereka
sebutkan itu sebagai argumen mereka menghantam Islam dan
umat Islam, niscaya mereka akan berpegang pada apa yang ada
dalam Qur'an, mereka akan berkata seperti Imam Ghazali,
Muhammad 'Abduh, Maraghi dan pemuka-pemuka lain yang cukup
teliti. Sekiranya mereka hidup pada masa kita sekarang ini,
dan menyaksikan betapa cerita-cerita demikian itu
menyesatkan hati dan kepercayaan orang - bukan sebaliknya,
menanamkan dan menguatkan iman - niscaya cukuplah mereka
menyebutkan saja ayat-ayat Qur'an yang begitu jelas dengan
dalil-dalil yang memang sudah tak dapat dibantah lagi.
Adapun dari segi yang merugikan cerita-cerita yang tidak
diterima oleh akal dan tidak pula ilmiah itu sudah jadi
jelas sekali: bagi setiap orang yang mau menggarap
masalah-masalah serupa ini hendaknya selalu berpegang pada
segi ketelitian ilmiah dalam mengadakan pengujian, demi
pengabdiannya kepada kebenaran, kepada Islam dan kepada
sejarah Nabi. Kebenaran-kebenaran yang diungkapkan oleh
hasil penyelidikan dalam sejarah yang besar ini, adalah
sebagai penyuluh yang akan membawa umat manusia kepada
peradaban yang sebenarnya.
QUR'AN DAN MUJIZAT
Kalau beberapa masalah yang terdapat dalam buku-buku sejarah
hidup Nabi dan kitab-kitab hadis kita perbandingkan dengan
apa yang terdapat dalam Qur'an, tentu tak bisa lain kita
akan menerima pendapat-pendapat para imam yang sangat teliti
itu. Pada waktu itu penduduk Mekah minta kepada Nabi
berbangsa Arab itu supaya Tuhan menurunkan mujizat-mujizat
kepadanya, kalau ia ingin supaya mereka mempercayainya. Maka
Qur'an datang menyebutkan apa yang mereka minta itu dan
menolaknya dengan beberapa argumen: "Dan kata mereka: 'Kami
takkan percaya kepadamu, sebelum kaupancarkan mata air untuk
kami dari bumi ini. Atau engkau mempunyai sebuah kebun kurma
dan anggur, dan di tengah-tengahnya memancar sungai-sungai
yang deras mengalir. Atau seperti kauterangkan kepada kami
kaujatuhkan langit berkeping-keping. Atau kaudatangkan Tuhan
dan malaikat-malaikat itu berhadap-hadapan dengan kami. Atau
engkau mempunyai sebuah mahligai berhiaskan emas. Atau
engkau naik ke langit, dan kenaikanmu itu tidak akan kami
percayai, sebelum kaubawakan sebuah kitab kepada kami yang
akan kami baca' Ya, katakan: Maha suci Tuhanku. Bukankah aku
hanya seorang manusia yang diutus?" (Qur'an 17:90-93)
"Mereka bersumpah sungguh-sungguh demi Allah, bahwa jika
sebuah tanda (mujizat) dibuktikan kepada mereka, niscaya
mereka akan mempercayainya. Katakan: tanda-tanda itu hanya
ada pada Allah. Tapi, sadarkah kamu, bahwa kalaupun itu
dibuktikan, mereka tidak juga akan percaya? Juga akan Kami
balikkan jantung dan pandangan mata mereka; karena tidak
mempercayainya pada pertama kali. Dan akan kami biarkan
mereka mengembara membawa durhaka. Kalaupun Kami kirimkan
malaikat-malaikat kepada mereka dan mayat-mayatpun mengajak
mereka bicara, lalu segalanya Kami kumpulkan di depan hidung
mereka, tidak juga mereka akan mau beriman; kecuali bila
Allah menghendaki. Tetapi kebanyakan mereka tidak mengerti."
(Qur'an 6:109-111)
Di dalam Qur'an tidak ada disebutkan sesuatu mujizat yang
oleh Allah dimaksudkan supaya segenap manusia - menurut
zamannya masing-masing - mempercayai kerasulan Muhammad,
selain daripada Qur'an. Padahal, beberapa mujizat disebutkan
dengan ijin Allah terhadap para rasul yang datang sebelum
Muhammad sama halnya seperti apa yang telah dianugerahkan
Tuhan kepada Muhammad serta dari percakapan yang ditujukan
kepadanya. Apa yang tersebut dalam Qur'an tentang Muhammad,
samasekali tidak bertentangan dengan hukum alam.
Kalau memang sudah itu yang digariskan oleh Qur'an dan
begitu pula yang terjadi terhadap diri Rasulullah, apa lagi
yang mendorong setengah kaum Muslimin - baik pada masa
dahulu ataupun sekarang - menerapkan mujizat-mujizat kepada
Nabi? Mereka terdorong demikian, karena mereka membaca dalam
Qur'an adanya mujizat-mujizat pada para rasul sebelum
Muhammad. Lalu mereka berkeyakinan, bahwa
keajaiban-keajaiban materi (mujizat-mujizat) semacam itu
perlu juga melengkapi kerasulan Muhammad. Mereka lalu
percaya tentang itu sekalipun dalam Qur'an tidak disebutkan.
Merekapun menduga, bahwa makin banyak jumlah mujizat-mujizat
itu, akan makin kuat membuktikan kedudukan Nabi, akan makin
besar pula merangsang orang beriman kepada kerasulan itu.
Memperbandingkan Nabi dengan para rasul yang sebelumnya, ada
perbedaannya. Muhammad adalah Nabi dan Rasul terakhir.
Sekalipun begitu dia adalah Rasul pertama diutus Allah
kepada seluruh umat manusia- bukan diutus hanya kepada
bangsanya saja - supaya memberi penerangan.
MUJIZAT TERBESAR
Oleh karena itu Allah menghendaki supaya mujizat Muhammad
itu adalah mujizat insani yang rasional, yang masuk akal,
yang takkan dapat ditiru, baik oleh manusia maupun jin,
sekalipun mereka satu sama lain saling membantu. Mujizat itu
ialah Qur'an. Ini adalah mujizat terbesar yang pernah
diberikan Allah. Dengan itu Tuhan menghendaki akan
memperkuat kerasulan NabiNya itu dengan argumen yang jelas
dan dalil yang tak dapat dibantah. Ia menghendaki - dengan
itu - agar agama ini mendapat kemenangan pada masa hidup
Rasul, supaya dalam kemenangan itu orang melihat
kemahakuasaanNya. Kalau Tuhan menghendaki adanya mujizat
yang akan membuat mereka yang hidup pada masa Nabi merasa
puas, tentu itu akan disebutkan dalam Qur'an. Tapi ada orang
yang tidak mau percaya kalau tidak dibuktikan dengan akal.
Karena itu maka ayat yang akan meyakinkan seluruh umat
manusia akan kerasulan Muhammad itu ialah yang dekat sekali
hubungannya dengan jantung dan pikiran mereka. Maka Allah
telah memperlihatkan itu dalam bentuk Qur'an, sebagai
argumen yang paling nyata dan sebagai mujizat kepada mereka
dari Nabi yang ummi itu. Ia memperlihatkan kemenangan agama
dan kekuatan iman kepadanya itu dengan melalui dalil dan
keyakinan yang positif. Agama yang dibangun atas dasar
inilah yang lebih kuat menanamkan iman ke dalam hati umat
manusia sepanjang zaman, kepada pelbagai bangsa dan aneka
macam bahasa.
Sekiranya ada segolongan masyarakat yang bukan Islam beriman
kepada agama ini sekarsng, dan sebagai argumennya supaya ia
yakin dan percaya, tidak ada sesuatu mujizat lain daripada
Qur'an, niscaya itu tidak akan mengurangi imannya, juga
tidak akan pula kurang Islamnya. Selama wahyu itu memang
bukan bertugas membawa mujizat-mujizat semacam itu, tak ada
salahnya apabila orang yang sudah beriman kepada Allah dan
kepada RasulNya itu rnau menguji lagi segala yang mengenai
mujizat, yang ada hubungannya dengan wahyu itu. Mana yang
dapat dibuktikan dengan alasan positif dapat saja diterima;
dan mana yang tak dapat.dibuktikan, terserah pada
pendapatnya sendiri. Iapun tidak salah. Beriman kepada Allah
yang tunggal tiada bersekutu memang memerlukan suatu
mujizat, dan untuk itu cukup dengan merenungkan alam semesta
yang telah diciptakan Allah. Begitu juga, sebagai bukti
kerasulan Muhammad, yang dengan perintah Tuhan mengajak
manusia beriman serta menyelamatkan mereka agar jangan
berpaling hati, juga tidak memerlukan sesuatu mujizat selain
Qur'an: tidak diperlukan lebih daripada membacakan Kitab
Suci yang telah diwahyukan Allah kepadanya itu.
Sekiranya ada segolongan masyarakat yang bukan Islam beriman
kepada agama ini sekarang, dan untuk meyakinkan itu tidak
diperlukan sesuatu mujizat lain daripada Qur'an, niscaya
orang yang pernah beriman itu akan terdiri dari dua macam:
pertama orang yang sudah tidak tergoyahkan lagi hatinya;
sejak pertama kali ia mendapat ajakan, hatinya sudah terbuka
menerima iman, seperti halnya yang terjadi dengan Abu Bakr.
Ia berimam dan percaya tanpa ragu-ragu lagi. Yang kedua,
orang yang untuk imannya itu sudah tidak perlu lagi mencari
mujizat-mujizat lain dari balik hukum alam, melainkan
dicarinya di dalam penciptaan alam yang luas ini. Jangkauan
persepsi kita terbatas sekali. Perbatasan alam dalam arti
ruang dan waktu, tak dapat kita tangkap. Sungguhpun demikian
ketentuan-ketentuan itu berjalan menurut hukum yang tidak
berubah-ubah dan tidak pula bertukar-tukar. Melalui
undang-undang Tuhan yang ada dalam alam itu ia akan
terbimbing sampai kepada Penciptanya.
Buat dua macam golongan ini sama saja: baik dengan mujizat
atau tidak. Bahkan keduanya tak pernah memikirkan tentang
mujizat-mujizat itu selain daripada, bahwa itu adalah bukti
karunia Tuhan. Iman yang semacam inilah yang menurut
pendapat bilangan besar pemuka-pemuka Muslimin sebagai
bentuk iman yang tertinggi. Yang sebagian lagi berpendapat,
bahwa sumber iman yang sejati seharusnya jangan karena takut
kepada siksa Allah atau karena mengharapkan pahalaNya,
melainkan harus iman itu semata-mata karena Allah serta fana
total ke dalam Ego Tuhan. KepadaNyalah semua persoalan itu
akan kembali. Kita adalah kepunyaan Allah dan kepadaNya pula
kita kembali.
ORANG-ORANG MUKMIN PADA MASA NABI
Orang-orang sekarang yang sudah beriman, mereka beriman
kepada Allah dan Rasul tanpa didorong oleh adanya
mujizat-mujizat, sama halnya seperti mereka yang beriman
kepada Allah dan Rasul itu pada masa hidup Nabi. Sejarah
tidak menyebutkan, bahwa mujizat-mujizat itu pernah membuat
orang jadi beriman Malah bukti mujizat Tuhan terbesar ialah
wahyu yang diturunkan melalui NabiNya, dan peri hidup Nabi
sendiri dengan akhlaknya yang begitu tinggi, itulah yang
mengajak orang jadi beriman. Semua buku sejarah hidupnya
menyebutkan bahwa ada segolongan orang yang sudah beriman
kepada kerasulan Muhammad sebelum Isra, telah jadi murtad
dari imannya tatkala Nabi menyebutkan, bahwa Tuhan telah
memperjalankannya pada malam haji dari Mesjid Suci ke Mesjid
Aqsha. Tatkala mengejar Muhammad yang sedang hijrah ke
Medinah, dengan maksud supaya membawanya kembali ke Mekah,
hidup atau mati, dengan harapan akan mendapat hadiah uang,
Suraqa b. Ju'syum tidak juga beriman meskipun buku-buku
riwayat hidup Nabi menceritakan adanya mujizat Tuhan
sehubungan dengan peristiwa Suraqa dan kudanya itu. Juga
sejarah tidak pernah menyebutkan bahwa ada orang musyrik
yang beriman kepada kerasulan Muhammad hanya karena salah
satu mujizat, seperti tukang-tukang sihir Firaun yang
beriman setelah melihat tongkat Musa menelan semua yang
telah mereka buat itu.
(bersambung ke bagian 9)
---------------------------------------------
S E J A R A H H I D U P M U H A M M A D
oleh MUHAMMAD HUSAIN HAEKAL
diterjemahkan dari bahasa Arab oleh Ali Audah
Penerbit PUSTAKA JAYA
Jln. Kramat II, No. 31 A, Jakarta Pusat
Cetakan Kelima, 1980
Seri PUSTAKA ISLAM No.1
| |
|
ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota |