Sejarah Hidup Muhammad

oleh Muhammad Husain Haekal

Indeks Islam | Indeks Haekal | Indeks Artikel | Tentang Penulis
ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota

 

BAGIAN KETIGABELAS: PERANG BADR1                         (2/4)
Muhammad Husain Haekal
 
Tetapi Abu Jahl  ketika  mendengar  kata-kata  ini,  tiba-tiba
berteriak:
 
"Kita  tidak  akan  kembali  sebelum kita sampai di Badr. Kita
akan tinggal tiga malam di tempat itu. Kita  memotong  ternak,
kita    makan-makan,    minum-minum    khamr,    kita    minta
biduanita-biduanita  bernyanyi.  Biar  orang-orang  Arab   itu
mendengar  dan  mengetahui perjalanan dan persiapan kita. Biar
mereka tidak lagi mau menakut-nakuti kita."
 
Soalnya pada waktu itu Badr merupakan  tempat  pesta  tahunan.
Apabila  pihak  Quraisy  menarik  diri dari tempat itu setelah
perdagangan mereka selamat, bisa jadi  akan  ditafsirkan  oleh
orang-orang  Arab  -  menurut pendapat Abu Jahl - bahwa mereka
takut kepada Muhammad  dan  teman-temannya.  Dan  ini  berarti
kekuasaan  Muhammad  akan  makin  terasa, ajarannya akan makin
tersebar, makin kuat. Apalagi sesudah adanya  satuan  Abdullah
b.   Jahsy,   terbunuhnya   Ibn'l-Hadzrami,   dirampasnya  dan
ditawannya orang-orang Quraisy.

Mereka jadi ragu-ragu: antara mau ikut Abu Jahl  karena  takut
dituduh   pengecut,   atau   kembali   saja   setelah  kafilah
perdagangan mereka  selamat.  Tetapi  yang  ternyata  kemudian
kembali   pulang   hanya   Banu   Zuhra,  setelah  mereka  mau
mendengarkan saran Akhnas b. Syariq, orang yang cukup  ditaati
mereka.
 
Pihak Quraisy yang lain ikut Abu Jahl. Mereka berangkat menuju
ke sebuah tempat perhentian, di tempat ini  mereka  mengadakan
persiapan perang, kemudian mengadakan perundingan. Lalu mereka
berangkat lagi ke tepi ujung wadi, berlindung di balik  sebuah
bukit pasir.

Sebaliknya  pihak  Muslimin,  yang sudah kehilangan kesempatan
mendapatkan  harta  rampasan,  sudah  sepakat  akan   bertahan
terhadap  musuh bila kelak diserang. Oleh karena itu merekapun
segera  berangkat  ke  tempat  mata  air  di  Badr  itu,   dan
perjalanan  ini lebih mudah lagi karena waktu itu hujan turun.
Setelah mereka sudah mendekati mata  air,  Muhammad  berhenti.
Ada  seseorang  yang  bernama Hubab b. Mundhir b. Jamuh, orang
yang paling banyak mengenal  tempat  itu,  setelah  dilihatnya
Nabi turun di tempat tersebut, ia bertanya:
 
"Rasulullah,  bagaimana  pendapat tuan berhenti di tempat ini?
Kalau ini sudah wahyu Tuhan,  kita  takkan  maju  atau  mundur
setapakpun  dari tempat ini. Ataukah ini sekedar pendapat tuan
sendiri, suatu taktik perang belaka?"
 
"Sekedar pendapat  saya  dan  sebagai  taktik  perang,"  jawab
Muhammad.
 
"Rasulullah,"  katanya  lagi.  "Kalau begitu, tidak tepat kita
berhenti di tempat ini. Mari kita pindah sampai ke tempat mata
air   terdekat   dan  mereka,  lalu  sumur-sumur  kering  yang
dibelakang itu kita timbun. Selanjutnya  kita  membuat  kolam,
kita  isi  sepenuhnya.  Barulah  kita hadapi mereka berperang.
Kita akan mendapat air minum, mereka tidak."
 
Melihat saran  Hubab  yang  begitu  tepat  itu,  Muhammad  dan
rombongannya  segera  pula bersiap-siap dan mengikuti pendapat
temannya  itu,  sambil  mengatakan  kepada  sahabat-sahabatnya
bahwa  dia  juga  manusia  seperti  mereka,  dan bahwa sesuatu
pendapat itu dapat dimusyawarahkan bersama-sama dan dia  tidak
akan  menggunakan  pendapat  sendiri di luar mereka. Dia perlu
sekali  mendapat  konsultasi  yang  baik  dari  sesama  mereka
sendiri.
 
Selesai kolam itu dibuat, Sa'd b. Mu'adh mengusulkan:
 
"Rasulullah,"7  katanya,  "kami  akan membuatkan sebuah dangau
buat  tempat  Tuan  tinggal,  kendaraan  Tuan  kami  sediakan.
Kemudian  biarlah  kami  yang  menghadapi  musuh.  Kalau Tuhan
memberi kemenangan kepada kita atas musuh  kita,  itulah  yang
kita harapkan. Tetapi kalaupun sebaliknya yang terjadi; dengan
kendaraan itu Tuan dapat  menyusul  teman-teman  yang  ada  di
belakang  kita. Rasulullah,7 masih banyak sahabat-sahabat kita
yang tinggal di belakang, dan cinta mereka kepada  tuan  tidak
kurang dari cinta kami ini kepada tuan. Sekiranya mereka dapat
menduga bahwa tuan akan dihadapkan pada perang, niscaya mereka
tidak  akan  berpisah  dari  tuan. Dengan mereka Tuhan menjaga
tuan. Mereka benar-benar ikhlas kepada tuan, berjuang  bersama
tuan."
 
Muhammad  sangat  menghargai dan menerima baik saran Sa'd itu.
Sebuah  dangau  buat  Nabi  lalu  dibangun.  Jadi  bila  nanti
kemenangan bukan di tangan Muslimin, ia takkan jatuh ke tangan
musuh,    dan    masih    akan    dapat    bergabung    dengan
sahabat-sahabatnya di Yathrib.
 
Disini  orang  perlu  berhenti sejenak dengan penuh kekaguman,
kagum melihat  kesetiaan  Muslimin  yang  begitu  dalam,  rasa
kecintaan  mereka  yang  begitu  besar  kepada Muhammad, serta
dengan  kepercayaan  penuh  kepada  ajarannya.  Semua   mereka
mengetahui,  bahwa  kekuatan  Quraisy  jauh  lebih  besar dari
kekuatan mereka, jumlahnya tiga kali lipat banyaknya.  Tetapi,
sungguhpun  begitu,  mereka sanggup menghadapi, mereka sanggup
melawan. Dan mereka inilah yang  sudah  kehilangan  kesempatan
mendapatkan  harta  rampasan.  Tetapi sungguhpun begitu karena
bukan pengaruh materi itu  yang  mendorong  mereka  bertempur,
mereka   selalu  siap  disamping  Nabi,  memberikan  dukungan,
memberikan kekuatan.  Dan  mereka  inilah  yang  juga  sangsi,
antara  harapan akan menang, dan kecemasan akan kalah. Tetapi,
sungguhpun begitu, pikiran  mereka  selalu  hendak  melindungi
Nabi,   hendak  menyelamatkannya  dari  tangan  musuh.  Mereka
menyiapkan jalan baginya untuk  menghubungi  orang-orang  yang
masih  tinggal  di  Medinah.  Suasana yang bagaimana lagi yang
lebih patut dikagumi daripada ini? Iman mana lagi  yang  lebih
menjamin akan memberikan kemenangan seperti iman yang ada ini?

Sekarang  pihak  Quraisy  sudah  turun ke medan perang. Mereka
mengutus orang yang akan memberikan  laporan  tentang  keadaan
kaum  Muslimin.  Mereka  lalu  mengetahui,  bahwa  jumlah kaum
Muslimin  lebih  kurang  tiga  ratus  orang,   tanpa   pasukan
pengintai,   tanpa   bala   bantuan.   Tetapi   mereka  adalah
orang-orang yang hanya berlindung pada pedang mereka  sendiri.
Tiada  seorang  dan  mereka  akan  rela mati terbunuh, sebelum
dapat membunuh lawan.
 
Mengingat bahwa gembong-gembong Quraisy telah juga ikut  serta
dalam  angkatan  perang ini, beberapa orang dari kalangan ahli
pikir mereka merasa kuatir, kalau-kalau banyak dari mereka itu
yang   akan   terbunuh,  sehingga  Mekah  sendiri  nanti  akan
kehilangan arti. Sungguhpun begitu mereka masih  takut  kepada
Abu Jahl yang begitu keras, juga mereka takut dituduh pengecut
dan penakut.  Tetapi  tiba-tiba  tampil  'Utba  b.  Rabi'a  ke
hadapan mereka itu sambil berkata:
 
"Saudara-saudara  kaum  Quraisy,  apa  yang  tuan-tuan lakukan
hendak memerangi Muhammad dan kawan-kawannya  itu,  sebenarnya
tak  ada  gunanya.  Kalau  dia sampai binasa karena tuan-tuan,
masih ada orang lain dari kalangan tuan-tuan sendin yang  akan
melihat,  bahwa  yang  terbunuh  itu adalah saudara sepupunya,
dari  pihak  bapa  atau  pihak  ibu,  atau  siapa  saja   dari
keluarganya.  Kembali  sajalah  dan  biarkan  Muhammad  dengan
teman-temannya itu. Kalau dia binasa karena pihak  lain,  maka
itu  yang  tuan-tuan  kehendaki.  Tetapi  kalau bukan itu yang
terjadi, kita tidak perlu melibatkan diri dalam  hal-hal  yang
tidak kita inginkan."
 
Mendengar  kata-kata 'Utba itu, Abu Jahl naik darah. Ia segera
memanggil 'Amir bin'l-Hadzrami dengan mengatakan:
 
"Sekutumu ini ingin supaya orang  pulang.  Kau  sudah  melihat
dengan  mata  kepala  sendiri siapa yang harus dituntut balas.
Sekarang, tuntutlah pembunuhan terhadap saudaramu!"8
 
'Amir segera bangkit dan berteriak:
 
"O saudaraku! Tak ada jalan lain mesti perang!"
 
Dengan dipercepatnya  pertempuran  itu  Aswad  b.  'Abd'l-Asad
(Makhzum)  keluar  dari  barisan  Quraisy langsung menyerbu ke
tengah-tengah   barisan   Muslimin   dengan   maksud    hendak
menghancurkan  kolam  air  yang  sudah  selesai dibuat. Tetapi
ketika itu juga Hamzah b. Abd'l-Muttalib  segera  menyambutnya
dengan   satu  pukulan  yang  mengenai  kakinya,  sehingga  ia
tersungkur dengan kaki yang  sudah  berlumuran  darah.  Sekali
lagi  Hamzah memberikan pukulan, sehingga ia tewas di belakang
kolam itu. Buat mata pedang memang tak ada yang  tampak  lebih
tajam  daripada  darah.  Juga tak ada sesuatu yang lebih keras
membakar semangat perang dan pertempuran  dalam  jiwa  manusia
daripada  melihat  orang  yang  mati  di  tangan  musuh sedang
teman-temannya berdiri menyaksikan.
 
Begitu melihat Aswad jatuh, maka  tampillah  'Utba  b.  Rabi'a
didampingi  oleh Syaiba saudaranya dan Walid b. 'Utba anaknya,
sambil menyerukan mengajak duel. Seruannya itu  disambut  oleh
pemuda-pemuda  dari Medinah. Tetapi setelah melihat mereka ini
ia berkata lagi:
 
"Kami  tidak  memerlukan  kamu.  Yang  kami  maksudkan   ialah
golongan kami."
 
Lalu dari mereka ada yang memanggil-manggil:
 
"Hai  Muhammad! Suruh mereka yang berwibawa dari asal golongan
kami itu tampil!"
 
Ketika itu juga yang tampil menghadapi mereka adalah Hamzah b.
Abd'l-Muttalib,  Ali  b.  Abi  Talib dan 'Ubaida bin'l-Harith.
Hamzah tidak lagi memberi kesempatan kepada Syaiba,  juga  Ali
tidak  memberi kesempatan kepada Walid, mereka itu ditewaskan.
Lalu  keduanya  segera  membantu  'Ubaida  yang  kini   sedang
diterkam   oleh   'Utba.   Sesudah  Quraisy  sekarang  melihat
kenyataan ini mereka semua maju menyerbu.
 
Pada  pagi  Jum'at  17  Ramadan  itulah  kedua   pasukan   itu
berhadap-hadapan muka.
 
Sekarang  Muhammad  sendiri  yang  tampil  memimpin  Muslimin,
mengatur barisan. Tetapi  ketika  dilihatnya  pasukan  Quraisy
begitu  besar,  sedang  anak buahnya sedikit sekali, disamping
perlengkapan yang sangat lemah dibanding  dengan  perlengkapan
Quraisy,  ia  kembali  ke  pondoknya  ditemani  oleh Abu Bakr.
Sungguh cemas ia akan peristiwa yang akan  terjadi  hari  itu,
sungguh  pilu  hatinya  melihat  nasib yang akan menimpa Islam
sekiranya Muslimin tidak sampai mendapat kemenangan.

Muhammad kini menghadapkan wajahnya ke kiblat, dengan  seluruh
jiwanya  ia menghadapkan diri kepada Tuhan, ia mengimbau Tuhan
akan  segala  apa  yang   telah   dijanjikan   kepadanya,   ia
membisikkan  permohonan  dalam  hatinya  agar Tuhan memberikan
pertolongan.  Begitu  dalam  ia  hanyut   dalam   doa,   dalam
permohonan, sambil berkata:
 
"Allahumma ya Allah. Ini Quraisy sekarang datang dengan segala
kecongkakannya, berusaha hendak mendustakan RasulMu. Ya Allah,
pertolonganMu  juga  yang Kaujanjikan kepadaku. Ya Allah, jika
pasukan ini sekarang binasa tidak lagi ada ibadat kepadaMu."
 
Sementara ia masih  hanyut  dalam  doa  kepada  Tuhan  sambil
merentangkan  tangan menghadap kiblat itu, mantelnya terjatuh.
Ketika itu Abu Bakr lalu  meletakkan  mantel  itu  kembali  ke
bahunya, sambil ia bermohon:
 
"Rasulullah,  dengan doamu itu Tuhan akan mengabulkan apa yang
telah dijanjikan kepadamu."
 
Tetapi sungguhpun begitu, Muhammad makin dalam  terbawa  dalam
doa,  dalam  tawajuh  kepada  Allah;  dengan penuh khusyu' dan
kesungguhan hati ia terus memanjatkan doa, memohonkan  isyarat
dan  pertolongan  Tuhan  dalam menghadapi peristiwa, yang oleh
kaum Muslimin sama sekali  tidak  diharapkan,  dan  untuk  itu
tidak pula mereka punya persiapan. Karena yang demikian inilah
akhirnya ia sampai terangguk dalam  keadaan  mengantuk.  Dalam
pada  itu  tampak  olehnya pertolongan Tuhan itu ada. Ia sadar
kembali, kemudian ia bangun dengan penuh rasa gembira.
 
Sekarang ia keluar menemui  sahabat-sahabatnya;  dikerahkannya
mereka sambil berkata:
 
"Demi  Dia  Yang  memegang  hidup Muhammad.9 Setiap orang yang
sekarang bertempur dengan tabah, bertahan  mati-matian,  terus
maju  dan  pantang  mundur,  lalu  ia  tewas,  maka Allah akan
menempatkannya di dalam surga."
 
Jiwanya yang begitu kuat, yang telah  diberikan  Tuhan  begitu
tinggi  melampaui  segala kekuatan, telah tertanam pula dengan
ajarannya ke dalam  jiwa  orang-orang  beriman.  Dan  kekuatan
mereka  itu  sudah melampaui semangat mereka sendiri, sehingga
setiap orang dari mereka sama dengan dua  orang,  bahkan  sama
dengan sepuluh orang.
 
Akan lebih mudah orang memahami ini bila diingat arti kekuatan
moril yang begitu besar pengaruhnya dalam jiwa seseorang,  dan
ini  akan  bertambah  besar pengaruhnya apabila kekuatan moril
ini  ada  pula  dasarnya.  Semangat  nasionalisma  juga  dapat
menambah  ini.  Seorang prajurit yang mempertahankan tanah air
yang  terancam   bahaya,   jiwanya   penuh   dengan   semangat
patriotisma,  akan  bertambah  kekuatan morilnya sesuai dengan
besar cintanya  kepada  tanah  air  serta  kekuatirannya  akan
bahaya yang mengancam tanah air itu dari pihak musuh.
 
Oleh  karena  itu  semangat  patriotisma dan pengorbanan untuk
tanah air oleh bangsa-bangsa di dunia telah ditanamkan  kepada
warga  negaranya sejak semasa mereka kecil. Adanya kepercayaan
kepada  kebenaran,  kepada  keadilan,  kebebasan  serta   arti
kemanusiaan  yang  tinggi  menambah  pula kekuatan moril dalam
jiwa orang. Ini berarti melipat-gandakan kekuatan materi.  Dan
orang yang masih ingat akan propaganda anti-Jerman yang begitu
luas disebarkan pihak Sekutu dalam Perang Dunia I,  yang  pada
dasarnya  mereka berperang melawan kekuatan senjata Jerman itu
karena  hendak   membela   kebebasan   dan   kebenaran   serta
mempersiapkan  suatu  perjanjian  perdamaian,  akan  menyadari
betapa  sesungguhnya  propaganda  itu  dapat  melipat-gandakan
kekuatan   semangat   prajurit-prajurit   Sekutu   di  samping
menimbulkan simpati sebagian besar bangsa-bangsa di dunia.
 
Apa artinya nasionalisma dan masalah perdamaian,  dibandingkan
dengan  tujuan  yang diserukan Muhammad itu! Tujuan komunikasi
manusia dengan  seluruh  wujud,  suatu  komunikasi  yang  akan
meleburkannya  dan  keluar  menjadi  salah  satu kekuatan alam
semesta, yang akan  memberi  arah  kepadanya  menuju  kebaikan
hidup, kenikmatan dan kesempurnaan yang integral.
 
Ya!  Apa artinya nasionalisma dan masalah perdamaian disamping
kewajibannya disisi Tuhan, membela  orang-orang  yang  beriman
dari  renggutan  mereka yang hendak membuat fitnah dan godaan,
dari mereka  yang  mengalangi  jalan  kebenaran,  mereka  yang
hendak  menjerumuskan  umat  manusia  ke  jurang paganisma dan
syirik. Apabila dengan rasa cinta tanah  air  jiwa  itu  makin
kuat,  sesuai  dengan  semua  kekuatan tanah air yang ada, dan
dengan rasa cinta perdamaian untuk seluruh umat  manusia  jiwa
itupun  makin  kuat, sesuai dengan kekuatan semua umat manusia
yang ada, maka  betapa  pula  dahsyatnya  kekuatan  jiwa  yang
dibawa  oleh  adanya  iman  kepada  semesta wujud dan Pencipta
seluruh wujud  ini!  Iman  itulah  yang  akan  membuat  tenaga
manusia  mampu  memindahkan gunung, menggerakkan isi dunia. Ia
dapat mengawasi - dengan  kemampuan  morilnya  -  segala  yang
masih  berada di bawah taraf itu. Dan kemampuan moril ini akan
berlipat ganda pula kekuatannya.
 
Apabila  secara  integral  kemampuan  moril  ini  belum   lagi
mencapai  tujuannya  disebabkan oleh adanya perbedaan pendapat
di kalangan Muslimin sebelum terjadi perang, belum  dicapainya
kekuatan  materi sebagaimana yang diharapkan, maka dengan daya
iman itu justru ia mempunyai kelebihannya. Hal  ini  bertambah
kuat   lagi  tatkala  Muhammad  dan  sahabat-sahabatnya  dapat
mengerahkan mereka. Maka dengan demikian, jumlah  manusia  dan
perlengkapan   yang   sangat   sedikit   itu  telah  rnendapat
kompensasi. Dalam keadaan  Nabi  dan  sahabat-sahabatnya  yang
demikian inilah kedua ayat ini turun:
 
"O  Nabi!  Bangunkanlah semangat orang-orang beriman itu dalam
menghadapi perang. Bila kamu  berjumlah  duapuluh  orang  yang
tabah,  mereka  ini akan mengalahkan duaratus orang. Bila kamu
berjumlah seratus orang, niscaya akan mengalahkan seribu orang
kafir;  sebab  mereka  adalah orang-orang yang tidak mengerti.
Sekarang Tuhan meringankan kamu, karena Ia  mengetahui,  bahwa
pada  kamu  masih  ada  kelemahan.  Maka,  jika kamu berjumlah
seratus orang yang  tabah,  akan  dapat  mengalahkan  duaratus
orang,  dan  jika  kamu  seribu  orang, akan dapat mengalahkan
duaribu dengan ijin Allah. Dan Allah bersama orang-orang  yang
berhati tabah." (Qur'an, 8:55-56.)

Keadaan  Muslimin  ternyata  bertambah  kuat  setelah Muhammad
membangkitkan semangat mereka, turut  hadir  di  tengah-tengah
mereka, mendorong mereka mengadakan perlawanan terhadap musuh.
Ia menyerukan kepada mereka,  bahwa  surga  bagi  mereka  yang
telah  teruji baik dan langsung terjun ke tengah-tengah musuh.
Dalam hal ini  kaum  Muslimin  mengarahkan  perhatiannya  pada
pemuka-pemuka  dan  pemimpin-pemimpin  Quraisy.  Mereka hendak
dikikis habis sebagai balasan  yang  seimbang  tatkala  mereka
disiksa  di  Mekah  dulu,  dirintangi memasuki Mesjid Suci dan
berjuang untuk Allah.  Bilal  melihat  Umayya  b.  Khalaf  dan
anaknya,  begitu juga beberapa orang Islam melihat mereka yang
dikenalnya di Mekah dulu. Umayya ini adalah orang yang  pernah
menyiksa  Bilal  dulu,  ketika  ia  dibawanya  ketengah-tengah
padang pasir yang paling panas di Mekah. Ditelentangkannya  ia
di  tempat  itu  lalu  ditindihkannya  batu  besar di dadanya,
dengan maksud supaya ia meninggalkan Islam. Tetapi Bilal hanya
berkata: "Ahad, Ahad.10 Yang Satu, Yang Satu."
 
Ketika dilihatnya Umayya, Bilal berkata:
 
"Umayya, moyang kafir. Takkan selamat aku, kalau kau lolos!"
 
Beberapa  orang  dari  kalangan  Muslimin  mengelilingi Umayya
dengan tujuan jangan sampai ia  terbunuh  dan  akan  dibawanya
sebagai tawanan.
 
Tetapi  Bilal  di  tengah-tengah  orang  banyak  itu berteriak
sekeras-kerasnya:
 
"Sekalian tentara Tuhan! Ini Umayya b.  Khalaf  kepala  kafir.
Takkan selamat aku kalau ia lolos."
 
Orang banyak berkumpul. Tetapi Bilal tak dapat diredakan lagi,
dan Umayya dibunuhnya. Ketika itu Mu'adh b. 'Amr b. Jamuh juga
dapat  menewaskan Abu Jahl b. Hisyam. Kemudian Hamzah, Ali dan
pahlawan-pahlawan Islam yang lain  menyerbu  ke  tengah-tengah
pertempuran   sengit  itu.  Mereka  sudah  lupa  akan  dirinya
masing-masing dan lupa pula akan  jumlah  kawan-kawannya  yang
hanya sedikit berhadapan dengan musuh yang begitu besar.
 
Debu dan pasir halus membubung dan beterbangan memenuhi udara.
Kepala-kepala ketika itu sudah  lepas  berjatuhan  dari  tubuh
Quraisy.  Berkat  iman  yang  teguh keadaan Muslimin bertambah
kuat juga. Dengan  gembira  mereka  berseru:  Ahad,  Ahad.  Di
hadapan  mereka  kini  terbuka  tabir ruang dan waktu, sebagai
bantuan  Tuhan  kepada  mereka  dengan  para   malaikat   yang
memberikan  berita gembira, yang membuat iman mereka bertambah
teguh, sehingga bila  salah  seorang  dari  mereka  mengangkat
pedang  dan  mengayunkannya ke leher musuh, seolah-olah tangan
mereka digerakkan dengan tenaga Tuhan.
 
Di  tengah-tengah  medan   pertempuran   yang   sedang   sibuk
dikunjungi  malaikat  maut  memunguti  leher orang-orang kafir
itu,   Muhammad   berdiri.   Diambilnya    segenggam    pasir,
dihadapkannya  kepada  Quraisy.  "Celakalah wajah-wajah mereka
itu!" katanya  sambil  menaburkan  pasir  itu  kearah  mereka.
Sahabat-sahabatnya lalu diberi komando:
 
"Serbu!"
                                    (bersambung ke bagian 3/4)
 
---------------------------------------------
S E J A R A H    H I D U P    M U H A M M A D
 
oleh MUHAMMAD HUSAIN HAEKAL
diterjemahkan dari bahasa Arab oleh Ali Audah
 
Penerbit PUSTAKA JAYA
Jln. Kramat II, No. 31 A, Jakarta Pusat
Cetakan Kelima, 1980
 
Seri PUSTAKA ISLAM No.1

Indeks Islam | Indeks Haekal | Indeks Artikel | Tentang Penulis
ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota

Please direct any suggestion to Media Team