Sejarah Hidup Muhammad

oleh Muhammad Husain Haekal

Indeks Islam | Indeks Haekal | Indeks Artikel | Tentang Penulis
ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota

 

BAGIAN KETIGABELAS: PERANG BADR1                         (3/4)
Muhammad Husain Haekal
 
Serentak  pihak  Muslimin menyerbu kedepan, masih dalam jumlah
yang lebih kecil dari jumlah Quraisy. Tetapi jiwa mereka sudah
penuh terisi oleh semangat dari Tuhan. Sudah bukan mereka lagi
yang membunuh musuh, sudah  bukan  mereka  lagi  yang  menawan
tawanan  perang.  Hanya karena adanya semangat dari Tuhan yang
tertanam  dalam  jiwa  mereka  itu   kekuatan   moril   mereka
bertambah,  sehingga kekuatan materi merekapun bertambah pula.
Dalam hal ini firman Allah turun:
 
"Ingat, ketika Tuhanmu mewahyukan kepada para  malaikat:  'Aku
bersama  kamu.' Teguhkanlah pendirian orang-orang beriman itu.
Akan kutanamkan rasa gentar ke dalam  hati  orang-orang  kafir
itu.  Pukullah  bagian atas leher mereka dan pukul pula setiap
ujung jari mereka." (Qur'an, 8: 12)
 
"Sebenarnya bukan kamu yang membunuh mereka,  melainkan  Allah
juga  yang  telah  membunuh mereka. Juga ketika kau lemparkan,
sebenarnya bukan engkau yang melakukan  itu,  melainkan  Tuhan
juga." (Qur'an, 8: 17)
 
Tatkala  Rasul melihat bahwa Tuhan telah melaksanakan janjiNya
dan  setelah  ternyata  pula  kemenangan   berada   di   pihak
orang-orang   Islam,  ia  kembali  ke  pondoknya.  Orang-orang
Quraisy kabur. Oleh Muslimin mereka dikejar terus. Yang  tidak
terbunuh dan tak berhasil melarikan diri, ditawan.
 
Inilah perang Badr, yang kemudian telah memberikan tempat yang
stabil kepada umat Islam  di  seluruh  tanah  Arab,  dan  yang
merupakan   suatu   pendahuluan   lahirnya  persatuan  seluruh
semenanjung  di  bawah  naungan  Islam,  juga  sebagai   suatu
pendahuluan  adanya persekemakmuran Islam yang terbentang luas
sekali. Ia telah menanamkan sebuah peradaban besar  di  dunia,
yang  sampai  sekarang masih dan akan terus mempunyai pengaruh
yang dalam di dalam jantung kehidupan dunia.
 
Bukan tidak  mungkin  orang  akan  merasa  kagum  sekali  bila
mengetahui,  bahwa, meskipun Muhammad sudah begitu mengerahkan
sahabat-sahabatnya dan mengharapkan  terkikisnya  musuh  Tuhan
dan musuhnya itu, namun sejak semula terjadinya pertempuran ia
sudah minta kepada Muslimin untuk tidak membunuh  Banu  Hasyim
dan   tidak   membunuh   orang-orang  tertentu  dari  kalangan
pembesar-pembesar Quraisy, sekalipun pada dasarnya mereka akan
membunuh  setiap  orang  dari  pihak  Islam  yang dapat mereka
bunuh. Dan jangan pula orang mengira, bahwa ia berbuat  begitu
karena  ia  mau membela keluarganya atau siapa saja yang punya
pertalian keluarga dengan dia. Jiwa Muhammad jauh lebih  besar
daripada  akan  terpengaruh  oleh hal-hal serupa itu. Apa yang
menjadi pertimbangannya ialah, ia masih ingat Banu Hasyim dulu
yang telah berusaha melindunginya selama tigabelas tahun sejak
mula masa kerasulannya hingga  masa  hijrahnya,  sampai-sampai
Abbas  pamannya  ikut  menyertainya  pada malam diadakan ikrar
'Aqaba. Juga jasa orang lain  yang  masih  kafir  di  kalangan
Quraisy di luar Banu Hasyim yang menuntut dibatalkannya piagam
pemboikotan, yang  oleh  Quraisy  dia  dan  sahabat-sahabatnya
dipaksa  tinggal di celah-celah gunung, setelah semua hubungan
oleh  mereka  itu  diputuskan.  Segala  kebaikan  yang   telah
diberikan  oleh  mereka  masing-masing  oleh Muhammad dianggap
sebagai suatu jasa yang harus mendapat balasan setimpal, harus
mendapat  balasan  sepuluh  kali  lipat.  Oleh karena itu oleh
Muslimin   ia   dianggap   sebagai   perantara   bagi   mereka
masing-masing selama terjadi pertempuran, meskipun di kalangan
Quraisy sendiri masih ada yang menolak  pemberian  pengampunan
itu seperti yang dilakukan oleh Abu'l-Bakhtari - salah seorang
yang ikut  melaksanakan  dicabutnya  piagam.  Ia  menolak  dan
terbunuh.
 
Dengan perasaan dongkol penduduk Mekah lari tunggang langgang.
Mereka sudah tak dapat mengangkat muka lagi. Bila mata  mereka
tertumbuk  pada  salah  seorang  kawan  sendiri,  karena  rasa
malunya ia segera membuang muka, mengingat  nasib  buruk  yang
telah menimpa mereka semua.
 
Sampai sore itu pihak Muslimin masih tinggal di Badr. Kemudian
mayat-mayat Quraisy itu mereka kumpulkan dan setelah dibuatkan
sebuah  perigi  besar  mereka  semua dikuburkan. Malam harinya
Muhammad  dan  sahabat-sahabatnya   sibuk   di   garis   depan
menyelesaikan barang-barang rampasan perang serta berjaga-jaga
terhadap  orang-orang  tawanan.  Tatkala  malam  sudah   gelap
Muhammad  mulai  merenungkan  pertolongan yang diberikan Tuhan
kepada Muslimin yang dengan jumlah  yang  begitu  kecil  telah
dapat  menghancurkan kaum musyrik yang tidak mempunyai perisai
kekuatan iman selain membanggakan jumlah besarnya saja.  Dalam
ia   merenungkan   hal   ini,   pada  waktu  larut  malam  itu
sahabat-sahabatnya mendengar ia berkata:
 
"Wahai penghuni perigi!  Wahai  'Utba  b.  Rabi'a!  Syaiba  b.
Rabi'a!  Umayya  b.  Khalaf!  Wahai Abu Jahl b. Hisyam! ..." -
Seterusnya ia menyebutkan nama orang-orang yang  dalam  perigi
itu  satu satu. "Wahai penghuni perigi! Adakah yang dijanjikan
tuhanmu itu benar-benar ada. Aku telah bertemu dengan apa yang
telah dijanjikan Tuhanku."
 
"Rasulullah,  kenapa  bicara  dengan  orang-orang  yang  sudah
bangar?" kata kaum Muslimim kemudian bertanya.
 
"Apa yang saya katakan mereka lebih mendengar daripada  kamu,"
jawab Rasul. "Tetapi mereka tidak dapat menjawab."
 
Ketika  itu Rasulullah melihat ke dalam wajah Abu Hudhaifa ibn
'Utba. Ia tampak sedih dan mukanya berubah.
 
"Barangkali ada sesuatu  dalam  hatimu  mengenai  ayahmu,  Abu
Hudhaifa"? tanyanya.
 
"Sekali-kali  tidak, Rasulullah," jawab Abu Hudhaifa. "Tentang
ayah, saya tidak sangsi lagi, juga tentang kematiannya.  Hanya
saja yang saya ketahui pikirannya baik, bijaksana dan berjasa.
Jadi saya harapkan sekali ia akan  mendapat  petunjuk  menjadi
seorang Islam. Tetapi sesudah saya lihat apa yang teriadi, dan
teringat pula hidupnya dulu  dalam  kekafiran,  sesudah  makin
jauh apa yang saya harapkan dari dia, itulah yang membuat saya
sedih."
 
Tetapi Rasulullah menyebutkan  yang  baik  tentang  dia  serta
mendoakan kebaikan baginya.
 
Keesokan harinya pagi-pagi, bila Muslimin sudah siap-siap akan
berangkat pulang menuju Medinah,  mulailah  timbul  pertanyaan
sekitar  masalah  harta  rampasan, buat siapa seharusnya. Kata
mereka yang melakukan  serangan:  kami  yang  mengumpulkannya;
jadi  itu buat kami. Lalu kata yang mengejar musuh sampai pada
waktu mereka mengalami kehancuran  kalau  tidak  karena  kami,
kamu  tidak akan mendapatkannya. Dan kata mereka yang mengawal
Muhammad karena kuatir akan diserang musuh dari belakang: kamu
sekalian  tak ada yang lebih berhak dari kami. Sebenarnya kami
dapat memerangi musuh dan mengambil harta mereka,  ketika  tak
ada  suatu  pihakpun  yang akan melindungi mereka. Tetapi kami
kuatir adanya serangan musuh kepada  Rasulullah.  Oleh  karena
itu kami lalu menjaganya.
 
Tetapi  kemudian  Muhammad  menyuruh mengembalikan semua harta
rampasan yang ada ditangan mereka itu, dan  dimintanya  supaya
dibawa  agar  ia  dapat  memberikan  pendapat  atau  akan  ada
ketentuan Tuhan yang akan menjadi keputusan.
 
Muhammad mengutus Abdullah b. Rawaha dan Zaid  b.  Haritha  ke
Medinah  guna  menyampaikan  berita  gembira  kepada  penduduk
tentang kemenangan yang telah dicapai  kaum  Muslimin.  Sedang
dia  sendiri  dengan  sahabat-sahabatnya berangkat pula menuju
Medinah dengan membawa tawanan dan rampasan perang yang  telah
diperolehnya  dari  kaum  musyrik,  dan diserahkan pimpinannya
kepada Abdullah b. Ka'b.
 
Mereka berangkat. Sesudah  menyeberangi  selat  Shafra',  pada
sebuah  bukit  pasir Muhammad berhenti. Di tempat ini rampasan
perang yang sudah ditentukan Allah bagi  Muslimin  itu  dibagi
rata. Beberapa ahli sejarah mengatakan, bahwa pembagian kepada
mereka itu sesudah dikurangi seperlimanya sesuai dengan firman
Allah:
 
"Dan  hendaklah  kamu ketahui, bahwa rampasan perang yang kamu
peroleh, seperlimanya untuk Tuhan,  untuk  Rasul,  untuk  para
kerabat dan anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang yang
terlantar dalam perjalanan,  kalau  kamu  benar-benar  beriman
kepada Allah dan pada apa yang Kami turunkan kepada hamba Kami
pada hari yang menentukan itu, hari, ketika dua  golongan  itu
saling  berhadapan. Dan atas segala sesuatu Allah Maha Kuasa."
(Qur'an, 8: 41)
 
Sebahagian besar  penulis-penulis  sejarah  Nabi  berpendapat,
terutama  angkatan lamanya - bahwa ayat tersebut turun sesudah
peristiwa Badr dan sesudah rampasan perang dibagi,  dan  bahwa
Muhammad  membaginya  secara  merata di kalangan Muslimin, dan
bahwa  untuk  kuda  disamakannya  dengan  apa  yang  ada  pada
penunggangnya,  bagian  mereka  yang  gugur  di Badr diberikan
kepada ahli warisnya, mereka yang tinggal di Medinah dan tidak
ikut  ke Badr karena bertugas mengurus keperluan Muslimin, dan
mereka yang dikerahkan berangkat ke Badr  tapi  tertinggal  di
belakang karena sesuatu alasan yang dapat diterima oleh Rasul,
juga mendapat bagian.  Dengan  demikian  rampasan  perang  itu
dibagi  secara  adil.  Yang  ikut  bersama  dalam  perang  dan
mendapat kemenangan bukan hanya yang bertempur saja, melainkan
yang  ikut  bersama-sama  dalam perang dan mendapat kemenangan
itu ialah siapa saja yang ikut bekerja kearah itu,  baik  yang
di garis depan atau yang jauh dari sana.
 
Sementara  kaum  Muslimin dalam perjalanan ke Medinah itu, dua
orang tawanan telah mati terbunuh, yakni seorang bernama Nadzr
bin'l-Harith  dan  yang  seorang  lagi  bernama  'Uqba  b. Abi
Mu'ait.   Sampai   pada   waktu   itu   baik   Muhammad   atau
sahabat-sahabatnya belum lagi membuat suatu peraturan tertentu
dalam menghadapi  para  tawanan  itu  yang  akan  mengharuskan
mereka dibunuh, ditebus atau dijadikan budak. Tetapi Nadzr dan
'Uqba ini keduanya  merupakan  bahaya  yang  selalu  mengancam
Muslimin  selama  di  Mekah  dulu. Setiap ada kesempatan kedua
orang ini selalu mengganggu mereka.
 
Terbunuhnya Nadzr ini ialah tatkala mereka  sampai  di  Uthail
para  tawanan  itu  diperlihatkan  kepada Nabi a.s. Ditatapnya
Nadzr ini dengan pandangan mata yang demikian  rupa,  sehingga
tawanan  ini  gemetar  seraya  berkata  kepada  seseorang yang
berada di sampingnya:
 
"Muhammad pasti akan membunuh  aku,"  katanya.  "Ia  menatapku
dengan pandangan mata yang mengandung maut."
 
"Ini  hanya karena kau merasa takut saja," jawab orang yang di
sebelahnya.
 
Sekarang Nadzr berkata kepada Mushiab b. 'Umair -  orang  yang
paling banyak punya rasa belas-kasihan di tempat itu.
 
"Katakan kepada temanmu itu supaya aku dipandang sebagai salah
seorang sahabatnya. Kalau ini tidak kaulakukan pasti dia  akan
membunuh aku."
 
"Tetapi   dulu   kau  mengatakan  begini  dan  begitu  tentang
Kitabullah dan tentang diri Nabi,"  kata  Mushiab.  "Dulu  kau
menyiksa sahabat-sahabatnya."
 
"Sekiranya  engkau  yang  ditawan  oleh  Quraisy,  kau  takkan
dibunuh selama aku masih hidup," kata Nadzr lagi.
 
"Engkau tak dapat dipercaya,"  kata  Mush'ab.  "Dan  lagi  aku
tidak seperti engkau. Janji Islam dengan kau sudah terputus."
 
Sebenarnya  Nadzr adalah tawanan Miqdad, yang dalam hal ini ia
ingin memperoleh tebusan yang  cukup  besar  dan  keluarganya.
Mendengar  percakapan  tentang  akan  dibunuhnya itu ia segera
berkata:
 
"Nadzr tawananku," teriaknya.
 
"Pukul lehernya," kata Nabi  a.s.  "Ya  Allah.  Semoga  Miqdad
mendapat karuniaMu."
 
Dengan  pukulan  pedang  kemudian  ia  dibunuh oleh Ali b. Abi
Talib.
 
Pada   waktu   mereka   dalam   perjalanan   ke   'Irq'z-Zubya
diperintahkan  oleh  Nabi  supaya  'Uqba  b.  Abi  Mu'ait juga
dibunuh.
 
"Muhammad," katanya, "siapa yang akan mengurus anak-anak?"
 
"Api," jawabnya.
 
Lalu iapun dibunuh oleh Ali b. Abi Talib atau oleh  'Ashim  b.
Thabit, sumbernya berlain-lain.

Sehari  sebelum  Nabi  dan  Muslimin  sampai  di Medinah kedua
utusannya Zaid b. Haritha dan Abdullah b. Rawaha  sudah  lebih
dulu  sampai.  Mereka masing-masing memasuki kota dari jurusan
yang berlain-lainan. Dan  atas  unta  yang  dikendarainya  itu
Abdullah  mengumumkan  dan  memberikan  kabar  gembira  kepada
Anshar  tentang  kemenangan  Rasulullah  dan  sahabat-sahabat,
sambil   menyebutkan   siapa-siapa   dan  pihak  musyrik  yang
terbunuh. Begitu juga Zaid b. Haritha melakukan hal yang  sama
sambil  ia  menunggang  Al-Qashwa',  unta kendaraan Nabi. Kaum
Muslimin bergembira ria. Mereka  berkumpul,  dan  mereka  yang
masih   berada   dalam  rumah  pun  keluar  beramai-ramai  dan
berangkat menyambut berita kemenangan besar ini.
 
Sebaliknya orang-orang musyrik dan orang-orang  Yahudi  merasa
terpukul  sekali  dengan  berita  itu.  Mereka  berusaha  akan
meyakinkan diri  mereka  sendiri  dan  meyakinkan  orang-orang
Islam yang tinggal di Medinah, bahwa berita itu tidak benar.
 
"Muhammad    sudah    terbunuh    dan   teman-temannya   sudah
ditaklukkan,"  tenak  mereka.  "Ini  untanya   seperti   sudah
sama-sama  kita kenal. Kalau dia yang menang, niscaya unta ini
masih di sana. Apa yang dikatakan  Zaid  hanya  mengigau  saja
dia, karena sudah gugup dan ketakutan."
 
Tetapi  pihak  Muslimin  setelah mendapat kepastian benar dari
kedua utusan itu dan yakin sekali akan kebenaran  berita  itu,
sebenarnya  mereka  malah  makin  gembira,  kalau  tidak  lalu
terjadi suatu penstiwa yang mengurangi rasa kegembiraan mereka
itu,  yakni  penstiwa  kematian  Ruqayya  puteri Nabi. Tatkala
ditinggalkan  pergi  ke  Badr  ia  dalam  keadaan  sakit,  dan
suaminya,   Usman   b.   'Affan,   juga   ditinggalkan  supaya
merawatnya.
 
Apabila kemudian temyata bahwa Muhammad  yang  menang,  mereka
merasa  sangat  terkejut. Posisi mereka terhadap Muslimin jadi
lebih rendah dan hina sekali, sampai-sampai ada salah  seorang
pembesar Yahudi yang mengatakan:
 
"Bari  kita  sekarang  lebih  baik  berkalang  tanah  daripada
tinggal   di   atas   bumi   ini   sesudah   kaum   bangsawan,
pemimpinpemimpin  dan  pemuka-pemuka Arab serta penduduk tanah
suci itu mendapat bencana."
 
Kaum Muslimin memasuki Medinah sehari sebelum  tawanan-tawanan
perang  sampai.  Setelah  mereka  dibawa  dan  Sauda bt. Zam'a
isteri Nabi  baru  saja  pulang  melawati11  orang  mati  pada
kabilah  Banu  'Afra',  tempat  asalnya,  dilihatnya Abu Yazid
Suhail b.  'Amr,  salah  seorang  tawanan,  yang  kedua  belah
tangannya  diikat dengan tali ke tengkuk, ia tak dapat menahan
diri. Dihampirinya orang itu seraya katanya:
 
"Oh Abu Yazid! Kamu sudah menyerahkan diri.  Lebih  baik  mati
sajalah dengan terhormat!."
 
"Sauda!"   Muhammad   memanggilnya   dan   dalam  rumah.  "Kau
membangkitkan semangatnya melawan Allah dan RasulNya!"
 
"Rasulullah,"  katanya.  "Demi  Allah  Yang  telah  mengutusmu
dengan  segala  kebenaran.  Saya  sudah tak dapat menahan diri
ketika melihat Abu Yazid dengan tangannya terikat  di  tengkuk
sehingga saya berkata begitu."
 
Sesudah  itu  kemudian  Muhammad memisah-misahkan para tawanan
itu  di  antara  sahabat-sahabatnya,  sambil  berkata   kepada
mereka:
 
"Perlakukanlah mereka sebaik-baiknya."
 
Hal  ini  kemudian  menjadi  pikiran  baginya,  apa yang harus
dilakukannya terhadap mereka  itu.  Dibunuh  saja  atau  harus
meminta tebusan dari mereka? Mereka itu orang-orang yang keras
dalam perang, orang yang kuat  bertempur.  Hati  mereka  penuh
rasa  dengki dan dendam setelah mereka mengalami kehancuran di
Badr, serta  akibatnya  yang  telah  membawa  keaiban  sebagai
tawanan  perang.  Apabila ia mau menerima tebusan, ini berarti
mereka akan berkomplot dan  akan  kembali  memeranginya  lagi;
kalau  dibunuh saja mereka itu, akan menimbulkan sesuatu dalam
hati  keluarga-keluarga  Quraisy,  yang  bila  dapat   ditebus
barangkali akan jadi tenang.
 
Ia  menyerahkan  masalah  ini  ketangan  sahabat-sahabat  kaum
Muslimin. Diajaknya mereka bermusyawarah dan pilihan  terserah
kepada    mereka.    Kalangan    Muslimin    sendiri   melihat
tawanan-tawanan  ini  ternyata  masih  ingin  hidup  dan  akan
bersedia membayar tebusan dengan harga tinggi.
 
"Lebih baik kita mengirim orang kepada Abu Bakr," kata mereka.
"Dari kerabat kita ia orang Quraisy  yang  pertama,  dan  yang
paling  lembut dan banyak punya rasa belas-kasihan. Kita tidak
melihat Muhammad menyukai yang lain lebih dari dia."
 
Lalu mereka mengutus orang menemui Abu Bakr.
 
"Abu Bakr," kata mereka. "Di antara kita ada yang masih pernah
ayah,  saudara,  paman  atau  mamak  kita serta saudara sepupu
kita.  Orang  yang  jauh  dari  kitapun  masih  kerabat  kita.
Bicarakanlah  dengan sahabatmu itu supaya bermurah hati kepada
kami atau menerima penebusan kami."
 
Dalam hal ini Abu Bakr berjanji akan berusaha.  Tetapi  mereka
kuatir  Umar ibn'l-Khattab akan mempersulit urusan mereka ini.
Maka mereka mengutus beberapa  orang  lagi  kepadanya,  dengan
menyatakan seperti yang dikatakan kepada Abu Bakr. Tetapi Umar
menatap mereka penuh  curiga.  Kemudian  kedua  sahabat  besar
Muhammad   ini   berangkat   menemuinya.   Abu  Bakr  berusaha
melunakkan dan meredakan kemarahannya.
 
"Rasulullah," katanya. "Demi ayah dan ibuku. Mereka itu  masih
keluarga  kita; ada ayah, ada anak atau paman, ada sepupu atau
saudara-saudara. Orang yang jauh dari  kitapun  masih  kerabat
kita.  Bermurah  hatilah  kita kepada mereka itu. Semoga Tuhan
memberi kemurahan kepada kita.  Atau  kita  terimalah  tebusan
dari  mereka,  semoga Tuhan akan menyelamatkan mereka dari api
neraka. Maka apa yang kita ambil dari mereka  akan  memperkuat
kaum  Muslimin  juga.  Semoga  Allah  kelak  membalikkan  hati
mereka."
 
Muhammad diam, tidak menjawab. Kemudian ia berdiri  dan  pergi
menyendiri. Oleh Umar ia didekati dan duduk di sebelahnya.
 
"Rasulullah,"   katanya.   "Mereka   itu   musuh-musuh  Tuhan.
Mendustakan tuan, memerangi tuan dan  mengusir  tuan.  Penggal
sajalah leher mereka. Mereka inilah kepala-kepala orang kafir,
pemuka-pemuka orang yang sesat. Orang-orang musyrik itu adalah
orang-orang yang sudah dihinakan Tuhan."
 
Juga Muhammad tidak menjawab.
 
Sekarang  Abu  Bakr  kembali ke tempat duduknya semula. Begitu
lemah-lembut ia bersikap sambil mengharapkan sikap yang  lebih
lunak.  Disebutnya  adanya  pertalian  famili dan kerabat, dan
kalau  para  tawanan  itu  masih  hidup,  diharapkannya   akan
mendapat  petunjuk  Tuhan.  Sedang Umar kembali memperlihatkan
sikapnya  yang  adil  dan  keras.  Baginya  lemah-lembut  atau
kasihan tidak ada.
 
Selesai Abu Bakr dan Umar bicara, Muhammad berdiri. Ia kembali
ke kamarnya. Ia tinggal sejenak di sana. Kemudian  ia  kembali
keluar.  Orang  ramai  segera  melibatkan diri dalam persoalan
ini. Satu pihak mendukung pendapat Abu Bakr, yang lain memihak
kepada  Umar.  Nabi  mengajak mereka berunding, apa yang harus
dilakukannya. Lalu dibuatnya  suatu  perumpamaan  tentang  Abu
Bakr  dan  Umar.  Abu  Bakr  adalah seperti Mikail, diturunkan
Tuhan dengan membawa sifat pemaaf kepada  hambaNya.  Dan  dari
kalangan  nabi-nabi  seperti  Ibrahim.  Ia sangat lemah-lembut
terhadap masyarakatnya. Oleh masyarakatnya sendiri  ia  dibawa
dan  dicampakkan  ke  dalam  api.  Tapi  tidak  lebih ia hanya
berkata:
 
"Cih! Kenapa kamu menyembah  sesuatu  selain  Allah?  Tidakkah
kamu berakal?" (Qur'an, 21: 67)
 
Atau seperti katanya:
 
"Yang ikut aku, dia itulah yang di pihakku. Tapi terhadap yang
membangkang kepadaku, Engkau Maha  Pengampun  dan  Penyayang."
(Qur'an. 14: 36)
                                    (bersambung ke bagian 4/4)
 
---------------------------------------------
S E J A R A H    H I D U P    M U H A M M A D
 
oleh MUHAMMAD HUSAIN HAEKAL
diterjemahkan dari bahasa Arab oleh Ali Audah
 
Penerbit PUSTAKA JAYA
Jln. Kramat II, No. 31 A, Jakarta Pusat
Cetakan Kelima, 1980
 
Seri PUSTAKA ISLAM No.1

Indeks Islam | Indeks Haekal | Indeks Artikel | Tentang Penulis
ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota

Please direct any suggestion to Media Team