Sejarah Hidup Muhammad

oleh Muhammad Husain Haekal

Indeks Islam | Indeks Haekal | Indeks Artikel | Tentang Penulis
ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota

 

BAGIAN KEDUAPULUH EMPAT: PEMBEBASAN MEKAH                (2/3)
Muhammad Husain Haekal
 
Disamping  Abbas,  yang  juga  berangkat menyongsong ialah Abu
Sufyan bin'l-Harith b. 'Abd'l-Muttalib, sepupu Nabi,  Abdullah
b.    Abi   Umayya   bin'l-Mughira,   anak   bibinya.   Mereka
menggabungkan diri dengan  pasukan  Muslimin  di  Niq'l-'Uqab.
Mereka berdua minta ijin akan menemui Nabi, tapi Nabi menolak.
 
"Tidak  perlu  aku  kepada mereka," katanya kepada Umm Salama,
isterinya, ketika ia mencoba membicarakan  masalah  dua  orang
itu.  "Aku  sudah  banyak  menderita  karena anak pamanku itu.
Sedang anak bibiku, dan iparku pula, ia sudah mengatakan  yang
bukan-bukan ketika ia di Mekah."
 
Keterangan ini disampaikan kepada Abu Sufyan, dan dia berkata:
 
"Demi  Allah,  bagiku  hanyalah  aku  ingin diijinkan bertemu,
atau, dengan bantuan anakku ini, kami akan pergi ke mana saja,
sampai kami mati kehausan dan kelaparan."
 
Nabi   merasa  kasihan  kepada  mereka.  Kemudian  mereka  pun
diijinkan masuk menemuinya, dan mereka menyatakan masuk Islam.

Menyaksikan pasukan Muslimin serta kekuatannya  yang  demikian
rupa,  Abbas  b.  'Abd'l-Muttalib  sekarang  merasa  cemas dan
terkejut sekali. Sekalipun ia sudah masuk Islam, namun hatinya
selalu  kuatir  akan  bencana  yang  akan  menimpa  Mekah jika
kekuatan pasukan yang belum pernah ada bandingannya di seluruh
jazirah  Arab  itu kelak menyerbu ke dalam kota. Bukankah baru
saja  ia  meninggalkan  Mekah,   meninggalkan   keluarga   dan
handai-tolan, yang belum lagi terputus pertalian mereka karena
Islam yang baru dianutnya itu? Boleh jadi ia  menyatakan  rasa
kekuatirannya  itu kepada Rasul, dan ia bertanya apa yang akan
diperbuatnya kalau pihak Quraisy minta damai. Atau boleh  jadi
juga sepupunya ini yang dengan senang hati membuka pembicaraan
dengan Abbas dalam  hal  ini,  dan  diharapkannya  ia  menjadi
seorang  utusan yang akan memberi kesan yang menakutkan kepada
sekelompok orang di kalangan Quraisy itu, sehingga kelak dapat
memasuki  Mekah tanpa sesuatu pertumpahan darah dan Mekah akan
tetap  dalam  kesuciannya  seperti  dulu  dan   seperti   yang
seharusnya akan demikian.
 
Dengan duduk di atas seekor bagal3 putih kepunyaan Nabi, Abbas
berangkat pergi ke daerah Arak, dengan harapan kalau-kalau  ia
akan berjumpa dengan orang mencari kayu, atau tukang susu atau
dengan manusia siapa saja yang sedang pergi ke Mekah. Ia  akan
menitipkan  pesan  kepada  penduduk  kota itu tentang kekuatan
pasukan Muslimin yang sebenarnya supaya mereka  kelak  menemui
Rasulullah  dan  minta damai sebelum pasukan ini memasuki kota
dengan kekerasan.
 
Sejak pihak Muslimin berlabuh di Marr'z-Zahran, pihak  Quraisy
sudah  mulai  merasakan  adanya  bahaya  yang sedang mendekati
mereka. Maka diutusnya Abu Sufyan b. Harb,  Budail  b.  Warqa'
dan  Hakim  b.  Hizam  - masih kerabat Khadijah - mencari-cari
berita serta mengajuk sampai seberapa jauh bahaya yang mungkin
mengancam mereka itu.

Sementara  Abbas  sedang  di  atas  bagal Nabi yang putih itu,
tiba-tiba ia mendengar ada percakapan  antara  Abu  Sufyan  b.
Harb dengan Budail b. Warqa' sebagai berikut:
 
Abu  Sufyan:  "Aku belum pernah melihat api unggun dan pasukan
tentara seperti yang kita lihat malam ini."
 
Budail: "Tentu itu api unggun Khuza'a  yang  sudah  dirangsang
perang."

Abbas  sudah  mengenal suara Abu Sufyan itu, lalu dipanggilnya
dengan nama julukannya:
 
"Abu Hanzala!"
 
"Abu'l-Fadzl!" gilir Abu Sufyan menyahut.
 
"Abu Sufyan, kasihan engkau!" kata Abbas.  "Rasulullah  berada
di  tengah-tengah  rombongan  itu.  Apa  jadinya Quraisy kalau
mereka memasuki Mekah dengan kekerasan."
 
"Apa yang harus kita perbuat!" kata Abu Sufyan. "Kupertaruhkan
ibu-bapaku untukmu."4
 
Oleh  Abbas  ia  dinaikkannya  di belakang bagal dan diajaknya
berangkat  bersama-sama,  sedang  kedua  temannya   disuruhnya
kembali  ke Mekah. Oleh karena ketika melihat bagal itu mereka
sudah mengenalnya, dibiarkannya  ia  dengan  penumpangnya  itu
lalu  di  hadapan  mereka, di tengah-tengah sepuluh ribu orang
yang sedang memasang api unggun, yang sengaja  dipasang  untuk
menimbulkan kegentaran dalam hati penduduk Mekah.
 
Akan  tetapi  ketika  bagal  itu lalu di depan api unggun Umar
bin'l-Khattab, dan Umar melihatnya, sekaligus ia mengenal  Abu
Sufyan dan diketahuinya pula bahwa Abbas hendak melindunginya.
Cepat-cepat ia pergi ke kemah Nabi dan dimintanya kepada  Nabi
supaya batang leher orang itu dipenggal.
 
"Rasulullah," kata Abbas. "Saya sudah melindunginya."

Menghadapi situasi semacam itu dan waktu sudah malam pula, dan
setelah terjadi perdebatan yang kadang sengit juga antara Umar
dan Abbas, Muhammad berkata:
 
"Bawalah  dia dulu ke tempatmu, Abbas. Pagi-pagi besok bawa ke
mari."
 
Keesokan  harinya,  bilamana  Abu  Sufyan  sudah  dibawa  lagi
menghadap  Nabi  dan  disaksikan  oleh  pembesar-pembesar dari
kalangan Muhajirin dan Anshar - terjadi dialog demikian ini:
 
Nabi: "Kasihan kamu Abu Sufyan! Bukankah sudah  tiba  waktunya
sekarang  engkau  harus mengetahui, bahwa tak ada Tuhan selain
Allah!?"
 
Abu  Sufyan:  "Demi  ibu-bapaku!  Sungguh  bijaksana   engkau!
Sungguh  pemurah engkau dan suka memelihara hubungan keluarga!
Aku memang sudah menduga, bahwa tak ada  tuhan  selain  Allah,
itu sudah mencukupi segalanya."
 
Nabi: "Kasihan engkau Abu Sufyan! Bukankah sudah tiba waktunya
engkau harus mengetahui, bahwa aku Rasulullah!?"
 
Abu  Sufyan:  "Demi  ibu-bapaku!  Sungguh  bijaksana   engkau!
Sungguh  pemurah engkau dan suka memelihara hubungan keluarga!
Tetapi mengenai hal ini, sungguh  sampai  sekarang  masih  ada
sesuatu dalam hatiku."
 
Sekarang  Abbas  campur  tangan.  Ia  bicara  dengan ditujukan
kepada Abu Sufyan, supaya ia mau menerima Islam  dan  bersaksi
bahwa tak ada tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad pesuruhNya
- sebelum batang lehernya dipenggal. Menghadapi hal  ini  buat
Abu  Sufyan  tak  ada  jalan  lain ia harus menerima. Sekarang
Abbas menghadapkan pembicaraannya kepada Nabi 'alaihissalam:
 
"Rasulullah," katanya. "Abu Sufyan  orang  yang  gila  hormat.
Berikanlah sesuatu kepadanya."
 
"Ya," kata Rasulullah "Barangsiapa datang ke rumah Abu Sufyan,
orang itu selamat, barangsiapa menutup  pintu  rumahnya  orang
itu  selamat  dan  barangsiapa masuk ke dalam mesjid orang itu
juga selamat."
 
Ahli-ahli sejarah dan penulis-penulis riwayat hidup Nabi semua
sepakat  tentang  terjadinya  peristiwa-peristiwa  itu.  Hanya
sebagian mereka masih ada yang  bertanya-tanya:  Adakah  semua
itu terjadi karena kebetulan saja? Kepergian Abbas kepada Nabi
dengan maksud  hendak  pergi  ke  Medinah,  tiba-tiba  bertemu
dengan   pasukan   tentara  Muslimin  di  Juhfa,  begitu  juga
kepergian Budail b. Warqa' dan Abu Sufyan b. Harb  yang  hanya
sekedar  mau  mengintai,  padahal  sebelum  itu Budail sendiri
sudah ke Medinah dan melaporkan kepada  Nabi  apa  yang  telah
terjadi terhadap Khuza'a dan dari Nabi diketahuinya bahwa Nabi
akan membelanya. Adakah  dalam  kepergiannya  ini  Abu  Sufyan
tidak  menyadari  bahwa  Muhammad  juga telah berangkat hendak
menyerbu Mekah? Ataukah karena sesuatunya itu - sedikit banyak
-  dengan suatu persepakatan yang sudah diatur lebih dulu, dan
karena persepakatan itu pula, telah mempertemukan Abbas dengan
Abu  Sufyan, dan bahwa Abu Sufyan sudah yakin - sejak ia pergi
ke  Medinah  hendak  meminta  perpanjangan  waktu   Perjanjian
Hudaibiya  dan  kembali  dengan  tangan kosong - bahwa tak ada
jalan lain buat Quraisy akan dapat menahan Muhammad dan  yakin
pula  ia  bahwa kalau ia membukakan jalan untuk pembebasan itu
ia   akan   tetap   memegang   pimpinan   dan   mempertahankan
kedudukannya  yang  penting di Mekah, dan bahwa apa yang telah
menjadi persepakatan  mereka  itu  tidak  sampai  pula  kepada
Muhammad  dan  kepada  orang-orang  yang berkepentingan dengan
soal itu,  dengan  kenyataan  bahwa  Umar  sendiri  pun  telah
bermaksud  hendak  membunuh Abu Sufyan? Besar sekali risikonya
kita akan menjatuhkan vonis. Tetapi rasanya  kita  sudah  akan
dapat  memastikan  -  untuk  memuaskan  hati kita - bahwa baik
karena suatu  kebetulan  saja  yang  telah  menyebabkan  semua
peristiwa  itu,  atau  karena  memang  sudah ada semacam suatu
persepakatan, tapi yang terang kedua kejadian itu menunjukkan,
betapa  cermat  dan  pandainya  Muhammad dapat menguasai suatu
peperangan terbesar dalam sejarah Islam tanpa pertempuran  dan
tanpa pertumpahan darah.

Islamnya  Abu Sufyan itu tidak akan mengurangi kewaspadaan dan
kesiap-siagaan Muhammad dalam menyiapkan diri hendak  memasuki
Mekah.  Kalau  kemenangan  yang  di  tangan  Tuhan  itu memang
diberikan kepada siapa saja yang  dikehendakiNya,  tapi  Tuhan
akan  memberikan  pertolongan  hanya  kepada  orang yang sudah
mengadakan persiapan, dan dalam segala  hal  dan  setiap  saat
berjaga-jaga  terhadap  segala  kemungkinan.  Oleh  karena itu
diperintahkannya supaya Abu Sufyan ditahan dulu di sela  wadi,
pada  sebuah  jalan masuk gunung ke Mekah, sehingga bila nanti
pasukan Muslimin lewat, ia akan melihatnya sendiri, dan  dapat
pula  dengan  jelas  ia  melaporkan kepada golongannya, supaya
jangan timbul perlawanan yang bagaimanapun bentuknya,  apabila
ia dapat cepat-eepat kembali kepada mereka kelak.
 
Bilamana  kemudian  kabilah-kabilah  itu  lewat di hadapan Abu
Sufyan, yang sangat mempesonakan hatinya ialah batalion  serba
hijau  yang  mengelilingi  Muhammad,  yang  terdiri  dari kaum
Muhajirin dan Anshar, dan yang tampak hanyalah  pakaian  besi.
Setelah mengetahui keadaan itu Abu Sufyan berkata:
 
"Abbas,  kiranya  takkan  ada  orang  yang  sanggup menghadapi
mereka itu. Abu'l-Fadzl, kerajaan kemenakanmu ini  kelak  akan
menjadi besar!"
 
Sesudah  itu  kemudian ia dibebaskan pergi menemui golongannya
dan dengan suara keras ia berteriak kepada mereka:
 
"Saudara-saudara  Quraisy!  Muhammad  sekarang  datang  dengan
kekuatan  yang  takkan  dapat  kamu  lawan. Tetapi barangsiapa
datang ke rumah Abu  Sufyan  orang  itu  selamat,  barangsiapa
menutup  pintu  rumahnya,  orang  itu  selamat dan barangsiapa
masuk ke dalam mesjid orang itu juga selamat!"
 
Muhammad  sudah  berangkat  bersama   pasukannya   sampai   ke
Dhu-Tuwa.   Setelah   dilihatnya   dari  tempat  itu  tak  ada
perlawanan  dari  pihak  Mekah,  pasukannya   dihentikan.   Ia
membungkuk  menyatakan  rasa  syukur  kepada Tuhan, yang telah
membukakan pintu  Lembah  Wahyu  dan  tempat  Rumah  Suci  itu
kepadanya  dan  kepada  kaum  Muslimin,  sehingga mereka dapat
masuk dengan aman, dengan tenteram.
 
Dalam pada itu Abu Quhafa (ayah Abu Bakr) -  yang  belum  lagi
masuk  Islam waktu itu - meminta kepada cucunya yang perempuan
supaya ia dibawa mendaki gunung  Abu  Qubais.  Sesampainya  di
atas gunung, orang yang sudah buta itu bertanya kepada cucunya
apa yang dilihatnya. Oleh cucunya  dijawab  bahwa  ia  melihat
sesuatu  serba  hitam  berkelompok "ltu pasukan berkuda", kata
orang tua itu.
 
"Sekarang yang serba hitam itu sudah terpencar," kata  cucunya
lagi.
 
"Kalau  begitu  pasukan  berkuda itu sedang bertolak ke Mekah.
Cepat-cepatlah bawa aku pulang ke rumah."
 
Tetapi sebelum ia sampai ke rumahnya pasukan berkuda itu sudah
lebih dulu sampai.

Muhammad merasa bersyukur kepada Tuhan karena pintu Mekah kini
telah terbuka. Tetapi  sungguhpun  demikian  ia  tetap  selalu
waspada  dan  berhati-hati. Diperintahkannya pasukannya supaya
dipecah menjadi  empat  bagian.  Diperintahkan  kepada  mereka
semua  supaya  jangan  melakukan  pertempuran,  jangan  sampai
meneteskan darah, kecuali jika sangat terpaksa sekali.  Zubair
bin'l-'Awwam dalam memimpin pasukan itu ditempatkan pada sayap
kiri dan diperintahkan  memasuki  Mekah  dari  sebelah  utara.
Khalid   bin'l-Walid   ditempatkan   pada   sayap   kanan  dan
diperintahkan supaya memasuki Mekah dari jurusan  bawah.  Sa'd
b.  'Ubada  yang  memimpin orang Medinah supaya memasuki Mekah
dari sebelah  barat,  sedang  Abu  'Ubaida  bin'l-Jarrah  oleh
Muhammad   ditempatkan   ke   dalam   barisan   Muhajirin  dan
bersama-sama memasuki Mekah dari bagian atas, di  kaki  gunung
Hind.
 
Sementara   mereka   sedang   dalam  persiapan  demikian  itu,
tiba-tiba terdengar Said b. 'Ubada berkata:
 
"Hari ini adalah hari perang. Hari dibolehkannya  segala  yang
terlarang ..."
 
Dalam  hal  ini  ia  telah melanggar perintah Nabi, bahwa kaum
Muslimin tidak boleh membunuh penduduk Mekah. Oleh karena itu,
ketika  Nabi  mengetahui  apa  yang  dikatakan  oleh Sa'd itu,
terpikir olehnya akan mengambil bendera yang ada di  tangannya
dan menyerahkannya kepada anaknya, Qais. Qais adalah laki-laki
yang bertubuh besar, tapi ia lebih tenang dari ayahnya.
 
Ketika pasukan sudah memasuki kota, dari pihak Mekah tidak ada
perlawanan, kecuali pasukan Khalid bin'l-Walid yang berhadapan
dengan perlawanan dari mereka yang tinggal  di  daerah  bagian
bawah  Mekah. Mereka ini terdiri dari orang-orang Quraisy yang
paling keras memusuhi Muhammad dan yang ikut serta dengan Banu
Bakr melanggar Perjanjian Hudaibiya dengan mengadakan serangan
terhadap Khuza'a. Mereka ini tidak  mau  memenuhi  seruan  Abu
Sufyan.  Bahkan mereka telah menyiapkan diri hendak berperang,
sementara yang  lain  dari  golongan  mereka  ini  juga  telah
bersiap-siap  pula hendak melarikan diri. Mereka dipimpin oleh
Safwan, Suhail dan  'Ikrima  b.  Abi  Jahl.  Bilamana  pasukan
Khalid ini datang, mereka menghujaninya dengan serangan panah.
Tetapi secepat  itu  pula  Khalid  berhasil  meneerai-beraikan
mereka.  Sungguhpun  begitu dua orang dari anak buahnya tewas,
karena mereka ini ternyata sesat jalan dan terpisah dari induk
pasukannya,   sementara  pihak  Quraisy  kehilangan  tigabelas
orang, menurut  satu  sumber,  atau  duapuluh  delapan  orang,
menurut sumber yang lain.
 
Melihat  malapetaka  yang  sekarang sedang menimpa mereka ini,
Shafwan, Suhail dan 'Ikrima cepat-cepat angkat kaki  melarikan
diri,  dengan  meninggalkan  orang-orang  yang  tadinya mereka
kerahkan mengadakan perlawanan menghadapi kekuatan dan pukulan
Khalid yang heroik itu. Dalam pada itu Muhammad dengan pasukan
Muhajirin yang kini di atas sebuah dataran tinggi itu,  sedang
menyusur  turun  menuju ke Mekah, dengan keyakinan hati hendak
membebaskannya dalam keadaan aman dan damai.  Dilihatnya  kota
itu  dengan  segala  isinya, dilihatnya pula kilatan pedang di
bagian  bawah  kota   serta   pasukan   Khalid   yang   sedang
mengejar-ngejar mereka yang menyerangnya itu. Disini ia merasa
sedih sekali dan berteriak geram dengan  mengingatkan  kembali
akan  perintahnya  untuk tidak mengadakan pertempuran. Setelah
diketahuinya kemudian apa  yang  telah  terjadi,  teringat  ia
bahwa yang sudah dikehendaki Tuhan itulah yang baik.

Sekarang  Muhammad  berhenti  di  hulu  kota Mekah, di hadapan
Bukit Hind. Di tempat  itu  dibangunnya  sebuah  kubah  (kemah
lengkung),  tidak  jauh  dari  makam  Abu  Talib dan Khadijah.
Ketika  ia  ditanya,  maukah  ia  beristirahat  di   rumahnya,
dijawabnya:  "Tidak.  Tidak  ada  rumah yang mereka tinggalkan
buat saya di Mekah," katanya. Kemudian ia masuk ke dalam kemah
lengkung  itu,  ia  beristirahat dengan hati penuh rasa syukur
kepada Tuhan, karena ia telah kembali dengan terhormat, dengan
membawa  kemenangan  ke  dalam  kota,  kota  yang  dulu  telah
mengganggunya menyiksanya dan mengusirnya  dari  keluarga  dan
kampung  halamannya.  Ia  melepaskan pandang ke sekitar tempat
itu,  ke  lembah  wadi   dan   gunung-gunung   yang   ada   di
sekelilingnya.  Gunung-gunung,  tempat  ia  dahulu  tinggal di
celah-celahnya, ketika tindakan Quraisy sudah begitu memuncak,
begitu keras mengasingkan dia. Di pegunungan itulah, yang juga
di antaranya Gua Hira, tempat ia menjalankan tahannuth  ketika
datang  kepadanya  wahyu:  'Bacalah!  Dengan nama Tuhanmu Yang
menciptakan. Menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah.
Dan  Tuhanmu  Maha  Pemurah.  Yang  mengajarkan  dengan  Pena.
Mengajarkan kepada manusia  apa  yang  belum  diketahuinya..."
(Qur'an, 96: 1-5)
 
Ke   sekitar  gunung-gunung  itu  ia  melepaskan  pandang,  ke
lembah-lembah, dengan rumah-rumah Mekah yang  bertebaran,  dan
di  tengah-tengah  adalah  Rumah  Suci.  Begitu rendah hati ia
kepada Tuhan, sehingga airmata menitik dari  matanya,  setitik
airmata Islam dan rasa syukur demi Kebenaran Yang Mutlak, yang
dalam segala soal kepadaNya jua akan kembali.
 
Saat itu juga terasa olehnya bahwa tugasnya  sebagai  komandan
sudah  selesai.  Tidak lama tinggal dalam kemah itu, ia segera
keluar  lagi.  Dinaikinya  untanya  Al-Qashwa,  dan  ia  pergi
meneruskan  perjalanan  ke Ka'bah. Ia bertawaf di Ka'bah tujuh
kali  dan  menyentuh  sudut  (hajar  aswad)  dengan   sebatang
tongkat5  di  tangan. Selesai ia melakukan tawaf, dipanggilnya
Uthman b. Talha dan pintu  Ka'bah  dibuka.  Sekarang  Muhammad
berdiri di depan pintu, orang pun mulai berbondong-bondong. Ia
berkhotbah di  hadapan  mereka  itu  serta  membacakan  firman
Tuhan:  "Wahai manusia. Kami menciptakan kamu berbangsa-bangsa
dan bersuku-suku supaya kamu  saling  mengenal.  Tetapi  orang
yang  paling  mulia di antara kamu dalam pandangan Allah ialah
orang yang paling takwa (menjaga diri dari  kejahatan).  Allah
Maha mengetahui dan Maha mengerti." (Qur'an, 49: 13)
 
Kemudian ia menanya kepada mereka:
 
"Orang-orang  Quraisy.  Menurut  pendapat  kamu, apa yang akan
kuperbuat terhadap kamu sekarang?"
 
"Yang baik-baik. Saudara yang pemurah, sepupu  yang  pemurah."
jawab mereka.
 
"Pergilah kamu sekalian. Kamu sekarang sudah bebas!" katanya.
 
Dengan  ucapan  itu  maka  kepada Quraisy dan seluruh penduduk
Mekah ia telah memberikan pengampunan umum (amnesti).
 
Alangkah indahnya pengampunan itu dikala  ia  mampu!  Alangkah
besarnya jiwa ini, jiwa yang telah melampaui segala kebesaran,
melampaui segala rasa dengki dan dendam  di  hati!  Jiwa  yang
telah  dapat  menjauhi segala perasaan duniawi, telah mencapai
segala yang diatas kemampuan insani! Itu orang-orang  Quraisy,
yang  sudah  dikenal  betul  oleh Muhammad, siapa-siapa mereka
yang pernah berkomplot hendak  membunuhnya,  siapa-siapa  yang
telah  menganiayanya dan menganiaya sahabat-sahabatnya dahulu,
siapa-siapa yang memeranginya di Badr dan di Uhud, siapa  yang
dahulu mengepungnya dalam perang Khandaq? Dan siapa-siapa yang
telah menghasut orang-orang Arab semua supaya melawannya,  dan
siapa  pula,  kalau  berhasil,  yang  akan  membunuhnya,  akan
mencabiknya sampai berkeping-keping kapan saja kesempatan  itu
ada!?  Mereka  itu,  orang-orang  Quraisy  itu  sekarang dalam
genggaman tangan Muhammad, berada di  bawah  telapak  kakinya.
Perintahnya  akan  segera  dilaksanakan  terhadap  mereka itu.
Nyawa mereka semua kini tergantung hanya di ujung bibirnya dan
pada  wewenangnya  atas  ribuan balatentara yang bersenjatakan
lengkap, yang akan dapat mengikis habis Mekah  dengan  seluruh
penduduknya dalam sekejap mata!
                                    (bersambung ke bagian 3/3)
 
---------------------------------------------
S E J A R A H    H I D U P    M U H A M M A D
 
oleh MUHAMMAD HUSAIN HAEKAL
diterjemahkan dari bahasa Arab oleh Ali Audah
 
Penerbit PUSTAKA JAYA
Jln. Kramat II, No. 31 A, Jakarta Pusat
Cetakan Kelima, 1980
 
Seri PUSTAKA ISLAM No.1

Indeks Islam | Indeks Haekal | Indeks Artikel | Tentang Penulis
ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota

Please direct any suggestion to Media Team