Sejarah Hidup Muhammad

oleh Muhammad Husain Haekal

Indeks Islam | Indeks Haekal | Indeks Artikel | Tentang Penulis
ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota

 

BAGIAN KEDUAPULUH LIMA: HUNAIN DAN TA'IF                 (1/2)
Muhammad Husain Haekal
 
   Malik b. 'Auf menghasut Hawazin dan Thaqif - Bertahan di
   selat Lembah Hunain - Muslimin berangkat ke Hunain -
   Memasuki selat Lembah di pagi buta - Serangan Hawazin dan
   Thaqif, mundur dalam kekalahan - Keteguhan hati Muhammad
   menghadapi maut - Teriakan Abbas supaya Muslimin kembali
   - Kembali kepada Rasulullah, pertempuran dan kemenangan -
   Rampasan perang - Perjalanan ke Ta'if - Pengepungan dan
   menghindari pertempuran - Kebun dibakar - Permohonan Nabi
   untuk tidak melakukan itu - Kembali dan pengepungan -
   Hawazin menerima Islam - Cerita Syaima' - Kembali ke
   Ji'rana dan pembagian rampasan perang - 'Umrah - Kembali
   ke Medinah.
 
DENGAN perasaan gembira karena kemenangan yang telah diberikan
Tuhan,  kaum  Muslimin masih tinggal di Mekah setelah kota itu
dibebaskan.  Mereka  sangat  bersenang  hati   sekali   karena
kemenangan   besar  ini  tidak  banyak  minta  kurban.  Setiap
terdengar suara Bilal mengucapkan azan sembahyang, cepat-cepat
mereka  pergi  ke  Mesjid  Suci,  berebut-rebutan  di  sekitar
Rasulullah, dimana saja ia berada dan ke mana saja ia pergi.
 
Kaum Muhajirin pun sekarang dapat  pulang,  dapat  berhubungan
dengan  keluarga  mereka,  yang  kini  telah mendapat petunjuk
Tuhan. Hati mereka pun sudah yakin bahwa keadaan  Islam  sudah
mulai  stabil,  dan  bahwa  perjuangan  sebagian  besar  sudah
membawa  kemenangan.  Akan  tetapi  limabelas  hari   kemudian
setelah  mereka tinggal di Mekah itu, tiba-tiba tersiar berita
yang membuat mereka harus segera sadar kembali. Soalnya ialah,
Kabilah  Hawazin  yang  tinggal  di  pegunungan  tidak jauh di
sebelah timur-laut Mekah, setelah melihat kemenangan  Muslimin
yang     telah    membebaskan    Mekah    dan    menghancurkan
berhala-berhala, mereka  pun  kuatir  akan  mendapat  giliran;
pihak Muslimin akan juga menyerbu daerah mereka. Terpikir oleh
mereka apa yang harus mereka lakukan  dalam  mencegah  bencana
yang  akan  menimpa  mereka itu. dan membendung Muhammad serta
mencegah  arus   kaum   Muslimin   yang   akan   menghilangkan
kemerdekaan kabilah-kabilah itu di seluruh jazirah bila mereka
semua digabungkan kedalam  suatu  kesatuan  di  bawah  naungan
Islam.
 
Untuk  itu  Malik  b.  'Auf  dari Banu Nashr sekarang berusaha
mengumpulkan kabilah-kabilah Hawazin dan Thaqif, demikian juga
kabilah-kabilah  Nashr  dan  Jusyam.  Dari pihak Hawazin semua
ikut, kecuali Ka'b dan Kilab. Sedang  dari  pihak  Jusyam  ada
orang  yang  bernama  Duraid  bin'sh-Shimma,  orang yang sudah
berusia lanjut dan sudah tidak berguna  buat  ikut  berperang,
tetapi   sebagai   orang   yang   sudah  bertahun-tahun  punya
pengalaman  dalam  perang,  pendapatnya   sangat   diperlukan.
Kabilah-kabilah    itu    semua   berkumpul,   membawa   serta
harta-benda,  wanita  dan  anak-anak  mereka.  Mereka   menuju
dataran   Autas.   Bilamana   dengusan   unta,   keledai  yang
melengking, tangisan anak  dan  kambing  yang  mengembik-embik
sampai ke telinga Duraid, ia bertanya kepada Malik b. 'Auf:
 
"Kenapa semua harta-benda, wanita dan anak-anak itu ikut serta
dalam peperangan?"
 
Malik menjawab bahwa hal itu dilakukan guna  memberi  semangat
kepada angkatan perangnya.
 
"Kalau kalian akan mengalami kekalahan mungkinkah hal ini bisa
mencegahnya?" kata Duraid lagi. "Kalau harus menang juga, maka
yang  penting  hanyalah  laki-laki dengan pedang dan panahnya;
sebaliknya kalau kamu harus mengalami kekalahan, keluarga  dan
hartamu hanya akan membawa bencana."
 
Dengan  Malik ia berselisih pendapat. Tetapi orang banyak ikut
Malik. Dia seorang pemuda berusia tigapuluh tahun, bersemangat
dan  punya  kemauan keras. Sekalipun sudah berpengalaman dalam
perang, sekali ini Duraid menyerah kepada pendapat mereka.
 
Sekarang Malik memerintahkan supaya orang berangkat ke  puncak
gunung  dan  ke  selat  Lembah  Hunain.  Bilamana  nanti  kaum
Muslimin turun ke lembah itu, maka hendaklah mereka  diserang,
sehingga  dengan  serangan satu orang saja barisan mereka akan
sudah  jadi  lemah,  mereka  akan  kucar-kacir,  akan   saling
menghantami sesama mereka. Dengan demikian mereka akan hancur,
pengaruh kemenangan  mereka  ketika  membebaskan  Mekah  sudah
takkan   berarti   lagi.   Yang  ada  nanti  hanya  kemenangan
kabilah-kabilah Hunain itu saja di seluruh jazirah Arab, suatu
kemenangan   yang  akan  dapat  dibanggakan  dalam  menghadapi
kekuatan yang kini menguasai tanah Arab  itu.  Perintah  Malik
ditaati  oleh kabilah-kabilah dan mereka membuat pertahanan di
selat wadi itu.

Pihak Muslimin sendiri setelah dua minggu  tinggal  di  Mekah,
dalam  persiapan  senjata  dan tenaga yang belum pernah mereka
alami sebelum itu, dengan pimpinan Muhammad  mereka  berangkat
pula  cepat-cepat.  Mereka bergerak dalam jumlah duabelas ribu
orang. Sepuluh ribu terdiri dari mereka  yang  telah  menyerbu
dan  membebaskan  Mekah  dan  yang  dua ribu lagi terdiri dari
orang-orang Quraisy yang sudah Islam - di antaranya Abu Sufyan
b.   Harb.  Mereka  semua  mengenakan  pakaian  berlapis  besi
didahului  oleh  pasukan  berkuda  dan   unta   yang   membawa
perlengkapan  dan bahan makanan. Keberangkatan Muslimin dengan
pasukan demikian ini, sebenarnya memang belum  pernah  dikenal
di  seluruh  jazirah.  Setiap  kabilah didahului oleh panjinya
masing-masing, tampil kedepan dengan hati bangga karena jumlah
yang   begitu   besar,   yang  tidak  akan  dapat  dikalahkan.
Sampai-sampai antara mereka satu sama lain ada  yang  berkata:
Karena  jumlah  kita yang besar ini sekarang kita takkan dapat
dikalahkan.

Menjelang sore hari itu mereka  sudah  sampai  di  Hunain.  Di
pintu-pintu masuk wadi itu mereka berhenti dan tinggal di sana
sampai waktu fajar keesokan  harinya.  Ketika  itulah  pasukan
mulai  bergerak  lagi. Muhammad mengikuti dari belakang dengan
menunggang bagalnya yang putih.  Sementara  Khalid  bin'lWalid
yang  memimpin  Banu Sulaim berada di depan. Dari selat Hunain
itu mereka menyusur ke sebuah  wadi  di  Tihama.  Akan  tetapi
sementara   mereka   sedang  menuruni  lembah  itu,  tiba-tiba
datanglah serangan mendadak  secara  bertubi-tubi  dari  pihak
kabilah-kabilah  dengan komando Malik b. 'Auf. Sementara masih
dalam keadaan remang-remang subuh itu  mereka  telah  dihujani
panah  oleh  pihak  Malik. Ketika itulah keadaan Muslimin jadi
kacau-balau.  Dalam  keadaan  terpukul  demikian  itu   mereka
berbalik  surut dengan membawa perasaan takut dan gentar dalam
hati, dan ada pula yang lari sekuat-kuatnya.  Dalam  hal  ini,
dengan  senyum  gembira  di  bibir  - Abu Sufyan yang sekarang
melihat  kegagalan  orang-orang  yang  kemarin   telah   dapat
mengalahkan Quraisy itu - berkata "Mereka takkan berhenti lari
sebelum sampai ke laut."
 
Begitu juga Syaiba b. 'Uthman b. Abi Talha berkata:  "Sekarang
aku  dapat  membalas Muhammad." Berkata begitu, karena bapanya
telah terbunuh dalam perang Uhud.
 
Ketika Kalada b. Hanbal berkata: "Ya, sihirnya sekarang  sudah
tidak  mempan," dibalas oleh Shafwan saudaranya sendiri: "Diam
kau! Sungguh aku lebih suka di bawah orang Quraisy daripada di
bawah Hawazin."

Percakapan  demikian  itu  terjadi  sementara  keadaan pasukan
perang sedang kucar-kacir.  Dalam  pada  itu,  kabilah-kabilah
yang  sedang  mengalami kekalahan itu satu demi satu berlarian
di hadapan Nabi yang berada di belakang  -  tanpa  melihat  ke
kanan kiri lagi.
 
Apa  kiranya  yang  diperbuatnya?  Mungkinkah pengorbanan yang
duapuluh tahun itu akan hilang dalam sekejap mata begitu  saja
pada  pagi buta itu? Ataukah Tuhan sudah menjauhinya dan sudah
tidak lagi memberikan pertolongan?  Tidak!  Tidak!  Ini  tidak
mungkin!  Sebelum  itu,  sudah  ada  bangsa-bangsa  yang sudah
punah, golongan-golongan yang sudah tak ada lagi. Sebelum  itu
pun   Muhammad   sudah   biasa   bergumul  dengan  maut,  dan
kalau-kalau dalam mati membela agama Allah itu kemenangan akan
ada.  Dan  apabila  ajal  itu  sudah  datang  tidak akan dapat
sedetik pun ditunda atau dimajukan.
 
Muhammad tetap tabah tiada  bergerak  di  tempatnya.  Beberapa
orang dari kalangan Muhajirin, Anshar serta kerabat-kerabatnya
tetap berada di sekelilingnya.
 
Dalam pada itu dipanggilnya orang-orang  yang  melarikan  diri
lewat di hadapannya itu seraya katanya: "Hai orang-orang! Kamu
mau ke mana? Mau ke mana?"
 
Tetapi, orang-orang yang sudah penuh ketakutan itu sudah tidak
mendengar apa-apa lagi. Yang tergambar dalam mata mereka hanya
Hawazin dan  Thaqif  yang  kini  sedang  meluncur  turun  dari
perkubuan   di   puncak-puncak  gunung  mengejar  mereka.  Dan
gambaran mereka itu tidak salah.  Pihak  Hawazin  sudah  mulai
turun  dari  tempat  semula,  didahului oleh seseorang di atas
seekor unta berwarna merah, dan membawa sebuah  bendera  hitam
yang  dipancangkan  pada  sebilah  tombak  panjang.  Setiap ia
bertemu dengan pihak Muslimin ditetakkannya tombak itu  kepada
mereka,  sementara  pihak Hawazin, Thaqif dan sekutu-sekutunya
terus meluncur turun dari belakang sambil terus menghantam.
 
Semangat baru timbul dalam hati Muhammad. Dengan bagalnya yang
putih  itu  ia  ingin menerjang sendiri ke tengah-tengah musuh
yang  sedang  meluap-luap  seperti  banjir  itu.  Sesudah  itu
terserah  kepada  Tuhan.  Akan  tetapi Abu Sufyan b. Harith b.
'Abd'l-Muttalib segera menahan kekang bagal itu dan dimintanya
jangan dulu maju.
 
Abbas  b.  'Abd'l-Muttalib seorang laki-laki yang berperawakan
besar dan lantang sekali suaranya. Ia berseru  yang  kira-kira
akan  dapat  didengar  oleh  semua orang dari segenap penjuru:
"Saudara-saudara dari kalangan Anshar  yang  telah  memberikan
tempat  dan  pertolongan!  Saudara-saudara dari Muhajirin yang
telah   memberikan   ikrar    di    bawah    pohon!    Marilah
saudara-saudara, Muhammad masih hidup!"

Seruan  demikian  itu  diulang-ulangnya  oleh  Abbas, sehingga
suaranya bersipongang dan bergema  ke  segenap  penjuru  wadi.
Disinilah  adanya  mujizat  itu:  Orang-orang 'Aqaba mendengar
nama 'Aqaba, teringat  oleh  mereka  Muhammad,  teringat  akan
janji  dan  kehormatan  diri mereka. Demikian juga orang-orang
Muhajirin, begitu  mendengar  nama  Muhajirin,  teringat  oleh
mereka  akan  pengorbanan  mereka  selama  ini,  teringat akan
kehormatan  diri  mereka.  Mereka  itu  sudah  mendengar   dan
mengetahui  tentang  ketenangan  dan  ketabahan hati Muhammad,
disamping sejumlah kecil  orang-orang  Muhajirin  dan  Anshar,
yang  sama  tabahnya  seperti  ketika Perang Uhud dulu - dalam
menghadapi musuh yang begitu besar.  Dalam  hati  mereka  kini
terbayang  betapa akibatnya kemenangan orang-orang musyrik itu
terhadap agama  Allah  kelak  sekiranya  mereka  ini  sekarang
gagal.
 
Seruan  Abbas  yang  selama itu masih tetap berkemandang dalam
telinga, hati mereka  sekaligus  tersentak  karenanya.  Ketika
itulah   mereka   saling   menyambut   dari  segenap  penjuru:
"Labbaika,1 Labbaika! "
 
Mereka-semua kini kembali, dan bertempur  lagi  secara  heroik
sekali.
 
Pihak Hawazin yang sudah menyusur turun dari tempatnya semula,
sekarang sudah berhadapan muka dengan  Muslimin  dalam  lembah
itu.  Sinar  siang  sudah  mulai tampak dan remang pagi dengan
sendirinya menghilang. Di sarnping Rasulullah  sekarang  sudah
berkumpul  beberapa  ratus  orang  siap akan berhadapan dengan
kabilah-kabilah itu. Jumlah mereka  ini  bertambah  juga.  Dan
dengan  kembalinya  mereka  itu,  semangat  yang tadinya sudah
lemah  kini  kembali  berkobar-kobar.  Pihak  Anshar   sendiri
berteriak: "Hai Anshar!" Lalu mereka saling memanggil-manggil:
"Hai Khazraj!"
 
Perasaan lega mulai terasa oleh  Muhammad  tatkala  dilihatnya
mereka kini kembali lagi.
 
Sementara Muhammad menyaksikan pertempuran itu berkobar dengan
pertarungan yang semakin sengit dan melihat moril anak buahnya
makin  tinggi  dalam  memukul  lawan,  ia  berkata:  "Sekarang
pertempuran benar-benar berkobar. Tuhan tidak menyalahi  janji
kepada RasulNya."

Kepada  Abbas  dimintanya  segenggam batu kerikil dan kemudian
kerikil itu  dilemparkannya  ke  muka  musuh  seraya  katanya:
"Wajah-wajah  yang  buruk!" Dan terjunlah kaum Muslimin itu ke
tengah-tengah gelanggang dengan tidak lagi  menghiraukan  maut
demi  di  jalan  Allah. Mereka percaya, bahwa kemenangan pasti
datang dan barang siapa gugur ia akan mendapat kemenangan yang
lebih  besar  lagi daripada hidup. Perjuangan ketika itu hebat
sekali. Baik Hawazin maupun Thaqif  dan  pengikut-pengikutnya,
begitu   melihat   bahwa   setiap  perlawanan  ternyata  tidak
berhasil,  bahkan   mereka   sendiri   terancam   akan   habis
samasekali,  cepat-cepat  mereka lari dalam keadaan berantakan
tanpa  melihat  ke  kanan-kiri   lagi,   dengan   meninggalkan
wanita-wanita  dan anak-anak mereka sebagai rampasan perang di
tangan kaum Muslimin, yang ketika itu dihitung sebanyak 22.000
ekor  unta,  40.000  kambing  dan  4.000 'uqiya2 perak. Sedang
tawanan  perang  yang  terdiri  dari  6.000  orang  itu  telah
dipindahkan   dengan   pengawalan   ke  Wadi  Ji'rana.  Mereka
ditempatkan disana sementara  menunggu  Muslimin  kembali  dan
mengejar  sisa-sisa  musuh  serta  sekaligus  mengepung  pihak
Thaqif di Ta'if.
 
Muslimin meneruskan pengejarannya terhadap musuh  mereka  itu.
Lebih  tertarik  lagi  mereka mengadakan pengejaran itu karena
Rasul mengumumkan, bahwa barang  siapa  dapat  menyerbu  orang
musyrik,   maka   ia  boleh  merampasnya.  Ketika  itu  Rabi'a
bin'd-Dughunna telah dapat mengejar seekor unta  yang  membawa
pelangkin,   yang   diduganya  berisi  wanita;  ia  pun  ingin
merampasnya. Unta itu berlutut  dan  ternyata  isinya  seorang
laki-laki  tua  yang  oleh  pemuda itu tidak dikenalnya, yaitu
Duraid bin'sh-Shimma. Kepada Rabi'a itu Duraid  bertanya:  Mau
diapakan   dirinya.   "Akan  kubunuh  kau,"  jawabnya,  sambil
mengayunkan pedang. Tetapi tidak berhasil.
 
"Jahat sekali ibumu mempersenjataimu!" kata Duraid.  "Ambillah
pedangku  di  belakang  itu dan pukulkan. Keluarkan tulang dan
otaknya. Begitulah aku menghantam orang dengan pedang itu. Dan
kalau  kau  sudah  pulang,  katakan  kepada ibumu bahwa engkau
telah membunuh Duraid bin'sh-Shimma. Sudah sering  sekali  aku
melindungi wanita-wanitamu."
 
Sesampainya  di  rumah, oleh Rabi'a hal itu diceritakan kepada
ibunya.
 
"Dasar tangan celaka kau," kata ibunya.  "Dia  mengatakan  itu
hanya  akan mengingatkan kita akan jasa-jasanya kepada engkau.
Dia telah memerdekakan tiga orang ibu pada suatu  pagi:  Yaitu
aku, ibuku dan ibu ayahmu."
 
Pengejaran   terhadap   pihak   Hawazin  oleh  pihak  Muslimin
diteruskan sampai di Autas. Di tempat ini mereka digempur  dam
dihancurkan  samasekali.  Kaum wanita dan barang-barang mereka
dirampas lalu dibawa kepada  Muhammad.  Malik  b.  'Auf  hanya
sebentar  saja bertahan kemudian ia pun lari, dia bersama-sama
dengan kabilahnya dan  golongan  Hawazin,  dan  di  Nakhla  ia
berpisah  dengan  mereka.  Ia  memutar  haluan ke Ta'if dan di
tempat ini ia berlindung.

Dengan demikian nyatalah sudah kemenangan orang-orang  beriman
itu  dan  nyata  pula  kehancuran  total  orang-orang musyrik,
setelah remang-remang subuh itu pihak Muslimin  dalam  keadaan
terancam,  mendapat  serangan serentak sehingga mereka menjadi
kacau-balau. Kemenangan Muslimin yang  sangat  menentukan  itu
ialah karena ketabahan Muhammad dan sejumlah kecil orang-orang
di sekelilingnya. Dalam hal inilah firman Tuhan turun:
 
"Tuhan telah menolong kamu  pada  beberapa  tempat  dan  dalam
Perang Hunain, tatkala kamu merasa bangga sekali karena jumlah
kamu yang besar. Tetapi ternyata jumlah yang besar itu sedikit
pun  tidak  menolong kamu, dan bumi yang seluas ini pun terasa
amat sempit buat kamu, lalu kamu berbalik mundur. Sesudah  itu
Tuhan  menurunkan  perasaan  tenang  kepada  Rasul  dan kepada
orang-orang beriman serta diturunkanNya pula balatentara  yang
tidak  kamu  lihat,  dan disiksanya orang-orang kafir itu, dan
memang itulah balasan  buat  orang-orang  kafir.  Sesudah  itu
kemudian    Allah    menerima    taubat    barangsiapa    yang
dikehendakiNya,   Allah   Maha   Pengampun   dan    Penyayang.
Orang-orang  beriman! Ingatlah, orang-orang musyrik itu kotor.
Sebab itu sesudah ini, janganlah mereka memasuki Mesjid  Suci,
dan  kalau  kamu  kuatir  menjadi  miskin,  maka  Tuhan dengan
kurniaNya  akan  memberikan   kekayaan   kepada   kamu,   jika
dikehendaki.  Sesungguhnya  Tuhan  Maha  tahu  dan Bijaksana."
(Qur'an, 9: 25-28)

Akan tetapi kemenangan ini tidak diperoleh dengan harga  murah
oleh kaum Muslimin. Mereka membayarnya dengan harga yang cukup
mahal. Mungkin ini tidak  akan  mereka  lakukan,  kalau  tidak
karena  pada  mulanya  mereka  telah  mengalami kegagalan lari
dalam kekalahan, sehingga seperti dikatakan  oleh  Abu  Sufyan
"Mereka  takkan  berhenti  lari sebelum mencapai laut." Mereka
membayar harga  mahal  itu  dengan  jiwa  orang-orang  penting
dengan  pahlawan-pahlawan  yang  gugur  dalam pertempuran itu,
meskipun jumlah semua kurban tidak disebutkan dalam  buku-buku
biografi  Nabi.  Seperti  sudah  disebutkan, bahwa dua kabilah
Muslimin hampir habis binasa, dan Nabi telah mendoakan  semoga
Tuhan memasukkan arwah mereka ke dalam surga. Tetapi bagaimana
pun juga nyatanya ia  telah  mendapat  kemenangan:  kemenangan
total  yang diperoleh Muslimin terhadap lawan mereka, disertai
rampasan dan tawanan perang, yang  sebelum  itu  tidak  pernah
mereka   alami.   Kemenangan   adalah  segalanya  dalam  suatu
pertempuran, betapa pun besarnya  harga  yang  harus  dibayar,
selama   itu  merupakan  suatu  kemenangan  terhormat.  Dengan
demikian Muslimin merasa gembira sekali akan kurnia yang telah
diberikan   Tuhan   itu.  Mereka  tinggal  menunggu  pembagian
rampasan perang dan dengan itu  mereka  kembali  pulang.  Akan
tetapi  Muhammad  menginginkan  suatu  kemenangan  yang  lebih
cemerlang lagi. Kalau Malik b.  'Auf  yang  telah  mengerahkan
orang-orang,  kemudian  setelah mengalami kekalahan ia sendiri
mencari perlindungan pada pihak Thaqif di  Ta'if,  maka  pihak
Muslimin  sekarang hendaknya dapat mengepung Ta'if lebih ketat
lagi. Begitu itulah cara dalam Khaibar  setelah  perang  Uhud,
dan  terhadap  Quraiza  setelah  Khandaq.  Mungkin suasana ini
mengingatkan dia ketika beberapa tahun sebelum Hijrah ia pergi
ke  Ta'if, menganjurkan Islam kepada penduduk kota itu. Tetapi
dia malah dicemooh, dan anak-anak  melemparinya  dengan  batu,
sehingga terpaksa ia berlindung pada sebuah kebun anggur. Juga
mungkin ia teringat betapa benar  ia  berangkat  seorang  diri
ketika  itu,  dalam  keadaan  sangat  lemah,  tiada daya upaya
selain Tuhan, selain  iman  yang  besar  yang  telah  memenuhi
dadanya,  iman  yang telah dapat meruntuhkan gunung. Sekarang,
sekarang ia berangkat menuju  Ta'if  dengan  sebuah  rombongan
Muslimin,  dengan  suatu  jumlah  yang belum pernah disaksikan
sepanjang sejarah jazirah itu.
                                    (bersambung ke bagian 2/2)
 
---------------------------------------------
S E J A R A H    H I D U P    M U H A M M A D
 
oleh MUHAMMAD HUSAIN HAEKAL
diterjemahkan dari bahasa Arab oleh Ali Audah
 
Penerbit PUSTAKA JAYA
Jln. Kramat II, No. 31 A, Jakarta Pusat
Cetakan Kelima, 1980
 
Seri PUSTAKA ISLAM No.1

Indeks Islam | Indeks Haekal | Indeks Artikel | Tentang Penulis
ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota

Please direct any suggestion to Media Team