Sejarah Hidup Muhammad

oleh Muhammad Husain Haekal

Indeks Islam | Indeks Haekal | Indeks Artikel | Tentang Penulis
ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota

 

BAGIAN KEDUAPULUH SATU: KHAIBAR DAN UTUSAN KEPADA RAJA-RAJA
Muhammad Husain Haekal                                   (1/4)
 
   Islam dan reformasi sosial - Khamr di haramkan -
   Utusan-utusan Muhammad kepada raja-raja - Muslimin dan
   orang-orang Yahudi - Ekspedisi Khaibar - Penumpasan
   terakhir atas kekuasaan Yahudi - Jawaban raja-raja
   kepada utusan-utusan Nabi - Menantikan 'Umrah
   Pengganti.
 
MUHAMMAD dan kaum Muslimin kembali lagi dari Hudaibiya  menuju
Medinah,  setelah tiga minggu persetujuan antara mereka dengan
Quraisy itu selesai - yaitu persetujuan yang menyatakan  bahwa
untuk  tahun ini mereka tidak akan masuk Mekah, dan baru tahun
berikutnya mereka boleh masuk. Mereka kembali  dengan  membawa
suatu  perasaan  dalam  hati.  Ada  sebagian mereka yang masih
beranggapan bahwa isi  persetujuan  itu  tidak  sesuai  dengan
harga diri kaum Muslimin, sampai akhirnya datang Surah al-Fath
sementara mereka sedang dalam  perjalanan  itu  dan  Nabi  pun
telah  pula membacakannya kepada mereka. Sekarang yang menjadi
pikiran Muhammad  selama  tinggal  di  Hudaibiya  dan  setelah
kembali  pulang,  ialah  apa  yang  harus  dilakukannya  dalam
menambah   ketabahan   hati    sahabat-sahabatnya    disamping
memperluas  penyebaran  dakwah.  Akhirnya  ia berpendapat akan
mengutus  orang-orang  kepada  Heraklius,  Kisra,   Muqauqis1,
Najasyi  (Negus)  di  Abisinia,  kepada Harith al-Ghassani dan
kepada penguasa Kisra di Yaman. Bersamaan dengan itu  dianggap
perlu sekali menumpas samasekali kekuasaan Yahudi dari seluruh
jazirah Arab.

Pada  waktu  itu  ajaran  Islam  sebenarnya   sudah   mencapai
kematangannya,  sehingga  ia menjadi suatu agama untuk seluruh
umat manusia, yang tidak  lagi  terbatas  hanya  pada  masalah
tauhid    serta    segala    konsekwensinya    seperti   dalam
masalah-masalah ibadat' tetapi juga sudah meluas dan  meliputi
segala macam kehidupan sosial. Hal ini sesuai dengan kebesaran
konsep  tauhid  itu  dan  membuat  pembawanya  dapat  mencapai
kematangan  hidup  insani  serta terlaksananya cita-cita hidup
yang    lebih    tinggi.    Oleh    karena    itu     turunlah
peraturan-peraturan  yang  berhubungan  dengan masalah-masalah
kemasyarakatan.

Penulis-penulis riwayat hidup Nabi berbeda  pendapat  mengenai
kapan  diturunkannya  larangan khamr (minuman keras). Ada yang
mengatakan dalam tahun ke empat Hijrah. Tetapi sebagian  besar
mengatakan  dalam  masa  Hudaibiya.  Idea  larangan  khamr ini
sosial sifatnya, yang tak ada hubungannya dengan  tauhid  dari
segi  tauhid  an  sich.  Bukti  yang lebih jelas dalam hal ini
ialah, bahwa larangan itu disebutkan dalam Qur'an baru sekitar
duapuluh tahun kemudian setelah kerasulan Nabi, dan selama itu
pula Muslimin tetap minum khamr sampai datangnya larangan. Dan
bukti  yang  lebih  jelas  lagi  dalam  hal  ini  ialah, bahwa
larangan   itu    tidak    sekaligus    turunnya,    melainkan
berangsur-angsur   sehingga  kaum  Muslimin  dapat  mengurangi
kebiasaan itu sedikit  demi  sedikit.  Bilamana  larangan  itu
kemudian  datang,  maka mereka pun berhenti minum. Dalam suatu
sumber tentang Umar bin'l-Khattab disebutkan, bahwa ketika  ia
bertanya  tentang  khamr itu ia berkata: "Ya Allah, berikanlah
penjelasannya kepada kami." Lalu turun ayat ini:
 
"Mereka bertanya kepadamu tentang khamr dan judi.  Katakanlah,
dalam  keduanya  itu  terdapat  dosa  besar  dan  juga  banyak
manfaatnya buat  manusia,  tetapi  dosanya  lebih  besar  dari
manfaatnya." (Qur'an, 2: 219)
 
Oleh karena sesudah turunnya ayat ini kaum Muslimin belum juga
mau berhenti, bahkan dari  mereka  ada  yang  sepanjang  malam
minum  sampai  berlimpah-limpah,  sehingga  bila  mereka pergi
sembahyang sudah tidak tahu lagi apa yang mereka baca, kembali
lagi  Umar  berkata:  "Ya Allah, jelaskanlah kepada kami hukum
khamr itu, sebab ini  menyesatkan  pikiran  dan  harta,"  maka
turun ayat ini:
 
"Orang-orang yang beriman. Janganlah kamu melakukan sembahyang
sementara kamu dalam keadaan mabuk  supaya  kamu  ketahui  apa
yang kamu baca." (Qur'an, 4: 43)
 
Pada waktu itu muazzin Rasul pada waktu sembahyang berseru:
 
"Orang yang mabuk jangan ikut sembahyang!"
 
Sekalipun   yang  demikian  ini  membawa  akibat  berkurangnya
minuman itu dan dari segi ini pula  pengaruhnya  cukup  besar,
sehingga  sudah banyak dari mereka itu yang mengurangi minuman
khamr sedapat mungkin, namun beberapa waktu  kemudian  kembali
Umar berkata lagi:
 
"Ya  Allah,  jelaskanlah kepada kami hukum khamr itu, jelaskan
dengan  tegas,  sebab  ini  menyesatkan  pikiran  dan  harta."
Sebenarnya   tepat   sekali  Umar  berkata  begitu,  mengingat
orang-orang Arab - termasuk juga  kaum  Musliminnya  -  dengan
minuman  demikian  itu  mereka  jadi kacau, saling bertengkar,
saling menarik janggut dan saling  memukul  kepala  satu  sama
lain.
 
Pernah  ada  orang  dari  kalangan mereka itu mengadakan pesta
makan  minum.  Setelah  mereka  dalam  keadaan  mabuk,   pihak
Muhajirin  dan  Anshar  mulai  saling  adu  mulut.  Yang  satu
menunjukkan sikap  fanatiknya  kepada  Muhajirin  sedang  yang
fanatik  kepada  Anshar  mengambil sebatang tulang kepala unta
yang mereka  makan  lalu  dipukulkan  kehidung  salah  seorang
Muhajirin.  Ada  lagi  dua  kelompok  suku sedang mabuk-mabuk.
Mereka saling bertengkar,  lalu  saling  bertikaman.  Diantara
mereka timbul rasa benci-membenci, sedang sebelum itu hubungan
mereka hidup rukun dan saling cinta-mencintai.  Ketika  itulah
firman Tuhan ini turun:
 
"Orang-orang   yang   beriman!  Bahwasanya  khamr,  perjudian,
berhala, mengadu nasib dengan  panah,  adalah  perbuatan  keji
yang  termasuk  perbuatan  setan.  Hindarilah  itu supaya kamu
beruntung. Tentu setan bermaksud hendak menimbulkan permusuhan
dan   kebencian  di  kalangan  kamu  dengan  jalan  khamr  dan
perjudian itu, merintangi kamu dari mengingat Allah  dan  dari
sembahyang. Maka maukah kamu menghentikan?" (Qur'an, 5 90-91)
 
Ketika  ada  pelarangan  khamr,  waktu  itu Anas yang bertugas
sebagai pelayan. Setelah didengarnya ada orang yang menyerukan
bahwa minuman itu dilarang, cepat-cepat cairan itu dibuangnya.
Tetapi ada orang-orang yang  bagi  mereka  soal  larangan  ini
belum jelas, mereka berkata: mungkinkah khamr itu keji padahal
sudah di perut si anu dan si fulan, yang sudah terbunuh  dalam
perang  Uhud, juga dalam perut si anu dan si anu yang terbunuh
dalam perang Badr? Maka firman Tuhan ini turun:
 
"Tiada berdosa orang-orang yang beriman dan  yang  mengerjakan
perbuatan-perbuatan  yang  baik,  karena  makanan  yang  telah
mereka makan dahulu, asal saja mereka  tetap  memelihara  diri
dari     kejahatan,     tetap    beriman    dan    mengerjakan
perbuatan-perbuatan yang baik. Kemudian mereka tetap  bertakwa
dan  beriman  kemudian  bertakwa  dan  berbuat kebaikan. Tuhan
menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan." (Qur'an, 5: 93)
 
Segala perhuatan baik dan kasih sayang yang dianjurkan  Islam,
mengajak  orang  selalu  melakukan amal kebaikan, latihan jiwa
dan watak yang terdapat dalam ibadat, fungsi ruku'  dan  sujud
dalam  sembahyang  yang  telah  mcnghapuskan kecongkakan hati,
semua  itu   merupakan   pelengkapan   yang   wajar   terhadap
agama-agama  yang  sebelumnya  dan yang menyebabkan ajaran ini
tertuju kepada semua umat manusia.

Pada waktu  itu  Heraklius  dan  Kisra  masing-masing  sebagai
kepala  kerajaan  Rumawi  dan  Persia,  dua buah kerajaan yang
terkuat  pada  zamannya  merupakan  dua   orang   yang   telah
menentukan   jalannya   politik   dunia  serta  nasib  seluruh
penduduknya. Perang antara dua kerajaan ini berkecamuk  dengan
kemenangan  yang selalu silih berganti seperti yang sudah kita
lihat. Pada  mulanya  Persia  adalah  pihak  yang  menang.  Ia
menguasai   Palestina  dan  Mesir,  menaklukkan  Bait'l-Maqdis
(Yerusalem) dan berhasil membawa Salib Besar (The True Cross).
Kemudian  giliran Persia mengalami kekalahan lagi. Panji-panji
Bizantium kembali berkibar lagi di  Mesir,  di  Suria  dan  di
Palestina,  dan  Heraklius berhasil mengen-balikan salib itu -
setelah  ia  bernadar  -  bahwa  kalau   ia   telah   mencapai
kemenangan,  ia  akan  berziarah  ke Yerusalem dengan berjalan
kaki dan mengembalikan salib ke tempatnya.
 
Kalau saja orang ingat  akan  kedudukan  kedua  kerajaan  itu,
orang akan dapat mengira-ngirakan betapa besarnya dua nama itu
telah dapat menimbulkan kegentaran dan ketakutan  dalam  hati.
Tiada   sebuah   kerajaan  pun  yang  pernah  berpikir  hendak
melawannya. Yang terlintas dalam pikiran  orang  ialah  hendak
membina   persahabatan   dengan   kedua  kerajaan  itu.  Kalau
kerajaan-kerajaan dunia yang terkenal  pada  waktu  itu  sudah
begitu  semua  keadaannya,  maka tidak aneh bila negeri-negeri
Arab itu pun akan demikian pula. Yaman dan Irak waktu  itu  di
bawah  pengaruh  Persia,  sedang Mesir sampai ke Syam di bawah
pengaruh  Heraklius.  Pada  waktu  itu   Hijaz   dan   seluruh
semenanjung  jazirah  terkurung dalam lingkaran pengaruh kedua
kemaharajaan itu. Kehidupan orang Arab  pada  masa  itu  hanya
tergantung  pada soal perdagangan dengan Yaman dan Syam. Dalam
hal ini perlu sekali mereka mengambil hati Kisra dan Heraklius
supaya  kekuasaan  kedua  kerajaan  itu  jangan sampai merusak
perdagangan mereka. Di samping itu kehidupan orang-orang  Arab
itu   tidak   lebih   daripada   kabilah-kabilah,  yang  dalam
bermusuhan, kadang keras, kadang lunak. Tak ada sesuatu ikatan
diantara  mereka  yang  akan merupakan suatu kesatuan politik,
yang akan dapat  mereka  pikirkan  dalam  menghadapi  pengaruh
kedua kerajaan raksasa itu.
 
Oleh  karena  itu  mengherankan  sekali  jika  pada  waktu itu
Muhammad berpikir hendak mengirimkan  utusan-utusannya  kepada
kedua  penguasa  besar itu - juga kepada Ghassan. Yaman, Mesir
dan Abisinia. Diajaknya mereka itu meinganut  agamanya,  tanpa
ia merasa kuatir akan segala akibat yang mungkin timbul karena
tindakannya itu, dan yang  mungkin  juga  akan  dapat  membawa
seluruh  negeri Arab itu tunduk dibawah cengkeraman Persia dan
Bizantium.
 
Akan tetapi kenyataannya  Muhammad  tidak  ragu-ragu  mengajak
semua  raja-raja  itu  menganut  agama yang benar. Bahkan pada
suatu hari ia pergi menemui sahabat-sahabatnya dan berkata:
 
"Saudara-saudara. Tuhan mengutus saya  adalah  sebagai  rahmat
kepada   seluruh   umat   manusia.  Janganlah  saudara-saudara
berselisih  pendapat  tentang  saya,  seperti  kaum  Hawariyun
(pengikut-pengikut Almasih) tentang Isa anak Mariam."
 
"Rasulullah,"      kata     sahabat-sahabatnya.     "Bagaimana
pengikut-pengikut Isa itu berselisih pendapat?"
 
"Ia  mengajak  mereka  kepada  apa  yang  seperti  saya   ajak
saudara-saudara.  Orang  yang  diutusnya ke tempat yang dekat,
orang itu menerima dan dengan senang hati. Tetapi  orang  yang
diutusnya  ke  tempat  yang  jauh, muka orang itu terpaksa dan
segan-segan."
 
Kemudian dikatakannya kepada mereka  bahwa  ia  akan  mengutus
orang-orang  kepada  Heraklius, kepada Kisra, Muqauqis, Harith
al-Ghassani raja Hira, Harith al-Himyari raja Yaman dan kepada
Najasi  di  Abisinia.  Akan  diajaknya mereka itu masuk Islam.
Sahabat-sahabatnya menyatakan mereka bersedia  melakukan  itu.
Lalu   dibuatnya   sebentuk  cincin  dari  perak  bertuliskan:
"Muhammad Rasulullah."
 
Isi surat-surat yang dikirimkan itu seperti contoh  yang  kita
kemukakan kepada pembaca, yaitu suratnya kepada Heraklius yang
berbunyi:
 
"Dengan nama Allah,  Pengasih  dan  Penyayang.  Dari  Muhammad
hamba  Allah kepada Heraklius pembesar Rumawi. Salam sejahtera
kepada orang yang sudi mengikut petunjuk yang benar.
 
Kemudian daripada itu. Dengan ini saya mengajak tuan  menuruti
ajaran Islam. Terimalah ajaran Islam, tuan akan selamat. Tuhan
akan memberi pahala dua kali kepada tuan. Kalau tuan mengelak,
maka  dosa  orang-orang  arisiyin2 menjadi tanggungiawab tuan.
Wahai orang-orang Ahli Kitab. Marilah sama-sama kita berpegang
pada  kata  yang sama antara kami dan kamu yakni bahwa tak ada
yang  kita  sembah  selain   Allah   dan   kita   tidak   akan
mempersekutukanNya  dengan  apa  pun,  bahwa  yang satu takkan
mengambil yang lain menjadi tuhan selain Allah.  Tetapi  kalau
mereka  mengelak  juga,  katakanlah kepada mereka, saksikanlah
bahwa kami ini orang-orang Islam."
 
Surat kepada Heraklius  itu  kemudian  dibawa  oleh  Dihya  b.
Khalifa,  surat  kepada Kisra dibawa oleh Abdullah b. Hudhafa,
surat  kepada  Najasyi  oleh  'Amr  b.  Umayya,  surat  kepada
Muqauqis oleh Hatib b. Abi Balta'a, surat kepada penguasa Oman
oleh 'Amr bin'l-'Ash, surat kepada penguasa Yamama oleh  Salit
b.    'Amr,   surat   kepada   raja   Bahrain   oleh   al-'Ala
bin'l-Hadzrami,  surat   kepada   Harith   al-Ghassani,   raja
perbatasan  Syam,  oleh  Syuja'  b.  Wahb, surat kepada Harith
al-Himyari, raja Yaman, oleh Muhajir b. Umayya.
 
Mereka semua berangkat masing-masing  menuju  ke  tempat  yang
telah  ditugaskan oleh Nabi. Mereka berangkat dalam waktu yang
bersamaan  menurut  pendapat  sebagian  besar  penulis-penulis
sejarah,  sebagian  lagi  berpendapat  mereka  berangkat dalam
waktu berlain-lainan.
                                    (bersambung ke bagian 2/4)
 
---------------------------------------------
S E J A R A H    H I D U P    M U H A M M A D
 
oleh MUHAMMAD HUSAIN HAEKAL
diterjemahkan dari bahasa Arab oleh Ali Audah
 
Penerbit PUSTAKA JAYA
Jln. Kramat II, No. 31 A, Jakarta Pusat
Cetakan Kelima, 1980
 
Seri PUSTAKA ISLAM No.1

Indeks Islam | Indeks Haekal | Indeks Artikel | Tentang Penulis
ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota

Please direct any suggestion to Media Team