Sejarah Hidup Muhammad

oleh Muhammad Husain Haekal

Indeks Islam | Indeks Haekal | Indeks Artikel | Tentang Penulis
ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota

 

2. ORIENTALIS DAN KEBUDAYAAN ISLAM                       (2/6)
Muhammad Husain Haekal
 
Ilmu   ini  tidak  seharusnya  akan  menghentikan  orang  dari
memikirkan hari kemudian mereka serta berusaha  sekuat  tenaga
mengikuti  jalan  yang benar dan menghindarkan diri dari jalan
yang sesat. Ilmu Allah itu  buat  mereka  masih  gaib.  Tetapi
akhirnya  mereka  akan  sampai juga kepada kebenaran sekalipun
agak lambat. Tuhan telah menetapkan  sifat  kasih  sayang  itu
dalam  DiriNya.  Ia  selalu menerima taubat hamba-Nya yang mau
bertaubat dan  sudah  banyak  dosa  yang  diampuniNya.  Selama
rahmat  Tuhan  itu  meliputi  segalanya,  manusia  tidak perlu
berputus asa akan memperoleh jalan yang  benar,  asal  ia  mau
merenungkan dan memikirkan alam semesta ini. Orang tidak perlu
berputus asa dari rahmat Tuhan kalau renungannya itu  akhirnya
akan mengantarkannya ke jalan Allah. Manusia yang celaka ialah
yang tidak mengakui sifat manusianya, dan merasa dirinya sudah
terlampau  besar untuk memikirkan dan merenungkan hal-hal yang
akan mengantarkan dirinya kepada petunjuk Tuhan. Mereka itulah
orang-orang  yang  hendak  menentang Tuhan, bukan mengharapkan
beroleh rahmat Tuhan. Jantung mereka oleh Tuhan sudah ditutup,
mereka  yang  akan menjadi penghuni neraka, yang akan mendapat
tempat yang paling celaka.
 
Apakah Orientalis-orientalis itu sudah melihat  arti  jabariah
Islam  yang  begitu  tinggi,  begitu luas jangkauannya? Apakah
mereka melihat bahwa anggapan mereka itu memang sangat  lemah,
yang  menduga bahwa jabariah Islam itu menyuruh orang berpeluk
lutut tanpa usaha  atau  mau  menerima  hidup  hina  atau  mau
menyerah  begitu  saja?  Disamping semua itu ajaran ini selalu
memberikan harapan,  bahwa  pintu  rahmat  dan  taubat  selalu
terbuka  bagi  barangsiapa yang mau bertaubat. Apa yang mereka
duga bahwa ajaran ini menyuruh tiap Muslim  menganggap  setiap
keuntungan  dan malapetaka yang menimpa dirinya sebagai takdir
yang sudah ditentukan Tuhan dan oleh karenanya ia  harus  diam
saja,  menerima  segala bencana dan kehinaan itu dengan sabar,
maka semua itu jauh dari kenyataan yang sebenarnya dari ajaran
jabariah  ini,  yang mengajar orang supaya selalu berjuang dan
berusaha untuk memperoleh kerelaan Allah, untuk selalu berhati
teguh  sebelum  tawakal  kepada  Allah.  Apabila  orang  belum
berhasil mendapat sukses sekarang, hendaknya terus ia berusaha
kalau-kalau  besok  ia  berhasil.  Harapannya yang selalu pada
Tuhan agar langkahnya mendapat bimbingan ke arah  yang  benar,
agar  mendapat  pengampunan dari segala dosa, adalah pendorong
yang paling utama untuk berpikir  dan  berusaha  terus-menerus
dalam  mencapai  tujuan  menurut  kehendak Allah. KepadaNya ia
menyembah dan kepadaNya pula ia  meminta  pertolongan.  Tempat
orang  mengharapkan petunjuk batin, dan ke sana pula segalanya
akan kembali.
 
Sungguh besar kekuatan  yang  dibangkitkan  oleh  ajaran  yang
tinggi  ini  kedalam  jiwa  manusia!  Sungguh  luas  jangkauan
harapan yang dibukakan itu. Kita  terbimbing  kepada  kebaikan
selama  apa yang kita kerjakan memang karena Allah. Kalau kita
sampai disesatkan oleh setan, taubat kita  pun  akan  diterima
selama  pikiran  kita dapat mengalahkan nafsu kita dan membawa
kita kembali ke  jalan  yang  lurus.  Jalan  lurus  ini  ialah
undang-undang  Tuhan dalam ciptaanNya, undang-undang yang akan
menjadi penyuluh kita dengan segenap hati  dan  pikiran  kita,
serta  dengan  permenungan  kita  akan  segala yang diciptakan
Tuhan. Dan kita pun mulai berusaha mengenal semua rahasia alam
itu.
 
Akan  tetapi,  apabila  sesudah itu masih ada orang yang sesat
dan mempersekutukan Tuhan, masih ada orang yang mau  melakukan
kerusakan  di  muka  bumi ini, masih ada yang mau menutup mata
dari segala arti persaudaraan, maka  itu  adalah  contoh  yang
diberikan  Tuhan  kepada manusia guna memperlihatkan kekuasaan
Tuhan sehingga yang demikian itu kelak menjadi  suatu  teladan
buat  mereka.  Inilah keadilan dan rahmat Tuhan kepada seluruh
umat  manusia.  Orang  tidak  akan  mencegah  atau   membatasi
melakukan  semua  itu.  Tetapi  hukuman  yang akan diterimanya
sesuai dengan perbuatan yang telah dilakukannya.
 
Akan tetapi, buat apa  manusia  berpikir,  buat  apa  bekerja,
kalau maut itu memang selalu mengintai mereka! Bila ajal sudah
sampai sesaat pun tak dapat diundurkan  atau  dimajukan.  Buat
apa  manusia  berpikir  dan  buat apa pula bekerja kalau orang
yang bahagia sudah ditentukan lebih dulu  akan  jadi  bahagia,
dan yang sengsara akan jadi sengsara?
 
Ini   adalah   pertanyaan   ulangan  sengaja  jawabannya  kita
kemukakan supaya dapat kita lihat masalah ketentuan  ajal  ini
dari  segi  lain:  Apa  yang sudah ditentukan Tuhan lebih dulu
ialah undang-undang alam sejak sebelum alam itu diciptakan dan
sebelum  difirmankan  kepadanya  'Jadilah'! maka ia pun jadi.'
Dalam melukiskan ini tak ada  yang  lebih  tepat  dari  firman
Allah  ini "Tuhan kamu telah menetapkan sifat kasih sayang itu
dalam DiriNya." Ini  berarti  bahwa  kasih  sayang  itu  sudah
menjadi  sifat  Tuhan  dan menjadi salah satu undang-undangNya
dalam alam semesta. Tak ada suatu  kewajiban  yang  diharuskan
terhadap  DiriNya.  Kewajiban memang tidak seharusnya ada atas
Yang Maha Kuasa. Dalam hal ini Allah berfirman:
 
"Kami tiada akan menjatuhkan  siksaan  sebelum  Kami  mengutus
seorang rasul."
 
Apabila  ada suatu golongan yang sesat dan kepada mereka Tuhan
tidak mengutus seorang rasul, maka undang-undang Tuhan  disini
berlaku  -  tiada  seorang  dari mereka akan dijatuhi siksaan.
Buat setiap orang yang beriman,  tanda-tanda  kebesaran  Tuhan
dalam  alam  ini  sudah  wajar  sekali,  bahwa  Tuhanlah  yang
menciptakan alam. Apabila Tuhan sudah mengutus  seorang  rasul
kepada   suatu  golongan,  kemudian  berlaku  hukum  alam  dan
kehendak Tuhan atas golongan itu, yaitu bahwa  setelah  diberi
petunjuk  ada  orang  dari  golongan tersebut yang masih tetap
mempertahankan kesesatannya, maka orang yang telah  menganiaya
dirinya sendiri itu akan menjadi contoh buat orang lain.

Sungguh  naive  sekali untuk mengatakan bahwa orang yang telah
sesat  ini  diperlakukan  tidak  adil  karena  telah  dijatuhi
hukuman  atas  kesesatannya, padahal kesesatan demikian memang
sudah termaktub lebih dulu (ditentukan) terhadap dirinya. Kita
mengatakan  naive  untuk  tidak  mengatakan merendahkan Tuhan,
sebab jalan pikiran yang paling tepat akan  mengatakan  kepada
kita,  bahwa  barangsiapa  yang  sesat,  ia  telah  menganiaya
dirinya, bukan Tuhan yang menganiayanya.
 
Untuk menjelaskan ini  cukup  kiranya  kita  mengambil  contoh
seorang  ayah  yang  penuh kasih sayang mendekatkan api kepada
anaknya   yang   masih   bayi.   Kalau   sianak   memegangnya,
dijauhkannya  api  itu  seraya  memberi isyarat, bahwa api itu
panas. Kemudian secara berulang-ulang  api  itu  didekatkannya
lagi  kepada sibayi, tidak apa juga kalau jari bayi itu sampai
terbakar sedikit supaya dialami sendiri  dalam  kenyataan  apa
yang  sudah  diperingatkan  kepadanya  itu  dan  supaya selalu
diingat selama hidupnya. Tetapi  bilamana  sesudah  dewasa  ia
masih  mau  memegang  api  atau menceburkan diri ke dalam api,
maka apa yang sudah menimpanya itulah ganjarannya, dan  jangan
ayahnya  yang  disalahkan,  jangan  ada yang minta supaya sang
ayah mengalanginya dari perbuatan itu.  Begitu  juga  misalnya
seorang  ayah  yang sudah memberi petunjuk tentang bahaya judi
atau minuman keras kepada anaknya. Maka  bilamana  sianak  itu
kelak  sudah  dewasa  dan  dia  melanggar  juga apa yang sudah
dilarang oleh ayahnya lalu karenanya ia mendapat bencana, maka
bukanlah sang ayah yang kejam menganiayanya, sekalipun ia akan
mampu mencegah dari berbuat demikian. Sang  ayah  sama  sekali
bukan  kejam kalau membiarkan sianak sampai melanggar apa yang
sudah menjadi larangan, dan ini merupakan contoh buat keluarga
dan  saudara-saudaranya  yang  lain.  Begitu juga keluarga dan
saudara-saudara yang  sampai  ratusan  atau  ribuan  jumlahnya
dalam sebuah kota yang memang banyak godaannya karena pengaruh
keadaan. Sudah  cukup  baik  dan  adil  sekali  kiranya  kalau
konsekwensi  yang tak dapat dihindarkan menimpa mereka sebagai
ganjaran terhadap perbuatan mereka  sendiri.  Itu  akan  dapat
memperbaiki keadaan anggota masyarakat yang lain, meskipun apa
yang telah menimpa anak-anak negeri  yang  aniaya  itu  sangat
disesalkan.  Inilah  contoh keadilan yang paling sederhana dan
berimbang  sehubungan  dengan  masyarakat  manusia  kita  ini,
seperti  yang  sudah  kita  lukiskan  tadi.  Apalagi bila kita
membayangkan dan membandingkan  dengan  alam  semesta,  dengan
makhluk-makhluk yang berjuta-juta banyaknya dalam luasan ruang
dan waktu yang tak terbatas! Apa yang sudah  menimpa  individu
dan  masyarakat  -  karena perbuatannya sendiri - dalam bentuk
yang sudah tidak mampu lagi khayal kita membayangkannya, semua
itu  baru  merupakan  contoh  keadilan atau keseimbangan dalam
bentuknya yang sangat sederhana.

Kalau adanya kekejaman itu kita alamatkan  kepada  sang  ayah,
karena  dia  membiarkan  anaknya yang sesat itu harus menerima
ganjaran kesesatannya, pada hal  kesesatan  itu  memang  sudah
termaktub  atas  dirinya, maka juga beralasan sekali kekejaman
demikian itu kita alamatkan kepada diri kita sebab kita  telah
membunuh  seekor kutu yang sangat mengganggu, dikuatirkan akan
membawa  penularan  kepada  kita,  yang   ada   kalanya   akan
menimbulkan bencana kepada masyarakat kalau ini sampai menular
kepada orang lain. Atau karena kita membuang batu  dari  dalam
kandung empedu atau ginjal kita sebab takut mengakibatkan rasa
sakit atau penderitaan, atau kita memotong salah  satu  bagian
anggota  tubuh  kita  karena dikuatirkan bagian yang rusak itu
akan menjalar  ke  seluruh  badan  dan  akibatnya  akan  fatal
sekali.  Kalau  semua  itu  tidak  kita lakukan, karena memang
sudah termaktub atas diri kita, kemudian kita  menderita  atau
sampai  mati  karenanya,  maka  yang  harus  disalahkan akibat
bencana itu hanyalah diri  kita  sendiri,  sebab  Tuhan  sudah
membukakan  pintu  penderitaan  buat  kita, sama halnya dengan
pintu taubat yang  terbuka  buat  orang  yang  berdosa.  Hanya
orang-orang  bodoh  sajalah  yang  rela  menerima  penderitaan
demikian itu dengan anggapan bahwa itu memang sudah  termaktub
atas dirinya. Ini karena kedunguan dan ketololan mereka saja.
 
Sementara  kita  melihat  kutu yang dibunuh, batu yang dibuang
dan dicabutnya anggota tubuh yang sakit sungguh adil sekali  -
meskipun  dalam  hukum  alam  sudah termaktub, bahwa kutu akan
mengganggu dan akan membawa penularan penyakit kepada manusia,
batu  dan  anggota tubuh yang sakit akan mendesak bagian tubuh
yang lain sehingga dapat membinasakan - dengan  melihat  semua
ini  bagaimana  kita  tidak akan menganggapnya suatu kebodohan
yang naive sekali, yang tak dapat diterima akal selain pikiran
egoistis  yang  sempit,  yang  melihat keadilan itu hanya dari
segi kita yang  subyektif  saja,  dan  tidak  menghubungkannya
kepada   seluruh  masyarakat  insani,  atau  lebih  dari  itu,
menghubungkannya kepada alam semesta?!
 
Apa artinya kutu, batu dan manusia  dibandingkan  dengan  alam
ini?  Bahkan  apa  artinya  seluruh  umat manusia dibandingkan
dengan alam? Dengan khayal kita  yang  sempit,  kita  berusaha
hendak  membayangkan  batas-batas alam yang luas, dengan ruang
dan waktu, dengan awal dan akhir, dan dengan segala  kata-kata
yang semacam itu. Sudah tak ada jalan lain lagi buat kita akan
dapat membayangkan bentuk alam ini selain itu,  karena  memang
sangat  terbatas  sekali,  sesuai  dengan pengetahuan yang ada
pada kita, yang juga terbatas, dan masih sedikit  sekali.  Dan
yang  sedikit ini sudah cukup memperlihatkan kepada kita bahwa
undang-undang  Tuhan  dalam  alam  ialah  undang-undang   yang
teratur    dan    seimbang,    yang   tak   berubah-ubah   dan
bertukar-tukar.  Kita  sampai  mengetahui  undang-undang   ini
karena   Tuhan   menganugerahkan   kepada   kita  pendengaran,
penglihatan dan jantung, supaya kita melihat segala  keindahan
ciptaanNya    ini,   dapat   memahami   alam   sesuai   dengan
undang-undangNya itu. Maka  kita  pun  mengagungkan  kemuliaan
Tuhan,  kita  berbuat  baik menurut yang diperintahkanNya. Dan
berbuat baik atas dasar iman, buat mereka yang mengerti  ialah
suatu manifestasi ibadat yang paling tinggi kepada Tuhan.

Maut  ialah  akhir  hidup dan permulaan hidup. Oleh karena itu
yang merasa takut mati hanya mereka yang menolak adanya  hidup
akhirat   dan  merasa  takut  pada  kehidupan  akhirat  karena
perbuatan mereka yang buruk selama dalam dunia.  Mereka  tidak
ingin  mati  mengingat adanya perbuatan tangan mereka sendiri.
Akan tetapi mereka yang  memang  sudah  bersedia  mati,  ialah
orang-orang  yang  benar-benar beriman dan mereka yang berbuat
kebaikan selama hidup di dunia. Seperti dalam firman Allah:
 
"Dia Yang telah menciptakan Mati dan Hidup untuk menguji  kamu
siapa  diantara  kamu  yang  lebih baik perbuatannya. Dia Maha
Kuasa, Maha Pengampun." (Qur'an, 67: 2)
 
Dan firmanNya lagi yang ditujukan kepada Nabi:
 
"Kami tidak pernah menjadikan manusia sebelum engkau itu kekal
selamanya.  Kalau engkau mati, apakah mereka akan hidup kekal?
Setiap jiwa akan merasakan mati dan kamu akan Kami uji  dengan
yang  buruk dan yang baik sebagai suatu cobaan, dan kamu kelak
pun akan kembali kepada Kami." (Qur'an, 21: 34 - 35)
 
"Perumpamaan  mereka  yang  dibebani  membawa  Kitab   Taurat,
kemudian  tidak mereka bawa, sama seperti keledai yang membawa
kitab-kitab besar. Buruk sekali perumpamaan  orang-orang  yang
mendustakan  ayat-ayat  Tuhan  itu;  dan  Tuhan  tidak memberi
petunjuk kepada orang-orang  yang  zalim.  Katakanlah:  'Wahai
orang-orang yang menganut agama Yahudi, kalau kamu mendakwakan
bahwa  kamu   sahabat-sahabat   Tuhan   diluar   orang   lain,
nyatakanlah  keinginanmu  akan mati itu -jika benar-benar kamu
jujur. Tetapi kamu tidak akan  pernah  menyatakan  keinginanmu
itu,  karena perbuatan tangan mereka sendiri yang telah mereka
lakukan. Tuhan Maha Mengetahui  akan  orang-orang  yang  zalim
itu." (Qur'an, 62 :5 - 7)
 
"Dialah  Yang  telah  mengambil jiwamu pada malam hari dan Dia
mengetahui apa yang kamu kerjakan pada siang harinya. Kemudian
kamu   dibangkitkan   kembali   supaya  waktu  tertentu  dapat
dipenuhi. Sesudah itu  kepadaNya  juga  tempat  kamu  kembali.
Kemudian   kepadamu   diberitahukanNya  apa  yang  telah  kamu
kerjakan." (Qur'an, 6: 60)
 
Inilah beberapa ayat yang sudah jelas sekali menolak apa  yang
dikatakan  orang  bahwa  jabariah  Islam  itu  mengajar  orang
bertopang dagu dan enggan berusaha. Tuhan menciptakan maut dan
hidup  untuk  menguji  manusia,  siapa  daripada  mereka  yang
melakukan perbuatan baik. Perbuatan dalam dunia dan balasannya
sesudah  mati.  Mereka  yang tidak berusaha, tidak berjuang di
muka bumi ini, tidak mencari  nafkah  sebagai  karunia  Tuhan;
kalau  mereka tidak mau menafkahkan harta mereka; kalau mereka
tidak mau  mengutamakan  sahabatnya  meskipun  mereka  sendiri
dalam kekurangan, mereka telah melanggar perintah Tuhan.
 
Sebaliknya,  bilamana  semua  itu  mereka lakukan dengan baik,
perbuatan mereka akan diterima baik oleh Allah dan  pada  hari
kemudian  mendapat  pahala  dan  balasan yang baik. Tuhan akan
menguji kita dalam hidup kita ini dengan yang  baik  dan  yang
buruk  sebagai  suatu cobaan. Dengan otak kita, kita juga yang
dapat  membedakan  mana  yang  baik  dan  mana   yang   buruk.
Barangsiapa  berbuat  baik  seberat  atom pun akan dilihatnya,
barangsiapa  berbuat  keburukan   seberat   atom   juga   akan
dilihatnya. Kalau apa yang sudah menimpa kita itu bukan karena
sudah ditentukan Tuhan terhadap diri kita,  niscaya  itu  akan
membuat  kita  lebih  tekun  melakukan  kebaikan untuk melihat
hasil yang baik pula. Sesudah itu sama saja buat kita:  adakah
Tuhan  akan menjadikan kita manusia yang kuat, yang masih giat
bekerja, atau akan dikembalikan ke usia yang sudah pikun, yang
sudah  tidak  dapat  kita  ketahui lagi apa yang dulunya sudah
pernah kita ketahui. Kriterium  atau  ukuran  hidup  seseorang
bukanlah  dari  jumlah tahun yang sudah ditempuhnya, melainkan
dari perbuatan-perbuatan  baik  apa  yang  sudah  dilakukannya
selama  itu, dan yang akan menjadi peninggalannya. Mereka yang
sudah meninggal di jalan Tuhan (dalam berbuat kebaikan), dalam
pandangan  Tuhan  mereka  hidup,  di  tengah-tengah  kita juga
kenangan mereka tetap  hidup.  Berapa  banyak  nama-nama  yang
tetap  kekal selama berabad-abad karena orang-osrang itu telah
mengabdikan diri dan  segala  daya  upayanya  untuk  kebaikan,
mereka  itu  berada  di  tengah-tengah  kita yang masih hidup,
sungguh pun mereka telah berpulang sejak  ratusan  tahun  yang
lalu.
 
"Apabila sudah tiba waktunya, mereka takkan dapat mengundurkan
atau memajukannya barang sedikit pun juga."
 
Inilah yang benar. Hanya ini yang sesuai  dengan  hukum  alam.
Manusia   sudah   mempunyai  batas  waktu  yang  takkan  dapat
dilampauinya. Sama halnya dengan  matahari  dan  bulan,  sudah
mempunyai  waktu-waktu  gerhana  yang  tidak berubah-ubah, tak
dapat dimajukan atau diundurkan. Waktu yang  sudah  ditentukan
ini   lebih  mendorong  orang  untuk  berusaha  dan  melakukan
perbuatan-perbuatan yang baik. Ia akan berusaha sekuat tenaga.
 
Ia tidak tahu kapan ia akan menemui ajalnya. Bilamana ajal itu
sampai  maka  balasannya  apa  yang  sudah  dikerjakannya.  Di
hadapan kita setiap hari sudah ada  buktinya  bahwa  ajal  itu
takdir  yang  tak  dapat dielakkan. Ada orang yang mati dengan
tiba-tiba dan orang tidak tahu apa sakitnya.  Ada  orang  yang
sakit,  yang  sudah  sekian puluh tahun menderita dan merintih
melawan  penyakitnya  itu  sampai  ia  tua  serta  sudah   tak
bertenaga  lagi.  Dari kalangan kedokteran dewasa ini ada yang
berpendapat  bahwa  manusia  itu   dilahirkan   dalam   proses
pembentukannya sudah ada benih yang menentukan hidupnya. Jarak
waktu  yang  akan  ditempuh  oleh  benih  itu  untuk  mencapai
tujuannya   yang  terakhir  dapat  pula  diketahui  asal  saja
benihnya sendiri dapat kita ketahui. Tetapi  untuk  mengetahui
benih  ini  bukan  soal yang begitu mudah. Adakalanya ia dalam
bentuk fisik, tersembunyi dalam salah satu bagian dalam  tubuh
-  bagian  yang  penting atau tidak penting - adakalanya dalam
bentuk  psychis   dalam   pikiran   kita,   bertalian   dengan
lapisan-lapisan   otak   yang   akan   mendorong   pihak  yang
bersangkutan hidup berpetualang  dan  mau  menghadapi  bahaya,
atau sebagai pemberani. Allah mengetahui belaka semua itu. Dia
yang mengetahui saat kematian setiap manusia  itu  akan  tiba,
menurut hukum alam, tanpa dapat diubah dan ditukar-tukar.

Sebagai  tanda  kasih  sayang Tuhan, Ia tidak akan menjatuhkan
siksaan sebelum mengutus seorang rasul  yang  akan  memberikan
bimbingan   kepada  manusia  dalam  mencapai  Kebenaran  serta
menjelaskan  pula  jalan  kebaikan  yang  harus   ditempuhnya.
Sekiranya Tuhan akan menghukum manusia karena perbuatan mereka
yang salah, niscaya takkan ada makhluk hidup di muka bumi  ini
yang  akan ketinggalan. Tuhan menunda mereka sampai pada waktu
tertentu sampai mereka dapat  mendengarkan  dan  mau  menerima
ajakan  para rasul itu dan tidak sampai benar mereka terpesona
oleh godaan hidup duniawi. Tuhan tidak mengutus para rasul itu
dari   kalangan   raja-raja,   orang-orang  kaya,  orang-orang
berpangkat atau dari  kalangan  orang  cerdik  pandai.  Mereka
diutus  dari kalangan rakyat jelata. Nabi Ibrahim tukang kayu,
ayahnya  pun  tukang  kayu.  Nabi  Isa  juga  tukang  kayu  di
Nazareth.  Juga  tidak sedikit dari nabi-nabi itu yang tadinya
penggembala   kambing,   termasuk   Nabi   penutup    Muhammad
'alaihissalam.  Tuhan  mengutus  para rasul dari rakyat jelata
itu untuk memperlihatkan bahwa  Kebenaran  itu  bukan  menjadi
milik  orang-orang  kaya atau orang-orang kuat melainkan milik
orang yang mencari Kebenaran demi kebenaran semata.  Kebenaran
yang azali, yang abadi, ialah orang yang baru sempurna imannya
apabila ia sudah dapat mencintai saudaranya seperti  mencintai
dirinya sendiri.
                                    (bersambung ke bagian 3/6)
 
---------------------------------------------
S E J A R A H    H I D U P    M U H A M M A D
 
oleh MUHAMMAD HUSAIN HAEKAL
diterjemahkan dari bahasa Arab oleh Ali Audah
 
Penerbit PUSTAKA JAYA
Jln. Kramat II, No. 31 A, Jakarta Pusat
Cetakan Kelima, 1980
 
Seri PUSTAKA ISLAM No.1

Indeks Islam | Indeks Haekal | Indeks Artikel | Tentang Penulis
ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota

Please direct any suggestion to Media Team