Sejarah Hidup Muhammad

oleh Muhammad Husain Haekal

Indeks Islam | Indeks Haekal | Indeks Artikel | Tentang Penulis
ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota

 

2. ORIENTALIS DAN KEBUDAYAAN ISLAM                       (6/6)
Muhammad Husain Haekal
 
Itu  juga sebabnya, meskipun bangsa-bangsa yang menganut Islam
secara silih berganti ditaklukkan, dikuasai dan  dijaJah  oleh
bangsa-bangsa  lain,  namun keislaman mereka tak pernah goyah,
keimanan mereka tak pernah  berubah.  Sampai  saat  ini  Eropa
masih  tetap  menguasai  bangsa-bangsa  beragama Islam. Tetapi
mereka takkan mampu mengubah iman  bangsa  itu  kepada  Tuhan.
Sebaliknya,  mereka  yang  dewasa ini mempergunakan pedang dan
menaklukkan umat Islam, maka nasib merekapun  -  supaya  cocok
dengan  kata-kata  dalam  Injil itu binasa oleh pedang sebagai
balasan yang sesuai pula.
 
Para penguasa dan raja-raja itu oleh Nabi  telah  dikembalikan
kepada  kekuasaan  mereka masing-masing. Negeri Arab yang pada
akhir zaman Nabi itu merupakan suatu kesatuan beberapa  bangsa
Arab yang beragama Islam, tak ada sebuah negara pun yang dalam
status jajahan tunduk kepada Mekah atau Medinah.  Dengan  iman
mereka  yang  begitu  teguh semua golongan Arab pada waktu itu
merasa sama  rata  di  hadapan  Allah.  Mereka  semua  sejalan
seiring  dalam menghadap pihak yang hendak melanda mereka atau
hendak  membujuk  mereka  dari  agamanya.  Sampai  pada  waktu
sesudah  itu,  pada  waktu  Pax  Islamica  atau  liga kesatuan
bangsa-bangsa Islam mulai goyah, pusat kediaman khalifah tetap
menjadi  pusat  liga  itu.  Kekuasaan  Khalifah  tidak  pernah
mendakwakan sebagai pemegang monopoli  masalah-masalah  rohani
atau  monopoli  dalam  kebudayaan.  Bahkan  semua  bangsa yang
menganut Islam tidak mengenal adanya  suatu  kekuasaan  rohani
diluar  kekuasaan  Tuhan.  Semua pusat kawasan Islam waktu itu
adalah juga pusat pengembangan seni, ilmu dan teknologi.  Yang
demikian  ini  berjalan  terus, sampai datang waktunya keadaan
kaum Muslimin terpisah dari Islam. Ajaran  Islam  yang  begitu
gemilang  sudah  tidak  mereka  kenal  lagi,  persaudaraan  di
kalangan sesama mukmin sudah mereka lupakan,  seseorang  tidak
sempurna  imannya  sebelum  ia  mencintai  saudaranya  seperti
mencintai diri sendiri sudah mereka lupakan pula.  Yang  mulai
berlaku  kemudian  ialah mementingkan diri sendiri, yang mulai
memegang  peranan  kemudian  ialah  politik  destruktif.  Maka
pedang  itulah  yang dijadikan juru selamat. Terjadilah mereka
yang mempergunakan pedang akan binasa oleh pedang.
 
Berhubung dengan itu, sejak abad  ke-15  Kristen  Eropa  mulai
bangkit  dengan  jiwa  baru,  yang  barangkali  akan  ada juga
gunanya buat dunia kalau  tidak  segera  mengalami  kehancuran
yang    sudah   menjadi   suatu   keharusan   sebagai   akibat
pecah-belahnya ajaran Kristen menjadi sekte-sekte. Dalam  pada
itu,  bersamaan dengan masa kebangkitan itu pula bangsa-bangsa
Islam yang sudah melupakan Islam itu pun mulai pula dihadapkan
pada  kekerasan  pedang dan akan tetap dihadapkan pada pedang.
Dan pedang itu  jugalah  yang  dijadikan  juru  selamat  dalam
berhadapan  dengan  bangsa-bangsa Islam. Dalam hal ini apabila
pedang yang berbicara, maka segala pikiran, ilmu  pengetahuan,
segala  kebaikan,  cinta kasih, iman bahkan kemanusiaan, sudah
tak ada gunanya lagi.
 
Dikuasainya dunia dewasa ini oleh pedang, ialah karena  adanya
krisis  rohani  dan psikologi yang telah melandanya dan sampai
manusia menderita karenanya. Beberapa negara besar yang  telah
menguasai  dunia  dengan  pedang selama Perang Dunia Pertama -
yakni duapuluh tahun yang lalu -  mereka  sudah  yakin  sekali
akan  kenyataan  ini,  dan  lalu  bermaksud  hendak mengadakan
perdamaian  di  dunia.  Maka   untuk   mencapai   tujuan   ini
dibangunlah  Liga  Bangsa-bangsa  dan  tugas  liga  ini  ialah
seperti dalam firman Tuhan:
 
"Dan apabila ada dua golongan orang-orang  beriman  berkelahi,
maka  damaikanlah  keduanya  itu.  Tetapi jika salah satu dari
keduanya membangkang terhadap yang lain,  maka  lawanlah  yang
membangkang  itu sampai ia kembali kepada perintah Allah. Bila
mereka kembali, damaikanlah  keduanya  itu  dengan  cara  yang
adil. Hendaklah berlaku adil. Sesungguhnya orang-orang beriman
itu bersaudara. Demikianlah kedua golongan saudara  kamu  itu.
Berbaktilah  kamu  kepada  Allah supaya kamu mendapat rahmat."
(Qur'an, 49: 9-10)

Akan tetapi jiwa perdamaian itu belum lagi merata  ke  seluruh
dunia,  karena  dasar  kebudayaan  yang  kini  berkuasa  ialah
kebudayaan imperialisma, imperialisma yang  didasarkan  kepada
nasionalisma dengan segala pertentangannya, dengan segala daya
upayanya,   setiap   negara   yang   kuat   hendak    mengisap
negara-negara  kecil  lainnya,  maka  sudah menjadi hak setiap
bangsa yang masih  dijajah,  bahkan  harus  menjadi  kewajiban
pertama,  berusaha  menghancurkan  belenggu  si  penjajah itu,
sebab  penjajahan  itulah  bibit  segala   pemberontakan   dan
peperangan.   Selama  masih  ada  penjajahan,  perdamaian  tak
mungkin  terwujud,  peperangan  takkan  berkesudahan,  kecuali
dalam  bentuk  formalitas  saja. Setiap bangsa, satu sama lain
akan tetap memandang dengan saling  curiga-mencurigai,  dengan
hati-hati  dan  menunggu-nunggu  kesempatan  hendak mengadakan
pembunuhan gelap. Dimana mungkin  ada  perdamaian  kalau  jiwa
semacam  ini  masih  tetap  berakar!  Perdamaian itu baru ada,
apabila orang dari pelbagai bangsa dapat mengubah diri. Mereka
harus benar-benar percaya akan arti perdamaian, memegang teguh
segala ajaran  yang  didasarkan  pada  perdamaian  dan  dengan
ikhlas  pula  bersepakat  menghadapi  setiap usaha yang hendak
mengeruhkannya.
 
Hal ini baru akan terjadi apabila imperialisma itu sudah tidak
lagi  menjadi  dasar  kebudayaan dunia, apabila semua orang di
segenap pelosok bumi ini  sudah  menyadari  kewajibannya  yang
pokok,  yaitu  yang  kuat  membantu  yang  lemah,  yang  besar
mengasihi yang kecil, yang  pandai  mau  mendidik  yang  belum
pandai,  dengan  menyebarkan  sinar  panji ilmu pengetahuan ke
segenap penjuru bumi, dengan hasrat hendak memberi kebahagiaan
kepada  umat  manusia,  bukan  hendak mempergunakannya sebagai
alat memeras bangsa-bangsa lain atas  nama  ilmu  pengetahuan,
atas nama perkembangan teknologi.

Apabila  dunia semua sudah memegang prinsip ini, apabila orang
semua sudah merasa, bahwa dunia semua tanah airnya, dan  bahwa
mereka  semua  bersaudara,  satu  sama  lain  saling mencintai
seperti mencintai diri sendiri - ketika itu akan ada toleransi
antara  sesama  manusia, akan ada keakraban; ketika itu mereka
akan berdialog dengan bahasa yang tidak lagi seperti sekarang.
Mereka     akan    saling    percaya-mempercayai,    sekalipun
masing-masing berjauhan  tempat.  Mereka  semua  akan  bekerja
untuk kebaikan demi Allah. Ketika itulah segala permusuhan dan
kebencian akan  terhapus.  Dengan  rahmat  Tuhan  kepada  umat
manusia,  dan  kerelaan  manusia kepada Tuhan, hanya kebenaran
yang akan ada, hanya perdamaian yang akan merata.
 
"Orang-orang  yang  beriman  dan   pengikut-pengikut   Yahudi,
Nasrani dan orang-orang Shabi'un yang percaya kepada Allah dan
Hari Kemudian serta mengerjakan perbuatan  yang  baik,  mereka
akan  mendapat  ganjaran dari Tuhan. Mereka tidak perlu takut,
tidak usah bersedih hati." (Qur'an, 2: 62)
 
Adakah dalam hal ini toleransi yang lebih luas dari ini! Orang
yang  beriman  kepada Allah, kepada Hari Kemudian lalu berbuat
kebaikan, mereka  akan  mendapat  ganjaran  dari  Tuhan.  Pada
dasarnya  tiada  perbedaan antara orang-orang yang beriman itu
dengan mereka yang belum mendapat ajakan Islam,  baik  Yahudi,
Nasrani  atau  Shabi'un10  (atau Sabian) yang belum dipalsukan
itu.
 
Tuhan berfirman:
 
"Dan ada sebagian Ahli Kitab itu yang beriman kepada Allah dan
kepada   apa  yang  sudah  diturunkan  kepada  kamu  dan  yang
diturunkan kepada mereka. Mereka sangat berendah  hati  kepada
Tuhan,  tidak  menjual  ayat-ayat  Allah  dengan  harga murah.
Mereka itulah yang akan mendapat ganjaran  dari  Tuhan,  sebab
Allah sangat cepat memperhitungkan." (Qur'an, 3: 199)
 
Mana  pula semua itu bila dibandingkan dengan kebudayaan Barat
yang  kini  menguasai  dunia  dengan  segala  chauvinisma  dan
fanatisma agamanya serta segala peperangan dan kehancuran yang
timbul sebagai akibat fanatisma itu!
 
Inilah semangat jiwa yang begitu tinggi memberikan  toleransi,
semangat   yang  harus  merata  menguasai  dunia  bila  memang
dikehendaki supaya perdamaian  itu  bertakhta  di  dunia  demi
kebahagiaan  umat  manusia. Semangat inilah yang telah membuat
setiap studi tentang sejarah hidup orang yang  telah  menerima
wahyu Allah dengan firman ini, menjadi suatu studi ilmiah yang
benar-benar bersih demi ilmu semata. Masalah-masalah psikologi
dan  spirituil  yang  hendak  mengantarkan  manusia  ke  jalan
kebudayaan baru yang selama ini  dicarinya,  seharusnya  sudah
dapat  diungkapkan  oleh  ilmu  pengetahuan.  Dengan mendalami
studi demikian ini akan banyak sekali hal-hal yang akan  dapat
diungkapkan,  yang  sejak  sekian  lama  orang  menduga  tidak
mungkin  akan  dapat   dianalisa   secara   ilmiah.   Ternyata
pembahasan-pembahasan  ilmu  jiwa  kemudian  dapat menerangkan
dengan jelas sekali, terutama  bagi  mereka  yang  memang  mau
memahaminya.

Seperti  sudah  kita  lihat,  keluhuran  hidup Muhammad adalah
hidup manusia yang sudah  begitu  tinggi  sejauh  yang  pernah
dicapai  oleh  umat  manusia.  Hidup yang penuh dengan teladan
yang luhur dan indah bagi setiap  insan  yang  sudah  mendapat
bimbingan  hati  nurani,  yang hendak berusaha mencapai kodrat
manusia yang lebih sempurna dengan jalan  iman  dan  perbuatan
yang  baik.  Dimana  pulakah ada suatu keagungan dan keluhuran
dalam hidup seperti yang terdapat  dalam  diri  Muhammad  ini,
yang  dalam  hidup  sebelum  kerasulannya  sudah  menjadi suri
teladan pula sebagai lambang kejujuran, lambang harga diri dan
tempat   kepercayaan   orang.   Demikian   juga  sesudah  masa
kerasulannya, hidupnya penuh pengorbanan, untuk  Allah,  untuk
kebenaran,  dan  untuk itu pula Allah telah mengutusnya. Suatu
pengorbanan  yang  sudah  berkali-kali  menghadapkan  nyawanya
kepada  maut. Tetapi, bujukan masyarakatnya sendiri pun - yang
dalam gengsi dan keturunan ia sederajat dengan mereka  -  yang
baik  dengan  harta,  kedudukan atau dengan godaan-godaan lain
-mereka tidak dapat merintanginya.
 
Kehidupan insani yang begitu luhur dan cemerlang itu belum ada
dalam   kehidupan   manusia   lain  yang  pernah  mencapainya,
keluhuran yang sudah meliputi segala segi  kehidupan.  Apalagi
yang  kita  lihat  suatu  kehidupan manusia yang sudah bersatu
dengan kehidupan  alam  semesta  sejak  dunia  ini  berkembang
sampai  akhir  zaman,  berhubungan dengan Pencipta alam dengan
segala karunia dan pengampunanNya. Kalau tidak  karena  adanya
kesungguhan dan kejujuran Muhammad menyampaikan risalah Tuhan,
niscaya  kehidupan  yang  kita  lihat  ini  lambat  laun  akan
menghilangkan apa yang telah diajarkannya itu.
 
Tetapi,  seribu  tigaratus  limapuluh  tahun ini sudah lampau,
namun amanat Tuhan  yang  disampaikan  Muhammad,  masih  tetap
menjadi  saksi  kebenaran dan bimbingan hidup. Untuk itu cukup
satu saja kiranya kita kemukakan  sebagai  contoh,  yaitu  apa
yang  diwahyukan  Allah  kepada  Muhammad,  bahwa  dia  adalah
penutup para nabi dan para rasul. Empat belas abad sudah lalu,
tiada  seorang  juga sementara itu yang mendakwakan diri bahwa
dia seorang nabi atau rasul Tuhan lalu  orang  mempercayainya.
Sementara  dalam  abad-abad itu memang sudah lahir tokoh-tokoh
di dunia yang sudah mencapai  kebesaran  begitu  tinggi  dalam
pelbagai bidang kehidupan, namun anugerah sebagai kenabian dan
kerasulan tidak sampai kepada mereka. Sebelum Muhammad  memang
sudah  ada  para  nabi  dan  rasul yang datang silih berganti.
Mereka semua sudah  memberi  peringatan  kepada  masyarakatnya
masing-masing  bahwa  mereka  itu  sesat, dan diajaknya mereka
kepada agama yang benar. Namun tiada seorang  diantara  mereka
itu  yang  menyebutkan,  bahwa  dia diutus kepada seluruh umat
manusia, atau bahwa dia adalah  penutup  para  nabi  dan  para
rasul. Sebaliknya Muhammad, ia mengatakan itu, dan sejarah pun
sepanjang abad membenarkan kata-katanya. Dan itu  bukan  suatu
cerita  yang  dibuat-buat, tetapi memang hendak memperkuat apa
yang sudah ada, serta menjelaskan sesuatunya, sebagai petunjuk
dan rahmat bagi mereka yang beriman.
 
Tujuan  pokok  yang  saya harapkan ialah, semoga apa yang saya
maksudkan  dengan  pembahasan  ini  sudah  akan  memadai  juga
hendaknya,  dan semoga dengan ini saya sudah merambah jalan ke
arah  adanya  pembahasan-pembahasan  yang  lebih   dalam   dan
menyeluruh  dalam  bidangnya.  Saya  sudah berusaha kearah itu
sekuat kemampuan  saya,  dan  Tuhan  juga  kiranya  yang  akan
memberi keringanan kepada saya.
 
"Tuhan  tidak  akan  memaksa seseorang di luar kesanggupannya.
Segala usaha baik yang dikerjakannya adalah untuk dirinya, dan
yang sebaliknya pun untuk dirinya pula. 'Ya Allah, jangan kami
dianggap bersalah, bila  kami  lupa  atau  keliru.  Ya  Allah,
janganlah  Kaupikulkan  kepada  kami beban seperti yang pernah
Kaupikulkan kepada mereka yang sebelum kami. Ya Allah,  jangan
hendaknya  Kaupikulkan  kepada  kami beban yang kiranya takkan
sanggup kami pikul. Beri  maaflah  kami,  ampunilah  kami  dan
berilah  kami  rahmat.  Engkau jugalah Pelindung kami terhadap
mereka yang tiada beriman itu." (Qur'an, 2: 286)
 
Catatan kaki:
 
 1 Paham jabariyah ini mengatakan bahwa Tuhan menciptakan
   manusia dengan perbuatannya, sehingga manusia tak dapat
   berbuat lain daripada yang sudah ditakdirkan Tuhan (lihat
   catatan di bawah). Paham ini sering disamakan dengan
   'fatalisma' dan 'predestination.' Sebaliknya dari paham
   ini ialah qadariyah yang berpendapat bahwa Tuhan hanya
   menciptakan manusia tapi tidak menciptakan perbuatannya.
   Kedua aliran paham ini timbul sekitar abad ke-8 M.
   Menurut Qur'an (2: 177) rukun iman ada lima, yang keenam,
   yaitu jabariyah tidak ada. Paham ini didasarkan kepada
   hadis, yang menurut beberapa ahli sanadnya tidak begitu
   kuat dan dianggap bertentangan dengan Qur'an (A).
   
 2 Yang dimaksud dengan 'papan abadi' tentunya ialah
   'al-lauh'l-mahfuz' yang secara harfiah 'papan tulis yang
   terjaga' dan secara awam kadang diartikan, bahwa segala
   perbuatan nasib manusia sudah ditakdirkan dan tertulis
   lebih dulu dalam 'papan' ini, sehingga manusia sudah tak
   dapat mengelak lagi. Padahal arti 'lauh mafhuz' yang
   sebenarnya ialah Qur'an (85: 21-22) yang terjaga, yang
   takkan pernah dapat dipalsu atau diubah oleh tangan
   manusia (15: 9). Juga tidak sekali-kali dalam arti materi
   terbuat dari batu, kayu dan sebagainya (A).
   
 3 Ikhtiar disini berarti kemauan bebas atau free will,
   atau sengaja, sebaliknya daripada jabariyah atau
   fatalisma (A).
   
 4 Tawakal atau tawakkal berarti mempercayakan diri kepada
   Allah setelah segala usaha dan daya upaya dilakukan, atau
   seperti kata pepatah 'habis akal barulah tawakal' (A).
   
 5 Determinisma ilmiah, 'dunia sebagai kemauan dan
   pikiran' dan 'evolusi kreatif' ialah beberapa mazhab
   filsafat Barat. Yang pertama menurut pendapat kaum
   Positivist, yang kedua menurut Schopenhauer dan yang
   ketiga menurut Bergson. Di sini tempatnya sangat terbatas
   untuk dapat menguraikan semua ini.
   
 6 Sekedar gambaran, jarak matahari dari bumi 93.000.000
   mil jauhnya. Kecepatan tertinggi yang dapat dicatat oleh
   ilmu pengetahuan sampai sekarang ialah cahaya, yakni
   186.000 mil per detik. Ada beberapa bintang yang demikian
   jauh sehingga cahayanya baru sampai ke bumi sesudah lebil
   dari 2.000.000 tahun (A).
   
 7 Al-Islam wan-Nashrania, p. 122 - 125.
 
 8 Stoa ialah suatu ajaran filsafat Yunani dibangun oleh
   Zeno (336? - 264? sebelum Masehi). Kaum Stoa percaya
   bahwa segala kejadian harus diterima dengan tenang dan
   sabar dan bebas dari segala perasaan benci dan suka,
   sedih dan gembira (A).
   
 9 Kaum Parisi ialah suatu sekte agama Yahudi dahulu kala
   yang memisahkan diri, sangat kaku sekali mempertahankan
   undang-undang agama, baik yang tertulis (Taurat), lisan
   ataupun adat kebiasaan. Lawan sekte Saduki (A).
   
10 Dalam menafsirkan ayat ini At-Tabari menyebutkan,
   bahwa yang dimaksud dengan orang-orang yang beriman itu
   ialah mereka yang percaya kepada Rasulullah;
   pengikut-pengikut Yahudi ialah orang-orang (yang menganut
   agama) Yahudi. Mereka ini disebut Yahudi karena kata-kata
   mereka juga: inna hudna ilaika - 'kami kembali kepadaMu'
   atau 'kami bertaubat.' Orang-orang Nasrani ialah
   pengikut-pengikut Kristus. Dinamakan Nasrani, satu
   pendapat mengatakan nama itu dinisbatkan kepada Nazareth,
   yaitu nama desa di Palestina tempat Isa dilahirkan, yang
   lain berpendapat, ialah karena ucapan Isa yang mengatakan
   'man anshari ila'llah' ('siapakah penolong-penolongku ke
   jalan Allah'), maka penolong-penolong itu diberi sebutan
   'Nashara' (bentuk jamak 'Nashrani); Shabi'un (atau
   Sabian) menurut satu pendapat ialah mereka yang menyembah
   malaikat. Pendapat lain mengatakan, bahwa mereka ini
   percaya kepada: keesaan Tuhan, tetapi tidak mempunyai
   kitab suci, tak ada nabi dan tidak mengamalkan sesuatu
   selain percaya bahwa tak ada tuhan selain Allah. Pendapat
   ketiga mengatakan, bahwa kaum Shabi'un ini orang-orang
   tidak beragama (Lihat juga catatan bawah halaman 33). Ibn
   Jarir menafsirkan ayat dalam firman Tuhan: "Orang yang
   beriman kepada Allah dan Hari Kemudian" ialah orang yang
   percaya akan hari kebangkitan sesudah mati pada hari
   kiamat, orang berbuat kebaikan dan taat kepada perintah
   Allah, mereka itulah yang akan mendapat ganjaran dari
   Tuhan, yakni mereka akan mendapat pahala dari Tuhan
   karena perbuatan-perbuatan yang baik. Sedang firman
   "mereka tidak perlu takut, tidak usah berduka cita,"
   ialah bahwa mereka tidak perlu takut dalam menghadapi
   hari kebangkitan, juga mereka tidak usah bersedih hati
   akan kehidupan dunia yang ditinggalkannya dalam
   menghadapi pahala dan kenikmatan abadi dari Tuhan. Dalam
   hal ini selanjutnya Ibn Jarir mengatakan, bahwa ayat ini
   ditujukan kepada orang Nasrani yang telah mengajak Salman
   al-Farisi menganut agama mereka. Salah seorang dari
   mereka juga mengatakan kepada Salman bahwa kelak akan
   muncul nabi di negeri Arab dengan menunjukkan sekali akan
   tanda-tanda kenabiannya itu. Dinasehatinya bahwa kalau
   nanti sampai ia mengalami supaya dia pun menjadi
   pengikutnya. Setelah Salman masuk Islam dan hal ini
   disampaikannya kepada Nabi, Nabi berkata: "Salman, mereka
   itu penghuni neraka." Hal ini sangat berkesan sekali pada
   Salman. Maka turunlah ayat ini "Orang-orang yang berirnan
   dari pengikut-pengikut Yahudi," dan seterusnya. Ada lagi
   yang berpendapat bahwa Tuhan telah menghapus ayat
   tersebut dengan firmanNya: "Barangsiapa menerima agama
   selain Islam ia tidak akan diterima." Tetapi Ibn Jarir
   menambahkan: "Apa yang kita sebutkan menurut penafsiran
   yang pertama itu lebih mirip dengan keadaan wahyu menurut
   lahirnya saja, sebab Tuhan tidak mengkhususkan ganjaran
   itu atas perbuatan baik, dengan yang sebagian beriman dan
   yang lain tidak. Predikat dengan kata-kata 'Orang yang
   beriman kepada Allah dan hari kemudian' meliputi semua
   yang disebutkan dalam ayat pertama itu. Barangkali dapat
   juga disebutkan - untuk memperkuat pendapat Ibn Jarir
   mengenai ulasan ayat "Barangsiapa menerima agama selain
   Islam, ia tidak akan diterima," - bahwa itu ditujukan
   kepada orang-orang Islam yang memilih agama lain setelah
   mereka dilahirkan secara Islam atau sesudah beriman
   kepada ajaran Islam. Sebaliknya yang dilahirkan tidak
   sebagai Muslim, ajakan dan ajaran Islam tidak sampai
   kepadanya seperti apa adanya, maka halnya sama dengan
   mereka yang sebelum datangnya kerasulan Muhammad atau
   yang semasa dengan itu tapi belum mengetahui tentang
   ajaran itu dengan sebenarnya. [Lihat tafsir at-Tabarr
   (Jami'l Bayan) Jilid Satu hal. 253 - 257].
 
---------------------------------------------
S E J A R A H    H I D U P    M U H A M M A D
 
oleh MUHAMMAD HUSAIN HAEKAL
diterjemahkan dari bahasa Arab oleh Ali Audah
 
Penerbit PUSTAKA JAYA
Jln. Kramat II, No. 31 A, Jakarta Pusat
Cetakan Kelima, 1980
 
Seri PUSTAKA ISLAM No.1

Indeks Islam | Indeks Haekal | Indeks Artikel | Tentang Penulis
ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota

Please direct any suggestion to Media Team