Sejarah Hidup Muhammad

oleh Muhammad Husain Haekal

Indeks Islam | Indeks Haekal | Indeks Artikel | Tentang Penulis
ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota

 

BAGIAN KETIGAPULUH SATU: PEMAKAMAN RASUL                 (1/2)
Muhammad Husain Haekal
 
   Muslimin berselisih: sudah wafatkah Rasul   Umar
   berpidato mengatakan tidak   Abu Bakr mengatakan sudah
   wafat dengan membacakan ayat Qur'an   Pendapat Abu Bakr
   meyakinkan Muslimin - Ikrar Saqifa kemudian Ikral Umum
   terhadap Abu Bakr - Menyelenggarakan dan memandikan
   jenazah Nabi - Diantar oleh semua orang: pria, wanita
   dan anak-anak - Dimakamkan di tempat Nabi wafat -
   Pasukan Usama ke Syam dilaksanakan dan berhasil -
   Kata-kata Rasulullah s.a.w. yang terakhir.
 
NABI telah memilih Handai Tertinggi  di  rumah  Aisyah  dengan
kepala di pangkuannya. Kemudian Aisyah meletakkan kepalanya di
atas bantal. Ia berdiri, dan bersama-sama dengan wanita-wanita
lain - yang segera datang begitu berita sampai kepada mereka -
ia memukul-mukul mukanya sendiri. Dengan  peristiwa  itu  kaum
Muslimin  yang  sedang  berada  dalam  mesjid  sangat terkejut
sekali,  sebab  ketika  paginya  mereka  melihat   Nabi   dari
segalanya   menunjukkan,  bahwa  ia  sudah  sembuh.  Itu  pula
sebabnya Abu Bakr pergi mengunjungi isterinya Bint Kharija  di
Sunh.

Setelah  mengetahui hal itu cepat-cepat Umar ke tempat jenazah
disemayamkan. Ia tidak percaya bahwa Rasulullah  sudah  wafat.
Ketika  dia datang, dibukanya tutup mukanya. Ternyata ia sudah
tidak bergerak lagi. Umar menduga bahwa Nabi  sedang  pingsan.
Jadi  tentu  akan  siuman  lagi.  Dalam  hal ini sia-sia saja,
Mughira hendak meyakinkan Umar atas kenyataan yang pahit  ini.
Ia  tetap berkeyakinan, bahwa Muhammad tidak mati. Oleh karena
Mughira tetap juga mendesak, ia berkata:
 
"Engkau dusta!"
 
Kemudian ia keluar ke mesjid bersama-sama sambil berkata:
 
"Ada orang dari kaum munafik  yang  mengira  bahwa  Rasulullah
s.a.w.  telah  wafat.  Tetapi, demi Allah sebenarnya dia tidak
meninggal, melainkan ia pergi kepada Tuhan, seperti  Musa  bin
'Imran.  Ia  telah menghilang dari tengah-tengah masyarakatnya
selama empat puluh  hari,  kemudian  kembali  lagi  ke  tengah
mereka  setelah  dikatakan dia sudah mati. Sungguh, Rasulullah
pasti akan kembali seperti Musa juga. Orang yang menduga bahwa
dia telah meninggal, tangan dan kakinya harus dipotong!"
 
Teriakan Umar yang datang bertubi-tubi ini telah didengar oleh
kaum  Muslimin  di   mesjid.   Mereka   jadi   seperti   orang
kebingungan.   Memang,   kalau  memang  benar  Muhammad  telah
berpulang, alangkah pilunya hati! Alangkah gundahnya  perasaan
mereka  yang  pernah  melihatnya,  pernah  mendengarkan  tutur
katanya, orang-orang yang  beriman  kepada  Allah  Yang  telah
mengutusnya membawa petunjuk dan agama yang benar! Rasa gundah
dan kesedihan yang  sungguh  membingungkan,  sungguh  menyayat
kalbu!  Apabila Muhammad telah pergi menghadap Tuhan - seperti
kata Umar  -  ini  sungguh  membingungkan.  Dan  menunggu  dia
kembali  lagi  seperti  kembalinya  Musa, lebih-lebih lagi ini
mengherankan.
 
Mereka semua datang mengerumuni Umar, lebih mempercayainya dan
lebih  yakin,  bahwa  Rasulullah tidak meninggal. Belum selang
lama tadi mereka bersama-sama, mereka melihatnya dan mendengar
suaranya   yang   keras   dan   jelas,  mendengar  doanya  dan
pengampunan yang  dimohonkannya.  Betapa  ia  akan  meninggal,
padahal   dia   adalah   Khalilullah   yang  dipilihNya  untuk
menyampaikan risalah, risalah yang sekarang sudah dianut  oleh
Arab  se]uruhnya,  tinggal  lagi Kisra dan Heraklius yang akan
menganut Islam!  Betapa  ia  akan  meninggal,  padahal  dengan
kekuatannya  itu  selama duapuluh tahun terus-menerus ia telah
menggoncangkan dunia  dan  telah  menimbulkan  suatu  revolusi
rohani yang paling hebat yang pernah dikenal sejarah!
 
Tetapi  di  sana  wanita-wanita  masih juga memukul-mukul muka
sendiri sebagai tanda, bahwa ia telah meninggal.  Sungguh  pun
begitu  Umar  di mesjid masih juga terus menyebutkan bahwa dia
tidak wafat, dia sedang pergi kepada Tuhan  seperti  Musa  bin
'Imran,  dan mereka yang berpendapat bahwa ia sudah meninggal,
mereka itu golongan orang-orang munafik, orang  munafik,  yang
tangan  dan  kakinya  oleh  Muhammad  nanti  akan  dihantamnya
setelah ia  kembali.  Mana  yang  mesti  dipercaya  oleh  kaum
Muslimin?  Mula-mula  mereka  cemas sekali. Kemudian kata-kata
Umar itu masih menimbulkan harapan dalam hati  mereka,  karena
Muhammad  masih  akan  kembali. Hampir saja angan-angan mereka
itu mereka percayai, menggambarkan dalam hati  mereka  sendiri
hal-hal  yang  hampir-hampir  pula  membawa  mereka  jadi puas
karenanya.

Sementara mereka  dalam  keadaan  begitu  tiba-tiba  Abu  Bakr
datang.  Ia  segera kembali dari Sunh setelah berita sedih itu
diterimanya. Ketika dilihatnya  Muslimin  demikian,  dan  Umar
sedang  berpidato,  ia  tidak berhenti lama-lama di tempat itu
melainkan  terus  ke  rumah  Aisyah  tanpa  menoleh  lagi   ke
kanan-kiri.   Ia   minta   ijin  akan  masuk,  tapi  dikatakan
kepadanya, orang tidak perlu minta ijin untuk hari ini.
 
Bila ia masuk, dilihatnya Nabi  di  salah  satu  bagian  dalam
rumah   itu   sudah   diselubungi   dengan  burd  hibara.1  Ia
menyingkapkan  selubung  itu  dari  wajah  Nabi  dan   setelah
menciumnya ia berkata:
 
"Alangkah  sedapnya  di  waktu engkau hidup, alangkah sedapnya
pula di waktu engkau mati."
 
Kemudian kepala Nabi  diangkatnya  dan  diperhatikannya  paras
mukanya, yang ternyata memang menunjukkan ciri-ciri kematian.
 
"Demi  ibu-bapakku.2 Maut yang sudah ditentukan Tuhan kepadamu
sekarang sudah sampai kaurasakan. Sesudah itu takkan ada  lagi
maut menimpamu!"
 
Kemudian  dikembalikannya  kepala itu ke bantal, ditutupkannya
kembali kain  burd  itu  kemukanya.  Sesudah  itu  ia  keluar.
Ternyata  Umar  masih  bicara  dan  mau meyakinkan orang bahwa
Muhammad tidak meninggal. Orang banyak memberikan jalan kepada
Abu Bakr.
 
"Sabar,  sabarlah  Umar!"  katanya  setelah ia berada di dekat
Umar. "Dengarkan!"
 
Tetapi Umar tidak mau diam dan juga tidak mau mendengarkan. Ia
terus  bicara.  Sekarang  Abu Bakr menghampiri orang-orang itu
seraya memberi isyarat, bahwa dia akan bicara  dengan  mereka.
Dan  dalam  hal  ini  siapa  lagi  yang akan seperti Abu Bakr!
Bukankah dia Ash-Siddiq  yang  telah  dipilih  oleh  Nabi  dan
sekiranya  Nabi  akan mengambil orang sebagai teman kesayangan
tentu dialah teman kesayangannya?! Oleh karena itu cepat-cepat
orang memenuhi seruannya itu dan Umar ditinggalkan.

Setelah mengucapkan puji syukur kepada Tuhan Abu Bakr berkata:
 
"Saudara-saudara! Barangsiapa mau menyembah Muhammad, Muhammad
sudah meninggal. Tetapi barangsiapa mau menyembah Tuhan, Tuhan
hidup selalu tak pernah mati."

Kemudian ia membacakan firman Tuhan:
 
"Muhammad hanyalah seorang rasul. Sebelum dia pun telah banyak
rasul-rasul yang sudah lampau. Apabila dia mati atau terbunuh,
apakah kamu akan berbalik ke belakang? Barangsiapa berbalik ke
belakang, ia tidak akan merugikan Tuhan sedikit pun. Dan Tuhan
akan  memberikan  balasan  kepada orang-orang yang bersyukur."
(Qur'an, 3:144)
 
Ketika itu Umar juga  turut  mendengarkan  tatkala  dilihatnya
orang banyak pergi ke tempat Abu Bakr. Setelah didengarnya Abu
Bakr membacakan ayat itu,  Umar  jatuh  tersungkur  ke  tanah.
Kedua  kakinya  sudah tak dapat menahan lagi, setelah ia yakin
bahwa Rasulullah memang sudah wafat.  Ada  pun  orang  banyak,
yang  sebelum itu sudah terpengaruh oleh pendapat Umar, begitu
mendengar bunyi ayat yang  dibacakan  Abu  Bakr,  baru  mereka
sadar;  seolah  mereka tidak pernah mengetahui, bahwa ayat ini
pernah turun.  Dengan  demikian  segala  perasaan  yang  masih
ragu-ragu  bahwa  Muhammad  sudah  berpulang  ke rahmat Allah,
dapat dihilangkan.
 
Sudah melampaui bataskah Umar  ketika  ia  berkeyakinan  bahwa
Muhammad  tidak  mati,  ketika mengajak orang lain supaya juga
yakin seperti dia? Tidak!  Para  sarjana  sekarang  mengatakan
kepada kita, bahwa matahari akan terus memercik sepanjang abad
sebelum tiba  waktunya  ia  habis  hilang  sama  sekali.  Akan
percayakah  orang  pada  pendapat  ini  tanpa  ia ragukan lagi
kemungkinannya? Matahari yang memancarkan sinar dan kehangatan
sehingga  karenanya  alam  ini  hidup,  bagaimana  akan habis,
bagaimana akan padam sesudah itu kemudian alam ini masih  akan
tetap  ada?  Muhammad  pun tidak kurang pula dari matahari itu
sinarnya, kehangatannya, kekuatannya.  Seperti  matahari  yang
telah  melimpahkan  jasa,  Muhammad pun telah pula melimpahkan
jasa. Seperti halnya dengan matahari  yang  telah  berhubungan
dengan  alam,  jiwa Muhammad pun telah pula berhubungan dengan
semesta  alam  ini,  dan  selalu   sebutan   Muhammad   s.a.w.
mengharumkan alam ini keseluruhannya. Jadi tidak heran apabila
Umar yakin bahwa Muhammad tidak mungkin akan mati. Dan  memang
benar ia tidak mati, dan tidak akan mati.

Usama  b.  Zaid  yang  telah  melihat  Nabi  pagi itu pergi ke
mesjid, seperti orang-orang Islam yang lain  dia  pun  menduga
bahwa  Nabi  sudah sembuh. Bersama-sama dengan anggota pasukan
yang hendak diberangkatkan ke Syam yang sementara  itu  pulang
ke  Medinah,  sekarang  ia  kembali  menggabungkan diri dengan
markas  yang  di  Jurf.  Perintah  sudah  dikeluarkan   supaya
pasukannya  itu  siap-siap  akan  berangkat. Tetapi dalam pada
itu, tiba-tiba  ada  orang  yang  datang  menyusulnya,  dengan
membawa  berita  sedih  tentang  kematian Nabi. Ia membatalkan
niatnya akan berangkat dan  pasukannya  diperintahkan  kembali
semua  ke Medinah. Ia pergi ke rumah Aisyah dan ditancapkannya
benderanya di depan pintu rumah itu, sambil menantikan keadaan
Muslimin
 
Sebenarnya  Muslimin  sendiri  dalam  keadaan bingung. Setelah
mereka  mendengar  pidato  Abu  Bakr  dan  yakin  sudah  bahwa
Muhammad  sudah  wafat, mereka lalu terpencar-pencar. Golongan
Anshar lalu  menggabungkan  diri  kepada  Said  b.  'Ubada  di
Saqifa3 Banu Sa'ida; Ali b. Abi Talib, Zubair ibn'l-'Awwam dan
Talha b. 'Ubaidillah menyendiri pula di rumah  Fatimah;  pihak
Muhajirin,  termasuk  Usaid b. Hudzair dari Banu 'Abd'l-Asyhal
menggabungkan diri kepada Abu Bakr.
 
Sementara Abu Bakr dan Umar dalam keadaan demikian,  tiba-tiba
ada  orang  datang  menyampaikan  berita  kepada mereka, bahwa
Anshar telah menggabungkan diri kepada Sa'd b. 'Ubada,  dengan
menambahkan  bahwa:  Kalau ada masalah yang perlu diselesaikan
dengan mereka, segera susullah mereka,  sebelum  keadaan  jadi
berbahaya.  Rasulullah s.a.w. masih di dalam rumah, belum lagi
selesai (dimakamkan) dan  keluarganya  juga  sudah  menutupkan
pintu.
 
"Baiklah,"  kata  Umar menujukan kata-katanya kepada Abu Bakr.
"Kita berangkat ke tempat  saudara-saudara  kita  dari  Anshar
itu, supaya dapat kita lihat keadaan mereka."

Ketika  di  tengah perjalanan, mereka bertemu dengan dua orang
baik-baik dari kalangan  Anshar,  yang  kemudian  menceritakan
kepada  pihak  Muhajirin  itu  tentang adanya orang-orang yang
sedang mengadakan persepakatan.
 
"Tuan-tuan mau ke mana?" tanya dua orang itu.
 
Setelah  diketahui  bahwa  mereka  akan  menemui   orang-orang
Anshar, kedua orang itu berkata:
 
"Tidak   ada   salahnya   tuan-tuan  tidak  mendekati  mereka.
Saudara-saudara Muhajirin, selesaikanlah persoalan tuan-tuan."
 
"Tidak, kami akan menemui mereka," kata Umar.
 
Lalu mereka  meneruskan  perjalanan  sampai  di  Serambi  Banu
Sa'ida. Di tengah-tengah mereka itu ada seorang laki-laki yang
sedang berselubung.
 
"Siapa ini?" tanya Umar bin'l-Khattab.
 
"Sa'd b. 'Ubada," jawab mereka. "Dia sedang sakit."
 
Setelah pihak  Muhajirin  duduk,  salah  seorang  dari  Anshar
berpidato. Sesudah mengucapkan syukur dan puji kepada Tuhan ia
berkata:
 
"Kemudian daripada itu. Kami adalah  Ansharullah  dan  pasukan
Islam,  dan  kalian  dari  kalangan Muhajirin sekelompok kecil
dari kami yang datang ke  mari  mewakili  golongan  tuan-tuan.
Ternyata  mereka  itu mau menggabungkan kami dan mengambil hak
kami serta mau memaksa kami."
 
Yang demikian ini memang  merupakan  jiwa  Anshar  sejak  masa
hidup  Nabi.  Oleh karena itu, begitu Umar mendengar kata-kata
tersebut ia ingin segera menangkisnya. Tetapi  oleh  Abu  Bakr
ditahan, sebab sikapnya yang keras sangat dikuatirkan.
 
"Sabarlah, Umar!" katanya. Kemudian ia memulai pembicaraannya,
ditujukan kepada Anshar:
 
"Saudara-saudara! Kami dari pihak Muhajirin orang yang pertama
menerima   Islam,  keturunan  kami  baik-baik,  keluarga  kami
terpandang, kedudukan kami baik pula. Di kalangan Arab kamilah
yang  banyak  memberikan  keturunan,  dan  kami  sangat sayang
kepada Rasulullah. Kami sudah Islam sebelum tuan-tuan  dan  di
dalam  Qu'ran  juga  kami  didahulukan dari tuan-tuan; seperti
dalam firman Tuhan:
 
'Orang-orang yang terdahulu dan mula-mula (masuk Islam),  dari
Muhajirin  dan  Anshar serta orang-orang yang mengikuti mereka
dalam melakukan kebaikan.' (Qur'an, 9:100)
 
Jadi   kami   Muhajirin   dan   tuan-tuan    adalah    Anshar,
saudara-saudara kami seagama, bersama-sama menghadapi rampasan
perang dan mengeluarkan  pajak  serta  penolong-penolong  kami
dalam  menghadapi  musuh.  Apa  yang  telah tuan-tuan katakan,
bahwa segala kebaikan  ada  pada  tuan-tuan,  itu  sudah  pada
tempatnya.  Tuan-tuanlah  dari  seluruh penghuni bumi ini yang
patut  dipuji.  Dalam  hal-ini  orang-orang  Arab  itu   hanya
mengenal  lingkungan  Quraisy  ini.  Jadi dari pihak kami para
amir dan dari pihak tuan-tuan para wazir."4
 
Ketika itu salah seorang dari kalangan Anshar ada yang  marah,
lalu berkata:
 
"Saya  tongkat  lagi  senjata.5  Saudara-saudara Quraisy, dari
kami seorang amir dan dari tuan-tuan juga seorang amir."
 
"Dari kami para amir dan dari tuan-tuan para wazir," kata  Abu
Bakr.  "Saya  menyetujui salah seorang dari yang dua ini untuk
kita. Berikanlah ikrar tuan-tuan kepada yang  mana  saja  yang
tuan-tuan sukai."
 
Lalu  ia  mengangkat  tangan Umar bin'l-Khattab dan tangan Abu
'Ubaida bin'l-Jarrah, sambil dia duduk  di  antara  dua  orang
itu.   Lalu  timbul  suara-suara  ribut  dan  keras.  Hal  ini
dikuatirkan akan membawa pertentangan. Ketika  itu  Umar  lalu
berkata dengan suaranya yang lantang:
 
"Abu Bakr, bentangkan tanganmu!"
 
Abu  Bakr  membentangkan tangan dan dia diikrarkan seraya kata
Umar:
 
"Abu Bakr, bukankah Nabi sudah  menyuruhmu,  supaya  engkaulah
yang  memimpin  Muslimin bersembahyang? Engkaulah penggantinya
(khalifah). Kami akan mengikrarkan orang yang  paling  disukai
oleh Rasulullah di antara kita semua ini."
 
Kata-kata  ini  ternyata  sangat  menyentuh hati Muslimin yang
hadir, karena benar-benar telah dapat melukiskan kehendak Nabi
sampai  pada  hari  terakhir orang melihatnya. Dengan demikian
pertentangan  di  kalangan  mereka  dapat  dihilangkan.  Pihak
Muhajirin  datang memberikan ikrar, kemudian pihak Anshar juga
memberikan ikrarnya.
 
Bilamana keesokan harinya Abu Bakr duduk di atas mimbar,  Umar
ibn'l-Khattab   tampil  berbicara  sebelum  Abu  Bakr,  dengan
mengatakan - setelah mengucapkan syukur dan puji kepada Tuhan:

"Kepada  saudara-saudara  kemarin   saya   sudah   mengucapkan
kata-kata  yang  tidak  terdapat  dalam Kitabullah, juga bukan
suatu pesan yang  diberikan  Rasulullah  kepada  saya.  Tetapi
ketika  itu  saya  berpendapat,  bahwa  Rasulullah  yang  akan
mengurus  soal  kita,  sebagai  orang  terakhir  yang  tinggal
bersama-sama kita. Tetapi Tuhan telah meninggalkan Qu'ran buat
kita,  yang  juga  menjadi  penuntun  RasulNya.   Kalau   kita
berpegang  pada Kitab itu Tuhan menuntun kita, yang juga telah
menuntun Rasulullah. Sekarang Tuhan telah menyatukan persoalan
kita di tangan  sahabat  Rasulullah    s.a.w.  yang terbaik di
antara kita dan salah seorang dari dua orang, ketika  keduanya
itu berada dalam gua. Maka marilah kita ikrarkan dia."
 
Ketika  itu  orang  lalu  memberikan  ikrarnya kepada Abu Bakr
sebagai Ikrar Umum setelah Ikrar Saqifa.

Selesai ikrar kemudian Abu Bakr berdiri. Di hadapan mereka itu
ia  mengucapkan  sebuah  pidato  yang  dapat dipandang sebagai
contoh yang sungguh bijaksana dan sangat  menentukan.  Setelah
mengucap puji syukur kepada Tuhan Abu Bakr r.a. berkata:
 
"Kemudian, saudara-saudara. Saya sudah dijadikan penguasa atas
kamu sekalian, dan saya bukanlah orang yang terbaik di  antara
kamu. Kalau saya berlaku baik, bantulah saya. Kebenaran adalah
suatu kepercayaan, dan dusta adalah pengkhianatan. Orang  yang
lemah  di  kalangan  kamu  adalah  kuat  di mata saya, sesudah
haknya nanti saya berikan kepadanya - insya Allah,  dan  orang
yang  kuat,  buat  saya  adalah lemah sesudah haknya itu nanti
saya  ambil  -  insya  Allah.  Apabila   ada   golongan   yang
meninggalkan  perjuangan  di  jalan  Allah,  maka  Allah  akan
menimpakan kehinaan kepada mereka. Apabila kejahatan itu sudah
meluas  pada  suatu  golongan,  maka  Allah  akan  menyebarkan
bencana pada mereka. Taatilah saya  selama  saya  taat  kepada
(perintah)  Allah  dan RasulNya. Tetapi apabila saya melanggar
(perintah) Allah dan Rasul maka  gugurlah  kesetiaanmu  kepada
saya.  Laksanakanlah  salat  kamu,  Allah  akan merahmati kamu
sekalian."
                                    (bersambung ke bagian 2/2)
 
---------------------------------------------
S E J A R A H    H I D U P    M U H A M M A D
 
oleh MUHAMMAD HUSAIN HAEKAL
diterjemahkan dari bahasa Arab oleh Ali Audah
 
Penerbit PUSTAKA JAYA
Jln. Kramat II, No. 31 A, Jakarta Pusat
Cetakan Kelima, 1980
 
Seri PUSTAKA ISLAM No.1

Indeks Islam | Indeks Haekal | Indeks Artikel | Tentang Penulis
ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota

Please direct any suggestion to Media Team