Sejarah Hidup Muhammad

oleh Muhammad Husain Haekal

Indeks Islam | Indeks Haekal | Indeks Artikel | Tentang Penulis
ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota

 

Characters: 10592
Lines: 203
Words: 1353
Sentences: 215
Paragraphs: 181
 
                    PENGANTAR CETAKAN KEDUA            (2/9)

PEMBELA-PEMBELA ORIENTALIS
 
Yang  mula-mula  saya  terima sebagai sanggahan ialah adanya
sebuah karangan yang disampaikan kepada  saya  oleh  seorang
penulis  bangsa  Mesir  yang  menyebutkan,  bahwa itu adalah
sebuah   terjemahan   bahasa   Arab   dari   artikel    yang
dikirimkannya ke sebuah majalah Orientalis berbahasa Jerman,
sebagai kritik atas buku ini. Artikel ini tidak saya siarkan
dalam  surat-surat kabar berbahasa Arab, karena isinya hanya
berupa kecaman-kecaman yang tidak berdasar. Oleh karena  itu
terserah  kepada  penulisnya jika mau menyiarkannya sendiri.
Saya rasa nama orang itupun  tidak  perlu  disebutkan  dalam
pengantar ini dengan keyakinan bahwa dia sudah akan mengenal
identitasnya sendiri sesudah membaca sanggahannya itu dimuat
di  sini.  Artikel  itu  ringkasnya ialah bahwa penyelidikan
yang saya lakukan tentang  peri  hidup  Muhammad  ini  bukan
suatu  penyelidikan  ilmiah  dalam  arti  modern, sebab saya
hanya berpegang pada sumber berbahasa Arab saja, tidak  pada
penyelidikan-penyelidikan  kaum  Orientalis  sebangsa  Weil,
Goldziher, Noldeke dan yang lain; bukan mengambil dari hasil
penyelidikan  mereka,  dan  karena  saya  menganggap  Qur'an
sebagai dokumentasi  sejarah  yang  sudah  tidak  diragukan,
padahal  studi  Orientalis-orientalis  itu menunjukkan bahwa
Qur'an sudah diubah dan diganti-ganti setelah Nabi wafat dan
pada  permulaan sejarah Islam, dan bahwa nama Nabipun pernah
diganti. Semula bernama "Qutham" atau "Quthama." Sesudah itu
kemudian diganti menjadi "Muhammad" untuk disesuaikan dengan
bunyi ayat, "Dan membawa berita gembira  kedatangan  seorang
rasul   sesudahku,  namanya  Ahmad,"  sebagai  isyarat  yang
terdapat dalam Injil tentang nabi yang akan  datang  sesudah
Isa.  Dalam  keterangannya  penulis  itu  menambahkan  bahwa
penyelidikan kaum Orientalis  itu  juga  menunjukkan,  bahwa
Nabi  menderita  penyakit  ayan,  dan apa yang disebut wahyu
yang diturunkan  kepadanya  itu  tidak  lain  adalah  akibat
gangguan  ayan  yang  menyerangnya;  dan bahwa gejala-gejala
penyakit ayan itu terlihat pada Muhammad ketika sedang tidak
sadarkan  diri,  keringatnya  mengalir  disertai kekejangan,
dari mulutnya keluar  busa.  Bila  sudah  kembali  ia  sadar
dikatakannya  bahwa  yang diterimanya itu adalah wahyu, lalu
dibacakan kepada mereka yang percaya pada  apa  yang  diduga
wahyu dari Tuhan itu.
 
Sebenarnya saya tidak perlu menghiraukan karangan semacam ini
atau pada sanggahannya kalau  tidak  karena  penulisnya  itu
seorang  Mesir  dan  Muslim  pula.  Andaikata penulisnya itu
seorang Orientalis atau misi penginjil,  akan  saya  biarkan
saja  ia  bicara menurut kehendak nafsunya sendiri. Apa yang
sudah saya sebutkan pada kata pengantar dan dalam teks  buku
ini  sudah  cukup  sebagai  argumen  yang  akan menggugurkan
pendapat mereka itu. Bagaimanapun  juga  penulis  surat  ini
adalah   sebuah   contoh  dari  sebagian  pemuda-pemuda  dan
orang-orang Islam yang begitu saja menyambut baik segala apa
yang  dikatakan  pihak  Orientalis dan menganggapnya sebagai
hasil yang benar-benar  ilmiah,  dan  berdasarkan  kebenaran
sepenuhnya.  Kepada mereka itulah tulisan ini saya alamatkan
sekadar mengingatkan tentang  adanya  kesalahan  yang  telah
dilakukan  oleh  kaum  Orientalis.  Ada pula kaum Orientalis
yang  memang  jujur  dalam  penyelidikan  mereka,   meskipun
tentunya tidak lepas dari kesalahan juga.

SEBAB-SEBAB KESALAHAN ORIENTALIS
 
Kesalahan-kesalahan     demikian    itu    terselip    dalam
penyelidikannya  kadang  disebabkan  oleh  kurang  telitinya
memahami  liku-liku  bahasa  Arab, kadang juga karena adanya
maksud yang tersembunyi dalam jiwa sebagian  sarjana-sarjana
itu,  yang  tujuannya hendak menghancurkan sendi-sendi salah
satu   agama,   atau   semua   agama.   Ini   adalah   sikap
berlebih-lebihan   yang  selayaknya  dihindarkan  saja  oleh
kalangan cendekiawan.  Kita  melihat  ada  juga  orang-orang
Kristen  yang  begitu  terdorong oleh sikap berlebih-lebihan
ini sampai mereka mengingkari bahwa  Isa  pernah  ada  dalam
sejarah.
 
Yang lain kita lihat bahkan sudah melampaui batas-batas yang
berlebih-lebihan itu dengan menulis tentang Isa  yang  sudah
gila misalnya.
 
Timbulnya  pertentangan antara gereja dengan negara di Eropa
itu telah pula menyebabkan kalangan sarjana  di  satu  pihak
dan   kaum   agama  di  pihak  lain  hendak  saling  mencari
kemenangan dalam merebut kekuasaan.
 
Sebaliknya   Islam,   sama   sekali   bersih   dari   adanya
pertentangan  serupa  itu.  Hendaknya mereka yang mengadakan
penyelidikan di kalangan Islam dapat menghindarkan diri dari
kekuasaan  nafsu demikian ini, yang sebenarnya telah menimpa
orang-orang   Barat,   dan   sering   menodai   penyelidikan
sarjana-sarjana itu. Juga hendaknya mereka berhati-hati bila
mempelajari hasil yang datang dari Barat,  yang  berhubungan
dengan  masalah-masalah  agama.  Segala  sesuatu  yang telah
dilukiskan  oleh  para  sarjana  sebagai  suatu   kebenaran,
hendaklah  diteliti  lebih seksama. Banyak di antaranya yang
sudah terpengaruh begitu jauh,  sehingga  telah  menimbulkan
permusuhan  antara  orang-orang  agama  dengan kalangan ilmu
pengetahuan secara terus-menerus selama berabad-abad.

BUKU BIOGRAFI PENULIS-PENULIS ISLAM SEBAGAI PEGANGAN
 
Apa yang disebutkan dalam karangan si Muslim berbangsa Mesir
yang  saya  ringkaskan  itu  sudah  suatu bukti perlunya ada
sikap berhati-hati. Pertama-tama ia menyalahkan saya  karena
saya  masih  berpegang pada sumber-sumber Arab sebagai dasar
penyelidikan  saya;  dan  ini  memang  tidak  saya   bantah.
Sungguhpun begitu buku-buku kalangan Orientalis seperti yang
saya sebutkan  dalam  bibliografi,  juga  saya  pakai.  Akan
tetapi,  sumber-sumber  bahasa  Arab  selalu saya pergunakan
sebagai   dasar   pertama   dalam   pembahasan   ini.    Dan
sumber-sumber  bahasa  Arab ini jugalah yang dipakai sebagai
dasar   pertama   dalam    penyelidikan-penyelidikan    kaum
Orientalis itu semua.
 
Ini  wajar  sekali. Sumber-sumber tersebut - terutama sekali
Qur'an - adalah yang pertama sekali bicara  tentang  sejarah
hidup  Nabi.  Sudah  tentu itu jugalah yang menjadi pegangan
dan dasar bagi setiap  orang  yang  ingin  menulis  biografi
dengan  gaya  dan  metoda sekarang. Baik Noldeke, Goldziher,
Weil, Sprenger, Muir atau Orientalis  lain  semua  berpegang
pada  sumber-sumber  itu  juga  dalam  penyelidikan  mereka,
seperti yang saya lakukan ini. Dalam membuat pengamatan  dan
kritik, mereka menempuh cara yang bebas, demikian juga saya.
Dalam hal ini juga saya tidak  mengabaikan  beberapa  sumber
buku  Kristen  yang  lama-lama yang menjadi pegangan mereka,
sekalipun  mereka  masih  terdorong  oleh  fanatisma   agama
Kristen, dan samasekali bukan oleh kritik ilmiah.
 
Kalau  ada  orang  yang  menyalahkan  saya karena saya tidak
terikat  oleh  kesimpulan-kesimpulan   yang   dicapai   oleh
beberapa  kaum  Orientalis itu, atau karena saya sampai hati
tidak sependapat dengan mereka dan  malah  melakukan  kritik
terhadap  mereka, maka dalam bidang ilmiah yang demikian itu
adalah suatu pendirian yang beku sekali, yang  tidak  kurang
pula  beku  dan  kolotnya  dari  pendirian yang bagaimanapun
dalam bidang intelektual ataupun  rohani.  Saya  rasa  tidak
seorangpun  dari  kalangan  Orientalis itu sendiri yang akan
menyetujui sikap beku  demikian  itu  dalam  bidang  ilmiah.
Andaikata  ada di antara mereka yang dapat membenarkan sikap
demikian, tentu ia akan  membenarkan  juga  sikap  beku  itu
dalam bidang agama.
 
Tidak  saya inginkan dua hal ini terjadi, baik terhadap diri
saya  atau  terhadap  siapapun  yang   mau   bekerja   dalam
penyelidikan  sejarah atas dasar ilmiah yang sebenarnya. Apa
yang saya lakukan  dan  saya  ajak  orang  lain  akan  dapat
melakukannya   ialah   mengamati   hasil-hasil   studi  yang
dilakukan orang lain itu. Apabila ia sudah merasa puas  oleh
pembuktian  yang  meyakinkan,  maka  tentu  itulah yang kita
harapkan. Kalau tidak, lakukan sendirilah  supaya  ia  dapat
mencapai  kebenaran  itu  dengan  keyakinan  bahwa  ia sudah
berhasil.
 
Ke arah inilah saya ajak pemuda-pemuda kita dan  orang-orang
yang mengagumi hasil-hasil penyelidikan kaum Orientalis itu,
dan memang ini pula yang  saya  lakukan.  Saya  akan  merasa
sudah   mendapat   imbalan   sebagai  orang  yang  berhasil,
sekiranya pekerjaan ini memang sudah tepat; sebaliknya  saya
akan  dapat  dimaafkan  kiranya  sebagai  orang yang mencari
kebenaran dengan tujuan yang jujur dalam menempuh jalan itu,
jika ternyata saya salah.

ORIENTALIS DAN KETENTUAN-KETENTUAN AGAMA
 
Sebagai  bukti  atas  agitasi  beberapa kaum Orientalis yang
ingin   menghancurkan   ketentuan-ketentuan   agama   dengan
cara-cara  mereka yang berlebih-lebihan itu, ialah pendirian
si Muslim bangsa Mesir yang telah menulis karangan tersebut,
bahwa  hasil-hasil  studi  kaum  Orientalis itu menunjukkan,
bahwa Qur'an bukan suatu dokumen sejarah  yang  tidak  boleh
diragukan,  dan  bahwa Qur'an sudah diubah-ubah setelah Nabi
wafat dan pada masa permulaan sejarah Islam, yang dalam pada
itu    lalu    ditambah-tambah    dengan   ayat-ayat   untuk
maksud-maksud agama atau politik. Saya bukan mau  berdiskusi
atau  mau  berdebat  dengan  penulis  karangan itu dari segi
Islamnya dia sebagai Muslim - atas apa yang sudah ditentukan
oleh   Islam,  bahwa  Qur'an  itu  Kitabullah,  yang  takkan
dikaburkan oleh kepalsuan, baik pada  mula  diturunkan  atau
kemudian   sesudah  itu.  Dia  sependirian  dengan  golongan
Orientalis, bahwa Qur'an dikarang oleh Muhammad, padahal dia
percaya  juga,  bahwa  Kitab  itu  adalah wahyu Allah kepada
Muhammad seperti  pendapat  beberapa  kaum  Orientalis,  dan
karena  ingin  menguatkan  isi  karangannya  atas  apa  yang
disebutnya itu, dikatakannya bahwa Qur'an  menurut  pendapat
yang  sebagian  lagi adalah memang wahyu Allah. Jadi baiklah
saya berdialog dengan dia menurut bahasanya atas  dasar  dia
sebagai  orang  yang  berpikir bebas, yang tidak mau terikat
oleh apapun kecuali atas dasar yang  telah  dibuktikan  oleh
ilmu pengetahuan dengan cara yang benar-benar meyakinkan.
 
 
                                    (bersambung ke bagian 3)
 
---------------------------------------------
S E J A R A H    H I D U P    M U H A M M A D
 
oleh MUHAMMAD HUSAIN HAEKAL
diterjemahkan dari bahasa Arab oleh Ali Audah
 
Penerbit PUSTAKA JAYA
Jln. Kramat II, No. 31 A, Jakarta Pusat
Cetakan Kelima, 1980
 
Seri PUSTAKA ISLAM No.1

Indeks Islam | Indeks Haekal | Indeks Artikel | Tentang Penulis
ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota

Please direct any suggestion to Media Team