Sejarah Hidup Muhammad

oleh Muhammad Husain Haekal

Indeks Islam | Indeks Haekal | Indeks Artikel | Tentang Penulis
ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota

 

BAGIAN KEDUAPULUH SEMBILAN: IBADAH HAJI PERPISAHAN       (2/2)
Muhammad Husain Haekal
 
Dalam ibadah haji ada suatu manasik (upacara) yang  dalam  hal
ini  Nabi  'a.s.  adalah  contoh bagi umat Islam. Begitu orang
mengetahui benar Nabi telah menetapkan  akan  pergi  haji  dan
mengajak  mereka  ikut serta, tersiarlah ajakan itu ke segenap
penjuru semenanjung. Beribu-ribu orang datang ke Medinah  dari
segenap  penjuru:  dari  kota-kota  dan  dari  pedalaman, dari
gunung-gunung dan dari sahara, dari semua pelosok  tanah  Arab
yang  membentang  luas,  yang  sekarang  sudah bersinar dengan
cahaya Tuhan dan cahaya Nabi yang mulia itu. Di  sekitar  kota
Medinah  sudah  pula  dipasang  kemah-kemah untuk seratus ribu
orang atau lebih, yang datang memenuhi seruan Nabi, Rasulullah
s.a.w.    Mereka   datang   sebagai   saudara   untuk   saling
kenal-mengenal,   mereka   dipertalikan   semua   oleh    rasa
kasih-sayang,  oleh  keikhlasan hati dan oleh ukhuah islamiah,
yang dalam tahun-tahun sebelum itu mereka  saling  bermusuhan.
Manusia  yang  berjumlah  ribuan itu kini sedang melihat-lihat
kota, masing-masing dengan bibir tersenyum, dengan wajah  yang
cerah  dan berseri-seri. Berkumpulnya mereka itu menggambarkan
adanya suatu kebenaran yang  telah  mendapat  kemenangan,  Nur
Ilahi  telah  tersebar  luas,  yang membuat mereka semua teguh
bersatu seperti sebuah bangunan yang kukuh.

Pada 25 Zulkaedah tahun kesepuluh Hijrah Nabi berangkat dengan
membawa  semua  isterinya,  masing-masing  dalam  hodahnya. Ia
berangkat dengan diikuti jumlah manusia yang begitu melimpah -
penulis-penulis  sejarah ada yang menyebutkan 90.000 orang dan
ada pula yang  menyebutkan  114.000  orang.  Mereka  berangkat
dibawa  oleh  iman,  jantung  mereka  penuh kegembiraan, penuh
keikhlasan, menuju  ke  Baitullah  yang  suci.  Mereka  hendak
menunaikan kewajiban ibadah haji besar.

Bilamana  mereka  sampai di Dhu'l-Hulaifa, mereka berhenti dan
tinggal selama satu malam di sana. Keesokan harinya, bila Nabi
sudah  mengenakan  pakaian  ihram kaum Muslimin yang lain juga
memakai pakaian ihram. Mereka semua  masing-masing  mengenakan
kain  selubung  bagian  bawah  dan atas. Mereka berjalan semua
dengan pakaian yang sama, yaitu pakaian yang sangat sederhana.
Dengan  demikian  mereka  telah  melaksanakan  suatu persamaan
dalam arti yang sangat jelas.
 
Dengan seluruh kalbu Muhammad telah menghadapkan  diri  kepada
Tuhan  dengan  mengucapkan talbiah yang diikuti pula oleh kaum
Muslimin dari belakang: "Labbaika Allahumma labbaika, labbaika
la   syarika   laka   labbaika.   Alhamdu  lillah  wan-ni'matu
wa'sy-syukru  laka  labbaika.   Labbaika   la   syarika   laka
labbaika."   ("Kupenuhi   panggilanMu,   ya   Allah,  kupenuhi
panggilanMu. Kupenuhi  panggilanMu.  Tiada  bersekutu  Engkau.
Kupenuhi  panggilanMu.  Puji,  nikmat  dan syukur kepunyaanMu.
Kupenuhi panggilanMu, kupenuhi  panggilanMu,  tiada  bersekutu
Engkau. Kupenuhi panggilanMu.")
 
Lembah-lembah  dan  padang  sahara  bersahut-sahutan menyambut
seruan ini, semua turut berseru dengan penuh iman. Ribuan,  ya
puluhan    ribu    kafilah    itu   menyusuri   jalan   antara
Madinat'r-Rasul dengan Kota  Mesjid  Suci.  Ia  berhenti  pada
setiap mesjid, menunaikan kewajiban sambil menyerukan talbiah,
sebagai tanda taat dan syukur atas nikmat Allah. Dengan  penuh
kesabaran  ia  menantikan  saat  ibadah  haji  akbar itu tiba.
Dengan hati rindu, dengan jantung berdetak  penuh  cinta  akan
Baitullah. Padang-padang pasir seluruh jazirah, gunung-gunung,
lembah-lembah  dan  padang  tanaman  yang   segar   menghijau,
terkejut     mendengarnya,     dengan     kumandangnya    yang
bersahut-sahutan; suatu hal yang belum pernah dikenal, sebelum
Nabi   yang  ummi  ini,  Rasul  dan  Hamba  Allah  ini  datang
memberkahinya.

Tatkala rombongan itu sampai di Sarif -  suatu  tempat  antara
jalan   Mekah   dengan   Medinah  -  Muhammad  berkata  kepada
sahabat-sahabatnya:
 
"Barangsiapa diantara kamu tidak membawa binatang  kurban  dan
ingin menjadikan (ihram) ini sebagai umrah, lakukanlah; tetapi
yang membawa binatang kurban jangan."
 
Bilamana jamaah haji sudah sampai di Mekah pada  hari  keempat
Zulhijjah,  Nabi  cepat-cepat  menuju Ka'bah diikuti oleh kaum
Muslimin yang lain. Kemudian  ia  menyentuh  hajar  aswad  dan
menciumnya,  lalu  bertawaf  di Ka'bah sebanyak tujuh kali dan
pada tiga kali  yang  pertama  ia  berlari-lari  seperti  yang
dilakukan  pada waktu 'umrat'l-qadza'. Setelah melakukan salat
di Maqam Ibrahim ia kembali  dan  sekali  lagi  mencium  hajar
aswad.  Kemudian  ia  keluar  dari mesjid itu menuju ke sebuah
bukit di Shafa, lalu melakukan sa'i antara  Shafa  dan  Marwa.
Selanjutnya  Muhammad berseru supaya barangsiapa tidak membawa
ternak  kurban  untuk  disembelih,  jangan  terus   mengenakan
pakaian  ihram.  Ada beberapa orang yang masih ragu-ragu. Atas
sikap yang  masih  ragu-ragu  ini  Nabi  marah  sekali  seraya
katanya
 
"Apa yang kuperintahkan, lakukanlah."
 
Dalam keadaan masih gusar itu Nabi memasuki kubahnya, sehingga
Aisyah bertanya:
 
"Kenapa jadi marah?"
 
"Bagaimana  takkan  marah,  aku  memerintahkan  sesuatu  tidak
dijalankan."
 
Ketika  ada  salah  seorang  sahabat menemuinya ia masih dalam
keadaan marah.
 
"Rasulullah," katanya, "orang yang  membuat  tuan  jadi  marah
akan masuk neraka."
 
Ketika itu Rasul menjawab:
 
"Tidak  kau  ketahui,  bahwa  aku memerintahkan sesuatu kepada
mereka  tapi  mereka  masih  ragu-ragu?  Jika  aku  menghadapi
tugasku,  aku  takkan  pernah mundur! Aku tidak membawa ternak
kurban itu kemari sebelum  aku  membelinya.  Sesudah  itu  aku
melepaskan   ihram   seperti  mereka  juga,"  demikian  Muslim
melaporkan.
 
Setelah kaum  Muslimin  mengetahui,  bahwa  Rasulullah  sampai
marah, ribuan mereka segera melepaskan pakaian ihramnya dengan
perasaan menyesal sekali.  Juga  isteri-isteri  Nabi,  Fatimah
puterinya  seperti yang lain juga melepaskan pakaian ihramnya.
Yang masih mengenakan ihram hanya mereka yang  membawa  ternak
kurban.

Sementara  kaum  Muslimin  sedang menunaikan ibadah haji, Ali
pun kembali dari ekspedisinya ke Yaman.  Ia  sudah  mengenakan
pula  pakaian  ihram  sebagai  persiapan  pergi  haji  setelah
diketahuinya bahwa Rasulullah memimpin jamaah berhaji.  Ketika
ia menemui Fatimah dan dilihatnya sudah melepaskan kain ihram,
hal  itu  ditanyakannya.  Fatimah   menerangkan   bahwa   Nabi
menmerintahkan mereka supaya melepaskan ihram itu waktu umrah.
Ia pun segera pergi  menemui  Nabi,  hendak  melaporkan  hasil
perjalanannya ke Yaman. Selesai laporan itu Nabi berkata:
 
"Pergilah bertawaf di Ka'bah kemudian lepaskan ihrammu seperti
teman-temanmu yang lain."
 
"Rasulullah"' kata Ali, "saya sudah mengucapkah ihlal  seperti
yang tuan ucapkan."4
 
"Kembalilah    dan    lepaskan   ihrammu   seperti   dilakukan
teman-temanmu yang lain," kata Nabi lagi.
 
"Rasulullah," demikian Ali berkata,  "ketika  saya  mengenakan
ihram,  saya  sudah  berkata  begini: Allahumma Ya Allah, saya
berihlal seperti  yang  dilakukan  oleh  NabiMu,  HambaMu  dan
RasulMu Muhammad."
 
Nabi   bertanya,  kalau-kalau  dia  sudah  mempunyai  binatang
kurban. Setelah oleh Ali dijawab  tidak,  Muhammad  membagikan
binatang kurban yang dibawanya itu kepada Ali. Dengan demikian
Ali tetap mengenakan ihram dan melakukan  manasik  haji  akbar
sampai selesai.

Pada  hari  kedelapan  Zulhijjah,  yaitu Hari Tarwia, Muhammad
pergi ke Mina. Selama sehari itu  sambil  melakukan  kewajiban
salat  ia  tinggal  dalam  kemahnya itu. Begitu juga malamnya,
sampai pada waktu fajar menyingsing pada  hari  haji.  Selesai
salat  subuh,  dengan  menunggang  untanya  al-Qashwa' tatkala
matahari mulai tersembul ia menuju  arah  ke  gunung  'Arafat.
Arus-manusia  dari  belakang  mengikutinya.  Bilamana ia sudah
mendaki  gunung  itu  dengan  dikelilingi  oleh  ribuan   kaum
Muslimin  yang  mengikuti perjalanannya - ada yang mengucapkan
talbiah, ada yang bertakbir,  sambil  ia  mendengarkan  mereka
itu, dan membiarkan mereka masing-masing.
 
Di  Namira,  sebuah  desa  sebelah  timur  'Arafat, telah pula
dipasang sebuah kemah  buat  Nabi,  atas  permintaannya.  Bila
matahari  sudah tergelincir, dimintanya untanya al-Qashwa, dan
ia berangkat lagi sampai di perut wadi di bilangan 'Urana.  Di
tempat  itulah  manusia  dipanggilnya, sambil ia masih di atas
unta, dengan  suara  lantang;  tapi  sungguhpun  begitu  masih
diulang  oleh  Rabi'a b. Umayya b. Khalaf. Setelah mengucapkan
syukur dan puji kepada Allah dengan berhenti pada setiap  anak
kalimat  ia  berkata,  "Wahai manusia sekalian!5 perhatikanlah
kata-kataku ini! Aku tidak  tahu,  kalau-kalau  sesudah  tahun
ini,  dalam  keadaan  seperti ini, tidak lagi aku akan bertemu
dengan kamu sekalian.
 
"Saudara-saudara!5 Bahwasanya darah kamu dan harta-benda  kamu
sekalian adalah suci buat kamu, seperti hari ini dan bulan ini
yang suci   sampai  datang  masanya  kamu  sekalian  menghadap
Tuhan.  Dan  pasti  kamu  akan menghadap Tuhan; pada waktu itu
kamu dimintai pertanggung-jawaban atas segala perbuatanmu. Ya,
aku sudah menyampaikan ini!
 
"Barangsiapa  telah  diserahi  amanat,  tunaikanlah amanat itu
kepada yang berhak menerimanya.
 
"Bahwa semua riba sudah  tidak  berlaku.  Tetapi  kamu  berhak
menerima   kembali  modalmu.  Janganlah  kamu  berbuat  aniaya
terhadap orang lain, dan jangan  pula  kamu  teraniaya.  Allah
telah  menentukan  bahwa  tidak  boleh lagi ada riba dan bahwa
riba 'Abbas b. 'Abd'l-Muttalib semua sudah tidak berlaku.
 
"Bahwa semua tuntutan darah selama masa jahiliah tidak berlaku
lagi,  dan  bahwa tuntutan darah pertama yang kuhapuskan ialah
darah Ibn Rabi'a bin'l Harith b. 'Abd'l-Muttalib!
 
"Kemudian daripada itu saudara-saudara.5 Hari ini nafsu  setan
yang   minta   disembah   di   negeri  ini  sudah  putus  buat
selama-lamanya. Tetapi, kalau  kamu  turutkan  dia  walau  pun
dalam  hal  yang  kamu  anggap kecil, yang berarti merendahkan
segala amal perbuatanmu,  niscaya  akan  senanglah  dia.  Oleh
karena itu peliharalah agamamu ini baik-baik.
 
"Saudara-saudara.5  Menunda-nunda  berlakunya  larangan  bulan
suci berarti memperbesar  kekufuran.  Dengan  itu  orang-orang
kafir  itu  tersesat.  Pada satu tahun mereka langgar dan pada
tahun lain mereka sucikan,  untuk  disesuaikan  dengan  jumlah
yang  sudah  disucikan Tuhan. Kemudian mereka menghalalkan apa
yang sudah diharamkan Allah dan mengharamkan mana  yang  sudah
dihalalkan.
 
"Zaman  itu  berputar  sejak Allah menciptakan langit dan bumi
ini. Jumlah bilangan bulan menurut Tuhan ada  duabelas  bulan,
empat   bulan  di  antaranya  ialah  bulan  suci,  tiga  bulan
berturut-turut dan bulan Rajab itu antara  bulan  Jumadilakhir
dan Sya'ban.
 
"Kemudian  daripada  itu,  saudara-saudara.5  Sebagaimana kamu
mempunyai hak atas isteri kamu, juga isterimu  sama  mempunyai
hak   atas  kamu.  Hak  kamu-atas  mereka  ialah  untuk  tidak
mengijinkan orang yang tidak kamu sukai menginjakkan  kaki  ke
atas  lantaimu,  dan jangan sampai mereka secara jelas membawa
perbuatan keji. Kalau sampai mereka melakukan semua itu  Tuhan
mengijinkan kamu berpisah tempat tidur dengan mereka dan boleh
memukul  mereka  dengan  suatu  pukulan  yang   tidak   sampai
mengganggu.  Bila  mereka sudah tidak lagi melakukan itu, maka
kewajiban kamulah memberi nafkah  dan  pakaian  kepada  mereka
dengan  sopan-santun.  Berlaku  baiklah  terhadap isteri kamu,
mereka itu kawan-kawan yang membantumu, mereka tidak  memiliki
sesuatu  untuk  diri  mereka.  Kamu  mengambil  mereka sebagai
amanat Tuhan,  dan  kehormatan  mereka  dihalalkan  buat  kamu
dengan nama Tuhan.
 
"Perhatikanlah  kata-kataku  ini,  saudara-saudara5  Aku sudah
menyampaikan ini. Ada masalah yang  sudah  jelas  kutinggalkan
ditangan  kamu, yang jika kamu pegang teguh, kamu takkan sesat
selama-lamanya - Kitabullah dan Sunnah Rasulullah.
 
"Wahai  Manusia  sekalian!5  Dengarkan  kata-kataku  ini   dan
perhatikan!  Kamu  akan  mengerti,  bahwa setiap Muslim adalah
saudara  buat  Muslim  yang  lain,  dan  kaum  Muslimin  semua
bersaudara.   Tetapi  seseorang  tidak  dibenarkan  (mengambil
sesuatu) dari saudaranya,  kecuali  jika  dengan  senang  hati
diberikan kepadanya. Janganlah kamu menganiaya diri sendiri.
 
"Ya Allah! Sudahkah kusampaikan?"
 
Sementara  Nabi  mengucapkan  itu Rabi'a mengulanginya kalimat
demi  kalimat,  sambil  meminta  kepada   orang   banyak   itu
menjaganya  dengan  penuh  kesadaran. Nabi juga menugaskan dia
supaya menanyai mereka  misalnya:  Rasulullah  bertanya  "hari
apakah  ini?  Mereka  menjawab: Hari Haji Akbar! Nabi bertanya
lagi: "Katakan kepada mereka, bahwa darah dan harta kamu  oleh
Tuhan  disucikan,  seperti  hari  ini yang suci, sampai datang
masanya kamu sekalian bertemu Tuhan."
 
Setelah sampai pada penutup kata-katanya itu ia berkata lagi:
 
"Ya Allah! Sudahkah kusampaikan?!"
 
Maka serentak dari segenap penjuru orang menjawab: "Ya!"
 
Lalu katanya:
 
"Ya Allah, saksikanlah ini!"
 
Selesai Nabi mengucapkan pidato ia  turun  dari  al-Qashwa'  -
untanya  itu.  Ia  masih  di tempat itu juga sampai pada waktu
sembahyang lohor dan asar. Kemudian  menaiki  kembali  untanya
menuju  Shakharat.  Pada  waktu  itulah  Nahi  a.s. membacakan
firman Tuhan ini kepada mereka:
 
"Hari inilah Kusempurnakan agamamu  ini  untuk  kamu  sekalian
dengan Kucukupkan NikmatKu kepada kamu, dan yang Kusukai Islam
inilah menjadi agama kamu." (Qur'an, 5: 3)
 
Abu Bakr ketika mendengarkan ayat itu ia menangis, ia  merasa,
bahwa  risalah Nabi sudah selesai dan sudah dekat pula saatnya
Nabi hendak menghadap Tuhan.
 
Setelah  meninggalkan  Arafat  malam  itu  Nabi  bermalam   di
Muzdalifa.  Pagi-pagi  ia bangun dan turun ke Masy'ar'l-Haram.
Kemudian  ia  pergi  ke  Mina  dan  dalam  perjalanan  itu  ia
melemparkan  batu-batu  kerikil. Bila sudah sampai di kemah ia
menyembelih 63 ekor unta, setiap seekor unta untuk satu  tahun
umurnya,  dan  yang  selebihnya  dari jumlah seratus ekor unta
kurban  yang  dibawa  Nabi  sewaktu  keluar  dari  Medinah   -
disembelih   oleh  Ali.  Kemudian  Nabi  mencukur  rambut  dan
menyelesaikan ibadah hajinya.
 
Dengan selesainya ibadah haji ini, ada orang yang menamakannya
'Ibadah  haji  perpisahan'  yang lain menyebutkan 'ibadah haji
penyampaian' ada lagi yang mengatakan  'ibadah  haji  Islam.'6
Nama-nama   itu  memang  benar  semua.  Disebut  'ibadah  haji
perpisahan' karena ini yang penghabisan kali Muhammad  melihat
Mekah  dan  Ka'bah.  Dengan  'ibadah haji Islam,' karena Tuhan
telah  menyempurnakan  agama  ini  kepada  umat  manusia   dan
mencukupkan  pula nikmatNya. 'Ibadah haji penyampaian' berarti
Nabi telah menyampaikan kepada umat  manusia  apa  yang  telah
diperintahkan  Tuhan  kepadanya.  Tiada  lain  Muhammad  hanya
memberi  peringatan  dan   pembawa   berita   gembira   kepada
orang-orang beriman.
 
Catatan kaki:
 
 1 Qur'an, 9: 29.
   
 2 Akil'l-Murar nama suatu kabilah dan sebutan ini
   menandakan keturunan amir-amir yang sangat dibanggakan
   (A).
   
 3 Lihat catatan bawah halaman 580 (A).
   
 4 Aslinya 'Innani ahlaltu kama ahlalta,' harfiah, Aku
   sudah ber-ihlal seperti tuan ber-ihlal: Dalam
   terminologi agama 'Ihlal, meninggikan suara dengan
   talbiah' (N). 'Ahalla, ihlal berarti meninggikan suara
   dengan talbiah di waktu haji atau umrah secara
   berulangulang' (LA) yang biasa dilakukan di miqat atau
   muhall, yaitu tempat yang telah ditentukan untuk
   memulai niat haji (A).
   
 5 Aslinya Ayyuhan-nas, harfiah: "Wahai manusia!" (A).
   
 6 Yakni 'Hijjat'l-Wada', 'hijjat'l-balagh' dan
   'hijjat'l-Islam , (A).
 
---------------------------------------------
S E J A R A H    H I D U P    M U H A M M A D
 
oleh MUHAMMAD HUSAIN HAEKAL
diterjemahkan dari bahasa Arab oleh Ali Audah
 
Penerbit PUSTAKA JAYA
Jln. Kramat II, No. 31 A, Jakarta Pusat
Cetakan Kelima, 1980
 
Seri PUSTAKA ISLAM No.1

Indeks Islam | Indeks Haekal | Indeks Artikel | Tentang Penulis
ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota

Please direct any suggestion to Media Team