Sejarah Hidup Muhammad

oleh Muhammad Husain Haekal

Indeks Islam | Indeks Haekal | Indeks Artikel | Tentang Penulis
ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota

 

BAGIAN KEDUAPULUH DELAPAN: TAHUN PERUTUSAN               (2/3)
Muhammad Husain Haekal
 
Untuk maksud itu Nabi lalu mengutus Ali b. Abi Talib  menyusul
Abu Bakr, dan berkhotbah menyampaikan perintah Allah dan Rasul
itu kepada orang ramai  waktu  musim  haji  di  Arafat.  Dalam
menunaikan  tugasnya  Ali  dapat  menyusul  Abu  Bakr dan kaum
Muslinmin yang berangkat bersama-sama pergi haji  itu.  Begitu
Abu Bakr melihatnya ia bertanya:
 
"Amir atau ma'mur?"2
 
"Ma'mur,"3 jawab Ali.
 
Kemudian  diceritakannya  maksud  kedatangannya itu, dan bahwa
Nabi mengutus dia kepada  orang  banyak  karena  dia  termasuk
keluarganya.
 
Bilamana  orang  sudah  berkumpul di Mina melaksanakan upacara
haji, Ali berdiri di samping  Abu  Huraira,  dan  diserukannya
kepada orang banyak dengan membaca firman Allah ini:4
 
"Suatu  pernyataan  pemutusan hubungan dari Allah dan RasulNya
kepada  orang-orang  musyrik  yang  telah  kamu  ikat   dengan
perjanjian  (1).  Oleh  karena  itu, bolehlah kamu berjalan di
muka bumi ini selama empat bulan dan  ketahuilah,  bahwa  kamu
tidak  akan dapat melemahkan Tuhan dan Tuhan akan mencampakkan
kehinaan kepada orang-orang kafir (2). Dan ini sebuah Maklumat
dari Allah dan Rasul kepada umat manusia pada Hari Haji Akbar5
bahwa Allah dan Rasul lepas tangan dari  orang-orang  musyrik.
Tetapi  kalau  mau bertaubat, itu lebih baik buat kamu. Tetapi
kalau  kamu  mengelak  juga,  ketahuilah,  kamu  takkan  dapat
melemahkan Tuhan. Beritahukanlah kepada orang-orang yang kafir
itu akan adanya siksa yang pedih  (3).  Kecuali  mereka,  yang
telah  kamu  adakan  perjanjian dengan orang-orang musyrik dan
tiada pula mereka melanggar sesuatu dalam perjanjian itu,  dan
mereka  tidak  membantu  seseorang  dalam  memusuhi kamu, maka
penuhilah perjanjian itu dengan mereka sampai batas  waktunya.
Allah  menyukai  orang-orang  yang  teguh dalam kebenaran (4).
Apabila bulan-bulan suci sudah lalu, orang-orang  musyrik  itu
boleh  diperangi  dimana  saja kamu jumpai mereka, tangkap dan
kepunglah  mereka  dan  intailah  mereka  pada  setiap  tempat
penjagaan.   Tetapi  apabila  mereka  sudah  bertaubat,  sudah
menjalankan salat dan mengeluarkan  zakat,  biarkanlah  mereka
bebas   berjalan.   Sesungguhnya   Allah  Maha  Pengampun  dan
Penyayang (5). Dan apabila ada seseorang  dari  pihak  musryik
itu  meminta  perlindungan  (suaka)  kepadamu,  lindungilah ia
supaya sempat ia mendengar Firman Allah, kemudian  antarkanlah
ia  ke tempat vang aman. Demikianlah, sebab mereka orang-orang
yang tidak mengetahui (6). Bagaimana mungkin di hadapan  Allah
dan  RasulNya  akan  ada  suatu  perjanjian dengan orang-orang
musyrik; kecuali yang  telah  kamu  adakan  perjanjian  dengan
mereka  di  dekat  Masjid'l-Haram.  Maka selama mereka berlaku
lurus kepada kamu, hendaklah kamu berlaku  lurus  juga  kepada
mereka;  sebab  Allah  menyukai  orang-orang  yang teguh dalam
kebenaran (7).  Bagaimana  mungkin  (ada  perjanjian  demikian
itu),  padahal  bilamana  mereka  dapat menguasai kamu, mereka
tidak akan menghormat kamu, baik dalam tali  kekeluargaan  mau
pun  dalam  perjanjian.  Mereka menyenangkan kamu dengan mulut
(manis) tapi hati mereka sebaliknya. Dan kebanyakan mereka itu
orang-orang  fasik  (8).  Ayat-ayat  Tuhan  mereka jual dengan
harga murah dan mereka mau menghalangi orang dari jalan Allah.
Memang  buruk  sekali  perbuatan  mereka itu (9). Mereka tidak
lagi menghormati orang beriman, baik  dalam  kekeluargaan  mau
pun dalam perjanjian. Mereka itulah orang-orang yang melanggar
batas (10). Akan tetapi  bila  mereka  bertaubat,  menjalankan
sembahyang   dan   mengeluarkan   zakat,   maka   mereka   itu
saudara-saudaramu seagama. Ayat-ayat itu Kami  uraikan  kepada
mereka  yang  mau  mengerti (11). Tetapi bilamana mereka sudah
melanggar sumpah mereka sendiri sesudah perjanjian mereka itu,
dan mereka memaki agamamu, maka perangilah pemuka-pemuka orang
kafir itu - mereka orang-orang yang tak dapat menahan  diri  (
12).  Kamu  tidak  mau  melawan  golongan yang telah melanggar
sumpahnya sendiri, padahal  mereka  sudah  berkonmplot  hendak
mengusir  Rasul,  dan  mereka  itulah  yang pertama kali mulai
memerangi kamu. Takutkah kamu  kepada  mereka?  Padahal  Allah
yang  harus  lebih  ditakuti,  kalau  kamu orang-orang beriman
(13). Lawanlah mereka itu! Tuhan akan menyiksa mereka  melalui
tangan  kamu, Allah akan menista mereka dan akan menolong kamu
melawan mereka, akan melegakan hati orang-orang beriman  (14).
Tuhan  akan  menghapuskan kemarahan hati mereka, akan menerima
taubat siapa saja yang dikehendakiNya. Allah Maha  Mengetahui,
Maha  Bijaksana  (  15).  Adakah kamu mengira, bahwa kamu akan
dibiarkan begitu saja, padahal Allah  belum  membuktikan  kamu
yang  benar  berjuang  dan  tiada pula mengambil sebagai teman
akrabnya, selain Allah, Rasul dan orang-orang  beriman.  Allah
Maha   Mengetahui   apa   yang  kamu  perbuat  (16).  Bukanlah
orang-orang musyrik itu yang  akan  memeriahkan  mesjid-mesjid
Allah,  karena mereka sudah mengakui sendiri kekufuran mereka.
Perbuatan mereka itu rendah  sekali,  dan  mereka  akan  kekal
dalam   api   neraka   (17).   Tetapi  yang  akan  memeriahkan
mesjid-mesjid Allah ialah  orang  yang  sudah  beriman  kepada
Allah  dan  hari  kemudian,  serta  menjalankan sembahyang dan
mengeluarkan zakat dan tidak takut  kepada  siapa  pun  selain
kepada  Allah.  Mereka  inilah  yang  diharapkan akan mendapat
petunjuk  (18).  Pemberian  minuman  kepada  jemaah  haji  dan
mengurus  Mesjid  Suci  adakah  kamu samakan dengan orang yang
beriman kepada Allah dan hari kemudian serta berjuang di jalan
Allah?  Dalam  pandangan  Tuhan mereka tidak sama. Allah tidak
memberi  petunjuk  kepada  orang-orang  yang  bersalah   (19).
Orang-orang yang beriman, yang berhijrah dan berjuang di jalan
Allah dengan harta dan jiwaraga mereka dalam  pandangan  Allah
lebih  tinggi  derajatnya;  dan mereka itulah orang-orang yang
mendapat kemenangan  (20).  Tuhan  memberikan  berita  gembira
kepada  mereka  dengan  rahmat, keridaan dan surga daripadaNya
buat mereka. Disana tempat kesenangan abadi (21). Mereka kekal
selalu   disana.  Pahala  yang  besar  ada  pada  Tuhan  (22).
Orang-orang beriman! Janganlah kamu menjadikan  bapa-bapa  dan
saudara-saudaramu  itu  sebagai  wakil-wakil kamu kalau mereka
lebih mengutamakan kekufuran daripada  iman;  dan  barangsiapa
mengambil mereka menjadi wakil, mereka itulah orang-orang yang
aniaya (23). Ya, katakanlah: Kalau bapa-bapa  kamu,  anak-anak
kamu,  saudara-saudara  dan  isteri-isteri kamu serta keluarga
kamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang  kamu
kuatirkan  akan  menjadi rugi, tempat-tempat tinggal yang kamu
senangi, semua  itu  lebih  kamu  cintai  daripada  Allah  dan
RasulNya   serta   daripada  berjuang  di  jalan  Allah,  maka
tunggulah  sampai  Allah  memberikan  keputusan.  Allah  tidak
memberikan  bimbingan  kepada  orang-orang  fasik  (24). Allah
telah menolong kamu pada beberapa tempat  dan  pada  Peristiwa
Hunain,  tatkala  kamu merasa bangga sekali karena jumlah kamu
yang besar. Tetapi ternyata jumlah yang besar itu sedikit  pun
tidak  menolong kamu, dan bumi yang seluas ini pun terasa amat
sempit olehmu, lalu kamu berbalik  mundur  (25).  Sesudah  itu
Tuhan  menurunkan  perasaan  tenang  kedalam  hati  Rasul  dan
orang-orang beriman serta diturunkanNya pula balatentara  yang
tidak  kamu  lihat,  dan  disiksaNya orang-orang kafir itu dan
memang itulah balasan buat orang-orang kafir (16). Sesudah itu
kemudian    Allah    menerima    taubat    barangsiapa    yang
dikehendakiNya.  Allah  Maha  Pengampun  dan  Penyayang  (27).
Orang-orang  beriman! Ingatlah, orang-orang musyrik itu kotor.
Sebab itu. sesudah ini, janganlah mereka memasuki Mesjid Suci,
dan  kalau  kamu kuatir akan menjadi miskin, maka Tuhan dengan
karuniaNya  akan  memberikan  kekayaan   kepada   kamu.   Jika
dikehendaki,  sesungguhnya Tuhan Maha Tahu dan Bijaksana (28).
Perangilah orang-orang yang tidak  beriman  kepada  Allah  dan
Hari Kemudian dan tidak mengharamkan apa yang telah diharamkan
oleh Allah dan RasulNya, dan tidak pula beragama menurut agama
yang  benar.yaitu  orang-orang  yang  sudah mendapat Al-Kitab,
sampai mereka membayar jizya dengan patuh dalam keadaan tunduk
(29). Orang-orang Yahudi berkata: 'Uzair itu putera Allah, dan
orang-orang  Nasrani  berkata:  'Almasih  itu  putera  Allah,.
Demikianlah  kata-kata  mereka,  menurut  mulut mereka. Mereka
meniru-niru  perkataan  orang-orang  kafir  masa  dulu.  Tuhan
mengutuk  mereka.  Bagaimana  mereka sampai dipalingkan? (30).
Mereka  menjadikan  pendeta-pendeta  dan  rahib-rahib   mereka
sebagai  tuhan  selain Allah, dan al-Masih putera Mariam (juga
mereka pertuhan), padahal mereka diperintahkan hanya menyembah
Tuhan  Yang  Maha Esa. Tiada tuhan selain Dia. Maha Suci Allah
dari apa yang mereka  persekutukan  (31).  Mereka  berkehendak
memadamkan  Nur  ilahi  dengan  mulut  mereka. Tetapi kehendak
Tuhan  hanya  akan  menyelesaikan  pancaran   cahayaNya   itu,
meskipun  tidak  disukai  orang-orang  kafir (32). Dialah Yang
telah mengutus RasulNya dengan  membawa  Petunjuk  Qur'an  dan
agama  yang  benar  untuk  dimenangkanNya  atas  semua  agama,
meskipun  tidak  disukai  oleh   orang-orang   musyrik   (33).
Orang-orang   beriman!   Banyak   sekali   para   pendeta  dan
rahib-rahib memakan harta orang dengan jalan  yang  batil  dan
mereka  merintangi  orang  dari  jalan  Allah. Dan mereka yang
menimbun emas dan perak  dan  tidak  menafkahkannya  di  jalan
Allah,  beritahukanlah  kepada  mereka adanya siksa yang pedih
(34). Tatkala semuanya  dipanaskan  dalam  api  jahanam,  lalu
dengan  itu  dahi  mereka,  lambung mereka dan punggung mereka
dibakar. Inilah harta-bendamu yang kamu  timbun  untuk  dirimu
sendiri.  Sebab  itu,  rasakan  sekarang  akibat apa yang kamu
timbun itu (35). Sebenarnya  bilangan  bulan  dalam  pandangan
Tuhan  ialah duabelas bulan. Demikian ditentukan Allah tatkala
Ia menciptakan langit dan bumi, diantaranya  ada  empat  bulan
suci.  Itulah  ketentuan  agama  yang  lurus.  Oleh karena itu
janganlah kamu menganiaya diri  kamu  dalam  bulan-bulan  itu.
Lawanlah  orang-orang  musyrik  itu semua, seperti mereka juga
memerangi kamu semua. Ketahuilah,  Allah  beserta  orang-orang
yang teguh bertakwa (36).(Qur'an, 9: 1-36)
 
Ketika  itu  Ali  berdiri  di  tengah-tengah orang yang sedang
menunaikan upacara haji di Mina.  Dibacakannya  kepada  mereka
itu  ayat-ayat Surah At-Taubah, yang di sini saya kutip secara
keseluruhan, dengan maksud seperti yang  akan  saya  terangkan
kemudian.   Selesai  membaca  ia  berhenti  sejenak,  kemudian
serunya lagi kepada orang ramai itu:

"Saudara-saudara! Orang kafir tidak akan masuk surga.  Sesudah
tahun  ini  orang  musyrik  tidak  boleh lagi naik haji, tidak
boleh lagi bertawaf di Ka'bah  dengan  telanjang.  Barangsiapa
terikat  oleh  suatu  perjanjian dengan Rasulullah s.a.w. maka
itu tetap berlaku sampai pada waktunya."
 
Ali menyampaikan keempat perintah itu di  tengah-tengah  orang
ramai,  kemudian  sesudah itu kepada mereka diberi waktu empat
bulan supaya  masing-masing  golongan  itu  sempat  pulang  ke
daerah  dan  negeri  masing-masing.  Sejak  itu  tiada seorang
musyrik lagi mengerjakan  haji,  tiada  lagi  orang  telanjang
bertawaf  di Ka'bah. Juga sejak itulah dasar tempat berdirinya
suatu negara Islam diletakkan.
 
Karena dasar ini pulalah maka disini saya kutip  bagian-bagian
permulaan  Surah  At-Taubah  itu  secara  keseluruhan.  Dengan
hasrat supaya dasar itu diketahui oleh semua orang  Arab.  Ali
bukan  saja  membacakan ayat-ayat Bara'ah (At-Taubah) itu pada
musim haji saja - menurut suatu sumber  yang  sudah  disetujui
melainkan   juga   sesudah   itu   pun  dibacakannya  pula  di
rumah-rumah mereka - demikian sumber-sumber lain  menyebutkan.
Kalau  orang membaca bagian-bagian permulaan Surat Bara'ah ini
lalu diulang membacanya dan  diteliti  dengan  seksama,  orang
akan  merasakan  sekali  bahwa itulah dasar ideal dalam bentuk
yang  paling  jelas  bagi  setiap  negara  yang  baru  tumbuh.
Turunnya  Surah  Bara'ah  ini  secara  keseluruhan  ialah pada
ekspedisi terakhir yang dilakukan Nabi. Setelah penduduk Tatif
datang  menyatakan  diri  sebagai  keluarga  agama  baru  ini,
setelah seluruh Hijaz berikut Tihama dan Najd bernaung dibawah
bendera  Islam,  dan  setelah  sebagian  besar kabilah-kabilah
selatan semenanjung menyatakan diri  tunduk  kepada  Muhammad
dan  bergabung  kedalam  ajaran agamanya. ketika itulah tampak
hikmah sejarah turunnya ayat-ayat yang mengatur  dasar  negara
ideal  sampai pada waktu itu. Supaya negara menjadi kuat, maka
ia harus mempunyai suatu ideologi  ideal  yang  umum  sifatnya
dapat  dijadikan  keyakinan masyarakat dan semua bersedia pula
membelanya dengan segala  kekuatan  dan  kemampuan  yang  ada.
Dalam  hal  ini  mana pula ada suatu ideologi yang lebih besar
daripada  keimanan  kepada  Allah  Yang  Maha  Esa  dan  tidak
bersekutu.  Dan  ideologi  yang  mana  pula  yang  lebih besar
pengaruhnya dalam jiwa manusia daripada suatu kesadaran  bahwa
ia  merasa  dirinya  berhubungan  dengan  Alam  dengan  segala
manifestasinya  yang  paling  tinggi.  Tak  ada   yang   dapat
menguasai  dirinya  selain  Allah  dan  hanya Allah pula dapat
mengawasi hati nuraninya. Apabila  ada  orang  yang  menentang
ideologi umum yang harus menjadi dasar negara ini, maka mereka
itu ialah orang-orang fasik, orang-orang yang mau  menyebarkan
benih-benih pergolakan perang saudara dan fitnah yang merusak.
Oleh karena itu, terhadap orang-orang semacam itu tidak  boleh
ada  suatu  perjanjian.  Negara  harus memerangi mereka. Kalau
pembangkangan mereka terhadap ideologi umum itu bersifat  liar
dan  tak  terkemudikan,  mereka  harus diperangi sampai mereka
tunduk.  Kalau  pembangkangannya  terhadap  ideologi  bersifat
tidak liar dan dapat dikendalikan - seperti halnya dengan Ahli
Kitab - maka mereka wajib  membayar  jizyah  dengan  taat  dan
patuh pada peraturan yang berlaku.

Dari  tinjauan  kita  mengenai  arti ayat-ayat Surah At-Taubah
yang sudah kita baca itu, dari  segi  sejarah  dan  sosiologi,
tentu  akan  mengantarkan  kita  pada  penilaian itu juga. Dan
setiap orang yang jujur dan beritikad baik, akan  kesana  pula
penilaiannya.   Akan  tetapi,  mereka  yang  telah  memberikan
tanggapan kepada Rasul dengan cara yang sudah melampaui  batas
itu,  akan  meninggalkan  tinjauan  demikian  ini. Mereka akan
menafsirkan ayat dalam Surah At-Taubah yang sudah begitu jelas
dan  kuat  itu dengan mengatakan, bahwa hal itu akan mendorong
orang jadi fanatik, yang sudah tidak sesuai lagi  dengan  jiwa
toleransi  peradaban  dewasa  ini; akan mendorong orang supaya
mengejar dan membunuh  orang-orang  musyrik  dimana  saja  ada
orang-orang  yang  beriman  - tanpa mengenal ampun dan kasihan
lagi, juga mendorong orang membuat  undang-undang  atas  dasar
tirani.
 
Demikian   inilah   kata-kata  yang  sering  kita  baca  dalam
buku-buku  kaum  Orientalis.  Kata-kata  ini  sangat   menarik
pikiran  orang  yang memang belum matang dalam masalah-masalah
kritik sosial dan sejarah,  dalam  kalangan  Muslimin  sendiri
sekali  pun.  Kata-kata  demikian  itu  sebenarnya sama sekali
tidak sesuai  dengan  kenyataan  sejarah,  juga  tidak  sesuai
dengan  kenyataan  sosial.  Hal inilah - yang dalam penafsiran
mereka mengenai Surah At-Taubah seperti  yang  kita  sebutkan,
dan   yang   serupa   itu  pula  yang  banyak  terdapat  dalam
surah-surah lain dalam Qur'an yang menyebabkan  orang  membuat
suatu  penafsiran  yang  sama  sekali  tak dapat diterima oleh
logika dan kenyataan dalam sejarah  Rasul,  juga  bertentangan
dengan  rangkaian sejarah hidup Nabi Besar itu sejak ia diutus
Allah  membawa  agama  ini  sampai  ia  berpulang  kembali  ke
rahmatullah.

Untuk  menjelaskan  hal  ini,  baik  juga  kalau kita bertanya
mengenai dasar ideal peradaban  yang  berlaku  sekarang,  lalu
kita  bandingkan  dengan  dasar ideal seperti yang dibawa oleh
Muhammad itu. Dasar ideal peradaban yang  berlaku  dewasa  ini
ialah  kebebasan  berpikir yang tidak terbatas, dan hanya cara
menyatakannya dibatasi  dengan  undang-undang.  Dan  kebebasan
berpikir  inilah  yang  lalu  dijadikan  suatu  ideologi, yang
dibela orang dan bersedia ia berkorban untuk itu. Ia  berjuang
dan  berperang  mati-matian  hendak  mewujudkan  hal  itu, dan
menganggap semua itu sebagai kejayaan yang  patut  dibanggakan
oleh  setiap  generasi,  dan  dibanggakan  juga  terhadap masa
lampau Karena itu pulalah Orientalis-orientalis  seperti  yang
kita sebutkan itu berkata:
 
"Ajaran  Islam  yang  hendak  memerangi  orang  yang tidak mau
beriman kepada Tuhan dan  Hari  Kemudian,  ialah  ajaran  yang
menyuruh  orang  jadi  fanatik.  Sebenarnya  ini  bertentangan
dengan kebebasan berpikir."
 
Ini  suatu  pemalsuan  yang  memalukan,  apabila  kita   sudah
mengetahui  bahwa  nilai  pikiran itu terletak pada ajaran dan
perbuatannya.  Islam  tidak  menyuruh  menentang   orang-orang
musyrik  penduduk semenanjung itu, kalau saja mereka patuh dan
tidak  mengajak  orang  melakukan  syirik  dan  menyuruh  pula
melaksanakan  upacaranya.  Peradaban yang sedang berkuasa (the
ruling culture) sekarang, dalam memerangi pikiran-pikiran yang
berlawanan   dengan   situasi   ideologi  itu  sudah  melebihi
perlawanan kaum Muslimin terhadap  orang-orang  musyrik.  Juga
peradaban  yang  berkuasa sekarang ini seribu kali lebih jahat
dibandingkan dengan jizya yang  berlaku  terhadap  orang  yang
dianggap Ahli Kitab itu.

Sengaja  disini kita tidak akan mengambil contoh kejadian dulu
ketika terjadi gerakan pemberantasan perdagangan budak-belian,
sekali  pun  mereka  yang  bekerja dalam perdagangan ini yakin
sekali bahwa hal itu tidak dilarang. Kita tidak mengambil  ini
sebagai  contoh,  supaya  jangan  ada yang berkata, bahwa kita
bukan tidak menyetujui adanya perdagangan semacam itu meskipun
Islam tidak menyuruh lebih daripada memberantas apa yang tidak
disetujuinya itu. Sebaliknya Eropa sekarang, Eropa yang  punya
peradaban  yang  sedang  berkuasa  itu,  dengan  dibantu  oleh
Amerika, oleh  kekuatan-kekuatan  bersenjata  di  Asia  bagian
selatan   dan   Timur   Jauh,  telah  pula  memerangi  gerakan
bolsyevisma  (komunisma),   dan   bersedia   berperang   terus
mati-matian.  Kami di Mesir ini pun bersedia pula bersama-sama
dengan  peradaban  yang  sedang  berkuasa  ini  memerangi  dan
memberantas  bolsyevisma,  meskipun  dalam hal ini bolsyevisma
tidak lebih  dari  suatu  gagasan  ekonomi  yang  mau  melawan
gagasan  lain  yang dianut oleh peradaban yang sedang berkuasa
sekarang itu. Adakah  seruan  Islam  yang  hendak  memberantas
orang-orang  syirik  yang  telah  melanggar  perjanjian  Tuhan
setelah  disahkan  itu  sebagai  suatu  seruan   biadab   yang
menganjurkan  fanatisma  dan  antikebebasan? Sebaliknya seruan
yang  hendak  memberantas  bolsyevisma  yang  merusak  susunan
masyarakat  itu,  dalam  peradaban  yang  sedang  berkuasa ini
dipandang sebagai seruan yang menganjurkan kebebasan  berpikir
dan berideologi dan patut dihormati?
 
                                    (bersambung ke bagian 3/3)
 
---------------------------------------------
S E J A R A H    H I D U P    M U H A M M A D
 
oleh MUHAMMAD HUSAIN HAEKAL
diterjemahkan dari bahasa Arab oleh Ali Audah
 
Penerbit PUSTAKA JAYA
Jln. Kramat II, No. 31 A, Jakarta Pusat
Cetakan Kelima, 1980
 
Seri PUSTAKA ISLAM No.1

Indeks Islam | Indeks Haekal | Indeks Artikel | Tentang Penulis
ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota

Please direct any suggestion to Media Team