Sejarah Hidup Muhammad

oleh Muhammad Husain Haekal

Indeks Islam | Indeks Haekal | Indeks Artikel | Tentang Penulis
ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota

 

BAGIAN KEDUAPULUH DELAPAN: TAHUN PERUTUSAN               (3/3)
Muhammad Husain Haekal
 
Kemudian  ada  segolongan  orang pada beberapa negara di Eropa
yang memandang bahwa pendidikan  rohani  harus  disertai  pula
dengan  pendidikan  jasmani, dan bahwa kebiasaan orang menutup
seluruh badan atau sebagian anggota badannya sebenarnya  lebih
membangkitkan  napsu  kelamin (sex) dalam jiwa orang lain, dan
tentunya lebih-lebih lagi akan merusak moral,  daripada  kalau
orang  itu  semua telanjang bulat. Maka orang-orang yang punya
gagasan ini mulailah melaksanakan gagasannya, mulai mengadakan
tempat-tempat  nudis  dalam  beberapa kota.6 Mereka mendirikan
tempat-tempat yang dapat dikunjungi oleh siapa saja  yang  mau
membiasakan  diri  dengan  pendidikan  jasmani  demikian  itu.
Tetapi  begitu   gagasan   ini   tersebar   orang-orang   yang
bertanggungjawab  dalam  beberapa  negara memandang tersebamya
gejala-gejala  semacam  ini  akan  sangat  merusak  pendidikan
akhlak  dan  membahayakan masyarakat. "Perkumpulan-perkumpulan
nudis" ini dilarang, mereka yang bertanggungjawab atas gagasan
itu  dikejar-kejar  dan  mengadakan  tempat-tempat  pendidikan
jasmani semacam itu dilarang dengan undang-undang. Kita  tidak
akan  sangsi,  bahwa bilamana gagasan ini sampai tersebar luas
pada  suatu  bangsa  secara   keseluruhan,   pasti   ia   akan
menyebabkan  timbulnya  pengumuman  perang  dari bangsa-bangsa
lain atas bangsa itu dengan alasan bahwa hal ini akan  merusak
nilai-nilai kehidupan rohani umat manusia, seperti yang pernah
terjadi   dengan   timbulnya   peperangan-peperangan    karena
budak-belian,  timbulnya  peperangan  atau  yang  semacam  itu
karena memperdagangkan budak  kulit  putih  atau  perdagangan
candu.

Kenapa  terjadi  semua  itu?  Sebabnya ialah, karena kebebasan
berpikir secara mutlak itu memang  dapat  diterima  selama  ia
tetap  tersimpan  dalam  batas-batas  ucapan yang tidak sampai
menyentuh tubuh masyarakat secara  membahayakan.  Akan  tetapi
bilamana   pikiran   itu  akan  sampai  menyebabkan  timbulnya
kerusakan pada masyarakat manusia maka penyebabnya  itu  harus
diberantas;   juga   manifestasi   gagasan   itu  semua  harus
diberantas,  bahkan  gagasannya  sendiri   harus   diberantas,
meskipun  manifestasi  perang  ini berbeda-beda, sesuai dengan
tingkat  kerusakan  dalam  masyarakat  sebagai   akibat   dari
manifestasi  itu,  yang  dengan  bertahannya  itu  dikuatirkan
membawa akibat dalam perkembangan etik, sosial dan ekonomi.
 
Inilah kenyataan sosial yang sudah diakui  dan  disahkan  oleh
peradaban  yang sedang berkuasa sekarang. Kalau kita masih mau
menjelajahi terus manifestasi itu  serta  pengaruh-pengaruhnya
dalam pelbagai bangsa, tentu akan terlalu panjang kita bicara,
dan bukan pula tempatnya disini. Hanya saja orang  akan  dapat
berkata,  bahwa  setiap  undang-undang  yang  tujuannya hendak
membungkam setiap gerakan sosial, ekonomi atau  politik,  maka
ini  berarti  perang  melawan  pikiran yang melahirkan gerakan
itu, dan perang ini dapat dibenarkan sesuai dengan bahaya yang
menimpa   masyarakat  manusia,  apabila  pikiran-pikiran  yang
menjadi sasaran perang tersebut dilaksanakan.

Kalau  kita  mau  menilai  seruan  Islam   dalam   memberantas
kehidupan   syirik   dan   penganut-penganutnya   serta  dalam
memerangi mereka sampai mereka itu patuh, dapat  dibenarkankah
perang  demikian  ini  atau tidak dapat dibenarkan? Kita perlu
sekali melihat peranan yang dimainkan oleh pikiran syirik  ini
serta  tujuannya.  Apabila  sudah  ada  kata  sepakat mengenai
betapa  besar  bahayanya  terhadap  masyarakat  manusia  dalam
berbagai  zaman,  maka  pengumumam perang yang dicetuskan oleh
Islam kepada mereka itu dapat sekali dibenarkan, bahkan  suatu
kewajiban adanya.
 
Kehidupan  syirik  yang  ada  pada waktu Muhammad a.s. membawa
dakwah  agama  yang  benar  itu,  bukan  hanya   menggambarkan
penyembahan berhala saja - dan kalau pun demikian adanya harus
juga  diberantas,  sebab  adalah  suatu  ironi  terhadap  akal
pikiran  dan  kehormatan  martabat manusia, bahwa manusia akan
menyembah  batu   -   tetapi   kehidupan   syirik   ini   juga
menggambarkan sekelompok tradisi, adat-istiadat dan kebiasaan,
bahkan  menggambarkan  suatu  sistem  masyarakat  yang   lebih
berbahaya  dari  perbudakan,  lebih berbahaya dari bolsyevisma
dan lebih berbahaya dari segala yang  dapat  digambarkan  oleh
otak  manusia  menjelang  akhir  abad  keduapuluh  ini. Mereka
menggambarkan  cara  hidup  yang  menguburkan  bayi  perempuan
hidup-hidup,  polygami  yang  tiada  terbatas, laki-laki boleh
mengawini perempuan  sampai  tigapuluh,  empatpuluh,  seratus,
tigaratus  atau  lebih  dari  itu.  Mereka menggambarkan suatu
perbuatan riba dalam bentuknya yang paling  kotor  yang  dapat
digambarkan   manusia,  juga  mereka  menggambarkan  kehidupan
anarkhisma  moral  dalam   bentuknya   yang   paling   rendah.
Masyarakat  Arab  pagan  itu sebenarnya adalah masyarakat yang
paling jahat yang  pernah  dilahirkan  ke  tengah-tengah  umat
manusia ini.
 
Dari setiap orang yang jujur sangat saya harapkan kiranya akan
dapat menjawab pertanyaan ini: Sekiranya  sekarang  ada  suatu
masyarakat  manusia  membuat suatu sistem untuk mereka sendiri
dengan segala tradisi, adat-istiadat  dan  kebiasaan  meliputi
segala   perbuatan  menguburkan  anak  perempuan  hidup-hidup,
polygami tak terbatas,  membolehkan  perbudakan  dengan  suatu
sebab  atau  tanpa  sebab, eksploitasi harta-benda dengan cara
yang  kejam,   kemudian   karena   itu   semua   lalu   timbul
pemberontakan hendak menghancurkan dan mengikisnya habis-habis
-  dapatkah  pemberontakan  demikian  itu  kita  tuduh  dengan
fanatisma, dengan tindakan anti kebebasan berpikir? Kalau kita
umpamakan, ada suatu bangsa  yang  sudah  puas  dengan  sistem
sosial yang rendah ini dan sudah hampir pula menular sampai ke
negara-negara lain, lalu negara-negara ini mengumumkan perang,
dapat   juga   dibenarkan?   Bukankah  ini  lebih-lebih  dapat
dibenarkan daripada Perang Dunia yang  baru  lalu  yang  telah
menelan  jutaan  penduduk  dunia  ini tanpa suatu sebab selain
karena sifat keserakahan dari pihak negara-negara imperialis?

Dan kalau memang sudah begitu adanya, dimana pula nilai kritik
para  Orientalis  itu  terhadap  ayat-ayat  yang sudah pembaca
ikuti dari Surah  Bara'ah  dan  terhadap  seruan  Islam  dalam
memberantas  syirik  dan  penganut-penganutnya  yang  berusaha
hendak menegakkan suatu sistem dengan  segala  akibatnya  yang
berbahaya seperti yang kita sebutkan tadi?
 
Kalau  ini  sudah merupakan suatu kenyataan sejarah sehubungan
dengan sistem yang berlaku di  tanah  Arab  di  bawah  naungan
panji  syirik  dan  paganisma,  maka  juga  di  sana ada suatu
kenyataan lain dalam sejarah  yang  bersumber  dari  kehidupan
Rasul.   Sejak   ia  diutus  Tuhan  mengemban  Risalah  selama
tigabelas tahun, dengan  segala  susah-payah  ia  mengorbankan
segalanya,   mengajak   orang  ke  dalam  agama  Allah  dengan
memberikan bukti dan mengajak mereka  berdiskusi  dengan  cara
yang  baik.  Semua peperangan dan ekspedisi yang dilakukannya,
sekali-kali   tidak   bersifat   agresi,   melainkan    selalu
mempertahankan   sifatnya,   mempertahankan   kaum   Muslimin,
mempertahankan kebebasan mereka melakukan dakwah agama,  agama
yang  sudah  mereka  imani,  mereka  mengorbankan hidup mereka
untuk agama itu.
 
Seruan yang tegas dan sudah  cukup  jelas,  bahwa  orang-orang
musyrik  itu patut dilawan - karena mereka kotor, mereka tidak
dapat memegang janji dan piagam perianjian, mereka tidak  lagi
dapat  memegang  sesuatu  amanat dan pertalian keluarga dengan
orang-orang beriman - ayat-ayatnya turun pada akhir  ekspedisi
Nabi  ke  Tabuk.  Apabila  Islam  turun  disuatu daerah dengan
kehidupan paganisima yang sedang luas menjalar,  dan  berusaha
hendak  menanamkan suatu sistem sosial dan ekonomi yang begitu
merusak yang sudah ada di semenanjung itu tatkala Nabi diutus,
lalu  datang kaum Muslimin mengajak mereka supaya meninggalkan
cara semacam itu dan mari mengambil apa yang dibenarkan  Tuhan
dan  meninggalkan apa yang dilarangNya - tidak juga mereka mau
patuh - maka buat orang yang jujur tidak bisa  lain  ia  mesti
berontak  terhadap  mereka,  memberantas  mereka sampai ajaran
Tuhan ini selesai, dan yang tersebar luas hanya  keadilan  dan
keimanan kepada Allah.
 
Ayat-ayat  Bara'ah  (At-Taubah)  yang  dibacakan oleh Ali itu,
demikian juga seruannya kepada orang banyak, bahwa orang kafir
tidak   akan  masuk  surga,  bahwa  sesudah  tahun  ini  tidak
dibenarkan  lagi  orang  musyrik  melakukan  ibadah  haji  dan
melakukan  tawaf  di  Ka'bah  dengan telanjang - telah membawa
hasil yang baik sekali. Sikap ragu yang tadinya tertanam dalam
hati kabilah-kabilah, yang selama itu masih lambat-lambat akan
menerima ajakan Islam - telah hilang samasekali.

Dengan demikian negeri-negeri seperti  Yaman,  Mahra,  Bahrain
dan  Yamama  masuk  Islam.  Sudah tak ada lagi pihak yang akan
mengadakan perlawanan kepada Muhammad kecuali sejumlah  kecil,
yang karena kecongkakannya malah berbuat dosa dan tertipu oleh
golongannya  sendiri,  diantaranya  'Amir  bin't-Tufail,  yang
pergi  bersama-sama  dengan  perutusan  Banu 'Amir yang hendak
berlindung dibawah bendera Islam.  Tetapi  setelah  berhadapan
dengan  Nabi,  'Amir  menolak  dan tidak mau menenma Islam. Ia
ingin supaya ia dijadikan sekutu  Nabi.  Nabi  masih  berusaha
meyakinkan supaya dia menerima Islam. Tetapi ia tetap menolak.
Kemudian sambil keluar ia berkata:
 
"Kota ini akan saya hujani dengan pasukan berkuda dan  tentara
untuk melawan kamu."
 
Lalu kata Muhammad:
 
"Allahumma   ya  Allah!  Lindungi  aku  dari  perbuatan  'Amir
bin't-Tufail!"
 
'Amir pun lalu  pergi  hendak  menuju  kabilahhya.  Tetapi  di
tengah  perjalanan  itu tiba-tiba ia terserang penyakit sampar
di leher sampai ia menemui ajalnya ketika ia sedang berada  di
rumah  seorang  wanita  dari  Banu  Salul. Ketika akan menemui
ajalnya  berulang-ulang  ia  berkata:  "Oh  Banu  'Amir!   Ini
penyakit  kelenjar  seperti  penyakit serdi pada unta dan mati
pula di rumah wanita Banu Salul!"
 
Juga Arbad b. Qais, ia tidak mau menerima Islam, ia kembali ke
Banu  'Amir.  Tetapi  belum lama tinggal di tempat itu ia mati
terbakar disambar petir, tatkala ia pergi naik unta yang  akan
dijualnya.  Sungguh  pun begitu, penolakan 'Amir dan Arbad ini
tidak mengalangi golongannya untuk  masuk  Islam.  Yang  lebih
jahat lagi dari mereka itu semua ialah Musailima ibn Habib. la
datang bersama-sama dengan perutusan Banu Hanifa dari  Yamama.
Oleh   rombongan   itu  ia  ditinggalkan  di  belakang  dengan
barang-barang, dan mereka  pergi  menemui  Rasulullah.  Ketika
itulah  mereka  semua masuk Islam, dan oleh Nabi mereka diberi
hadiah. Juga mereka menyebut-nyebut  tentang  Musailima,  yang
oleh  Nabi  kemudian juga diberi hadiah seperti mereka, dengan
katanya: "Dia  tidak  lebih  buruk  kedudukannya  di  kalangan
kamu,"    yakni    karena    dia    menjagakan   barang-barang
teman-temannya. Tetapi mendengar  kata-kata  itu  dari  mereka
Musailima  lalu  mendakwakan  dirinya  nabi, dan menduga bahwa
Tuhan mempersekutukannya dengan Muhammad dalam  kenabian  itu.
Kepada  masyarakat  golongannya  ia  bersajak7 dan menggunakan
kata-kata  dengan  mencoba-coba  hendak  meniru-niru   Qur'an:
"Tuhan   memberikan   kenikmatan  kepada  yang  bunting.  Yang
mengeluarkan nyawa bergerak. Dari antara  kulit  bawah  dengan
isi lambung"8
 
Musailima   menghalalkan   minuman  keras  dan  perzinaan  dan
membebaskan  golongannya  dari  sembahyang.  Ia  aktif  sekali
mengajak  orang  supaya  mempercayainya.  Selain  mereka  ini,
orang-orang  Arab  dari   segenap   pelosok   jazirah   datang
berduyun-duyun    menyambut   agama   Allah,   dipimpin   oleh
orang-orang terpandang dan terhormat semacam Adi b. Hatim  dan
'Amir  b.  Maidi  Karib.  Raja-raja Himyar juga telah mengutus
orang membawa surat kepada Nabi menyatakan diri  mereka  masuk
Islam.  Nabi  pun  menetapkan  dan  berkirim pula surat kepada
mereka mengenai  hak  dan  kewajiban  mereka  menurut  syariat
Allah.

Sesudah lslam tersebar di bagian selatan semenanjung, Muhammad
mengutus orang-orang yang mula-mula dalam Islam  supaya  dapat
mengajarkan hukum dan memperdalam dan menguatkan agama mereka.
 
Kita  tidak  akan  lama-lama  berhenti  pada masalah perutusan
orang-orang Arab kepada Nabi itu seperti yang biasa  dilakukan
oleh  penulis-penulis  dahulu,  sebab  masalahnya hampir sama,
mereka semua bernaung di bawah bendera Islam. Ibn  Sa'd  dalam
At-Tabaqat  'l-Kubra  telah  mengkhususkan  50  halaman  besar
mengenai  perutusan-perutusan  Arab  ini  saja  kepada  Rasul.
Kiranya  cukup  disini  kita menyebutkan nama-nama kabilah dan
anak-kabilah yang punya perutusan.  Utusan-utusan  itu  datang
dari:  Muzaina,  Asad,  Tamim,  'Abs, Fazara, Murra, Tha'laba,
Muharib, Sa'd b. Bakr, Kilab, Ru'as b. Kilab, 'Uqail b.  Ka'b,
Ja'da, Qusyair b. Ka'b, Banu'l-Bakka', Kinana, Asyja', Bahila,
Sulaim, Hilal b.  'Amir,  'Amir  b.  Sha'  sha'a  dan  Thaqif.
Utusan-utusan  Rabi'a  datang dari 'Abd'l-Qais, Bakr b. Wa'il,
Taghlib, Hanifa dan Syaiban. Dari Yaman datang  utusan-utusan:
Tayy  Tujib,  Khaulan,  Ju'fi,  Shuda',  Murad, Zubaid, Kinda,
Shadif, Khusyain, Sa'd Hudhail, Bali, Bahra', Udhra,  Salaman,
Juhaina,  Kalb,  Jarm,  Azd,  Ghassan  Harith b. Ka'b, Hamdan,
Sa'd'l-Asyira, 'Ans, Dar, Raha, [dari daerahMadhhij],  Ghamid,
Nakha',  Bajila,  Khath'am,  Asy'ari,  Hadzramaut,  Azd 'Uman,
Ghafiq, Bariq, Daus, Thumala,  Hudan,  Aslam,  Judham,  Muhra,
Himyar,  Najran dan Jaisyah. Demikian seterusnya, tiada sebuah
kabilah atau anak-kabilah di Semenanjung itu yang tidak  masuk
Islam, kecuali yang sudah kita sebutkan di atas. Demikian juga
orang-orang   musyrik    penduduk    jazirah    itu,    mereka
berlumba-lumba masuk Islam, dan dengan sendirinya meninggalkan
penyembahan berhala. Sekarang seluruh tanah Arab sudah  bersih
dari  berhala-berhala  dengan  segala  penyembahannya. Sesudah
perjalanan ke Tabuk, selesailah semua itu secara sukarela  dan
atas  kemauan  sendiri,  tanpa bersusah payah atau pertumpahan
darah.
 
Sekarang apa yang dilakukan pihak  Yahudi  dan  pihak  Nasrani
terhadap  Muhammad,  dan  apa  pula  yang  dilakukan  Muhammad
terhadap mereka?
 
Catatan kaki:
 
 1 Qubba, ialah 'semacam kemah dalam bentuk rumah kecil
   bulat' (LA) yang tidak sama dengan kemah biasa (A).
   
 2 Harfiah, 'yang memerintah atau yang diperintah' yakni
   'adakah ia ditugaskan oleh Nabi memimpin jamaah haji atau
   Lkut dalam rombongan?' (A).
   
 3 Yakni yang ikut dalam rombongan haji di bawah pimpinan
   Abu Bakr (A).
   
 4 Oleh karena ayat-ayat yang dikutip ini cukup panjang,
   maka setiap ayat diberi bernomor (A)
   
 5 Harfiah berarti hari haji yang lebih besar,
   (al-hajj'l-akbar); menurut beberapa kitab tafsir berarti
   yang meliputi hari Arafat atau hari Nahr atau secara
   keseluruhan sebaliknya dari 'haji yang lebih kecil'
   (al-hajj'l-ashghar) (A).
   
 6 Nudism, ialah suatu gerakan yang mau melaksanakan cara
   hidup telanjang tanpa membeda-bedakan jenis kelamin,
   dimulai pada awal abad ke-20 di Jerman. dikenal dengan
   nama kelompok-kelompok Nackhtkultur ("kebudayaan
   telanjang"). Mereka terdiri umumnya dari orang-orang
   kelas menengah. Sebelum pecah Perang Dunia II, gerakan
   ini mulai meluas pada segenap lapisan, dari yang paling
   konservatif sampai kepada yang paling radikal. Dengan
   mengambil pola seperti di Jerman, perkumpulan-perkumpulan
   nudis ini kemudian berdiri pula di Perancis, Inggris,
   Skandinavia dan beberapa negara Eropa lainnya. Di Amerika
   Serikat dan di Kanada didirikan dalam tahun tigapuluhan.
   Gerakan ini terhenti karena pecah Perang Dunia II (A).
   
 7 Dari kata bahasa Arab saja'a, saj'an 'bicara dengan
   kata-kata dengan persamaan bunyi akhir kata seperti pada
   syair tanpa matera' (LA), dan 'saj', juga berarti manzera
   dukun' (LA). Sebaliknya susunan kata-kata dalam Qur'an
   tidak termasuk saja' karena tidak terikat pada asonansi,
   juga bukan prosa. Dalam pengertian bahasa Indonesia yang
   umum, kata 'sajak' sering berarti 'puisi' atau 'syair' (A).
   
 8 Dalam bahasa aslinya tersusun dalam bentuk sajak akhir (A).
 
---------------------------------------------
S E J A R A H    H I D U P    M U H A M M A D
 
oleh MUHAMMAD HUSAIN HAEKAL
diterjemahkan dari bahasa Arab oleh Ali Audah
 
Penerbit PUSTAKA JAYA
Jln. Kramat II, No. 31 A, Jakarta Pusat
Cetakan Kelima, 1980
 
Seri PUSTAKA ISLAM No.1

Indeks Islam | Indeks Haekal | Indeks Artikel | Tentang Penulis
ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota

Please direct any suggestion to Media Team