Sejarah Hidup Muhammad

oleh Muhammad Husain Haekal

Indeks Islam | Indeks Haekal | Indeks Artikel | Tentang Penulis
ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota

 

Characters: 11415
Lines: 216
Words: 1439
Sentences: 163
Paragraphs: 131
                          PRAKATA                      (3/6)

MASALAH PENYALIBAN AL-MASIH
 
Masalah lain yang menimbulkan perbedaan pendapat  Islam  dan
Nasrani,  dan  menjadi puncak perdebatan antara dua golongan
itu pada masa  Nabi,  ialah  masalah  penyaliban  Isa  untuk
menebus dosa orang dengan darahnya. Secara tegas Quran telah
membantah bahwa orang-orang  Yahudi  membunuh  dan  menyalib
Isa.  "Dan  perkataan  mereka  bahwa:  kami  telah  membunuh
Almasih Isa anak Mariam - Utusan Allah. Tetapi mereka  tidak
membunuhnya   dan   tidak   menyalibnya,   melainkan  begitu
terbayang pada mereka.  Dan  mereka  yang  masih  berselisih
pendapat  tentang  itu  sebenarnya masih ragu, sebab tak ada
pengetahuan mereka tentang itu, selain berdasarkan prasangka
saja,  dan  merekapun  tidak yakin telah membunuhnya. Bahkan
Allah telah mengangkatnya kepadaNya.  Maha  Mulia  Kekuasaan
Allah dan Bijaksana." (QS, 4:157-148)
 
Kalaupun  konsepsi  tentang  penebusan  dosa  anak-cucu Adam
dengan darah Isa memang indah sekali, dan apa  yang  ditulis
orang  tentang  itu  patut  menjadi  bahan studi dari segala
seginya, baik literair, etika atau psikologi, namun  prinsip
yang  telah  ditentukan  Islam, bahwa orang tidak dibenarkan
memikul beban dosa orang lain, dan bahwa setiap  orang  pada
hari kemudian diganjar sesuai dengan perbuatannya - kalau ia
berbuat baik dibalas dengan kebaikan,  kalau  jahat  dibalas
dengan kejahatan - menyebabkan pendekatan logis antara kedua
ajaran ini  tidak  mungkin.  Di  sini  logika  Islam  sangat
konkrit, sehingga tak ada gunanya usaha mencari persesuaian,
melihat garis perbedaan yang begitu  tajam  antara  konsepsi
penebusan dan konsepsi hukum yang bersifat pribadi. "Seorang
bapa  takkan  dapat  menolong  anaknya,  dan  anakpun  tiada
sedikit juga akan dapat menolong bapanya." (QS, 31:33)
 
Tentang  agama  baru ini, sudah adakah dari kalangan Nasrani
ketika itu yang mau memikirkannya, serta melihat kemungkinan
bertemunya  konsepsi  Tauhid  dengan  ajaran yang dibawa Isa
itu? Ya, memang ada, dan banyak di antara  mereka  itu  yang
lalu beriman kepada ajaran ini.

RUMAWI DAN KAUM MUSLIMIN
 
Akan tetapi Kerajaan Rumawi - yang karena kemenangannya kaum
Muslimin  telah  turut  gembira  dan   menganggapnya   suatu
kemenangan  bagi  agama-agama  Kitab  - penguasa-penguasanya
tidak mau bersusah payah mempelajari agama baru itu.  Mereka
memandang  semua  kemungkinan hanya dari segi politik semata
dan yang dipikirkan hanya nasib kerajaannya bila agama  yang
baru  itu  kelak mendapat kemenangan. Oleh karena itu mereka
malah bersekongkol menentangnya, dengan mengirimkan  pasukan
besar-besaran  -  suatu sumber mengatakan seratus ribu, yang
lain mengatakan duaratus ribu - yang mengakibatkan timbulnya
perang Tabuk. Pihak Rumawi ternyata mundur berhadapan dengan
pasukan Muslimin - dengan  Muhammad  sebagai  komandannya  -
yang  hendak  menangkis serangan musuh yang tidak diinginkan
itu.
 
Sejak itulah kaum Muslimin dan  kaum  Nasrani  berada  dalam
posisi   permusuhan   politik,   yang   selama  berabad-abad
berikutnya kemenangan berada di tangan kaum Muslimin. Selama
itu   lingkungan   kekuasaan  mereka  membentang  sampai  ke
Andalusia di sebelah barat, ke India dan Tiongkok di sebelah
timur.  Sebagian besar daerah-daerah ini menerima agama baru
itu dan bahasa Arab sebagai bahasa yang sudah ditentukan.
 
Setelah tiba masanya sejarah harus  beredar,  pihak  Nasrani
pun  mengusir kaum Muslimin dari Andalusia, memerangi mereka
dengan serangkaian Perang Salib. Mereka menyerang agama  dan
Nabi  dengan  cara yang sangat keji, disertai kebohongan dan
fitnah semata-mata. Demikian kejinya  mereka  itu,  sehingga
lupa  mereka  tentang  apa  yang pernah disampaikan Muhammad
'alaihissalam dalam hadis-hadis  dan  dalam  Qur'an  melalui
wahyu  yang  diturunkan  kepadanya,  bahwa  Islam mengangkat
martabat Isa 'alaihissalarn setinggi  yang  diberikan  Allah
kepadanya.

PENULIS-PENULIS KRISTEN DAN MUHAMMAD
 
Ketika menguraikan, pandangan penulis-penulis Kristen sampai
pada pertengahan  abad  kesembilanbelas,  sehubungan  dengan
adanya  mereka  yang  berprasangka  jahat  terhadap Muhammad
Dictionnaire Larousse menyebutkan demikian: "Dalam pada  itu
Muhammad  masih tetap sebagai tukang sihir yang hanyut dalam
kerusakan akhlak, perampok unta, seorang kardinal yang tidak
berhasil  menduduki  kursi Paus, lalu menciptakan agama baru
untuk membalas dendam kepada  kawan-kawannya.  Cerita-cerita
khayal  dan  cabul  banyak  terjadi  dalam sejarah hidupnya.
Sejarah hidup Bahaume (Muhammad) hampir terdiri  dari  hasil
lektur  semacam  itu. 'Cerita Muhammad' yang disiarkan oleh
Reinaud dan Francisque Michel tahun 1831  melukiskan  kepada
kita pandangan orang-orang yang hidup dalam Abad Pertengahan
itu tentang dia. Dalam  abad  ketujuhbelas  Bell  memberikan
suatu  tanggapan  tentang  sejarah yang sifatnya merendahkan
arti  Qur'an  dengan  suatu  tinjauan  berdasarkan  sejarah.
Sungguhpun begitu ia masih diliputi oleh ketentuan-ketentuan
yang salah mengenai dirinya. Akan tetapi dia mengakui, bahwa
ketentuan  moral  dan  sosial  yang  dibuatnya tidak berbeda
dengan ketentuan Kristen, kecuali soal  hukum  qishash  (Lex
Talionis?) dan polygyny."
 
Dari  sekian  banyak  Orientalis  yang telah membuat analisa
tentang sejarah hidup Muhammad,  ada  seorang  di  antaranya
yang agak jujur, yaitu penulis Perancis Emile Dermenghem. Ia
memperingatkan kolega-kolega yang menulis tentang agama  ini
dengan  mengatakan:  "Sesudah  pecah  perang  Islam-Kristen,
dengan sendirinya jurang pertentangan  dan  salah-pengertian
bertambah  lebar,  tambah tajam. Orang harus mengakui, bahwa
orang-orang Baratlah yang memulai timbulnya pertentangan itu
sampai   begitu   memuncak.   Sejak   zaman  penulis-penulis
Bizantium,  tanpa  mau  bersusah  payah   mengadakan   studi
-kecuali   Jean  Damasceme-  telah  melempari  Islam  dengan
pelbagai  macam  penghinaan.  Para   penulis   dan   penyair
menyerang  kaum  Muslimin  Andalusia dengan cara yang sangat
rendah. Mereka menuduh, bahwa Muhammad adalah perampok unta,
orang  yang hanyut dalam foya-foya, mereka menuduhnya tukang
sihir, kepala bandit dan perampok, bahkan menuduhnya sebagai
seorang  pendeta  Rumawi  yang marah dan dendam karena tidak
dipilih  menduduki  kursi  Paus  ...   Dan   yang   sebagian
mengiranya    ia    adalah    tuhan    palsu,    yang   oleh
pengikut-pengikutnya dibawakan sesajen berupa  kurban-kurban
manusia. Bahkan Guibert de Nogent sendiri, orang yang begitu
serius masih menyebutkan, bahwa Muhammad mati karena  krisis
mabuk  yang  jelas  sekali,  dan  bahwa  tubuhnya  kedapatan
terdampar  di  atas  timbunan  kotoran  binatang  dan  sudah
dimakan  babi.  Oleh  karena  itu,  lalu  ditafsirkan, bahwa
itulah  sebabnya  minuman  keras  dan  daging  binatang  itu
diharamkan.
 
Di   samping  itu  ada  beberapa  nyanyian  yang  melukiskan
Muhammad  sebagai  berhala  dari  emas,  dan   mesjid-mesjid
sebagai  kuil-kuil  kuno yang penuh dengan patung-patung dan
gambar-gambar.   Pencipta   "Nyanyian   Antakia"    (Chanson
d'Antioche)  membawa cerita tentang adanya orang yang pernah
melihat berhala "Mahom" terbuat dari emas  dan  perak  murni
dan  dia  duduk  di atas seekor gajah di tempat yang terbuat
dari lukisan mosaik. Sedang "Nyanyian  Roland"  (Chanson  de
Roland)     melukiskan     pahlawan-pahlawan     Charlemagne
menghancurkan berhala-berhala Islam, dan mengira bahwa  kaum
Muslimin  di  Andalusia  itu menyembah trinitas terdiri dari
Tervagant, Mahom dan Apollo. Dan "Cerita Muhammad" (Le Roman
de  Mahomet)  itu menganggap, bahwa Islam membenarkan wanita
melakukan polyandri.
 
"Cara  berpikir  yang  penuh  dengan  kedengkian  dan  penuh
legenda  itu  tetap  menguasai kehidupan mereka. Sejak zaman
Rudolph de Ludheim, sampai saat kita sekarang ini, masih ada
saja  orangorang  semacam  Nicolas  de Cuse, Vives, Maracci,
Hottinger, Bibliander, Prideaux dan yang  lain.  Mereka  itu
menggambarkan  Muhammad  sebagai penipu, dan Islam merupakan
sekumpulan kaum bidat. Semua  itu  adalah  perbuatan  setan.
Kaum  Muslimin  adalah orang-orang buas sedang Qur'an adalah
suatu gubahan yang tak berarti. Mereka tidak membicarakannya
secara  sungguh-sungguh,  karena  sudah  dianggap  tidak ada
artinya.  Tetapi,  dalam  pada  itu  Pierre  le   Venerable,
pengarang  pertama  yang telah menulis risalah anti Islam di
Barat dalam abad keduabelas telah menterjemahkan  Qur'an  ke
dalam  bahasa  Latin.  Dalam abad keempatbelas Peirre Pascal
termasuk orang yang mau mendalami studi-studi tentang Islam.
Innocent  III  pernah  melukiskan Muhammad, bahwa dia adalah
musuh  Kristus   (Antichrist).   Sedang   abad   Pertengahan
menganggap  Muhammad seorang heretik (melanggar ajaran agama
Kristen).  Orang-orang  semacam  Raymond  Lulle  dalam  abad
keempatbelas,   Guellaume  Postel  dalam  abad  keenambelas,
Roland dan Gagnier dalam  abad  kedelapanbelas,  Pendeta  de
Broglie  dan  Renan  dalam  abad  kesembilanbelas, mempunyai
tanggapan  yang  beraneka  ragam.   Sebaliknya   orang-orang
semacam  Comte Boulainvilliers, Scholl, Caussin de Perceval,
Dozy,  Sprenger,  Barthelemy  Saint-Hilaire,  de  Casteries,
Carlyle  dan  yang  lain, pada umumnya mereka memperlihatkan
sikap  jujur   terhadap   Islam   dan   Nabi,   dan   kadang
memperlihatkan  sikap hormat. Sungguhpun begitu, dalam tahun
1876 Droughty bicara  tentang  Muhammad  dengan  mengatakan:
"Itu Arab munafik yang kotor." Sebelum itu, dalam tahun 1822
juga Foster telah  mencacinya.  Sampai  sekarang  sebenarnya
masih ada musuh-musuh Islam itu yang bersemangat."[5]
 
Catatan kaki:
-------------
[5] Emile Dermenghem, La Vie de  Mahomet,  halaman  135  dan
berikutnya.
 
Kita sudah melihat, bukan, penulis-penulis Barat itu, begitu
rendah menyerangnya? Juga sudah kita lihat kegigihan  mereka
selama berabad-abad     yang  mau menanamkan rasa permusuhan
dan kebencian di kalangan umat manusia. Padahal di  kalangan
mereka  itu  ada orang-orang yang sudah mengalami zaman yang
biasa disebut zaman ilmu pengetahuan, zaman riset dan  zaman
kebebasan   berpikir  serta  adanya  deklarasi  persaudaraan
antara sesama manusia.
 
Dengan  adanya  orang-orang  yang  jujur  dalam  batas-batas
tertentu   telah   mengurangi   juga  adanya  pengaruh  yang
menyesatkan seperti yang diisyaratkan oleh  Dermenghem  itu.
Di  antara  mereka ada yang mengakui kebenaran iman Muhammad
membawakan risalah itu  yang  dipercayakan  Allah  kepadanya
melalui  wahyu  yang harus disampaikan. Ada pula yang sangat
menghargai kebesaran Muhammad dalam arti rohani,  ketinggian
akhlaknya,  harga  dirinya serta jasanya yang tidak sedikit.
Ada yang melukiskan semua itu  dengan  gaya  yang  kuat  dan
indah  sekali.  Meskipun  demikian,  pihak  Barat masih juga
berprasangka  buruk  terhadap  Islam  dan   terhadap   Nabi,
kemudian  demikian  beraninya  mereka  itu sampai-sarnpai di
daerah-daerah Islam sendiri kalangan misionaris  melancarkan
penghinaan yang begitu rendah, dan berusaha membelokkan kaum
Muslimin dari ajaran agamanya kepada agama Kristen.
 
 
                                    (bersambung ke bagian 4)
 
---------------------------------------------
S E J A R A H    H I D U P    M U H A M M A D
 
oleh MUHAMMAD HUSAIN HAEKAL
diterjemahkan dari bahasa Arab oleh Ali Audah
 
Penerbit PUSTAKA JAYA
Jln. Kramat II, No. 31 A, Jakarta Pusat
Cetakan Kelima, 1980
 
Seri PUSTAKA ISLAM No.1

Indeks Islam | Indeks Haekal | Indeks Artikel | Tentang Penulis
ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota

Please direct any suggestion to Media Team