Sejarah Hidup Muhammad

oleh Muhammad Husain Haekal

Indeks Islam | Indeks Haekal | Indeks Artikel | Tentang Penulis
ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota

 

Characters: 18271
Lines: 328
Words: 2348
Sentences: 373
Paragraphs: 308
                          PRAKATA                      (6/6)

KONSULTASI YANG TEPAT
 
Setelah  agak jauh saya mengadakan penyelidikan, tampak oleh
saya   adanya  konsultasi   yang  tepat  sekali  disampaikan
kepada  saya  dari  beberapa pihak, lebih-lebih lagi -dengan
sendirinya- dari kalangan guru-guru besar dan  pemuka-pemuka
agama.  Dan  bantuan  paling  besar  saya  terima ialah dari
Perpustakaan (Nasional) Mesir dan para pejabatnya yang telah
mengulurkan  tangan  memberikan bermacam-macam bantuan, yang
sebagai   penghargaan   tidak   cukuplah   rasanya    ucapan
terimakasih   saya  ini.  Memadai  juga  kiranya  bila  saya
sebutkan, bahwa Tuan 'Abd'r-Rahim  Mahmud,  Korektor  bagian
Lektur pada Perpustakaan, tidak jarang pula membebaskan saya
dari harus pergi sendiri ke perpustakaan  serta  meminjamkan
buku-buku  yang  saya  kehendaki disertai sikap ramah-tamah,
baik oleh Direktur atau pejabat-pejabat tinggi lainnya  yang
bertugas.  Juga  perlu saya sebutkan, bahwa setiap kali saya
mengunjungi perpustakaan itu sehubungan dengan  penyelidikan
yang  perlu  saya lakukan, selalu saya menerima layanan yang
begitu baik sekali, baik dari pejabat  tinggi  atau  pejabat
ba'vahan,  baik  yang saya kenal atau yang tidak saya kenal.
Dalam hal saya kadang terbentur pada beberapa masalah,  maka
datanglah  kawan-kawan  itu membukakan jalan, sehingga tidak
jarang hal ini merupakan  bantuan  yang  besar  sekali  bagi
sayaa  Sering  juga  saya  jumpai  bantuan demikian itu dari
Syaikh Muhammad Mustafa al-Maraghi,  Rektor  Al-Azhar,  dari
sahabat   karib   saya   Ja'far  (Pasya)  Wali,  yang  telah
meminjamkan beberapa buah buku kepada  saya  seperti  Shahih
Muslim  dan  buku-buku sejarah tentang Mekah. Ditunjukkannya
pula beberapa masalah, diantarkannya  saya  ke  tempat  yang
saya  perlukan.  Demikian  juga  sahabat saya Makram 'Obaid,
telah  meminjamkan  buku  Sir  William  Muir,  The  Life  of
Mohammad8,  buku  Lammens,  L'Islam,  di samping pertolongan
yang saya peroleh dari karya-karya kontemporer  yang  sangat
berharga    seperti    Fajr'l-lslam    oleh    Ahmad   Amin,
Qishah'l-Anbia'    oleh     'Abd'l     Wahhab     an-Najjar,
Fil-Adab'l-Jahili   oleh   Dr.  Taha  Husain,  Al  Yahud  fi
Bilad'l-'Arab oleh Israel Wilfinson. Selain itu banyak  lagi
buku-buku  lain  oleh  penulis-penulis kontemporer yang saya
sebutkan dalam bibliografi buku-buku  lama  dan  baru,  yang
saya pergunakan dalam menyiapkan buku ini.

DALAM BATAS-BATAS BIOGRAFI, TIDAK LEBIH
 
Setiap  saya  mengadakan  penyelidikan  demikian  ini  lebih
dalam, ternyata ada beberapa problema  di  depan  saya  yang
perlu dipikirkan lagi dan diselidiki lebih lanjut guna dapat
mengatasinya. Seperti  buku-buku  sejarah  dan  tafsir  yang
telah   memberikan   petunjuk   kepada   saya  dengan  cukup
memuaskan,  demikian  juga  halnya  dengan  buku-buku   para
Orientalis. Akan tetapi dalam menghadapi masalah-masalah itu
tampaknya terpaksa saya harus  membatasi  diri  hanya  dalam
menyelidiki kehidupan Muhammad saja, dengan tidak mengurangi
persoalan-persoalan lain yang kiranya ada hubungannya dengan
penyelidikan  ini. Kalau saya mau menyelidiki segala sesuatu
yang berhubungan dengan  sejarah  hidup  orang  yang  begitu
besar dan cemerlang ini, tentu diperlukan penulisan beberapa
jilid  dalam  ukuran  seperti  buku  ini.  Baik  juga   saya
sebutkan,  bahwa Caussin de Perceval menulis tiga jilid buku
dengan judul Essai sur l'Histoir des Arabes,  jilid  pertama
dan  kedua  mengenai  sejarah  dan kehidupan kabilah-kabilah
Arab,  jilid  ketiga  tentang   Muhammad   dan   dua   orang
Khalifahnya,  Abu  Bakr  dan Umar. Demikian juga Tabaqat Ibn
Sa'd yang terdiri  dari  beberapa  jilid,  jilid  pertamanya
khusus  tentang  kehidupan  Muhammad, sedang yang selebihnya
mengenai kehidupan para Sahabatnya.
 
Dalam mengadakan penyelidikan ini pada mulanya memang  tidak
saya  maksudkan  hendak  melampaui  batas  sejarah kehidupan
Muhammad,  sebab  saya  tidak  ingin  membiarkan  ini  nanti
menjadi  kacau,  sehingga  akan  menyimpang dari tujuan yang
saya maksud.
 
Hal lain yang menahan saya hanya  pada  batas-batas  sejarah
hidup ini, ialah karena indahnya dan besarnya peristiwa itu,
sehingga  yang  lainpun  rasanya  akan  tertutup  karenanya.
Alangkah besarnya Abu Bakr! Alangkah besarnya Umar! Keduanya
dalam masa Khilafat mereka  masing-masing  merupakan  cahaya
bintang   sehingga  yang  lain  tertutup  karenanya.  Betapa
besarnya sahabat-sahabat dahulu  itu  mendampingi  Muhammad,
dibuktikan  oleh  generasi  demi  generasi dan yang kemudian
menjadi kebanggaan generasi itu!
 
Akan tetapi - selama masa hidup Nabi -  mereka  semua  masih
dapat   bernaung   di  bawah  kebesarannya,  masih  mendapat
percikan sinarnya.
 
Bagi orang yang menyelidiki sejarah hidup Rasul, tidak mudah
akan dapat meninggalkan hal itu untuk berpindah ke soal yang
lain. Hal ini terasa sekali apabila pembahasan demikian  ini
didasarkan kepada metoda ilmiah yang baru, seperti yang akan
saya coba ini; yang dengan metoda itu pula justru kelak akan
terlihat   kebesaran   Muhammad,  kebesaran  yang  sekaligus
menguasai pikiran, hati nurani  dan  perasaan  manusia,  dan
menanamkan  rasa hormat karenanya, hormat dan percaya betapa
kuatnya kebesaran itu, yang dalam hal ini baik  bagi  Muslim
atau non-Muslim tidakkan berbeda pendapat.

PENYELIDIKAN BERGUNA BAGI SELURUH UMAT MANUSIA
 
Kalau kita ke sampingkan mereka yang masih fanatik dan keras
kepala, yang  dalam  merendahkan  kebesaran  Muhammad  sudah
menjadi  kebiasaan  mereka, seperti yang dilakukan oleh kaum
misi  penginjil  dan  sebangsanya,  maka  rasa  hormat  akan
kebesaran  dan  percaya akan kuatnya kebesaran itu akan kita
baca   jelas   sekali   dalam   buku-buku    sarjana-sarjana
Orientalis.   Dalam   Heroes   and   Hero  Worship,  Carlyle
membicarakan satu pasal tentang Muhammad yang digambarkannya
sebagai percikan sinar Ilahi yang kudus yang telah diberikan
kepadanya, kemudian dilukiskannya rasa hormat atas kebesaran
yang  luarbiasa kuatnya itu. Demikian juga Irving, Sprenger,
Weil   dan   Orientalis   lainnya,    masing-masing    dapat
menggambarkan  kebesaran  Muhammad  dengan  cara  yang  kuat
sekali. Apabila salah seorang di antara  mereka  itu,  dalam
memasuki   beberapa   masalah  masih  menganggap  ada  suatu
kekurangan pada diri pembawa risalah Islam itu,  maka  tidak
lain  itu  hanya  karena  mereka  belum  lagi mengujinya dan
meneliti secara  ilmiah  yang  lebih  saksama,  atau  karena
mereka berpegang pada beberapa buku sejarah atau tafsir yang
masih diragukan kebenaran sumbernya, dengan melupakan  bahwa
buku-buku  biografi  yang pertama itu baru dua abad kemudian
sesudah    masa    Muhammad    ditulis     orang,     dengan
menyelip-nyelipkan,   -baik   dalam   sejarah   atau   dalam
ajaran-ajarannya,- Israiliat (dongeng-dongeng  Judaica)  dan
ribuan  hadis-hadis  palsu.  Meskipun  kaum  Orientalis  itu
mengakui kenyataan ini,  namun  mereka  tidak  mau  mengakui
kelalaiannya  sendiri  untuk  dapat  menentukan sesuatu yang
dianggapnya benar itu;  padahal  dengan  sedikit  penelitian
saja  sudah  akan  dapat ditolak. Di antaranya soal gharaniq
misalnya,  soal  Zaid  dan  Zainab,  soal  perkawinan   atau
isteri-isteri Nabi, yang justru akan menjadi bahan pengujian
dan penelitian dalam buku ini.
 
Sungguhpun begitu saya tidak beranggapan  bahwa  saya  sudah
sampai  ke  tujuan  terakhir dalam menyelidiki sejarah hidup
Muhammad. Bahkan  barangkali  akan  lebih  tepat  bila  saya
katakan,  bahwa  saya  baru dalam taraf permulaan mengadakan
penyelidikan dengan  metoda  ilmiah  yang  baru  ini,  dalam
bahasa  Arab.  Segala daya upaya yang saya gunakan dalam hal
ini tidak lepas dari, bahwa buku ini  baru  merupakan  taraf
permulaan  dalam  penyelidikan  Islam  dari  segi ilmiahnya.
Bilamana sudah ada  sarjana-sarjana  dan  ahli-ahli  sejarah
yang   mengkhususkan   diri  menyelidiki  salah  satu  kurun
(perioda)  dalam  sejarah  -  seperti  Aulard9  yang  khusus
menyelidiki  sejarah revolusi Perancisl dan beberapa sarjana
lain yang juga menyelidiki masa-masa tertentu dalam  sejarah
pelbagai bangsa     maka  patut  sekali  bila  atas biografi
Muhammad ini secara khusus juga diadakan penyelidikan ilmiah
yang menyeluruh, yang dapat dilakukan oleh kaum cendekiawan,
yang khusus pula dalam bidangnya masing-masing. Tidak sangsi
lagi  saya, bahwa pengkhususan dan penyelidikan ilmiah untuk
waktu yang begitu singkat dalam  sejarah  tanah  Arab  serta
hubungannya  dengan  aneka  macam bangsa waktu itu, hasilnya
akan berguna sekali, bukan saja bagi Islam dan  umat  Islam,
tetapi  juga  untuk  seluruh  dunia. Dari segi psikologi dan
kehidupan rohani hal ini akan merupakan masalah yang berguna
sekali  bagi  ilmu  pengetahuan,  di samping penerangan yang
akan diperoleh dari segi-segi kehidupan  sosial,  etika  dan
hukum.  Dalam  menghadapi masalah ini ilmu pengetahuan masih
saja maju-mundur,  terpengaruh  oleh  pertentangan  agama  -
Islam  dan  Kristen  - serta adanya usaha-usaha yang sia-sia
hendak melakukan  westernisasi  terhadap  orang  Timur  atau
kristenisasi  terhadap  kaum  Muslimin, suatu hal yang telah
menghasilkan  kegagalan   dan   kekecewaan   generasi   demi
generasi,  dan  di mana-mana telah menimbulkan pengaruh yang
buruk dalam hubungan umat manusia satu sama lain.
 
Dengan melihat lebih jauh dari semua itu  saya  berpendapat,
bahwa    penyelidikan   demikian   sudah   seharusnya   akan
mengantarkan umat manusia ke  jalan  peradaban  modern  yang
selama  ini dicarinya. Apabila pihak Nasrani di Barat merasa
terlalu besar akan mendapatkan cahaya baru  itu  dari  Islam
dan  dari  Rasulnya,  lalu menantikan cahaya itu akan datang
dari teosofi India dan dari pelbagai macam aliran Timur Jauh
lainnya,  maka orang-orang di Timur, baik umat Islam, Yahudi
atau Kristen, sudah  layak  sekali  mengadakan  penyelidikan
berharga  ini  dengan  sikap  yang  bersih dan jujur - yakni
satu-satunya cara yang akan mencapai kebenaran.
 
Cara pemikiran Islam -yang pada  dasarnya  adalah  pemikiran
ilmiah  menurut  metoda modern dalam hubungan manusia dengan
lingkungan hidup sekitarnya, yang dari  segi  ini  realistik
sekali   berubah  menjadi  pemikiran  yang  subyektif,  yang
bersifat pribadi, ketika masalahnya menjadi hubungan manusia
dengan alam semesta dan Pencipta alam.
 
Dengan   demikian,   dari  segi  psikologi  dan  kerohanian,
timbullah pengaruh-pengaruh,  yang  di  dalam  menghadapinya
ilmu   pengetahuan   sendiri  jadi  kebingungan,  tak  dapat
mengiakan atau meniadakannya. Dengan demikian ia lalu  tidak
menganggapnya sebagai kenyataan-kenyataan ilmiah. Sungguhpun
begitu kenyataan ini menjadi sendi kebahagiaan hidup manusia
dan  merupakan  unsur formatif dalam tingkah-lakunya. Apakah
hidup itu? Apa pula hubungan  manusia  dengan  alam  semesta
ini?   Apa   yang   menggairahkan   hidupnya.   Apakah  arti
kepercayaan bersama, yang memberikan  kekuatan  moril  dalam
masyarakat,  yang  dengan  lemahnya kepercayaan bersama itu,
masyarakatpun akan turut pula menjadi  lemah?  Apakah  wujud
itu?  Dan  apa  pula kesatuan wujud itu? Bagaimana kedudukan
manusia dalam kesunyian dan eksistensinya?
 
Masalah-masalah  demikian  ini  berada  di  bawah  kekuasaan
logika  abstraksi  yang sudah mempunyai bahan literatur yang
begitu  berlimpah-limpah  banyaknya.  Akan   tetapi,   dalam
menyampaikan  manusia  kepada  kebahagiaannya,  pemecahannya
akan  lebih  dekat  kita   peroleh   dalam   kehidupan   dan
ajaran-ajaran Muhammad daripada dalam logika abstraksi, yang
selama berabad-abad sejak  dinasti  Abbasia,  kaum  Muslimin
telah   menghabiskan   umurnya   untuk  itu.  Demikian  juga
orang-orang di Barat, selama  tiga  abad  sejak  abad  ke-16
hingga  abad  ke-19  mereka telah menghabiskan umur mereka -
kecuali ilmu pengetahuan  modern  -  yang  berakhir  membawa
nasib  Barat seperti yang dialami kaum Muslimin masa lampau.
Seperti pada masa lampau, masa  kinipun  ilmu  itu  kemudian
terancam   akan   terbentur   pula  tanpa  dapat  memberikan
kebahagiaan kepada umat manusia.
 
Maka tak ada jalan lain kiranya untuk  mencapai  kebahagiaan
hidup  kecuali  dengan  kembali  mencari  hubungan subyektif
dengan alam ini sebaik-baiknya serta  dengan  Pencipta  alam
ini,  Yang  tak  terikat  oleh  ruang dan waktu, Yang mutlak
dalam kesatuan yang  tak  berubah-ubah,  selain  dalam  arti
nisbi dalam hubungannya dengan hidup kita yang singkat ini.
 
Sudah  tentu,  sejarah  hidup  Muhammad  ini  adalah  contoh
terbaik dalam mengadakan studi  tentang  hubungan  subyektif
dalam  arti  teori, atau dalam arti praktek, bagi orang yang
mempunyai kemampuan ke arah  itu.  Mengingat  jauhnya  jarak
dalam  arti hubungan Ilahi, seperti yang telah dianugerahkan
Tuhan kepada Rasulullah, maka orang akan dapat  mencoba  hal
itu  pada  taraf  permulaan. Menurut hemat saya, kedua macam
studi ini -  bila  sudah  dapat  disesuaikan  -  akan  dapat
mengangkat  martabat  dunia  kita  sekarang  ini dari lembah
paganisma,  menurut  kepercayaan   agama   dan   pengetahuan
masing-masing;    paganisma   yang   telah   membuat   harta
satu-satunya tempat pujaan (mammonisma),  dengan  meremehkan
nilai-nilai  seni,  ilmu, moral dan bakat manusia. Bisa jadi
penyesuaian demikian ini  masih  jauh.  Akan  tetapi  adanya
gejala-gejala   akan   lenyapnya   paganisma  yang  sekarang
menguasai dunia kita, mengemudikan kebudayaan yang  berkuasa
sekarang,  tampak  jelas  sekali  bagi setiap orang yang mau
mengikuti jalannya sejarah dan peristiwa-peristiwa dunia.
 
Apabila secara  khusus  dipelajari  sungguh-sungguh  sejarah
hidup  Muhammad  itu  sebagai  Nabi  serta ajaran-ajarannya,
masanya  dan  revolusi  rohani  yang  dibawanya  yang  telah
tersebar ke seluruh dunia, barangkali gejala-gejala ini akan
makin jelas  di  depan  mata  dunia,  bahwa  masalah-masalah
rohani ini adalah timbul dari pengaruh yang ditinggalkannya.
Jika studi ilmiah dan studi yang subyektif  mengenai  tenaga
umat  manusia  yang  masih  tersimpan  ini,  dapat  menambah
hubungan umat manusia dengan hakikat alam yang lebih tinggi,
maka itu sudah merupakan perletakan batu pertama dalam sendi
peradaban modern.
 
Buku inipun  tidak  lebih  adalah  sebagai  usaha  permulaan
kearah  itu,  seperti  sudah saya sebutkan. Kiranya cukuplah
bagi saya bilamana buku ini dapat  meyakinkan  orang,  dapat
meyakinkan   para  sarjana  dan  ahli-ahli  akan  pentingnya
spesialisasi dan pengkhususan  guna  mencapai  tujuan  dalam
menyelidiki  sesuatu  bidang  itu. Andaikata usaha ini dapat
memberi hasil kepada  salah  satu  atau  kedua  tujuan  itu,
inipun  sudah  merupakan  imbalan  yang cukup besar terhadap
daya upaya yang saya lakukan. Dan  Allah  jualah  yang  akan
membalas jasa mereka yang telah berbuat kebaikan.
 
MUHAMMAD HUSAIN HAEKAL
 
Catatan kaki:
-------------
[1] Gelar raja-raja keluarga Sasani di Iran, dalam literatur
Islam biasa  disebut  Kisra  (Khosrau,  Khosroes).  Kisra  I
Anusyirwan, putera Kavadh I yang berperang melawan Bizantium
di bawah Yustinianus. Kisra II Parvez, putera Ormizd IV  dan
cucu Kisra I menyerang Anatolia dan Suna sampai di Bosporus.
Syahrvaraz dapat  menaklukkan  Damaskus  dan  Yerusalem  dan
Salib  Besar  (The  True  Cross) diambil, kemudian Heraklius
dapat mengalahkan Persia di Niniveh  (626).  Kisra  lari  ke
Ctesiphon  (Mada'in). Ia dipenjarakan oleh anaknya Kavadh II
(Syiruya)  dan  empat  hari  kemudian  dibunuh  (628)  dalam
penjara (A).
[2]  Dalam  buku  A  J.  Butler  The  Arab Conquest of Egypt
penulis itu menyebutkan bahwa nama panglima itu Khoriyam dan
bahwa  nama  Shahravaas atau Shahrabaraz atau Sheravizeh dan
lain-lain, yang terdapat dalam pelbagai buku hanyalah  suatu
perubahan  saja  dari  nama Persia, Shahar dan Wazar sebagai
suatu gelar yang berarti  "Babi  Hutan  Sang  Raja"  sebagai
lambang  kekuatan dan keberanian. Gambarnya dilukiskan dalam
cincin Persia Lama dan juga dalam cincin Armenia (Lihat  The
Arab Conquest of Egypt, p. 53)
[3]  Sebuah kota di Suriah, terletak 106 km. Selatan Damsyik
berbatasan dengan Yordania.  Dalam  sejarah  lama  kota  ini
dikenal  dengan  nama  Edrei.  Sekarang  dilcenal dengannama
Dar'a (A).
[4] Bushra atau Bostra, sebuah kota lama  di  Hauran,  barat
daya  Suria,  kira-kira  106 km dari Damsyik dan 35 km. dari
Adhri'at (A).
[5] Emile Dermenghem, La Vie de  Mahomet,  halaman  135  dan
berikutnya.
[6]  Az zamani, harfiah mengenai zaman, mengenai tempo, yang
secara termenologi  berarti  temporal.  Untuk  menghindarkan
adanya   perbedaan   semantik,  yang  juga  dapat  diartikan
"sementara, duniavii"  atau  "sekular"  maka  di  sini  saya
mempergunakan istilah secara harfiah (A).
[7]  Teosofi adalah suatu ajaran yang ditanamkan oleh Madame
Blavatsky dari  bermacam-macam  agama  terutama  Buddha  dan
Brahma.  Ajaran  ini mendirikan sebuah organisasi di Amerika
dipimpin  oleh  Madame  Blavatsky   sendiri,   bernama   The
Theosophical   Society,  dan  cabang-cabangnya  tersebar  di
beberapa tempat di Eropa.  Tetapi  begitu  Madame  Blavatsky
meninggal,  organisasi  Teosofl  inipun  pecah menjadi tiga.
Aktifitasnya didasarkan kepada adanya kesatuan hidup  dengan
mengadakan  semacam  latihan  mistik  untuk mencapai Nirwana
menurut ajaran Buddha. Tingkat ini  dapat  dicapai  bilamana
dalam   latihannya   itu   orang   sudah  benar-benar  dapat
memisahkan ruh dari pengaruh hidup kebendaan. Apabila dengan
demikian  ruh sudah mencapai tempat yang suci, maka ruh yang
lebih tinggi dapat menghubunginya. Ajaran Teosofi menyerukan
persaudaraan   secara   menyeluruh,   tanpa  membeda-bedakan
bangsa, bahasa dan segala yang akan membatasi  manusia  dari
tujuan tersebut.
[8]  Buku  Muir  ini  terdiri dari dua edisi, aslinya dengan
judul The Life of Mahomet and the History of Islam (1858)  4
jilid. Kemudian diringkaskan oleh T.H. Weir dengan judul The
Life of Mohammad from Original Sources (1923) (A).
[9] A. Aulard pengarang Histoire Politique de la  Revolution
Francaise  mengkhususkan penulisan sejarah revolusi Perancis
untuk masa 15 tahun saja (1789 - 1804) dalam 4 jilid (A).
 
---------------------------------------------
S E J A R A H    H I D U P    M U H A M M A D
 
oleh MUHAMMAD HUSAIN HAEKAL
diterjemahkan dari bahasa Arab oleh Ali Audah
 
Penerbit PUSTAKA JAYA
Jln. Kramat II, No. 31 A, Jakarta Pusat
Cetakan Kelima, 1980
 
Seri PUSTAKA ISLAM No.1

Indeks Islam | Indeks Haekal | Indeks Artikel | Tentang Penulis
ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota

Please direct any suggestion to Media Team