Jami’ al-Bayan fi Ta’wil al-Qur’an

Abu Ja'far Muhammad bin Jarir ath-Thabari

Indeks Islam | Indeks Sufi | Indeks Artikel | Tentang Penulis


ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota

 

Sampul Depan

Imam Ibnu Jarir ath-Thabari: Bapak Sejarawan dan Mufassir Dunia Islam

1. Identitas dan Latar Belakang Kelahiran

Nama lengkap beliau adalah Abu Ja’far Muhammad bin Jarir bin Yazid bin Katsir bin Ghalib ath-Thabari al-Amuli. Di kalangan akademisi dan ulama, beliau lebih akrab disingkat dengan sebutan Imam Ath-Thabari atau Ibnu Jarir. Beliau dilahirkan pada akhir tahun 224 Hijriah (bertepatan dengan tahun 839 Masehi) di daerah Amul, sebuah kota yang terletak di wilayah Thabaristan (kini berada di Provinsi Mazandaran, wilayah utara Iran yang berbatasan dengan Laut Kaspia).

Thabaristan pada masa itu adalah salah satu pusat peradaban yang banyak melahirkan ilmuwan terkemuka. Ayah beliau, Jarir, adalah seorang yang sangat peduli terhadap pendidikan dan menangkap kecerdasan luar biasa pada diri putranya sejak usia dini. Dukungan finansial dan moral dari sang ayah menjadi modal utama bagi perjalanan intelektual Imam Ath-Thabari di kemudian hari.

2. Kecerdasan Fenomenal Sejak Usia Belia

Sejarah mencatat bahwa kecerdasan Imam Ath-Thabari jauh melampaui anak-anak seusianya. Dalam sebuah riwayat, beliau menceritakan tentang dirinya sendiri, "Aku telah hafal Al-Qur'an pada usia tujuh tahun, lalu aku diangkat menjadi imam shalat untuk masyarakat pada usia delapan tahun, dan aku mulai menulis (mencatat) hadis pada usia sembilan tahun." Kapasitas daya ingat yang luar biasa ini membuatnya mampu menyerap berbagai disiplin ilmu dengan sangat cepat. Menyadari potensi raksasa pada putranya, sang ayah kemudian memfasilitasi beliau untuk melakukan perjalanan panjang ke berbagai pusat peradaban Islam demi menuntut ilmu (rihlah fi thalab al-‘ilm).

3. Pengembaraan Intelektual (Rihlah)

Pada usia dua belas tahun, Imam Ath-Thabari mulai meninggalkan tanah kelahirannya untuk berkelana mencari guru-guru terbaik. Pada masa itu, mencari ilmu berarti harus berjalan kaki atau menunggang unta melintasi gurun dari satu kota ke kota lain demi mendengarkan satu riwayat hadis secara langsung.

Beliau pergi ke Kota Rayy (di Iran), lalu menuju ke pusat kekhalifahan Abbasiyah di Baghdad, Irak. Di Baghdad, beliau bermaksud untuk belajar langsung kepada Imam Ahmad bin Hanbal, namun sayangnya, ulama besar tersebut wafat sesaat sebelum kedatangan beliau. Tidak patah arang, beliau melanjutkan perjalanannya ke Bashrah, Kufah, dan negeri Syam (Suriah). Beliau juga menetap di Mesir selama beberapa tahun untuk mempelajari qira'at (ilmu tata cara membaca Al-Qur'an) dan mendalami ilmu fiqih langsung dari murid-murid Imam Asy-Syafi'i.

Penguasaan beliau tidak terbatas pada satu bidang. Beliau diakui sebagai pakar nomor wahid dalam bidang Tafsir, Hadis, Fiqih, Sejarah, hingga penguasaan sastra dan tata bahasa Arab kuno. Karena kedalaman ilmunya yang sangat luas, beliau bahkan sempat mendirikan mazhab fiqihnya sendiri yang dikenal dengan sebutan Mazhab Jariri, meskipun mazhab ini akhirnya pudar seiring berjalannya waktu karena tidak banyak murid yang meneruskannya secara sistematis.

4. Dedikasi Mutlak pada Ilmu Pengetahuan

Salah satu hal yang paling menonjol dari biografi Imam Ath-Thabari adalah dedikasinya yang seolah tanpa batas terhadap ilmu. Beliau memutuskan untuk tidak menikah (selibat) sepanjang hidupnya agar seluruh waktu, tenaga, dan pikirannya dapat dicurahkan seratus persen untuk membaca, meneliti, dan menulis kitab.

Kecintaannya pada ilmu juga membuatnya menghabiskan seluruh harta warisan dari ayahnya untuk membeli literatur dan membiayai perjalanan mencari ilmu, hingga beliau sempat hidup dalam keadaan yang sangat kekurangan sebelum akhirnya mendapatkan stabilitas di masa tuanya.

Sebuah fakta mencengangkan dicatat oleh muridnya, Abdullah bin Hamad al-Farghani. Setelah Imam Ath-Thabari wafat, para muridnya menghitung jumlah halaman dari seluruh kitab yang pernah beliau tulis dan membaginya dengan jumlah hari sejak beliau mencapai usia baligh (dewasa) hingga hari wafatnya. Hasilnya, ditemukan bahwa Imam Ath-Thabari secara konsisten menulis setidaknya 14 halaman setiap hari tanpa jeda selama puluhan tahun.

5. Dua Mahakarya yang Mengubah Dunia

Dari sekian banyak kitab yang beliau tulis, ada dua mahakarya monumental yang membuat nama beliau abadi hingga hari ini:

Tafsir Jami’ al-Bayan fi Ta’wil al-Qur’an (Tafsir Ath-Thabari):

Kitab ini diakui oleh seluruh ulama sebagai Ummu at-Tafasir (Induk dari Segala Tafsir). Kitab ini menjadi tafsir tertua yang sampai kepada umat Islam di masa kini dalam kondisi utuh. Keistimewaan tafsir ini terletak pada metodologinya yang mengumpulkan riwayat-riwayat (hadis, perkataan Sahabat, dan Tabi'in) lengkap dengan sanadnya, lalu disertai analisis kritis tentang tata bahasa Arab kuno, serta diakhiri dengan tarjih (kesimpulan beliau mengenai pendapat mana yang paling kuat). Tafsir-tafsir besar yang datang ratusan tahun setelahnya, seperti Tafsir Ibnu Katsir dan Tafsir Al-Qurthubi, menjadikan Tafsir Ath-Thabari sebagai rujukan utama mereka.

Tarikh al-Umam wa al-Muluk (Tarikh Ath-Thabari):

Ini adalah ensiklopedia sejarah dunia yang sangat komprehensif, dimulai dari penciptaan alam semesta, sejarah para nabi terdahulu, peradaban bangsa-bangsa kuno (seperti Romawi dan Persia), hingga sejarah Islam masa Nabi Muhammad SAW, Khulafaur Rasyidin, Bani Umayyah, dan Bani Abbasiyah hingga tahun 302 H. Kitab sejarah ini menjadi rujukan nomor satu bagi para sejarawan muslim maupun orientalis Barat dalam mengkaji peradaban Islam awal.

6. Akhir Hayat dan Pengakuan Para Ulama

Imam Ibnu Jarir ath-Thabari menghabiskan sisa hidupnya di Baghdad dengan mengajar dan menulis. Beliau wafat pada hari Ahad, bulan Syawal tahun 310 Hijriah (923 Masehi) pada usia 86 tahun. Jenazahnya dishalatkan oleh lautan manusia yang tak terhitung jumlahnya, sebagai bentuk penghormatan terakhir kepada sang raksasa ilmu.

Banyak ulama besar lintas zaman yang memberikan sanjungan luar biasa kepadanya. Imam An-Nawawi (penulis kitab Riyadhus Shalihin) menyatakan, "Umat Islam telah bersepakat bahwa belum ada seorang pun yang mampu menulis tafsir sekelas Tafsir Ath-Thabari." Sementara itu, Al-Hafizh Adz-Dzahabi, seorang kritikus sejarah terkemuka, menjulukinya sebagai "Seseorang yang paling cerdas pada masanya, yang mengumpulkan berbagai ilmu yang tidak mampu dikumpulkan oleh satu orang manusia pun di eranya."

Kini, lebih dari seribu tahun setelah kepergiannya, lembaran-lembaran karya Imam Ath-Thabari masih terus dicetak, dipelajari, dan menjadi pelita yang menerangi jalan bagi umat Islam di seluruh penjuru dunia untuk memahami agama dan sejarah mereka.

(sebelum, sesudah)


Jami’ al-Bayan fi Ta’wil al-Qur’an
oleh Abu Ja'far Muhammad bin Jarir ath-Thabari

Tim Tahqiq (Peneliti):
Ahmad Abdurraziq Al Bakri,
Muhammad Adil Muhammad,
Muhammad Abdul Lathif Khalaf, dan
Mahmud Mursi Abdul Hamid.

Berdasarkan naskah Syaikh Ahmad Muhammad Syakir dan Syaikh Mahmud Muhammad Syakir (dua ulama besar Mesir yang terkenal karena meneliti kitab ini).

Total Jilid: 1 sampai 26.
Isi Keseluruhan: Mencakup tafsir lengkap 30 juz Al-Qur'an, mulai dari Surah Al-Fatihah hingga An-Naas.

Website: Pustaka Azzam

Indeks Islam | Indeks Sufi | Indeks Artikel | Tentang Penulis
ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota

Please direct any suggestion to Media Team