Doa Sang Katak

oleh Anthony de Mello SJ

Indeks Islam | Indeks Sufi | Indeks Artikel | Tentang Penulis
ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota

 

SUNGAI DI GURUN
 
Bahan  dasar  dalam  mencapai  kebebasan:  penderitaan  yang
membawa kesadaran.
 
Seorang  pengembara  yang  tersesat  di  gurun  sudah  tidak
mempunyai harapan lagi untuk menemukan air. Ia berusaha naik
ke  bukit  yang  satu, kemudian yang lain dan yang lain lagi
dengan harapan dapat melihat aliran air. Ia terus melihat ke
mana-mana, namun tidak berhasil.
 
Ketika  ia  berjalan  maju  tertatih-tatih, kakinya terjerat
pada suatu semak kering. Ia  jatuh  ke  tanah.  Di  sana  ia
terbaring,  tanpa  tenaga untuk bangkit lagi tanpa keinginan
untuk meneruskan usahanya dan tanpa harapan akan dapat lepas
dari siksaan ini.
 
Ketika  ia  terbaring,  tanpa  ada  yang  menolong dan tanpa
harapan, tiba-tiba ia menjadi sadar akan  keheningan  gurun.
Di  setiap  penjuru  yang  ada  adalah  ketenangan  yang tak
terganggu  oleh  suara  sehalus  apa   pun.   Tiba-tiba   ia
mengangkat  kepalanya.  Ia  mendengar  sesuatu. Sesuatu yang
begitu lembut yang hanya dapat didengar  oleh  telinga  yang
sangat  tajam  dalam keheningan yang sangat dalam: suara air
yang mengalir.
 
Didorong oleh harapan bahwa suara itu muncul dalam  dirinya,
ia bangkit dan terus bergerak sampai ia tiba di suatu aliran
sungai yang airnya segar dan sejuk.
 
                     (DOA SANG KATAK 2, Anthony de Mello SJ,
                        Penerbit Kanisius, Cetakan 12, 1990)

Indeks Islam | Indeks Sufi | Indeks Artikel | Tentang Penulis
ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota

Please direct any suggestion to Media Team