Doa Sang Katak

oleh Anthony de Mello SJ

Indeks Islam | Indeks Sufi | Indeks Artikel | Tentang Penulis
ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota

 

HUKUM TENTANG BUAH-BUAHAN
 
Di negara tandus pohon itu jarang, dan buah sulit ditemukan.
Dikatakan,  bahwa  Tuhan  ingin  membuktikan bahwa ada cukup
bagi setiap orang. Maka Ia menampakkan diri  kepada  seluruh
nabi  dan  berkata: "Inilah perintahku kepada seluruh bangsa
sekarang dan untuk keturunan selanjutnya; tidak boleh  orang
makan  lebih dari satu buah sehari. Catatlah ini dalam Kitab
Suci. Barangsiapa melanggar hukum ini akan dianggap  berdosa
terhadap Allah dan terhadap umat manusia."
 
Hukum  ditaati  berabad-abad  sampai  para ilmuwan menemukan
sarana untuk mengubah tanah  tandus  menjadi  padang  hijau.
Tanah  itu  kaya  gandum  dan  segala  kebutuhan  hidup. Dan
pohon-pohon tertunduk berat kepada buah yang tidak  dipetik.
Tetapi  hukum  satu buah tetap diperintahkan oleh pemerintah
negara dan agama di Tanah itu.
 
Orang  yang  menunjuk  pada  dosa  melawan  perikemanusiaan,
karena  membiarkan buah membusuk di tanah, dipandang sebagai
seorang  penghojat  dan  musuh  hukum  moral.   Orang   yang
mempertahankan  kebijaksanaan  sabda  suci  Tuhan Allah, itu
dihinggapi roh kesombongan karena pikiran, kata  orang,  dan
kurang  mempunyai  jiwa  iman  dan  ketaatan  di  mana hanya
kenyataan bisa diperoleh.
 
Di gereja-gereja kerap disampaikan khotbah-khotbah, di  mana
mereka   yang  melanggar  hukum  digambarkan  sengsara  pada
akhirnya. Tidak pernah  disinggung-singgung  tentang  jumlah
sama,  yang  juga  sengsara  pada  akhirnya, meskipun mereka
setia menepati hukum atau tentang jumlah besar mereka,  yang
hidup sejahtera meskipun melanggarnya.
 
Tak  ada  yang  dapat diperbuat untuk mengubah hukum, karena
nabi yang menyatakan menerima itu  dari  Tuhan,  sudah  lama
meninggal.  Ia  mungkin  mempunyai keberanian dan rasa wajar
untuk mengubah hukum, karena keadaan sudah berubah, sebab ia
menganggap  sabda  Tuhan  bukan  sebagai  sesuatu yang harus
dihormati, melainkan harus dipakai demi  kesejahteraan  umat
manusia.
 
Akibatnya,  ada orang terang-terangan mencemoohkan hukum dan
Tuhan serta Agama. Ada lain yang melanggarnya diam-diam, dan
selalu  dengan  rasa  berbuat  salah.  Sebagian besar mereka
menaatinya secara ketat dan merasa dirinya suci hanya karena
mereka   berpegang  teguh  pada  kebiasaan  tanpa  arti  dan
ketinggalan zaman, yang takut mereka buang.
 
                   (DOA  SANG  KATAK 1, Anthony de Mello SJ,
                        Penerbit Kanisius, Cetakan 12, 1996)

Indeks Islam | Indeks Sufi | Indeks Artikel | Tentang Penulis
ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota

Please direct any suggestion to Media Team