Doa Sang Katak

oleh Anthony de Mello SJ

Indeks Islam | Indeks Sufi | Indeks Artikel | Tentang Penulis
ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota

 

MENARI TANPA KAKI
 
Pada  suatu  ketika,  di  sebuah  kamp tconsentrasi hiduplah
seorang tahanan, yang meskipun sudah dijatuhi  hukuman  mati
tetap  tidak  merasa  takut  dan merdeka. Pada suatu hari ia
tampak  berada  di  tengah-tengah  lapangan  penjara  sedang
bermain   gitar.   Sejumlah   besar   orang   berkumpul   di
sekelilingnya mendengarkan  alunan  musiknya  dan  di  bawah
pengaruh  musik  itu  mereka pun menjadi tidak merasa takut.
Ketika para pembesar penjara melihat  ini,  mereka  melarang
orang itu bermain gitar.
 
Akan  tetapi  hari  berikutnya,  orang  itu  kembali lagi di
tempat yang  sama,  bernyanyi  dan  memainkan  gitar  dengan
orang-orang  yang  jumiahnya  lebih besar lagi. Dengan marah
para penjaga menyeretnya dan memotong jari-jari tangannya.
 
Hari berikutnya ia kembali lagi, bernyanyi dan bermain musik
sedapat-dapatnya dengan jari-jarinya yang berdarah. Kali ini
orang-orang yang  datang  di  sekelilingnya  bersorak-sorai.
Para penjaga menyeretnya lagi dan membanting gitarnya sampai
hancur.
 
Pada hari berikutnya ia bernyanyi  dengan  segenap  hatinya.
Nyanyian yang sangat indah! Begitu merdu dan menyentuh hati!
Orang banyak menggabungkan diri dan selama mereka  bernyanyi
hati  mereka  menjadi begitu jernih seperti hatinya dan jiwa
mereka menjadi tak dapat ditaklukkan seperti  jiwanya.  Kali
ini  penjaga  begitu  marah  sehingga  mereka memotong lidah
orang itu.
 
Keheningan menyelimuti seluruh  penjara,  sesuatu  yang  tak
terkalahkan oleh maut.
 
Semua orang heran, ketika pada hari berikutnya ia kembali ke
tempat yang sama  sambil  berlenggang  dan  menari  diiringi
musik  yang tidak dapat didengar oleh orang lain kecuali dia
sendiri. Segera saja semua orang saling bergandengan tangan,
menari   di  sekitar  tubuhnya  yang  berdarah  dan  hancur,
sementara para penjaga berdiri terpaku penuh kekaguman.
 
Karir Sudha Chandran, seorang penari klasik India,  terhenti
ketika  berada  di puncak ketenarannya, karena kaki kanannya
harus dipotong. Sesudah ia terbiasa lagi dengan kaki tiruan,
ia kembali menari. Sangat mengherankan, ia kembali sampai ke
puncak  ketenarannya.  Ketika  ditanya  bagaimana  ia  dapat
melakukan hal itu, dengan sederhana ia menjawab, "Anda tidak
membutuhkan dua kaki untuk menari."
 
                     (DOA SANG KATAK 2, Anthony de Mello SJ,
                        Penerbit Kanisius, Cetakan 12, 1990)

Indeks Islam | Indeks Sufi | Indeks Artikel | Tentang Penulis
ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota

Please direct any suggestion to Media Team