Alkitab di Dunia Modern

oleh Professor James Barr

Indeks Kristiani | Indeks Artikel | Tentang Penulis
ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota

 

PASAL X. KATA DAN MAKNA, HURUF DAN ROH

I. PENAFSIRAN HARFIAH

Saya ingin mengakhiri penyelidikan kita ini dengan mempertimbangkan istilah-istilah "kalamiah" dan "harfiah," yang dipakai berhubungan dengan penafsiran Alkitab untuk mengerti pemakaian istilah-istilah ini kita harus mengulangi beberapa bahan-bahan yang sudah kita bicarakan. Ada beberapa faedah dalam pengulangan yang demikian: kita tertolong dalam mencapai ringkasan, kita mendapat penjelasan-penjelasan yang lebih lengkap, dan kita kembali akhirnya kepada istilah tradisional seperti "pengilhaman kalamiah," dan pada usaha menemui rumusan terbaik mengenai status Alkitab untuk masa kini.

Kita mulai dengan istilah "harfiah." Kata ini sering muncul dalam pembicaraan tentang pemakaian Alkitab, namun jarang dianalisa. Kalau kita menganalisanya, kita menyadari bahwa istilah "harfiah" dipakai dalam dua arti yang bertentangan, yang satu positif dan yang lain negatif.

1. "Harfiah" tidak identik dengan "fundamentalis,.'

a. Fundamentalisme lebih mementingkan ketak-mungkinan-salah daripada keharfiahan

Biasanya istilah ,'harfiah" ada kaitannya dengan fundamentalisme. Kalau dari kaum awam diminta definisi, apa artinya "fundamentalis," biasanya dia menjawab bahwa itulah orang yang menafsirkan Alkitab secara harfiah. Tetapi definisi yang demikian tidak begitu teliti, karena pokok perselisihan antara kaum fundamentalis dan orang non fundamentalis bukanlah tentang soal keharfiahan, melainkan tentang ketak-mungkinan-salah. Desakan pokok yang kedengaran dari kaum fundamentalis bukanlah supaya Alkitab ditafsirkan secara harfiah, melainkan supaya dia ditafsirkan sedemikian rupa, hingga tidak ada kesan tentang adanya kesalahan di dalamnya. Untuk menghindarkan kesan yang demikian, kaum fundamentalis bolak-balik antara tafsiran harfiah dan tafsiran non-harfiah, (simbolis, metaforis, dan sebagainya).

Sebagai contoh yang cukup terkenal: pendapat kaum konservatif masa kini tidak mengikuti suatu penafsiran harfiah tentang riwayat kejadian (penciptaan) dalam Kitab Kejadian. Penafsiran harfiah menerima bahwa dunia diciptakan dalam jangka waktu enam hari, (yaitu "hari" yang identik dengan hari-malam yang kita alami masa kini). Tetapi kaum konservatif modern biasanya menjelaskan bahwa keenam hari itu merupakan enam periode teologis; atau menurut rumusan lain, enam tahap perkembangan, bukan dalam proses penciptaan itu sendiri, melainkan dalam proses penyataan kebenaran penciptaan itu. Jadi kini hanya kaum fundamentalis yang ekstrim sekali yang mewajibkan penafsiran harfiah-betul tentang enam hari itu. Kebanyakan orang cenderung kepada tafsiran simbolis atau alegoris.

Sebabnya mengapa mereka cenderung ke situ memang jelas; yaitu karena suatu penafsiran yang betul-betul harfiah, sukar diterima oleh akal modern, sehingga timbul kesan bahwa Alkitab mengandung kesalahan. Demi menghindarkan kesan demikian, penafsir konservatif beralih kepada suatu penafsiran yang non-harfiah. Hanya dengan cara demikian dia dapat menyelamatkan konsep ketak-mungkinan salah Alkitab.

Nampak suatu kepekaan terhadap persoalan ini dalam teologia konservatif itu sendiri. Demikianlah D.M. Beegle30 dalam suatu review tentang-karangan Harrison, Introduction to the Old Testament:

"Suatu sebab-utama mengapa Harrison dapat menerima istilah 'ketak-mungkinan-salah' ialah bahwa dia memanfaatkan penafsiran simbolis, bilamana kesulitan-kesulitan timbul. Misalnya, angka-angka dalam Kitab Keluaran dan Kitab Bilangan tentang jumlah orang Israel yang keluar dari Mesir ditafsirkannya sebagai 'simbol-simbol kuasa, kemenangan, dan pentingnya kaum yang terlibat dalam peristiwa itu, sehingga angka-angka tersebut tidak usah diartikan secara harfiah, atau sebagai kesalahan yang tersisip dalam proses penurunalihan nats.'"

Pokok inilah persis yang saya tekankan dalam alinea di atas. Penafsiran konservatif memanglah biasanya harfiah, tetapi dalam batas-batas tertentu. Kalau kita sudah sampai kepada pokok di mana penafsiran harfiah akan menimbulkan kesan bahwa Alkitab "salah," maka dengan tiba-tiba si konservatif beralih kepada penafsiran yang non-harfiah. Dengan demikian jelaslah bahwa penafsiran harfiah tidak merupakan suatu ciri khas fundamentalisme yang universal. Sebaliknya, mereka yang mendesak bahwa Alkitab "tidak usah ditafsirkan secara harfiah" belum tentu jauh dari fundamentalisme.

b. Fundamentalisme melawan kritik-sumber-sumber Alkitabiah, yang berakar dalam pendekatan harfiah

Masih ada sebab lain yang jarang diperhatikan, mengapa penafsiran fundamentalis tidak selalu bersifat harfiah. Teknik pengritikan sumber-sumber Alkitab, yaitu teknik yang menganalisa sumber-sumber Y, E, D, dan P dalam Panca Jilid, tentulah sangat tidak disenangi oleh kaum fundamentalis. Namun metoda pengritikan sumber-sumber itu justru merupakan akibat dari pendekatan harfiah terhadap nats Alkitab. Oleh karena mereka menafsirkan nats secara harfiah, para pelopor metoda itu berhasil menerobos sistim harmonisasi dan alegorisasi yang tradisional, dan menelorkan hipotesa bahwa ada berbagai sumber di belakang kitab-kitab Alkitabiah yang kita kenal. Misalnya, jikalau kita membaca kitab Kejadian secara "harfiah," kita rnendapat kesan bahwa Ismael merupakan anak kecil waktu Hagar diusir dan rumah Abraham. Abraham meletakkan Ismael di atas bahu Hagar (Kejadian 21:14), dan kemudian waktu Hagar capek, dia membuang anak itu ke bawah semak-semak (21:15). Tetapi menurut Kejadian 17:25, Ismael sudah berumur 13 tahun sebelum Ishak lahir. Maka jikalau nats-nats ini diartikan secara harfiah, pembagian bahan-cerita atas sumber-sumber menjadi merupakan pemecahan persoalan yang wajar. Bahan silsilah dalam Kejadian 17 (yaitu sumber P) dikarang lepas dari riwayat Hagar itu, dan sebenarnya tidak cocok dengan riwayat tersebut. Dalam proses penyelidikan terdapat ratusan ketidak-cocokan yang demikian. Maka setelah dikait-kaitkan dengan sabar, selama periode yang cukup panjang, serta dihargai sebagai bahan yang patut diartikan secara harfiah, timbullah rekonstruksi berdasarkan metoda pengkritikan sumber itu. Demi menghindarkan pembagian atas sumber-sumber itu, penafsir-penafsir konservatif mengajukan penjelasan yang bersifat apologetik, dengan maksud mempertahankan kebenaran atau historisitas peristiwa yang diriwayatkan itu (atau lebih tepat, mencocokkan kedua unit-cerita itu menjadi satu riwayat yang harmonis). Maksud itu dicapainya dengan jalan mengabaikan konsekwensi-konsekwensi penafsiran harfiah. Metoda-tafsir Alkitab yang dipakai kaum fundamentalis terpaksa menggunakan apologetik harmonisasi itu sepanjang Alkitab, supaya ketidakcocokan-ketidakcocokan yang timbul karena kepelbagaian sumber, dapat ditutupi. Dan karena pengharmonisasian begitu menonjol dalam sistim tafsir fundamentalis, maka kepekaan teologisnya berkurang sekali. Jadi pendekatan harfiah tidak hanya merupakan ciri-khas fundamentalisme, melainkan juga termasuk sebagai faktor dalam pendekatan kritis-ilmiah. Fundamentalisme memberi tempat-utama bukan kepada pendekatan harfiah, melainkan kepada prinsip-prinsip ketidak-mungkinan-salah dan harmonisasi.

Singkatnya, ditekankannya arti harfiah tidaklah identik dengan fundamentalisme. Dalil ini membebaskan kita, sehingga kita boleh memikirkan secara terbuka apa isinya konsep penafsiran harfiah dan kalamiah itu.

2. Penafsiran harfiah yang langsung menyelidiki obyek-obyek yang disinggung dalam nats (Sudut A dalam segitiga)

Penggunaan istilah "harfiah" dapat dianalisa sebagai berikut. Biasanya pemakaian harfiah adalah termasuk pendekatan sudut A dalam segitiga kita. Itu berarti bahwa perhatian dipusatkan kepada eksistensi-eksistensi yang disinggung dalam nats. Mengartikan nats itu secara harfiah, berarti bahwa obyek yang disinggung dalam nats itu bereksistensi persis sebagaimana digambarkan menurut pengertian nats yang langsung. Ditekankannya eksistensi obyek nats, itulah yang dibayangkan, bila orang berkata bahwa kaum fundamentalis "membaca Alkitab secara harfiah." Jikalau dikatakan dalam nats bahwa Yesus berjalan di atas air, maka pastilah Dia berjalan di atas air juga. Jikalau nats mengatakan bahwa Metusalah hidup 969 tahun lamanya, maka pastilah dia hidup 969 tahun lamanya. Istilah-istilah seperti "berjalan di atas," "hidup selama," "air" dan "tahun" diberi arti yang identik dengan arti-kamus biasa.

a. "Harfiah" lawan "alegoris"

"Harfiah" dalam arti demikian dapat dikontraskan (dipertentangkan) dengan "alegoris." Alegori patutlah ditempatkan juga pada sudut A dalam segitiga kita. Tetapi perbedaan alegori, dibandingkan dengan pengertian harfiah, ialah bahwa dalam alegori obyek yang sebenarnya adalah berlainan dengan obyek yang langsung dikenal melalui bahasa nats itu; karena obyek yang sebenarnya hanya dapat dikenal melalui suatu proses-tidak-langsung, yaitu berdasarkan simbol-simbol dan tanda-tanda yang bersembunyi dalam bahasa nats. Sebagai contoh, Alkitab menceritakan bahwa Abraham keluar dari Urkasdim; mungkin si-penafsir mengartikannya demikian, bahwa sang jiwa berangkat dari dunia daging. Maka dengan demikian obyek yang disinggung dalam nats itu ialah keberangkatan jiwa. Pendekatan terhadap nats itu masih mengutamakan obyek atau eksistensi yang disinggung tetapi obyek yang ditemui melalui proses penafsiran, sudah berlainan. Bila nats yang ditafsirkan itu bersifat historis, maka hasil penafsiran harfiah dapat juga disebut makna-historis nats. Dalam contoh tentang keberangkatan Abraham itu, kebanyakan kita masa kini akan menganggap bahwa pengertian harfiah dan historis itulah yang benar. Maka ditekankannya arti harfiah dan historis, sebagai tafsiran yang utama dalam ayat-ayat seperti ini, telah sangat memberi pengaruh ke arah membebaskan bahan Alkitab dari belenggu-belenggu tafsiran alegoris. Fakta ini sering dilupakan atau diabaikan oleh mereka yang mendesak bahwa kita "tidak boleh mengartikan Alkitab secara harfiah."

Namun dapat dikatakan bahwa alegori seperti contoh yang dikutip di atas ini hampir tidak laku lagi di gereja. Yang lebih sering ditemui pada masa kini ialah suatu penafsiran yang memang terarah kepada obyek yang disinggung nats, namun pengertiannya tentang kebereksistensian obyek itu samar dan kabur. Diakui misalnya bahwa ada obyek di belakang cerita seperti kenaikan atau kebangkitan Tuhan Yesus, -- eksistensi-eksistensi dan peristiwa-peristiwa yang real. Diakui pula bahwa eksistensi-eksistensi tersebut merupakan makna-dasar dan nilai cerita-cerita itu. Tetapi dirasakan juga bahwa obyek itu tidak persis sama seperti kesan yang diperoleh dari pengartian bahasa-nats itu secara langsung. Ada unsur kesamaan, tetapi ada juga unsur perbedaan; dan letaknya kesamaan dan perbedaan tersebut adalah agak kabur. Bandingkan tafsiran harfiah, yang menuntut suatu kesejajaran yang nyata, antara bahasa yang dipakai dalam laporan-laporan Alkitabiah dan eksistensi atau peristiwa yang dilaporkan.

b. "Harfiah" berarti "mendetail"

Suatu bentuk-variasi persoalan ini ialah ketegangan antara tafsiran yang lebih mendetail dan tafsiran yang lebih bersifat umum. Kita ambil contoh sekali lagi dari riwayat penciptaan: Pengartian cerita secara "harfiah," pada kenyataannya sering merupakan pengartian yang mendetail; yaitu tiap-tiap tahap dalam proses kejadian dunia, tiap-tiap hari beserta karya-karya yang berlangsung pada hari itu dianggap masing-masing sebagai obyek tersendiri, yang terjadi persis seperti urutannya dalam cerita Alkitabiah tersebut. Sedangkan penafsiran yang lebih bersifat umum beranggapan bahwa cerita penciptaan itu berfungsi secara keseluruhan, serta menguraikan proses penjadian dunia secara menyeluruh. Detail-detail yang nampak dalam cerita dianggap hanya perhiasan-perhiasan kesusasteraan yang bertujuan menguatkan kesan umum, yaitu bahwa pencipta dunia ialah Allah.

Persoalan yang agak sama timbul juga dalam penafsiran perumpamaan-perumpamaan dalam kitab Injil. Sebagai contoh kita ambil cerita tentang orang Samaria yang murah hati. Apakah cerita itu secara keseluruhan menyinggung satu obyek saja; ataukah tiap-tiap detail, termasuk keledai, penjaga penginapan, uang yang dibayarkan kepadanya, masing-masing mempunyai obyeknya sendiri?

Masih ada dua pokok yang patut ditambahkan di sini:

c. Dua catatan tambahan

i. Alegori juga sering terikat kepada detail-detail nats

Istilah-istilah "harfiah" dan "alegoris" dapat dikontraskan, dan sepatutnya demikian. Tetapi penafsiran alegoris sering berjalan sejajar dengan perhatian kepada seluk-beluk bentuk-kalamiah nats. Dari detail-detail nats itulah terdapat kunci-kunci untuk pengertian alegoris; sehingga pengalegorisasian sering dipraktekkan oleh para penafsir yang cenderung kepada doktrin "keilhaman kalamiah."

ii. Alasan-alasan memilih pendekatan harfiah atau non-harfiah

Ada macam-macam sebab, mengapa orang memilih penafsiran harfiah, dibandingkan dengan yang non-harfiah. Misalnya:

iia. Kepekaan terhadap pentingnya sejarah: sungguh berarti bahwa Abraham berangkat dari Ur, secara fisik.

iib. Persoalan-persoalan dalam bidang apologetik: keberatan bahwa sebenarnya manusia tak sanggup berjalan di atas air.

iic. Persoalan-persoalan teologis-moral: tak mungkin Allah melakukan apa yang dilaporkan menurut arti-harfiah nats itu; sehingga perlu kita cari suatu penjelasan yang bersifat non-harfiah. Argumen yang demikian itu sering ditemukan dalam karangan ahli-ahli alegori, seperti Origenes.

iid. Kepekaan terhadap faktor-faktor hukumiah-etis: Allah tidak be. gitu saja memerintahkan manusia mengerjakan sesuatu. Melainkan perintah Allah itu merupakan tanda dari maksud Allah yang lebih mendalam, yaitu maksudNya untuk mendidik serta membangun.

3. Pendekatan harfiah, bila Alkitab dianggap naskah-teologia kesusasteraan (Sudut B dan C dalam segitiga)

Jadi kita melihat bahwa pada taraf pencarian obyek nats itu pun, pengertian dan penilaian istilah "harfiah" adalah sangat kompleks. Tetapi kalau kita beralih kepada penyelidikan sudut B (yaitu, maksud pengarang), dan sudut C pada segitiga kita (yaitu, nats sebagai dokumen kesusasteraan) muncullah suatu seri perbedaan yang baru.

a. Bentuk-harfiah nats membuka pengertian tentang latar belakang atau pemikiran pengarang

Dalam menyelidiki pemikiran, maksud, dan teologia pengarang Alkitab, (sebagaimana kita catat di atas) kita menggunakan cara tersendiri. Dalam pendekatan itu, bentuk-kalamiah nats dipakai sebagai bahan bukti untuk merekonstruksi pemikiran dan keadaan hidup para pengarang dan para penyusun tradisi. Pertimbangan-pertimbangan yang mungkin sah kalau dipakai dalam pendekatan A (yang mencari obyek di belakang nats itu), sering terbalik atau bahkan menjadi irelevan dalam pendekatan sudut B. Persoalan-pokok pada sudut B bukanlah soal, apakah Yesus berjalan di atas air, melainkan: mengapa tradisi menggambarkan Yesus berjalan di atas air itu? Persoalan-pokok bukanlah apakah Metusalah hidup 969 tahun lamanya, melainkan: mengapa pengarang kitab Kejadian begitu tertarik kepada pribadi Metusalah, dan mengapa dia mencatat bahwa umurnya waktu meninggal adalah 969 tahun? (Atau, detail yang lain: mengapa naskah Ibrani-Samaritan mencatat umur Metusalah sebagai 720 tahun?). Persoalan-pokok bukanlah soal, apakah Yesus naik ke Sorga, melainkan peranan kenaikan itu dalam teologia pengarang yang menyinggungnya.

b. Ditekankannya "pemikiran pengarang" meningkatkan peranan detail-detail nats

Kalau kita mendekati nats dari segi itu, kita segera sadar bahwa bentuk-kalamiah nats nampak penting sekali. Kita melihat tadi bahwa memang sebagai sumber keterangan tentang obyek yang disinggungnya, bentuk kalamiah itu jauh lebih penting dari yang biasanya diduga; misalnya dalam membela pendekatan historis dan mencegah pendekatan alegoris terhadap nats, pula dalam mengusahakan rekonstruksi kritis-historis. Tetapi di sudut B pada segitiga kita, (penyelidikan terhadap maksud pengarang), ditekankannya bentuk-kalamiah nats adalah lebih penting lagi. Misalnya, pengarang kitab Kejadian agaknya mengikuti pola tertentu dalam memakai kata-kerja "menciptakan," (bara) dan "membuat" ('asah) secara berganti-ganti; Dia sengaja menyusun skema riwayat penciptaan dalam satu minggu yang memuncak pada hari Sabat, dan mengatur detail-detail tiap-tiap hari penciptaan dengan sengaja; Dia begitu menaruh perhatian kepada umur Metusalah, sehingga memberikan keterangan yang mendetail: Maka dalam semuanya ini si pengarang pastilah mempunyai maksud tertentu; dan maksud itu pastilah merupakan bagian integral dari teologianya, (bahkan suatu unsur yang berakar dalam tabiatnya sebagai pengarang). Maka bolehlah kita yakin juga bahwa detail-detail itu merupakan kunci-kunci yang satu-satunya yang dapat membukakan teologianya (dan tabiatnya sebagai pengarang) untuk kita.

Fakta inilah yang merupakan sebab-utama, mengapa para ahli Alkitab begitu menaruh perhatian kepada detail-detail bahasa Alkitab. Misalnya mereka menggali-gali tatabahasa IbNrani dan Yunani, menyusun konkordansi-konkordansi dan kamus-kamus, mengarang monograf-monograf yang mendiskusikan panjang-lebar pola-pola persejajaran dan struktur puisi, mengadakan perhitungan frekwensi kata-kata, dan sebagainya. Segala kesibukan itu berdasarkan prinsip bahwa bahan bukti-kalamiah itu membuka jalan yang mengantar kepada pengertian pemikiran pengarang.

c. Detail-detail meny§nggung pemikiran pengarang secara langsung, dan menyinggung obyek nats secara tidak-langsung

Kembali kita kepada contoh riwayat penciptaan itu. Dari bahan riwayat penciptaan itu timbul sedikit-dikitnya dua persoalan yang berbeda. Persoalan pertama ialah: apa yang dapat kita proklamasikan tentang terjadinya dunia? (yaitu segi-segi keterangan yang dapat kita berikan). Sedangkan soal kedua ialah: apakah maksud-teologis pengarang kitab Kejadian? Kalau kita mau menyelidiki soal kedua itu dengan seksama, kita harus menaruh perhatian kepada berbagai faktor yang tidak mutlak perlu dibahas berkenaan dengan soal pertama. Misalnya, kita harus memperhatikan betul-betul skema enam hari itu. Karena jelas bahwa skema tersebut memainkan peranan yang penting sekali dalam maksud pengarang. Tetapi memberi perhatian demikian itu belumlah tentu berarti bahwa kita yakin akan terjadinya (di dunia, atau di sejarah ekstern) peristiwa-peristiwa atau proses secara obyektif persis seperti dalam skema itu. Dengan perkataan lain, ada banyak hal dalam Alkitab yang perlu sekali sebagai bahan tafsir, namun tidak biasa dianggap sebagai eksistensi atau peristiwa ekstern obyektif. Bahkan pada masa kini, pemikiran kita biasanya tidak bertolak dari nats Alkitab langsung menuju obyek-obyek yang disebut dalam nats; melainkan kita melangkah dari nats Alkitab kepada faktor-faktor teologis yang menjadi perhatian para pengarang. Barulah dari itu, secara tidak langsung, kita mendekati eksistensi-eksistensi obyektif yang disinggung dalam nats itu. Jadi, pola penafsiran modern jarang (atau bahkan tidak pernah) merupakan hubungan langsung antara nats dengan eksistensi-eksistensi yang disinggung di dalamnya.

4. Masalah pokok bukanlah "penafsiran harfiah" melainkan "penafsiran yang mendetail"

Maka dalam rangka pola penafsiran modern, ide bahwa kita tidak usah "menanggapi Alkitab secara harfiah" menjadi anjuran yang anakronistis. Dalam konteks modern, anjuran tersebut termasuk pemikiran fundamentalis-harfiah. Orang yang berkata "kita tidak menafsirkan Alkitab secara harfiah" biasanya memaksudkan bahwa Alkitab memang memberi keterangan-l;eterangan yang tepat, cuma keterangan itu hanya dapat ditemukan kalau bahasa Alkitab diartikan secara tidak langsung. Tetapi rumusan yang lebih tepat mungkin sbb.: pengertian kita tentang maksud pengarang Alkitab adalah bergantung kepada detail-detail bahasa natsnya itu. Tetapi soal keyakinan kita pribadi merupakan pokok tersendiri, yang menuntut suatu rentetan pertimbangan yang lebih kompleks lagi.

Ringkasnya: penafsiran harfiah terhadap nats tidak menyangkut sikap kolot, melainkan malah makin diperlukan oleh penyelidikan modern. Karena penafsiran modern sangat menaruh perhatian kepada maksud dan teologia pengarang-pengarang Alkitab, dan kepada tradisi yang menjadi latar belakangnya (sudut B dalam segitiga kita). Di fihak lain, perhatian modern juga ditujukan kepada bentuk-bentuk, pola-pola, dan simbol-simbol yang terkandung dalam nats (sudut C dari segitiga kita). Maka kedua-dua pendekatan tersebut mementingkan penyelidikan dan pemeriksaan seksama terhadap bentuk-linguistik nats itu. Jadi persoalan-pokok ialah perbedaan antara penafsiran nats Alkitab yang bersifat umum dan yang bersifat mendetail. Saya sendiri dengan segaja memihak kepada penafsiran yang mendetail itu. Sebagaimana kita sebutkan dalam argumentasi di atas, keberatan-keberatan tentang penafsiran harfiah dapat dibenarkan kalau dibatasi kepada bahan-bahan sudut A dalam segitiga kita, (yaitu penyelidikan terhadap unsur keterangan obyektif dalam nats). Akan tetapi kalau keberatan-keberatan tersebut dikenakan kepada penafsiran modern, akibatnya ialah semacam penafsiran yang bersifat umum. Detail-detail dalam nats digeser sebagai bahan-bahan yang tidak penting, dan diganti dengan rumusan-rumusan umum tentang makna nats secara keseluruhan. Dikatakan misalnya, bahwa "secara keseluruhan" nats itu berarti demikian; atau "pada prinsipnya" perikop tersebut mengandung satu pokok saja. Kita biasa mendengar penafsiran yang berbau umum itu dalam khotbah-khotbah.

a. Keuntungan-keuntungan dalam penafsiran yang mendetail

Faktor-faktor yang mendorong saya memihak kepada penafsiran yang mendetail ialah sebagai berikut:

i. Ciri-ciri tiap pengarang mendapat perhatian

Argumen kita sepanjang buku ini telah menekankan betapa pentingnya perbedaan-perbedaan pengarang yang satu dengan pengarang yang lain, antara tradisi yang satu dengan tradisi yang lain dalam Alkitab. Perbedaan-perbedaan itulah yang menampakkan warna-khas dan keanekaragaman bahan-bahan Alkitab. Peristiwa yang satu diceritakan oleh Matius, Markus, dan Lukas dengan perbedaan-perbedaan pengalimatan yang cuma sedikit; namun perbedaan-perbedaan yang kecil itu menjadi tanda bahwa peristiwa tersebut dipakai oleh masing-masing penginjil dalam rangka teologia yang unik.

ii. Kemajemukan lapis-tradisi mendapat perhatian

Tiap-tiap perikop yang mengandung beberapa lapis tradisi dapat ditafsirkan dengan cara-cara yang berbeda-beda, menurut taraf tradisi yang manakah yang kita soroti. Bahan yang berlapis-lapis itu begitu kaya isinya, sehingga sulit sekali diuraikan dengan rumusan-rumusan yang bersifat umum saja.

iii. Keanekaragaman bahan Alkitab menjadi sumber makanan rohani

Keaneka-ragaman bahan Alkitabiah ini merupakan sumber makanan rohani untuk gereja, yang tak akan habis-habisnya. Tentulah rumusan-rumusan teologis yang lebih teliti dapat disusun, tetapi rumusan-rumusan tersebut tidak dapat menggeser Alkitab dari fungsinya dalam ibadat.

iv. Kesimpulan-kesimpulan umum sepatutnyalah berdasarkan pembahasan detail-detail

Saya tidak menganjurkan supaya rumusan-rumusan umum tentang Alkitab (atau tentang bagian-bagian Alkitab) dilarang. Karena rumusan-rumusan umum itu memang penting tetapi hanya berfaedah kalau didasarkan atas suatu peninjauan-baru tentang ciri-ciri-mendetail nats. Kesan-kesan umum tentang arti perikop-perikop tertentu yang diturun-alihkan turun-temurun, menghalangi usaha untuk sungguh-sungguh mencari makna-nats yang sebenarnya.

v. Pembedaan detail yang bermakna dan detail yang kurang

Barangkali diajukan keberatan bahwa ditekankannya detail-detail nats membuka pintu untuk suatu sikap kefanatikan terhadap detail-detail yang tidak bermakna. Sebenarnya tidaklah demikian. Maksud saya bukanlah bahwa tiap-tiap detail pasti bermakna secara teologis. Tentulah ada detail yang bersifat kebetulan saja. Tetapi kefanatikan tersebut timbul bukan karena perhatian terhadap detail-detail nats melainkan karena detail-detail tersebut tidak ditempatkan dalam kerangkaian yang tepat atau karena tanpa pikir tiap-tiap detail diberi makna yang seimbang. Pembedaan antara detail yang bermakna dengan detail yang tidak bermakna itu tidak tercapai dengan menyusun suatu penggambaran yang umum saja, melainkan dengan meningkatkan keahlian dan pengalaman dalam menangani detail-detail itu.

Soal ini mengantar kita kepada dua pokok teologis yang penting, yang sebenarnya merupakan pusat persoalan kita.

b. Alkitab tidak mengutarakan

Kecenderungan kepada penafsiran yang bersifat umum itu termasuk kepada cara pemikiran yang selalu berusaha merumuskan prinsip-prinsip teologis dan moral yang bersifat universal. Akan tetapi apresiasi modern terhadap Alkitab dengan tepat menekankan bahwa pola pemikiran dan penguraian yang dipakai Alkitab adalah jarang sesuai dengan rumusan-rumusan yang universal itu.

c. Pembahasan prinsip: "Huruf mematikan, roh menghidupkan"

Dapat diajukan keberatan yang mergutip bahasa Rasul Paulus berikut: "Rumusan harfiah mematikan, tetapi roh menghidupkan" (TB mengambil: hukum yang tertulis mematikan, tetapi Roh menghidupkan), (2 Kor. 3:6). Tetapi perkataan itu sama sekali tidak berarti bahwa Paulus menolak bentuk-kalamiah nats, dan memilih rumusan-rumusan-makna yang bersifat umum dan universal. Yang dibicarakan Paulus dalam nats itu bukanlah perbedaan antara penafsiran harfiah dan non-harfiah, atau berbedaan antara penafsiran yang mendetail dan yang umum. Yang dia bicarakan ialah kontras antara cara-bekerjanya hukum Tora dan cara-kerjanya Roh. Memang ada tradisi yang menafsirkan kalimat Rasul Paulus ini sebagai mandat untuk mengenakan berbagai macam penafsiran rohani kepada nats Alkitab. Tetapi pengertian yang demikian adalah salah. Sekiranya Paulus benar-benar bermaksud membicarakan kontras antara penafsiran harfiah dan non-harfiah, pastilah dia memilih rumusan:- "bentuk-harfiah itu menghidupkan." Menurut hemat saya, "bentuk-kalamiah" Alkitab tidak dapat dikontraskan dengan "makna" Alkitab, melainkan justru merupakan penunjuk-makna nats tersebut. Atau rumusan yang lebih bersifat teologis: "bentuk kalamiah itu tidak bertentangan dengan Roh; karena Roh merupakan kehadiran Allah sendiri yang menyertai proses pembacaan Alkitab. Itu berarti bahwa bentuk harfiah pastilah sesuai dengan maksud Roh itu."

Berdasarkan semua pertimbangan bahwa rumusan-rumusan tentang bentuk-kalamiah atau bentuk-linguistik Alkitab, dapat merupakan rumusan-rumusan teologis yang sah tentang status Alkitab. Bentuk linguistik itu tidak bertentangan "makna Alkitab yang sebenarnya," tersebut. Bentuk-kalamiah menjadi ukuran yang dapat mengukur tepat-tidaknya segala penafsiran yang berusaha merumuskan makna itu. Prinsip-dasar dalam menafsirkan Alkitab ialah: mengapa bahan itu dirumuskan dalam bentuk ini dan bukan dalam bentuk lain? Bentuk-linguistik tidaklah merupakan suatu tumpukan simbol-simbol yang mati yang harus disulap-sulapi, barulah menghasilkan suatu makna, justru bentuk-linguistik itu adalah penguraian makna.

d. Kesimpulan: "rumusan-kalamiah" tidak bertentangan dengan "makna"

Jadi ada tepatnya juga ahli-ahli teologia dulu berbicara tentang "keilhaman kalamiah," -- meskipun cara pemikiran kita telah mengarah ke arah lain dari pada pemikiran mereka. Istilah "keilhaman kalamiah" sering dipakai dahulu, bahwa seolah-olah tiap-tiap kata langsung didiktekan oleh Allah atau bahwa tiap-tiap kalimat adalah sempurna dan bebas dari kesalahan dalam tiap-tiap detailnya. Cara pemikiran kita masa kini adalah jauh dari pada itu. Tetapi justru karena kita sudah menjauh dari pengertian itu, kita tidak usah segan-segan lagi berbicara tentang bentuk-kalamiah Alkitab, bila kita membicarakan status Alkitab sebagai keseluruhan. Dalam mencari suatu rumusan yang dapat menjelaskan status Alkitab dengan tepat, kita tidak usah kawatir lagi, kalau-kalau kata "kalamiah" itu menyesatkan, atau menimbulkan kesalah-pahaman. Dulu memang ada usaha mengganti kata "kalamiah" dengan konsep-konsep seperti "keilhaman penuh" (plenary inspiration), "pengilhaman ide-ide," "pengilhaman para pengarang Alkitab," "pengilhaman teologia-inti," dan sebagainya. Tetapi usaha demikian tidak perlu lagi. Para pengarang Alkitab, atau ide-ide dan teologia-inti yang terkandung di dalam Alkitab sebenarnyalahn hanya dapat diketahui dari bentuk-kalamiah Alkitab itu. Sebagaimana halnya dengan karangan-karangan kesusasteraan yang lain, bentuk-kalamiah merupakan wadah untuk menyampaikan makna. Sekiranya bentuk-kalamiah Alkitab itu lain, pastilah maknanya lain juga.

(sebelum, sesudah)


Alkitab di Dunia Modern (The Bible in the Modern World) Prof. James Barr Terjemahan Dr. I.J. Cairns BPK/8331086/7 Penerbit BPK Gunung Mulia, 1979 Kwitang 22, Jakarta Pusat  

Indeks Kristiani | Indeks Artikel | Tentang Penulis
ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota

Please direct any suggestion to Media Team