17. LONCENG-LONCENG KUIL
Sebuah kuil dibangun di suatu pulau, tiga kilometer
jauhnya dari pantai. Dalam kuil itu terdapat seribu lonceng.
Lonceng-lonceng yang besar, lonceng-lonceng yang kecil,
semuanya dibuat oleh pengrajin-pengrajin terbaik di dunia.
Setiap kali angin bertiup atau taufan menderu, semua lonceng
kuil serentak berbunyi dan secara terpadu membangun sebuah
simponi. Hati setiap orang yang mendengarkannya
terpesona.
Tetapi selama berabad-abad pulau itu tenggelam di dalam
laut; demikian juga kuil bersama dengan
lonceng-loncengNya.
Menurut cerita turun-temurun lonceng-lonceng itu masih
terus berbunyi, tanpa henti, dan dapat didengar oleh setiap
orang yang mendengarkannya dengan penuh perhatian. Tergerak
oleh cerita ini, seorang pemuda menempuh perjalanan sejauh
beribu-ribu kilometer. Tekadnya telah bulat untuk
mendengarkan bunyi lonceng-lonceng itu. Berhari-hari ia
duduk di pantai, berhadapan dengan tempat di mana kuil itu
pernah berdiri, dan mendengarkan, mendengarkan dengan penuh
perhatian. Tetapi yang didengarnya hanyalah suara gelombang
laut yang memecah di tepi pantai. Ia berusaha mati-matian
untuk menyisihkan suara gelombang itu supaya dapat mendengar
bunyi lonceng. Namun sia-sia. Suara laut rupanya memenuhi
alam raya.
Ia bertahan sampai berminggu-minggu. Ketika semangatnya
mengendor, ia mendengarkan orang tua-tua di kampung. Dengan
terharu mereka menceritakan kisah seribu lonceng dan kisah
tentang mereka yang telah mendengarnya. Dengan demikian ia
semakin yakin bahwa kisah itu memang benar. Dan semangatnya
berkobar lagi, apabila mendengar kata-kata mereka ... tetapi
kemudian ia kecewa lagi, kalau usahanya selama
berminggu-minggu ternyata tidak menghasilkan apa-apa.
Akhirnya ia memutuskan untuk mengakhiri usahanya.
Barangkali ia tidak ditakdirkan menjadi salah seorang yang
beruntung dapat mendengar bunyi lonceng-lonceng kuil itu.
Mungkin juga legenda itu hanya omong kosong saja. Lebih baik
pulang saja dan mengakui kegagalan, demikian pikirnya. Pada
hari terakhir ia duduk di pantai pada tempat yang paling
disayanginya. Ia berpamitan kepada laut, langit, angin serta
pohon-pohon kelapa. Ia berbaring di atas pasir, memandang
langit, mendengarkan suara laut. Pada hari itu ia tidak
berusaha menutup telinganya terhadap suara laut, melainkan
menyerahkan dirinya sendiri kepadanya. Dan ia pun menemukan
suara yang lembut dan menyegarkan di dalam gelora gelombang
laut. Segera ia begitu tenggelam dalam suara itu, sehingga
ia hampir tidak menyadari dirinya lagi. Begitu dalam
keheningan yang ditimbulkan suara gelombang dalam
hatinya.
Di dasar keheningan itu, ia mendengarnya! Dentang bunyi
satu lonceng disambut oleh yang lain, oleh yang lain lagi
dan oleh yang lain lagi ... dan akhirnya seribu lonceng dari
kuil itu berdentangan dengan satu melodi yang agung berpadu.
Dalam hatinya meluap rasa kagum dan gembira.
Jika engkau ingin mendengar lonceng-lonceng kuil,
dengarkanlah suara laut.
Jika engkau ingin melihat Tuhan, pandanglah ciptaan
dengan penuh perhatian. Jangan menolaknya, jangan
memikirkannya.Pandanglah saja.
(Burung Berkicau, Anthony de Mello SJ,
Yayasan Cipta Loka Caraka, Cetakan 7, 1994)
|