Kang Sejo Melihat Tuhan

oleh Mohammad Sobary

Indeks Islam | Indeks Sufi | Indeks Artikel | Tentang Penulis
ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota

 

SAYA CUMA KAMINO
 
     salat keno, ora yo keno
     pokoke mbela Bung Karno
     salat keno, ora yo keno
     sing penting mbelo Bung Karno.
 
    (Salat boleh, tidak pun tak soal,
     yang penting membela Bung Karno.)
 
Di tahun 1960-an, salawat  Badar  yang  dikorup  ini  pernah
populer,  termasuk  di  Bantul.  Ini  "ular"  berkepala dua:
kultus pada Bung  Karno  dan  ejekan  buat  kekuatan  Islam.
Terutama,  tentu  saja, NU yang dianggap pemilik asli "lagu"
ini.
 
Bukan karena "pembajakan" lagu itu bila di ujung  desa  sana
lalu terjadi duel antara Pemuda Ansor dan Pemuda Rakyat atau
Marhaen. Saling ejek dan benturan fisik, sebagai  akibatnya,
merupakan  kelaziman  waktu  itu.  Dan  biarpun pahit, malah
harus diakui bahwa semua itu berfungsi sebagai  gladi  resik
buat  menyambut  "Bharatayudha"  yang kelak meletus di tahun
1965.
 
Berita pemuda berjaket merah atau hitam  roboh  oleh  pemuda
"kita"  yang  bersabuk  jimat dari kiai di tahun 1960-an itu
bisa membangkitkan semangat "juang" dan kentalnya  fanatisme
ideologi   buat  orang  desa  yang  tak  tahu  arti  politik
sekalipun. Sekurangnya jadi semacam  penegasan  akan  betapa
benarnya pilihan ideologi yang kita ambil.
 
Coretan  di  tembok-tembok  rumah,  di pagar-pagar, dan juga
pada jembatan di ujung  desa  merupakan  variasi  lain  dari
benturan  ideologi  waktu  itu.  Bila  kita dapati pagi hari
tulisan "Marhaen Menang" atau  "Hidup  PKI",  esoknya  pasti
sudah  dijawab:  "Islam  Jaya" atau "Ganyang PKI". Tapi bila
yang kita temui  hanya  "salawat":  "Hidup  Bung  Karno  PBR
kita",  atau  "Hidup  Ganefo",  dus  netral,  semua kekuatan
politik yang ada di desa ayem saja.
 
Dengan mata seorang bocah yang belum  lagi  tamat  SD,  saya
menyaksikan  suasana diam yang tegang. Guru-guru saya, pihak
Muhammadiyah yang mengharamkan segala jimat  itu,  diam-diam
juga  pergi  ke  kiai  minta  "diisi"  kadigdayan kanuragan.
Doktrin pokok: "Mintalah langsung kepada Allah, jangan lewat
perantara",  pernah  tak  berlaku.  Perbedaan  paham  antara
Muhammadiyah dan NU dalam soal jimat, usali, witir,  tarwih,
doa  talkin  praktis  terlupakan  selama  menghadapi  common
enemy.
 
Rapat raksasa pun disimak. Tiap  orang  lalu  peka  terhadap
perbedaan  warna  jaket.  Dan  tiap-tiap  "yang  bukan kita"
dicurigai. Tak peduli bahwa itu menyangkut tetangga sebelah.
 
Pemuda, atau bocah yang "tak sabar" menunggu  dewasa,  ingin
tampil  heroik.  Begitu  juga  Kang Kamino. Anak mbah Wongso
Dadung yang buta huruf  ini  pun  tak  mau  ketinggalan.  Ia
terpesona  oleh  palu  arit: lambang PKI, yang adalah barang
kongkret buat orang macam  dia.  Harus  diakui  memang,  PKI
tangkas  merumuskan  ide-ide  abstrak  ke  dalam bahasa Kang
Kamino. Bermula dari gurauan bahwa "wong  tani"  pegangannya
harus  palu  dan  arit,  dan bukan Lintang Rembulan (bintang
bulan, Masyumi) atau gambar Jagat Lintang Sanga (bola  dunia
berbintang  sembilan, NU) karena petani bekerja dengan arit,
ia berubah makin sinis pada Islam akibat  "pergaulan  bebas"
dengan PKI.
 
Setelah  makin  aktif  menghadiri  rapat  dan  main ketoprak
(Lekra), ia ganti nama menjadi Kaminonov. Edan.  Selanjutnya
blak-blakan  ia  membuka diri sebagai kaum salat keno ora yo
keno. Ia juga jadi  terampil  mengejek  lawan  sebagai  kaum
nggoiril (dari kata ghairil ... dalam surat Al Fatihah).
 
Kami  pun  "mengintip".  Kang  Kaminonov  jarang  di  rumah,
akhirnya.  Kalau  pulang  selalu  bersama  empat  atau  lima
kamerad  lain.  Anak mbah Wongso Dadung ini sudah jadi orang
penting rupanya.  Konon,  pernah  suatu  hari  ia  kedapatan
bicara tentang pembagian sawah dan rencana aksi sepihak.
 
Tapi,  sawah  belum  lagi  dibagi,  Gestapu  meletus.  Islam
bangkit.  Perang  sabil  diteriakkan.  Di  berbagai   daerah
kemarahan tak terkendalikan. PKI disembelih.
 
Namun,  segala puji hanya bagi-Mu, darah tak menetes di desa
saya. Pak Lurah,  biarpun  pernah  diancam  PKI,  melindungi
mereka.  Prinsipnya  semua  saudara.  Lagi pula, PKI di desa
saya cuma golongan cepethe. Pak Lurah sering bilang,  mereka
cuma  ikut-ikutan.  Sebagian  hanya senang karena tiap rapat
ada makan. Tahu apa mereka tentang politik?
 
Benar juga. Digertak petugas untuk wajib  lapor  pun  mereka
sudah  menggigil.  Betul, ada di antara mereka yang fanatik,
tapi  untuk  mati  demi  partai  orang  masih  mikir.   Maka
Kaminonov  pun  mengaku, akhirnya mendengar suara daun gugur
pun dia kaget. Dikiranya sepatu tentara.
 
Pendeknya musuh telah tak berdaya. Tokoh-tokoh  tua  bilang,
perang  tak  layak  lagi  diteruskan.  Petuahnya, "Islam itu
selamat dan menyelamatkan".  Dan  tiap  khotbah,  Pak  Lurah
berseru  "Kita  memang punya hukum qisas: bunuh balas bunuh.
Tapi memberi maaf itu lebih satria ...".
 
Tuhan tiba-tiba menjadi kongkret. Termasuk  buat  Kaminonov.
Haji  Thohir  yang  "sepuh" itu rajin mengajarinya ngaji. Ia
merawat rohani "si anak hilang" yang  telah  kembali.  Maka,
tak  lupa tiap pengajian usai, ia ulang petuahnya: "Lembaran
yang sudah dibaca ditutup. Begitu juga masa lalumu."
 
Kaminonov tunduk sambil lirih mengucap: "Nggih,  nggih,  Pak
Kaji, insya Allah." Fasih dia. Dan bila orang menyindir nama
Rusianya, ia cuma senyum.  Jawabnya:  "Lembaran  lama  sudah
ditutup. Saya cuma Kamino ..."
 
---------------
Mohammad Sobary, Tempo 6 Oktober 1990

Indeks Islam | Indeks Sufi | Indeks Artikel | Tentang Penulis
ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota

Please direct any suggestion to Media Team