Sejarah Hidup Muhammad

oleh Muhammad Husain Haekal

Indeks Islam | Indeks Haekal | Indeks Artikel | Tentang Penulis
ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota

 

BAGIAN KEENAM: CERITA GHARANIQ                         (3/5)
 
Disinilah  pihak  Quraisy  menyadari, bahwa penderitaan yang
dialami  Muhammad  dan   sahabat-sahabatnya,   hampir-hampir
menimbulkan perang saudara, yang akibat-akibatnya tidak akan
dapat dibayangkan, dan siapa  pula  yang  akan  binasa.  Ada
orang-orang    dari   kabilah-kabilah   Quraisy   dan   dari
keluarga-keluarga bangsawannya yang  sudah  menerima  Islam,
mereka  akan  lalu  berontak bila siapa saja dari kabilahnya
itu ada yang terbunuh sekalipun orang itu  berlainan  agama.
Jadi,  dalam  memerangi  Muhammad ini, mereka harus memempuh
suatu cara  yang  tidak  akan  membawa  akibat  yang  begitu
berbahaya.  Di  samping  itu  supaya  cara  ini  dapat  pula
disepakati oleh Quraisy mereka mengadakan  genjatan  senjata
dengan   pihak  Muslimin,  sehingga  dengan  demikian  tiada
seorangpun dari mereka itu yang boleh diganggu.
 
Inilah yang telah sampai kepada kaum pengungsi  di  Abisinia
itu, dan membuat mereka berpikir-pikir akan kembali ke Mekah
 
Kedua.    Sungguhpun   begitu,   barangkali   mereka   masih
maju-mundur juga akan kembali,  kalau  tidak  karena  adanya
sebab  kedua  yang  telah menguatkan niat mereka, yakni pada
waktu itu di Abisinia sedang berkecamuk suatu  pemberontakan
melawan   Najasyi,  yang  dilancarkan  karena  adanya  suatu
tuduhan yang ditujukan kepadanya. Ia  melaksanakan  janjinya
dan   memperlihatkan   rasa   kasih-sayangnya   kepada  kaum
Muslimin.  Kaum  Muslimin  sendiri   menyatakan   harapannya
sekiranya  Tuhan  akan  memenangkan  Negus terhadap lawannya
itu. Tetapi mereka  sendiri  tidak  sampai  melibatkan  diri
dalam pemberontakan, karena mereka adalah orang-orang asing,
dan lagi mereka belurn  begitu  lama  tinggal  di  Abisinia.
Bahwa  yang  telah  sampai  kepada  mereka itu berita-berita
perdamaian antara Muhammad dengan Quraisy,  perdamaian  yang
menyelamatkan  Muslimin  dari  gangguan  yang  pernah mereka
alami,  maka  bagi  mereka  akan  lebih  baik   meninggalkan
kekacauan  yang  ada  sekarang  dan kembali bergabung kepada
keluarga mereka sendiri.
 
Inilah yang telah mereka lakukan semua, atau  sebagian  dari
mereka.
 
Hanya  saja,  sebelum  mereka sampai ke Mekah, pihak Quraisy
sudah    berkomplot    lagi    terhadap     Muhammad     dan
sahabat-sahabatnya.  Kabilah-kabilah mereka sudah mengadakan
persetujuan tertulis  bersama;  mereka  berjanji  mengadakan
pemboikotan  total  terhadap  Banu Hasyim: tidak akan saling
berjual-beli .
 
Dengan adanya perjanjian itu perang  yang  tak  berkesudahan
antara  kedua  belah  pihak  itupun  segera berkecamuk lagi.
Sekarang mereka yang telah pulang dari Abisinia itu  kembali
lagi  ke  sana.  Bersama  mereka  ikut pula orang-orang yang
masih dapat pergi bersama-sama. Sekali ini mereka menghadapi
kekerasan  dari  Quraisy,  yang  berusaha  hendak merintangi
mereka itu hijrah.
 
Jadi, bukanlah kompromi seperti  yang  disebutkan  Muir  itu
yang  menyebabkan  Muslimin kembali dari Abisinia, melainkan
karena adanya perjanjian perdamaian sebagai akibat Umar yang
telah  masuk  Islam serta semangatnya yang berapi-api hendak
membela agama ini. Jadi dukungan mereka atas  adanya  cerita
gharaniq  dengan  alasan  kompromi itu, adalah dukungan yang
samasekali tidak punya dasar.
 
Adapun alasan yang dikemukakan oleh penulis-penulis biografi
dan  ahli-ahli  tafsir  dengan ayat-ayat: "Dan hampir-hampir
saja mereka itu menggoda kau ...," dan  "Dan  tiada  seorang
rasul atau  seorang   nabi    yang    Kami utus sebelum kau,
apabila ia bercita-cita,  setan  lalu  memasukkan   gangguan
ke   dalam  cita-citanya   itu ..." adalah alasan yang lebih
kacau lagi dari argumen Sir Muir. Cukup kita  sebutkan  ayat
pertama itu  saja dalam   firman    Tuhan:    "Dan  kalaupun
tidak  Kami    tabahkan  hatimu,   niscaya   engkau   hampir
cenderung juga  kepada  mereka  barang      sedikit,"  untuk
kita  lihat,  bahwa  setan   telah  memasukkan  gangguan  ke
dalam cita-cita Rasul  itu,    sehingga  hampir    saja   ia
cenderung  kepada  mereka  sedikit-sedikit;  tetapi    Tuhan
menguatkan  hatinya  sehingga   tidak   sampai dilakukannya,
dan   kalau   dilakukan   juga,    Tuhan    akan  menimpakan
hukuman berlipat-ganda dalam hidup dan mati.
 
Jadi, dengan membawa ayat-ayat ini sebagai alasan,  jelaslah
alasan itu terbalik adanya.
 
Jalan   cerita  gharaniq  ini  ialah  bahwa  Muhammad  telah
benar-benar berpihak kepada  Quraisy  dan  Quraisypun  sudah
benar-benar  pula  menggodanya  sehingga  ia  mau mengatakan
sesuatu yang tidak difirmankan Tuhan.  Sedang  ayat-ayat  di
sini  menegaskan,  bahwa  Tuhan  telah  menguatkan  hatinya,
sehingga dia tidak melakukan hal  itu.  Bilamana  disebutkan
demikian,  bahwa  buku-buku  tafsir dan sebab-sebabnya turun
Qur'an  membuat  ayat-ayat  ini   dapat   mengubah   masalah
gharaniq,  kita  lihat  bahwa  alasan  ini berlawanan sekali
dengan kesucian para rasul dalam menyampaikan tugas  mereka,
dan  bertentangan  dengan  seluruh  sejarah  Muhammad. Suatu
alasan yang kacau, bahkan lemah samasekali.
 
                                  (bersambung ke bagian 4/5)


S E J A R A H H I D U P M U H A M M A D oleh MUHAMMAD HUSAIN HAEKAL diterjemahkan dari bahasa Arab oleh Ali Audah Penerbit PUSTAKA JAYA Jln. Kramat II, No. 31 A, Jakarta Pusat Cetakan Kelima, 1980 Seri PUSTAKA ISLAM No.1

Indeks Islam | Indeks Haekal | Indeks Artikel | Tentang Penulis
ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota

Please direct any suggestion to Media Team